Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Kabar

Dari Panggung Rock in Solo untuk Pegunungan Sewu: Suara Musik Keras Menolak Pabrik Semen Pracimantoro

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
4 November 2025
A A
pabrik semen, pracimantoro, wonogiri.MOJOK.CO

Ilustrasi - Penolakan Warga Terhadap Wacana Pembangunan Pabrik Semen Pracimantoro (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Bicara soal Rock in Solo tak cuma soal musiknya yang keras, tapi juga teriakan vokal yang mewakili keresahan warga. Event ini menjadi bukti bahwa musik adalah tempat menyuarakan penolakan atas kebijakan ngawur pemerintah. Salah satunya wacana pembangunan pabrik semen di Pracimantoro, Wonogiri.

***

Malam itu, Wonogiri bergetar oleh suara distorsi. Gitar berdengung panjang, drum berpacu cepat, dan di belakang para musisi terpampang spanduk bertuliskan: “Pegunungan Sewu dalam Ancaman Ekstraktivisme.”

Di tengah sorot lampu panggung yang temaram, para penonton bersorak, tapi bukan hanya untuk musik. Di sela dentuman keras itu, terselip kegelisahan tentang air, batu, dan tanah yang kini dipertaruhkan.

Gelaran tersebut bernama RockCon, forum diskusi dari rangkaian Rock in Solo Festival 2025. Untuk penutupan chapter Wonogiri pada 1 November lalu, panitia memilih konsep yang tak lazim: memadukan konser musik ekstrem dengan talkshow tentang ancaman pembangunan pabrik semen di Pracimantoro, wilayah karst di selatan Wonogiri.

Diskusi dipandu oleh Mariana dari AJI Surakarta, dengan menghadirkan tiga pembicara lintas bidang: Jaya Darmawan, peneliti ekonomi lingkungan dari Celios; Azzaki Amali, periset dari Trend Asia; dan Suryanto Perment, penggerak komunitas Tali Jiwo, kelompok warga yang menolak kehadiran pabrik semen di kawasan karst Gunung Sewu.

RockOn, pabrik semen.MOJOK.CO
Dari kiri: Mariana (AJI Surakarta), Jaya Darmawan (Celios), Suryanto Perment (Laskar Tali Jiwo), Azzaki Amali (Trend Asia). (Sumber: Tangkapan Layar YT Portalika)

Ekstraktivisme, cara pandang yang “membebani” bumi

Jaya Darmawan membuka percakapan dengan paparan yang membuat ruangan hening sejenak. Menurut riset Celios yang ia paparkan, rencana tambang dan pabrik semen di Pracimantoro berpotensi menimbulkan kerugian ekologis hingga Rp22,7 – 26,5 triliun dalam rentang 70 tahun. 

Angka itu mencakup rusaknya sumber air, hingga menurunnya kesuburan tanah di kawasan karst.

“Ekstraktivisme bukan sekadar aktivitas tambang,” ujarnya, Sabtu (1/11/2025). 

“Ia adalah cara pandang yang menempatkan bumi hanya sebagai objek ekonomi. Dan beban terberatnya selalu jatuh ke masyarakat di bawah.”

Suasana berubah lebih reflektif ketika Azzaki Amali menambahkan analisisnya. Ia menggambarkan bagaimana jejaring bisnis dan kepentingan politik membentuk lanskap ekstraktivisme di Indonesia.

“Mereka membicarakan rencana pengerukan ini di meja makan sambil tertawa,” katanya. “Sementara di bagian lain ada orang-orang yang menangis karena kehilangan sumber airnya.”

Bagi Azzaki, Pegunungan Sewu bukan ruang kosong. Ia menyimpan air bawah tanah yang menopang ribuan keluarga petani. 

“Sekali karstnya rusak, yang hilang bukan hanya bentang alam, tapi juga ritme hidup masyarakat di bawahnya.”

Iklan

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Suryo Perment (@perment103)

Pabrik semen ditolak karena banyak mudharatnya

Isu yang diangkat malam itu sejatinya bukan hal baru. Banyak laporan menunjukkan dengan gamblang bagaimana rencana pembangunan pabrik semen di Pracimantoro telah menimbulkan gelombang penolakan luas di masyarakat.

