Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Kabar

Fenomena Koin Jagat, Bukti Ekonomi RI Tidak Baik-baik Saja?

Aisyah Amira Wakang oleh Aisyah Amira Wakang
16 Januari 2025
A A
Koin Jagat, Bukti Ekonomi di Surabaya Tidak Baik-baik Saja?. MOJOK.CO

ilustrasi - pemburu koin jagat yang mencari peruntungan untuk mengubah nasib. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Salah satu warga Surabaya, Irul (35) kecewa dengan aplikasi Koin Jagat. Sudah berhari-hari dia mengikuti permainan mencari koin yang katanya bisa ditukar dengan uang itu, tapi tak kunjung hoki. Malahan dia kesal dengan warga Surabaya yang mencari koin dengan cara brutal, misalnya dengan merusak tanaman atau fasilitas umum.

Tak hanya Irul, saya melihat melihat orang-orang, dari yang tua sampai muda sibuk mencari koin di sepanjang jalan pusat kota Surabaya. Ada yang membungkukkan badannya, menyalakan senter dari gawai, meraba permukaan tanah, bahkan memanjat dinding, pohon, dan sebagainya.

Iklan

Orang-orang berharap koin tersebut bisa menghasilkan keberuntungan. Berdasarkan aplikasi Koin Jagat, warga bisa mencari koin yang tersebar di taman-taman, alun-alun, atau tempat umum lainnya. Pemerintah Kota Surabaya sampai turun tangan untuk menjaga ketertiban umum.

Salah satu tempat berburu koin yang saya jumpai adalah Taman Prestasi, Surabaya. Di sana, saya melihat lebih dari 15 orang mencari koin. Irul (35) salah satunya. Saya jadi penasaran, mengapa banyak orang yang tertarik memainkan Koin Jagat?

Tergiur dengan hadiah uang

Saya bertemu Irul di Taman Prestasi, Surabaya pada Sabtu (16/1/2024). Pemuda yang tinggal di daerah Tugu Pahlawan itu berjalan lesu mendekati area parkir. Dia duduk terdiam di atas sepeda motornya.

“Dapat koin, Mas?” tanya saya yang mencoba basa-basi.

“Nggak e Mbak, padahal saya sudah mutar-mutar lebih dari tiga jam,” ujarnya.

Irul kemudian bercerita, mulanya dia tahu informasi soal Koin Jagat lewat media sosial TikTok. Dari sana dia mendapatkan informasi kalau koin yang ditemukan bisa ditukar dengan uang. Irul yang penasaran akhirnya mengunduh aplikasi tersebut.

Melalui aplikasi Koin Jagat, pengguna dapat mengidentifikasi keberadaan koin berdasarkan peta. Mereka harus menemukan koin dengan kode yang tertera. Setiap koin bisa ditukar dengan jumlah uang berbeda. 

Koin berwarna emas dan bisa menukarkannya dengan uang Rp100 juta, lalu koin berwarna perak senilai Rp10 juta, dan koin perunggu senilai Rp300 ribu hingga Rp1 juta. Maka tak heran, banyak orang yang tergiur.

“Saya awalnya nggak percaya, tapi kok di Jakarta sudah banyak yang katanya dapat terus bisa ditukar dengan uang,” ucap Irul, Rabu (15/1/2024). Tak hanya Surabaya dan Jakarta, Bandung juga demam Koin Jagat.

Warga memburu koin jagat di Taman Prestasi Surabaya. MOJOK.CO
Koin jagat yang ditemukan warga Surabaya. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

Ekonom Center of Reform on Economic (CORE), Yusuf Rendy Manilet menilai jaminan penukaran koin itu menjadi salah satu faktor masyarakat menggandrungi Koin Jagat. Mereka berharap bisa mendapatkan timbal balik dari aktivitas sederhana yang mereka lakukan.

