Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sehari-hari

4 Tradisi Hajatan di Rembang yang Bikin Heran Orang Daerah Lain: Terkesan Ada-ada Saja, Terlalu Detail ke Banyak Urusan

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
27 Agustus 2026
A A
4 tradisi hajatan di Rembang (bancaan) yang terdengar asing bagi orang daerah lain MOJOK.CO

Ilustrasi - 4 tradisi hajatan di Rembang (bancaan) yang terdengar asing bagi orang daerah lain. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Rembang, Jawa Tengah, punya beragam jenis hajatan—atau dalam istilah setempat disebut bancaan. Dari yang mainstream (seperti sedekah bumi/laut) hingga yang agak asing di telinga orang dari daerah lain.

Tradisi bancaan di Rembang memang menyentuh hampir setiap sendi kehidupan masyarakatnya, mulai dari urusan mata pencaharian, kepemilikan barang berharga, hingga fase penting dalam pendidikan anak. 

Iklan

Ketika saya ceritakan beberapa contohnya, beberapa teman saya di Surabaya dan keluarga istri di Jombang, mengaku agak terheran-heran: kok sampai sedetail itu? Setiap hal seperti harus melalui proses bancaan terlebih dulu dengan nilai dan maksud masing-masing. 

Bancaan manak sapi, tradisi hajatan di Rembang yang meyakini anak sapi jadi perantara rezeki

Di desa saya ada sebuah tradisi bernama bancaan manak sapi. Tradisi ini dilakukan peternak/pemilik sapi ketika peliharaannya tersebut melahirkan. 

Kabar sapi beranak, di desa saya, memang disambut dengan sangat antusias. Ketika sudah memasuki usia kelahiran, si pemilik bisa berlari mengabarkan ke saudara hingga tetangga dengan tergopoh, tapi dengan raut wajah semringah. 

Ia lantas akan meminta sang istri untuk segera belanja dan masak untuk berkatan. Karena sesaat kemudian, si pemilik sapi akan menggelar hajatan bancaan manak sapi, mengundang saudara dan tetangga datang ke rumah untuk meriung, berdoa, dan tentu saja makan-makan. 

Bagi warga desa saya, setiap kelahiran pedet (anak sapi) adalah simbol perantara rezeki dari Tuhan. Sebab, seiring peliharaan yang bertambah, maka potensi rezeki pun terbuka: entah nanti untuk membajak sawah atau untuk investasi jangka panjang (dijual saat butuh uang).

Maka tidak berlebihan jika kelahiran pedet harus disambut tidak hanya dengan suka cita diri sendiri. Tetapi juga membagi kesenangan dengan berbagi berkatan kepada saudara atau tetangga. Selain tentu saja meminta doa dari mereka agar si pedet kelak benar-benar menjadi perantara rezeki. 

Bancaan mondokno anak

Saya sendiri melewati banyak momen ini. Saat hendak dikirim ke pesantren, selulus dari pesantren. Saat hendak berangkat kuliah, lalu selepas lulus. Prinsip utamanya adalah: hajatan sebelum dan sesudah mengantarkan anak melewati masa pendidikan tertentu. 

Hanya saja, konsep hajatan di Rembang untuk bancaan ini tidak serta-merta dilakukan ketika akan akan melanjutkan jenjang berikutnya. Tapi khusus bagi anak yang akan dikirim melanjutkan pendidikan jauh dari rumah. Misalnya untuk mondok atau kuliah. Karena mayoritas anak-anak di desa saya dipondokkan, maka istilah yang digunakan adalah “bancaan mondokno (mondokin) anak”. 

Mekanismenya sama: pihak keluarga yang hendak memondokkan atau menguliahkan anak akan masa-masak, lalu mengundang saudara dan tetangga datang untuk berdoa bersama. 

Doa yang dipanjatkan tidak luput dari harapan agar si anak betah selama menempuh pendidikan yang jauh di rumah, diperlancar segala urusannya, orang tua selalu diberi limpahan rezeki, dan yang paling utama adalah jadi anak saleh, mendapat ilmu bermanfaat, serta berguna bagi orang tua, negara, dan agama. Memang begitu template-nya. 

Di Rembang, sebelum beli motor harus melewati sejumlah rangkaian tradisi 

Kalau di desa Ozan (25), pemuda asli Rembang, tradisi hajatan bancaan bisa merambah ke perkara membeli motor. Untuk membeli sebuah motor, orang di desanya harus melewati sejumlah rangkaian tradisi. 

Pertama, harus berurusan dengan hitungan Jawa terlebih dulu. Biasanya orang yang akan membeli motor sowan ke sesepuh desa untuk minta pandangan: kira-kira apa hari terbaik untuk datang ke dealer. Si sesepuh akan melakukan perhitungan Jawa, lalu memberi rekomendasi. 

“Harus begitu. Karena kepercayaan yang orang desaku pegang: motor itu nantinya akan buat hajat hidup sehari-hari. Jadi harus dibeli di hari baik dalam hitungan Jawa biar jadi berkah dan keselamatan. Kalau nggak, si motor malah bisa jadi perantara celaka,” jelas Ozan. 

Setelah motor terbeli, rangkaian kedua yang harus dilakukan adalah menginapkan motor ke rumah tetangga terlebih dulu. Belum boleh langsung dibawa ke rumah. Sebab, untuk dibawa ke rumah, si pembeli motor masih harus menentukan hari baik lagi dari si sesepuh desa. 