Sejak izin lingkungan dan Amdal proyek disahkan pada pertengahan 2024, keresahan warga makin nyata. Konsesi tambang sendiri direncanakan seluas 123 hektar, dengan area industri dan fasilitas pendukung mencapai lebih dari 300 hektar lahan produktif. 

Padahal, kawasan tersebut termasuk wilayah Karst Gunung Sewu, bagian dari Global Geopark UNESCO yang memiliki fungsi hidrogeologis penting.

pabrik semen, pracimantoro, wonogiri.MOJOK.CO
Warga beberapa desa di Pracimantoro mendeklarasikan sikap menolak pembangunan pabrik semen. (dok. Laskar Tali Jiwo)

Sedikitnya 1.700 warga menandatangani petisi menolak rencana itu. Mereka khawatir sumber air yang menjadi tumpuan pertanian dan kehidupan sehari-hari akan hilang. Sedikitnya ada tiga desa, yakni Gebangharjo, Sumberagung, dan Joho berpotensi kehilangan sumber air alami bila eksploitasi dimulai.

Sementara itu, Mojok juga pernah memuat liputan memperlihatkan sisi lain dari konflik ini, yakni ketegangan sosial di tingkat lokal. Sejak wacana digulirkan, muncul dua paguyuban besar: Laskar Tali Jiwo, yang menolak tambang atas nama kelestarian lingkungan dan budaya, serta Paguyuban Cinta Pracimantoro (PCP), yang mendukung proyek–dikaitkan dengan camat Pracimantoro.

Spanduk pro dan kontra berdiri saling berhadapan di jalan-jalan desa, dan beberapa warga yang menolak proyek mulai mengalami tekanan sosial, bahkan intimidasi halus dari aparat setempat.

Omon-omon narasi pembangunan

Pemerintah kabupaten dan pihak perusahaan sendiri berulang kali menegaskan bahwa proyek semen ini akan membuka lapangan kerja baru dan mempercepat pertumbuhan ekonomi daerah. Namun, bagi banyak warga, janji itu cuma omon-omon.

“Tanpa uang pun kami bisa makan dari alam,” kata Agus Sibeh, seorang petani yang pernah diwawancarai Mojok. “Tapi kalau alam hilang, uang pun tak akan bisa menumbuhkan padi.”

pabrik semen, wonogiri.MOJOK.CO
Poster-poster tolak pabrik semen telah tersebar di jalanan-jalanan Kecamatan Pracimantoro, Wonogiri. (dok. Laskar Tali Jiwa)

Kalimat itu menggambarkan dengan jernih paradoks pembangunan yang berulang di banyak tempat: kesejahteraan dijanjikan, tapi ruang hidup dikorbankan.

Dalam forum RockCon, Suryanto Perment menegaskan hal serupa. Ia menilai sebagian besar masyarakat karst belum menyadari sepenuhnya potensi kerugian yang mengintai.

“Pemangku kebijakan perlu disadarkan bahwa pembangunan tidak harus dengan cara merusak ruang hidup,” katanya, dengan tegas. 

“Mereka sering tergiur oleh bujukan pengusaha besar yang datang dengan janji investasi dan lapangan kerja.”

Komunitas Tali Jiwo lahir dari percakapan sederhana di pos ronda dan warung kopi. Dari keresahan itu mereka membuat poster mengedukasi warga setempat, hingga ikut berbicara di forum-forum publik. 

“Kami tidak menolak kemajuan, tapi kami ingin pembangunan yang masih menyisakan air dan kehidupan.”

Ketika musik menjadi suara perlawanan atas pabrik semen

Usai sesi diskusi, panggung kembali dipenuhi musisi lokal: Boar, Human Inslavement, Infusion, Glome, The Suse, dan Thuggery. Mereka membawakan lagu-lagu penuh energi. Latar panggung menampilkan tulisan besar: “Tolak Pabrik Semen Gunung Sewu.”

Salah satu band membuka lagu dengan teriakan, “Gunung Sewu, jangan kau diam!” 