“Kombinasi mendapatkan insentif dan dorongan rasa penasaran merupakan kombinasi utama yang saya kira menjadi alasan, kenapa fenomena ini kemudian bermunculan di kota-kota besar,” ucapnya kepada Mojok, Kamis (16/1/2025).

Koin Jagat menjadi harapan warga miskin

Irul sendiri bekerja sebagai kuli pelabuhan di Surabaya. Kerjanya tidak pasti. Kadang-kadang kerjanya hanya satu hari dalam seminggu. Gajinya pun cukup tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Iklan

“Sekarang saja harga barang banyak yang naik, seperti beras, minyak, sembako,” ucapnya.

Oleh karena itu, hadirnya Koin Jagat seolah memberikan dia harapan. Irul jadi tergiur mendapatkan uang hanya dengan mencari koin. Toh, dia punya banyak waktu kosong.

Selain itu, Irul melihat banyak orang mengetuk rumah-rumah warga di sekitar kampungnya. Mereka menawarkan pinjaman secara berkelompok. Tak sedikit juga tetangganya yang tergiur. Padahal, jika dihitung bunganya juga lumayan.

“Akhirnya mereka malah rugi, nggak ada modal lagi, lalu utangnya numpuk. Utangnya bisa sampai Rp1 juta ke atas,” kata dia. 

Jagat koin di Taman Prestasi Surabaya. MOJOK.CO
Sejumlah warga memburu koin Jagat di Taman Prestasi Surabaya. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

Merujuk pada laporan Institute for Fiscal Studies, masalah utang cenderung konstan dialami oleh warga berpenghasilan rendah. Pinjaman yang eksploitatif dan berbiaya tinggi berhubungan erat dengan kemiskinan dan kesenjangan yang lebih besar. Akibatnya, dapat menjadi beban finasial, kesehatan dan psikologis.

Sementara itu, menurut Irul, gaya hidup masyarakat Surabaya sekarang makin tinggi. Misalnya saja untuk membeli makanan, beberapa orang memilih menggunakan aplikasi ojek online. Belum lagi kalau mereka ingin mengikuti tren yang mengeluarkan banyak biaya. 

Koin Jagat mengubah nasib warga miskin

Ekonom Center of Reform on Economic (CORE), Yusuf Rendy Manilet menjelaskan fenomena Koin Jagat dapat diibaratkan seperti bermain lotre. Namun, sulit untuk mengambil kesimpulan bahwa fenomena ini berhubungan dengan kemiskinan, serta beban-beban yang ditanggung masyarakat saat ini.

“Memang ada penelitian yang menunjukkan orang yang bermain lotre berasal dari kelompok individu berpenghasilan rendah, artinya ada aspek kemiskinan di sana,” kata Yusuf.

Namun, dia berujar alasan kuat orang-orang mengikuti permainan tersebut ialah mengharapkan imbalan. Bisa jadi, kelompok individu yang berpenghasilan rendah ingin mengubah nasibnya melalui permainan semacam itu.

“Nah, saya kira fenomena ini mungkin bisa jadi acuan, artinya ketika orang tidak punya penghasilan mereka tentu akan mencari cara bagaimana mereka bisa meningkatkan penghasilan mereka dalam berbagai bentuk,” ujarnya.

Irul sendiri sudah berhenti bermain Koin Jagat. Dia mengaku kecewa karena sudah berhari-hari mencari koin tapi tak dapat. Selama tiga hari, dia mencari koin di berbagai titik, yakni Jalan Karet, Pasar Turi, Tugu Pahlawan, dan Taman Prestasi.

“Kalau dapat terus jadi kaya ya, alhamdulillah, kalau nggak ya sudah. Intinya saya kemarin begitu,” ucapnya.

Terlebih, dia sudah kapok mencari koin karena diusir petugas Taman Prestasi. Sebelumnya, dia tak tahu kenapa petugas begitu garang terhadap pemburu koin. Namun, akhirnya dia tahu kalau ada pemburu koin yang bertindak ngawur.

