Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Histori

Gus Dur di Kauman Jogja: Kenakalan, Gila Baca, sampai Pergulatan dengan Tokoh Muhammadiyah

Hammam Izzuddin oleh Hammam Izzuddin
16 Desember 2023
A A
Gus Dur di Kauman Jogja.MOJOK.CO

Ilustrasi Gus Dur di Kauman Jogja (Ega/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Dalam lintasan panjang kehidupan Gus Dur, Kauman Jogja pernah jadi tempat tinggalnya selama tiga tahun. Tempatnya mulai menemukan kegilaan membaca, saksi kenakalan remaja, hingga interaksi dengan tokoh yang membuatnya menjadi “orang Muhammadiyah yang ada di NU.”

***

Pada medio 1954-1957, Gus Dur pernah tinggal di Kauman, Jogja. Kawasan yang menjadi tonggak sejarah penting Muhammadiyah. Di sanalah, KH Ahmad Dahlan mendirikan organisasi pembaharu Islam ini.

Putra Kiai Wahid Hasyim dengan Nyai Solichah ini tinggal di rumah Pak Junaidi, seorang anggota Majelis Tarjih Muhammadiyah. Kalau sekarang, istilahnya “ngekos”. Tapi pada zaman dahulu, kos itu seperti tempat penitipan. Ada hubungan keluarga atau pertemanan yang erat antara pemilik rumah dengan keluarga yang menitipkan anaknya.

Arif Budiman CH, anggota Majelis Pustaka dan Informasi PP Muhammadiyah menuturkan kalau Junaidi ternyata punya hubungan kekerabatan dengan Kiai Wahid Hasyim. Kekerabatan ini terjalin saat Junaidi menimba ilmu di Pondok Termas, Pacitan.

“Pak Junaidi juga dekat dengan Kiai Ali Maksum Krapyak. Selama di Jogja, selain sekolah di SMP umum Gus Dur memang belajar di Pondok Krapyak. Sehingga Kiai Wahid Hasyim percaya untuk menitipkan anaknya ke Pak Junaidi,” ungkapnya Jumat (15/12/2023).

Di Jogja, tokoh kelahiran Jombang, 7 September 1940 ini melanjutkan pendidikan di jenjang SMP karena ia tidak naik kelas di sekolah sebelumnya. Ia menimba ilmu di Sekolah Menengah Ekonomi Pertama (SMEP) Negeri di Gowongan, Yogyakarta. Selain itu, proses belajar di Krapyak berlangsung kurang lebih tiga kali dalam sepekan.

Saksi remaja yang bandel tapi gila baca

Banyak catatan menyebut, Jogja adalah tempat di mana kegilaan Gus Dur terhadap buku menguat. Di kota ini, akses terhadap bacaan begitu luas. Berbeda dengan pendahulunya yang menimba ilmu penuh di pesantren, ia berkesempatan menempuh pendidikan di sekolah sekuler.

Kesempatan menempuh pendidikan di sekolah negeri, membuat Abdurrahman Wahid kerap kedapatan mencuri-curi kesempatan pergi ke bioskop padahal izinnya hendak mengaji ke Krapyak. Hal itu ketahuan lantaran Junaidi dengan Kiai Ali Maksum saling kenal.

“Ukuran anak zaman segitu ya istilahnya mbeling. Saya dapat cerita kalau Gus Dur itu ya mau ngapain aja ketahuan. Soalnya Pak Junaidi dengan Kiai Ali Maksum memang akrab dan saling kenal,” ujar Arif.

Selain itu, dalam biografi KH Abdurrahmad Wahid Biografi Singkat 1940-2009, Muhammad Rifai menulis bahwa selama di Jogja, Gus Dur gemar mencuri waktu belajar mengaji untuk pergi ke gedung bioskop. Namun, ia tetap dikenal sebagai remaja yang gemar membaca.