Penonton berteriak. Bukan hanya karena musiknya memekakkan telinga, tapi karena mereka tahu bahwa yang sedang dipertaruhkan bukan sekadar bukit batu, tapi masa depan air dan kehidupan di tanah mereka sendiri.

Menjelang tengah malam, talkshow berakhir, festival usai. Namun, gema dari kafe kecil di Wonogiri itu seolah masih memantul di dinding-dinding karst Pegunungan Sewu. Isu tentang pabrik semen ini, tampaknya, belum akan selesai dalam waktu dekat.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: ‘Tanpa Uang pun Kami Masih Bisa Makan dari Alam, tapi Pabrik Semen Bakal Menghancurkannya’ – Suara Warga Pracimantoro Wonogiri Tolak Pendirian Pabrik Semen atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 4 November 2025 oleh

Tags: Musikpabrik semen pracimantororock in solorock in solo chapter wonogirisemen pracimantorowonogiri
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Musisi Tak Lagi Punya Nyali: Saat Lagu Indonesia Kehilangan The Mercy’s, Slank, dan Iwan Fals MOJOK.CO
Esai

Musisi Tak Lagi Punya Nyali: Saat Lagu Indonesia Kehilangan The Mercy’s, Slank, dan Iwan Fals 

15 April 2026
slow living, desa, warga desa.MOJOK.CO
Catatan

Warga Desa Sebenarnya Muak dengan Orang Kota yang Datang Buat Sok Slow Living: Arogan, Tak Membaur, Anggap Warga Asli Cuma “Figuran”

7 April 2026
Mencintai Musik Underground di Madura: Merayakan Distorsi di Tengah Kepungan Dangdut MOJOK.CO
Esai

Mencintai Musik Underground di Madura: Merayakan Distorsi di Tengah Kepungan Dangdut dan Tagihan Shopee PayLater

3 April 2026
Musik BTS bukan K-Pop. MOJOK.CO
Sehari-hari

Kisah Pembenci Musik K-Pop yang Hidupnya Terselamatkan oleh Lagu BTS: Mereka Itu Aslinya “Motivator Mental Health”

31 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kopi starling dan kopi keliling: cuma Rp5 ribu tapi beri suntikan kekuatan pekerja kantoran di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan (Jaksel) untuk survive kerja tanpa Work Life Balance MOJOK.CO

Kopi Starling Cuma 5 Ribu tapi Beri Kekuatan Pekerja Jaksel Survive Tanpa Work Life Balance, Ketimbang 50 Ribu di Coffee Shop Elite

14 Mei 2026
Lewat album "Jalan Kaki" - Hifdzi Khoir ceritakan perjalanan hidup, juga sebagai legacy dari mendiang Gusti Irwan Wibowo MOJOK.CO

Album “Jalan Kaki”: Cara Hifdzi Khoir Bercerita tentang Perjalanan Hidup, Jadi Legacy dari Mendiang Gusti

19 Mei 2026
Sulap lahan kosong jadi kebun kosong untuk ketahanan pangan mandiri. MOJOK.CO

Ironi Lihat Balita Gizi Buruk di Bogor hingga Oknum Nakes yang Promosikan Sufor, Alumnus UNJ Ini Buka Kebun Sayur di Lahan Mangkrak 

16 Mei 2026
Kos kamar mandi luar memang murah. Tapi mending cari kamar mandi dalam kalau tidak mau kena mental MOJOK.CO

Kos Kamar Mandi Luar Memang Lebih Murah, Tapi bikin Repot Sendiri karena Dipakai Bareng Penghuni Lain Tak Tahu Diri (Kemproh dan Pemalas)

14 Mei 2026
Anak Jakarta vs Anak Kabupaten.MOJOK.CO

4 Tahun Merantau di Jakarta Bikin Sadar, “Orang Kabupaten” Jauh Lebih Toksik dari Anak Jaksel: Sialnya, Susah di-Cut Off

19 Mei 2026
Kos di Jogja, kos campur, dapur.MOJOK.CO

Kos Induk Semang: Tempat Terbaik buat Mahasiswa Irit dan Kenyang, tapi Menyimpan Sisi Lain yang Bikin Penghuninya Tak Nyaman

13 Mei 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.