“Janganlah sampai merusak taman atau fasilitas umum. Ayolah, warga Surabaya ini juga harus menjaga kotanya,” ucapnya.

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Taman Prestasi Surabaya, Tempat Berburu Jagat Koin Incaran dan Diburu Petugas Keamanan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan.

Terakhir diperbarui pada 16 Januari 2025 oleh

Tags: Ekonomi Indonesiakoin jagatpemburu koinSurabayatingkat kemiskinan
Aisyah Amira Wakang

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.

Artikel Terkait

Kedai Kopi Dinasty di Surabaya milik alumnus Unesa. MOJOK.CO
Sosok

Bukan Sekadar Cari Cuan, Alumnus Unesa Ini Sukses Bikin Kedai Kopi Murah Sekaligus Berdayakan Ibu-ibu untuk Jual Kopi Keliling

30 Juni 2026
Kudus, Magis Kaki Kanan yang Mengirim Tangis bagi Srikandi Kota Pahlawan.MOJOK.CO
Eksplor

Magis Kaki Kanan yang Mengirim Tangis bagi Srikandi Kota Pahlawan 

27 Juni 2026
Dhia Hana Putri Saraswati mahasiswa Umsura dan Unair. MOJOK.CO
Sekolahan

Kena Mental Kuliah di Umsura dan Unair Sekaligus, Puluhan Kali Ingin Menyerah tapi Kuat karena Ajaran Muhammadiyah

5 Juni 2026
Usai lulus SMA jadi fotografer di Kota Lama Surabaya. MOJOK.CO
Urban

Jadi Fotografer Lepas di Kota Lama Surabaya usai Lulus SMA, Gaji Tak Seberapa asal Bisa Menabung untuk Masa Depan yang Lebih Cerah

4 Juni 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Gojek Hadirkan Kurasi Jalan Jajan di Aplikasi dan Latih 500 Mitra Driver Lewat Program Sadar Wisata Bersama Pemkot Jogja MOJOK.CO

Gojek Hadirkan Kurasi Jalan Jajan di Aplikasi dan Latih 500 Mitra Driver Lewat Program Sadar Wisata Bersama Pemkot Jogja

24 Juni 2026
Menurut Pakar UGM, Pelatihan Dasar Militer (Latsarmil) calon manajer Koperasi Desa Merah Putih (Kopdes Merah putih/KDMP) harus dievaluasi MOJOK.CO

Pelatihan Militer ke Manajer Kopdes Merah Putih Perlu Didesain Ulang, Harus Lebih Relevan dengan Tata Kelola Koperasi agar Tak Ada Korban Lagi

29 Juni 2026
Gen Z Habiskan Gaji untuk Konser K-Pop. MOJOK.CO

Gen Z Habiskan Gaji demi Konser K-Pop: “Balas Dendam” Terbaik untuk Penuhi Inner Child

25 Juni 2026
Sabrina, Anak Penjual Es Krim di Pati yang Rengkuh Gelar MVP MLSC All Stars dan Tembus Skuad Elite ke Singapura, MLSC.MOJOK.CO

Sabrina, Anak Penjual Es Krim di Pati yang Rengkuh Gelar MVP MLSC All Stars dan Tembus Skuad Elite ke Singapura

30 Juni 2026
Alasan Yamaha Aerox, Fazzio, dan Filano Menjadi Trio Matik Terbaik untuk Anak SMA

Alasan Yamaha Aerox, Fazzio, dan Filano Menjadi Trio Matik Terbaik untuk Anak SMA

30 Juni 2026
Kedai Kopi Dinasty di Surabaya milik alumnus Unesa. MOJOK.CO

Bukan Sekadar Cari Cuan, Alumnus Unesa Ini Sukses Bikin Kedai Kopi Murah Sekaligus Berdayakan Ibu-ibu untuk Jual Kopi Keliling

30 Juni 2026

Video Terbaru

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.