“Kota Jogja merupakan kota pelajar, dengan kehadiran universitas dan banyak toko buku, atau buku-buku yang dimiliki kenalan gurunya atau gurunya sendiri, ataupun milik sang bapak kos. Di sinilah Gus Dur mengalami masa mencintai buku dan sering mengunjungi toko buku secara rutin,” tulis Rifai.

Jika di pesantren, akses terhadap kitab-kitab agama terbuka luas. Di lingkungan Kauman, Gus Dur bisa mengakses buku-buku milik para tokoh Muhammadiyah. Ia berinteraksi bukan hanya dengan Junaidi yang menjadi tuan rumahnya.

“Saya juga mengaji kepada Kyai Maksum Abu Hasan, Mbah Hana, dan Pak Basyir,” kata Gus Dur melansir Majalah SM No 5 tahun 2000. Gus Dur, pernah bercerita banyak tentang kenangannya di Kauman saat menyambangi Masjid Gedhe Yogyakarta kala itu.

Iklan

Ketiga sosok yang ia sebut merupakan ulama Muhammadiyah. Pak Basyir merupakan ayah dari KH Ahmad Azhar Basyir MA, ketua PP Muhammadiyah sebelum Dr H Muhammad Amien Rais, sedangkan Mbah Hana adalah Direktur Madrasah Mualimat Muhammadiyah Yogyakarta kala itu.

Hal itu mendorong Gus Dur melihat bahwa Nahdatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah sejatinya dekat sekali. Kalau ada yang bilang Muhammadiyah jauh dengan NU, apalagi bermusuhan, itu menurutnya, hanya mencari-cari saja. “Wong yang dipelajari saja bahannya sama kok,” tegasnya. Soal perbedaan penafsiran itu wajar-wajar saja menurutnya.

Ikatan NU dan Muhammadiyah di Kauman

Kauman yang jadi “rahim” Muhammadiyah, ternyata juga punya banyak irisan dengan NU. Banyak tokoh Muhammadiyah Kauman yang dekat dengan Kiai NU. Hingga mendapat kepercayaan untuk jadi penitipan santri, layaknya Gus Dur di rumah Pak Junaidi.

Beberapa tokoh agama Kauman yang pernah menjadi Ketua Umum Muhammadiyah seperti, RH Hadjid, KH Badawi, hingga KH Ahmad Azhar Basyir, pernah mengenyam pendidikan di Pondok Pesantren Tremas Pacitan. Pesantren yang sudah berdiri sejak 1830 ini menerima penghargaan sebagai pesantren tua yang berdiri lebih satu abad dari Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

Salah satu ciri khas dari takjil di Masjid Gedhe Kauman adalah menu gulai kambing yang disajikan saat Ramadan. MOJOK.CO
Masjid Gedhe, salah satu ikon Kauman, Jogja. (Hammam Izzuddin/Mojok.co)

Menukil kisah Afrizal Qosim di Alif.id, pernah ada seorang santri bernama Aziz yang merupakan ayah dari M Imam Aziz, datang jauh-jauh dari Pati untuk belajar ke Kiai Ali Maksum di Krapyak. Alih-alih dipersilakan untuk menetap di pondok, Kiai Maksum justru mengajak Aziz datang ke Kauman.

KH Ali Maksum justru menitipkannya untuk belajar kepada sosok Kiai Basyir yang notabene ulama Muhammadiyah. Sosok yang menurut Gus Dur juga merupakan gurunya saat berada di Kauman.

Ternyata, relasi Kiai Basyir dengan NU juga sudah terbangun lama. Ia tercatat pernah mengenyam pendidikan di Tebuireng, Jombang. Anaknya, yakni KH Azhar Baasyir, pernah ia titipkan kepada tokoh NU, KH Abdul Qodir Munawwir.

Relasi semacam itu membuat kita tak heran, apabila Gus Dur yang merupakan sosok berdarah biru NU, bisa sampai tinggal di Kauman. Wajar jika dalam humornya, Presiden RI ke-4 ini berkata kalau ia adalah orang Muhammadiyah di NU. Begitu pula banyak tokoh Muhammadiyah yang sebenarnya punya banyak riwayat pergulatan keilmuan dengan tokoh dan pesantren NU.

