Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Histori

Pohon Jambu di Kotagede Jadi Saksi Penemuan Iqro, Sayang Penemunya Tak Bisa Menikmati Masa Kejayaan

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
14 Maret 2024
A A
Pohon Jambu di Kotagede Jadi Saksi Penemuan Iqro, Sayang Penemunya Tak Bisa Menikmati Masa Kejayaan.mojok.co

Ilsutrasi Pohon Jambu di Kotagede Jadi Saksi Penemuan Iqro, Sayang Penemunya Tak Bisa Menikmati Masa Kejayaan (Mojok.co/Ega)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Kiai Haji As’ad Humam adalah sosok penemu metode Iqro. Guru ngaji asal Kotagede, Jogja, ini merupakan orang paling berperan dalam menemukan metode paling efektif belajar membaca Alquran tersebut. Fotonya, yang ikonik itu, bahkan masih bisa kita jumpai di halaman sampul belakang Iqro hingga saat ini.

Metode Iqro, pertama kali diajarkan di pusat kebudayaan Muhammadiyah, Kotagede, oleh As’ad dan beberapa koleganya. Sejumlah sumber menyebut, meskipun metode Iqro berasal dari pegiat Muhammadiyah, gerakannya berdiri secara mandiri dan tidak terkait dengan Muhammadiyah.

Iklan

Sebagai orang yang tumbuh dan berkembang dalam lingkungan TPA di masjid-masjid desa, tentu Iqro punya kesan tersendiri bagi saya. Agaknya, tak hanya saya, tapi ada banyak orang di luar sana juga ikut merasakannya. Iqro, jadi jalan paling awal bagi seseorang untuk memahami kitab suci umat muslim ini secara fasih. Saya berani bertaruh, mayoritas anak-anak yang fasih Alquran, pasti lebih dulu “mencicipi” Iqro karena metode belajarnya memang sangat efektif.

Namun, sebelum generasi sekarang mengenal metode belajar baca Alquran yang kita kenal saat ini, ternyata ada perjalanan panjang yang mengiringinya.

Debat sengit metode terbaik belajar Alquran

Perkembangan Taman Pendidikan Alquran (TPA) mulai menggeliat di Indonesia pada masa 1980-an. Animonya tak hanya terasa di perkotaan. Di masjid-masjid kampung pun mulai banyak anak-anak belajar membaca Alquran dengan giat.

Mengutip buku The Crescent Arises Over the Banyan Tree (2012) karya Mitsuo Nakamura, era “kebangkitan” TPA ditandai dengan munculnya Kiai Dahlan Salim Zarkasyi, tokoh penggerak metode Qiroati asal Semarang. 

Mula-mula, ia menyebarluaskan metode tersebut dari TK-TK di Semarang pada awal 1980-an. Salah satunya TK Alquran Mujawwin. Dari sini, daerah-daerah lain mulai mengikutinya.

Salah satunya di Jogja yang digerakkan oleh As’ad Humam. Melalui metode Qiroati, ia mulai membangun gerakan TPA di sekitaran Kotagede.

Sayangnya, memasuki pertengahan 1980-an, kritik mengenai metode tradisional Baghdadi tersebut justru datang dari As’ad sendiri. Menurutnya, metode Qiroati tidak efektif karena membutuhkan 2-3 tahun bagi anak untuk fasih Alquran.

Kritik ini langsung As’ad sampaikan ke Dahlan Salim. Ia juga menganggap metode tadi perlu penyempurnaan. Sayangnya, kritik dan saran itu mental karena Dahlan Salim menganggap metode Qiroati sudah baku bagi TPA.

Metode Iqro “kebetulan ketemu” di bawah pohon jambu

Gara-gara kritik tersebut. Hubungan antara kubu Semarang dengan Kubu Jogja menjadi memanas. Semarang, dengan Dahlan Salim, meneruskan metode Qiroati yang penuh celah tadi. Sementara di Jogja, As’ad terus mencari formulasi yang tepat dan efektif dalam belajar membaca Alquran.

Anak kedua As’ad, Erweesbe Maimanati, dalam wawancaranya dengan Majalah Gatra (edisi 19 Februari 1996), menyebut kalau setiap hari ia menemani ayahnya mencari metode terbaik baca Alquran di bawah pohon jambu sebelah rumahnya.

“Saya sebagai kawan dan anaknya, cuma menyediakan kertas dan peralatan tulis. Jika kertas-kertas itu terbang, kami anak-anaknya, mengumpulkannya kembali,” kenang dia. “Ini bapak lakukan selama bertahun-tahun,” kata Erweesbe menyambung.

Akhirnya, As’ad berhasil menyempurnakan formulanya. Laporan Majalah Gatra tadi juga mengklaim, melalui metode yang As’ad temukan seseorang bisa fasih membaca Alquran hanya dalam hitungan bulan. Ini tentu lebih efektif ketimbang metode Qiroati yang butuh 2-3 tahun.

