Rembang, Jawa Tengah, punya beragam jenis hajatan—atau dalam istilah setempat disebut bancaan. Dari yang mainstream (seperti sedekah bumi/laut) hingga yang agak asing di telinga orang dari daerah lain.
Tradisi bancaan di Rembang memang menyentuh hampir setiap sendi kehidupan masyarakatnya, mulai dari urusan mata pencaharian, kepemilikan barang berharga, hingga fase penting dalam pendidikan anak.
Ketika saya ceritakan beberapa contohnya, beberapa teman saya di Surabaya dan keluarga istri di Jombang, mengaku agak terheran-heran: kok sampai sedetail itu? Setiap hal seperti harus melalui proses bancaan terlebih dulu dengan nilai dan maksud masing-masing.
Bancaan manak sapi, tradisi hajatan di Rembang yang meyakini anak sapi jadi perantara rezeki
Di desa saya ada sebuah tradisi bernama bancaan manak sapi. Tradisi ini dilakukan peternak/pemilik sapi ketika peliharaannya tersebut melahirkan.
Kabar sapi beranak, di desa saya, memang disambut dengan sangat antusias. Ketika sudah memasuki usia kelahiran, si pemilik bisa berlari mengabarkan ke saudara hingga tetangga dengan tergopoh, tapi dengan raut wajah semringah.
Ia lantas akan meminta sang istri untuk segera belanja dan masak untuk berkatan. Karena sesaat kemudian, si pemilik sapi akan menggelar hajatan bancaan manak sapi, mengundang saudara dan tetangga datang ke rumah untuk meriung, berdoa, dan tentu saja makan-makan.
Bagi warga desa saya, setiap kelahiran pedet (anak sapi) adalah simbol perantara rezeki dari Tuhan. Sebab, seiring peliharaan yang bertambah, maka potensi rezeki pun terbuka: entah nanti untuk membajak sawah atau untuk investasi jangka panjang (dijual saat butuh uang).
Maka tidak berlebihan jika kelahiran pedet harus disambut tidak hanya dengan suka cita diri sendiri. Tetapi juga membagi kesenangan dengan berbagi berkatan kepada saudara atau tetangga. Selain tentu saja meminta doa dari mereka agar si pedet kelak benar-benar menjadi perantara rezeki.
Bancaan mondokno anak
Saya sendiri melewati banyak momen ini. Saat hendak dikirim ke pesantren, selulus dari pesantren. Saat hendak berangkat kuliah, lalu selepas lulus. Prinsip utamanya adalah: hajatan sebelum dan sesudah mengantarkan anak melewati masa pendidikan tertentu.
Hanya saja, konsep hajatan di Rembang untuk bancaan ini tidak serta-merta dilakukan ketika akan akan melanjutkan jenjang berikutnya. Tapi khusus bagi anak yang akan dikirim melanjutkan pendidikan jauh dari rumah. Misalnya untuk mondok atau kuliah. Karena mayoritas anak-anak di desa saya dipondokkan, maka istilah yang digunakan adalah “bancaan mondokno (mondokin) anak”.
Mekanismenya sama: pihak keluarga yang hendak memondokkan atau menguliahkan anak akan masa-masak, lalu mengundang saudara dan tetangga datang untuk berdoa bersama.
Doa yang dipanjatkan tidak luput dari harapan agar si anak betah selama menempuh pendidikan yang jauh di rumah, diperlancar segala urusannya, orang tua selalu diberi limpahan rezeki, dan yang paling utama adalah jadi anak saleh, mendapat ilmu bermanfaat, serta berguna bagi orang tua, negara, dan agama. Memang begitu template-nya.
Di Rembang, sebelum beli motor harus melewati sejumlah rangkaian tradisi
Kalau di desa Ozan (25), pemuda asli Rembang, tradisi hajatan bancaan bisa merambah ke perkara membeli motor. Untuk membeli sebuah motor, orang di desanya harus melewati sejumlah rangkaian tradisi.