Penulis: Hammam Izzuddin

Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA Cara Gus Dur Mengritik dan Menjawab Kritik sambil Menertawakan Diri Sendiri

Cek berita dan artikel lainnya di Google News

Terakhir diperbarui pada 16 Desember 2023 oleh

Tags: Gus Durhaul gus durkaumanMuhammadiyahnupilihan redaksi
Hammam Izzuddin

Hammam Izzuddin

Reporter Mojok.co.

Artikel Terkait

Mahasiswa UGM hidup nomaden sambil kuliah di Jogja demi gelar sarjana
Edumojok

Mahasiswa UGM Kena DO dan Tinggal Nomaden karena Kendala Ekonomi, Kini Raih Gelar Sarjana Berkat “Menumpang” di Kos Teman

17 Maret 2026
Rasa Sanga (7): Membaca Ajaran Sunan Kudus dari Sebungkus Garang Asem yang Pedas, Kecut, dan Segar.MOJOK.CO
Lipsus

Rasa Sanga (7): Membaca Ajaran Sunan Kudus dari Sebungkus Garang Asem yang Pedas, Kecut, dan Segar

16 Maret 2026
Ambisi jadi PNS di usia 25 demi hidup sejahtera. Malah menderita karena perkara gadai SK MOJOK.CO
Sehari-hari

Jadi PNS Tak Bahagia Malah Menderita, Dipaksa Keluarga Gadai SK Demi Puaskan Tetangga dan Hal-hal Tak Guna

16 Maret 2026
merantau, karet tengsin, jakarta. apartemen, kpr MOJOK.CO
Urban

Kebahagiaan Semu Gaji 5 Juta di Jakarta: Dianggap “Sultan” di Desa, Padahal Kelaparan dan Menderita di Kota

15 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Sate Klatak Kasta Tertinggi Makanan Khas Jogja, Jauh Mengungguli Gudeg dan Bakmi Jawa yang Sering Dikeluhkan Manis Itu Mojok.co

Sate Klatak Kasta Tertinggi Makanan Khas Jogja, Jauh Mengungguli Gudeg dan Bakmi Jawa yang Sering Dikeluhkan Manis

12 Maret 2026
Ambisi beli mobil pribadi Toyota Avanza di usia 23 biar disegani. Berujung sumpek sendiri karena tetangga di desa cuma bisa iri-dengki dan seenaknya sendiri berekspektasi MOJOK.CO

Ambisi Beli Mobil Avanza di Usia 23 Demi Disegani di Desa, Berujung Sumpek karena Ekspektasi dan Tetangga Iri-Dengki

15 Maret 2026
Blok M dan Jakarta Selatan (Jaksel) dilebih-lebihkan, padahal banyak jamet MOJOK.CO

Blok M dan Jakarta Selatan Aslinya Banyak Jamet tapi Dianggap Keren, Kalau Orang Kabupaten dan Jawa Eh Dihina-hina

14 Maret 2026
Naik Travel dari Jogja ke Surabaya Penuh Derita, Nyawa Terancam (Unsplash)

Naik Travel dari Jogja ke Surabaya, Niatnya Ingin Tenang Berakhir Penuh Derita dan Nyawa Terancam

13 Maret 2026
Kerja di Jakarta, Purwokerto, KRL.MOJOK.CO

Kerja Mentereng di SCBD Jakarta tapi Tiap Hari Menangis di KRL, Kini Temukan Kedamaian Usai Resign dan Kerja Remote di Purwokerto

13 Maret 2026
Honda Scoopy, Motornya Orang FOMO yang Nggak Sadar kalau Motor Ini Pasaran dan Sudah Nggak Istimewa Mojok.co

Honda Scoopy, Motornya Orang FOMO yang Nggak Sadar kalau Motor Ini Terlalu Pasaran dan Sudah Nggak Istimewa

19 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.