Iklan

Melalui metode Iqro, seseorang bisa fasih baca Alquran dalam hitungan bulan

Melalui metode yang belakangan kita menyebutnya dengan “Iqro” itu, As’ad mengajarkan orang mengaji dari kata per kata. Memulainya dari yang paling mudah, sampai yang paling sulit. Misalnya, murid diberi kata “a-ba”, “ba-ta”, “a-ba-ta”, dan seterusnya hingga ke kalimat panjang. 

Pembelajaran membaca Alquran  pun bisa lebih sederhana. Murid jadi mudah memahami.

Pohon Jambu di Kotagede Jadi Saksi Penemuan Iqro, Sayang Penemunya Tak Bisa Menikmati Masa Kejayaan.mojok.co
Ilustrasi metode Iqro (dok. TPQ Online)

Akhirnya metode Iqro pertama kali diujicobakan kepada anak-anak yang ada di bawah asuhan Tim Tadarus Angkatan Muda Masjid dan Musholla (AMM) Jogja. Ia secara perlahan tumbuh subur dalam TPA-TPA di Jogja.

Melalui ujicoba tersebut, nyatanya siswa-siswa dapat lebih cepat membaca Alquran. Karena keberhasilan ini, pemerintah pada akhirnya menjadikan metode Iqro buat memberantas “buta aksara Alquran”.

Berawal dari Kotagede, metode ini meluas ke penjuru negeri bahkan mancanegara. Negeri jiran seperti Malaysia, Brunei bahkan Singapura, juga mengadopsi metode Iqro sebagai cara belajar Alquran di negara mereka. Banyak penerbit kemudian mencetak jutaan eksemplar buku Iqro.

Tak bisa menikmati masa kejayaan Iqro

Meskipun Iqro dengan cepat meraih masa kejayaannya, sang pioneer As’ad Humam tak bisa merasakan era kegemilangan ini. Ia menghembuskan nafas terakhir pada Februari 1996, tepat saat “demam Iqro” mulai menjangkiti seluruh negeri.

Dalam bukunya, Mitsuo Nakamura menyebut, penjualan Iqro secara nasional dan internasional memberikan pemasukan yang luar biasa bagi Tim Tadarus AMM. Uniknya, meski statusnya sebagai penemu, royalti tak masuk ke kantong pribadi As’ad. Uang hasil penjualan Iqro ternyata dipakai untuk membangun pusat pengajian dan sarana keagamaan lain.

Sebagai bentuk penghormatan atas jasanya, di tiap eksemplar Iqro, terpampang wajah As’ad, sang penemu metode Iqro. Sampai saat ini, Iqro masih jadi metode terbaik mengajarkan orang membaca Alquran.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA Menolak Lupa Saat Teh Botol Sosro Bikin Tagline ‘Buka Puasa dengan yang Manis’, Ikonik Sampai Dikira Hadis Nabi

Ikuti artikel dan berita Mojok lainnya di Google News.

Terakhir diperbarui pada 14 Maret 2024 oleh

Tags: iqrometode iqropenemu iqrosejarah iqro
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

No Content Available
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Alasan Yamaha Aerox, Fazzio, dan Filano Menjadi Trio Matik Terbaik untuk Anak SMA

Alasan Yamaha Aerox, Fazzio, dan Filano Menjadi Trio Matik Terbaik untuk Anak SMA

30 Juni 2026
Konsolidasi InJourney dengan Hotel BUMN untuk perkuat ekosistem pariwisata dan perhotelan nasional MOJOK.CO

Konsolidasi InJourney dengan Hotel BUMN: Perkuat Ekosistem Pariwisata Indonesia agar Lebih Kompetitif di Tingkat Global

28 Juni 2026
MLSC, Yogyakarta.MOJOK.CO

Redemsi Yogyakarta All Stars, Menolak Pulang Lebih Awal

26 Juni 2026
Mekanik Vespa modifikasi Fazzio ramah anak. MOJOK.CO

Ahli Mekanik Vespa Coba Modifikasi Fazzio Kuning Bermotif Bebek dengan Modal Rp4 Juta, Berbuah Senyuman Anak dan Penghargaan

2 Juli 2026
Kedai Kopi Dinasty di Surabaya milik alumnus Unesa. MOJOK.CO

Bukan Sekadar Cari Cuan, Alumnus Unesa Ini Sukses Bikin Kedai Kopi Murah Sekaligus Berdayakan Ibu-ibu untuk Jual Kopi Keliling

30 Juni 2026
FGD “Di Balik Ruang Redaksi: Medianomics, Kuasa Kepemilikan, dan Masa Depan Jurnalisme” inisiasi Telkom University Purwokerto. Membincangkan masa depan industri media jurnalisme di era AI dan kuasa kepemilikan MOJOK.CO

Diskusi Soal Industri Media dan Masa Depan Jurnalisme: Beranjak dari Keresahan Lama ke Menjawab Tantangan Baru

1 Juli 2026

Video Terbaru

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.