Pertama, harus berurusan dengan hitungan Jawa terlebih dulu. Biasanya orang yang akan membeli motor sowan ke sesepuh desa untuk minta pandangan: kira-kira apa hari terbaik untuk datang ke dealer. Si sesepuh akan melakukan perhitungan Jawa, lalu memberi rekomendasi.
“Harus begitu. Karena kepercayaan yang orang desaku pegang: motor itu nantinya akan buat hajat hidup sehari-hari. Jadi harus dibeli di hari baik dalam hitungan Jawa biar jadi berkah dan keselamatan. Kalau nggak, si motor malah bisa jadi perantara celaka,” jelas Ozan.
Setelah motor terbeli, rangkaian kedua yang harus dilakukan adalah menginapkan motor ke rumah tetangga terlebih dulu. Belum boleh langsung dibawa ke rumah. Sebab, untuk dibawa ke rumah, si pembeli motor masih harus menentukan hari baik lagi dari si sesepuh desa.
Tahap berikutnya, setelah motor bisa dibawa ke rumah, si pemilik motor baru tersebut harus menggelar hajatan: bancaan motor anyar.
“Minta doa dari tetangga agar kalau buat sekolah, ya sekolahnya berkah. Kalau buat cari rezeki, ya jalannya halal. Yang utama ya semoga selalu diberi keselamatan oleh Tuhan dengan pakai motor itu buat aktivitas sehari-hari,” terang Ozan.
“Selain itu, biasanya ada udik-udikan kalau dalam istilah orang Rembang. Bagi-bagi uang receh ke anak-anak kecil. Itu keharusan. Nggak perlu banyak-banyak, yang penting lakukan aja,” sambungnya.
Warga desa Ozan percaya, kalau rangkaian itu tidak dilewati, maka motor yang dibeli alih-alih menjadi sumber keberkahan, malah menjadi sumber petaka.
Hajatan untuk bancaan pindahan rumah, renovasi, hingga kandang ternak
Mirip dengan beli motor baru, persoalan rumah di desa Gandika (25) di Rembang pun diharuskan melalui tradisi bancaan.
Ketika orang mau membangun rumah, pindahan rumah, hingga sekadar mengubah arah hadap jendela atau pintu utama saja harus ada bancaannya. Kalau mau renovasi pun sama halnya.
“Sebelum melakukan itu semua, harus hitung-hitungan weton dulu. Setelahnya ya bikin doa-doa hingga tahlilan. Filosofinya kan gini, rumah itu tempat tinggal selama di dunia. Jadi harus didoakan biar aman, orang yang tinggal di dalamnya hidup rukun,” beber Gandika.
“Biasanya juga pemuka agama desa akan mengingatkan, rumah harus jadi tempat mendekatkan diri kepada Tuhan. Dipakai ibadah yang rajin, tidak dipakai maksiat,” lanjutnya.
Perkara kandang ternak pun demikian. Saat membangu, pindah, atau sekadar renovasi pun harus melalui rangkaian tersebut. Sebab, kandang adalah rumah bagi ternak yang diposisikan tidak hanya sebatas peliharaan, tetapi perantara rezeki dari Tuhan.
***
Apakah warga desa saya, Ozan, maupun Gandika tidak merasa keberatan dengan detail-detail tradisi hajatan tersebut? Karena memang harus mengeluarkan uang untuk menggelar hajatannya.
Bagi generasi tua, legawa-legawa saja karena sudah menjadi bagian dari tradisi turun-temurun. Sementara bagi generasi muda seperti Ozan dan Gandika, ada kesangsian karena kalau untuk berdoa sebenarnya bisa dilakukan sendiri tanpa memaksakan diri mengeluarkan uang.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Hal-hal Wajar di Desa Jadi Dianggap Mengganggu Gara-gara Narasi Slow Living, Padahal Jadi Bumbu Kehidupan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

