Tahap berikutnya, setelah motor bisa dibawa ke rumah, si pemilik motor baru tersebut harus menggelar hajatan: bancaan motor anyar. 

“Minta doa dari tetangga agar kalau buat sekolah, ya sekolahnya berkah. Kalau buat cari rezeki, ya jalannya halal. Yang utama ya semoga selalu diberi keselamatan oleh Tuhan dengan pakai motor itu buat aktivitas sehari-hari,” terang Ozan. 

Iklan

“Selain itu, biasanya ada udik-udikan kalau dalam istilah orang Rembang. Bagi-bagi uang receh ke anak-anak kecil. Itu keharusan. Nggak perlu banyak-banyak, yang penting lakukan aja,” sambungnya. 

Warga desa Ozan percaya, kalau rangkaian itu tidak dilewati, maka motor yang dibeli alih-alih menjadi sumber keberkahan, malah menjadi sumber petaka. 

Hajatan untuk bancaan pindahan rumah, renovasi, hingga kandang ternak

Mirip dengan beli motor baru, persoalan rumah di desa Gandika (25) di Rembang pun diharuskan melalui tradisi bancaan.

Ketika orang mau membangun rumah, pindahan rumah, hingga sekadar mengubah arah hadap jendela atau pintu utama saja harus ada bancaannya. Kalau mau renovasi pun sama halnya. 

“Sebelum melakukan itu semua, harus hitung-hitungan weton dulu. Setelahnya ya bikin doa-doa hingga tahlilan. Filosofinya kan gini, rumah itu tempat tinggal selama di dunia. Jadi harus didoakan biar aman, orang yang tinggal di dalamnya hidup rukun,” beber Gandika. 

“Biasanya juga pemuka agama desa akan mengingatkan, rumah harus jadi tempat mendekatkan diri kepada Tuhan. Dipakai ibadah yang rajin, tidak dipakai maksiat,” lanjutnya. 

Perkara kandang ternak pun demikian. Saat membangu, pindah, atau sekadar renovasi pun harus melalui rangkaian tersebut. Sebab, kandang adalah rumah bagi ternak yang diposisikan tidak hanya sebatas peliharaan, tetapi perantara rezeki dari Tuhan. 

***

Apakah warga desa saya, Ozan, maupun Gandika tidak merasa keberatan dengan detail-detail tradisi hajatan tersebut? Karena memang harus mengeluarkan uang untuk menggelar hajatannya. 

Bagi generasi tua, legawa-legawa saja karena sudah menjadi bagian dari tradisi turun-temurun. Sementara bagi generasi muda seperti Ozan dan Gandika, ada kesangsian karena kalau untuk berdoa sebenarnya bisa dilakukan sendiri tanpa memaksakan diri mengeluarkan uang.

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Hal-hal Wajar di Desa Jadi Dianggap Mengganggu Gara-gara Narasi Slow Living, Padahal Jadi Bumbu Kehidupan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

 

 

 

Terakhir diperbarui pada 27 Agustus 2026 oleh

Tags: bancaandesa di rembanghajatanhajatan di desahajatan di rembangrembangtradisi di desatradisi di rembang
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Beban ekspektasi orang desa di Rembang yang merantau kerja di luar negeri: dipandang kalau bisa menggelar dangdutan setiap tahun MOJOK.CO

Beban Pemuda Desa Kerja di Luar Negeri: Demi Dipandang Harus Gelar Dangdutan Tiap Tahun buat Hibur Warga

12 Agustus 2026
Rembang semakin tidak layak dicintai MOJOK.CO

Semakin Tak Punya Alasan untuk Tinggal dan Mencintai Kabupaten Rembang: Tak Beranjak ke Mana-mana, Kolotnya Dipelihara

17 Juni 2026
omong kosong srawung di desa.MOJOK.CO

Omong Kosong Slogan “Srawung” di Desa: Cuma Jahat ke Warga Miskin, Kalau Kamu Tajir Tak Perlu Membaur buat Dihormati

18 Mei 2026
Hajatan, Resepsi Mewah, Resepsi Sederhana, Nikah.MOJOK.CO

Hajatan Itu Nggak Penting: Tabungan 50 Juta Melayang Cuma Buat Ngasih Makan Ego Keluarga, Setelah Nikah Hidup Makin Susah

26 April 2026
Ilustrasi tinggal di desa.MOJOK.CO

Bersih Desa, Tradisi Sakral yang Kini Cuma Jadi Ajang Gengsi: Bikin Perantau dan Pemudanya Sengsara, Buang-Buang Waktu dan Uang

20 April 2026
TKI-TKW Rembang dan Pati, bertahun-tahun kerja di luar negeri demi bangun rumah besar di desa karena gengsi MOJOK.CO

Ironi Kerja di Luar Negeri: Bangun Rumah Besar di Desa tapi Tak Dihuni, Tak Pulang demi Gengsi dan Standar Sukses yang Terus Berganti

7 Februari 2026
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Dosen Penguji Bilang Tesis Saya Nggak Layak, Sejak Itu Saya Mengalami Trauma Akademik MOJOK.CO

Dosen Penguji Bilang Tesis Saya Nggak Layak, Sejak Itu Saya Mengalami Trauma Akademik

26 Agustus 2026
ilustrasi MBG

Kisah Pilu Pegawai SPPG: Sering Dicap Ikut Korupsi Anggaran MBG, Padahal Niat Bekerja Sepenuh Hati

21 Agustus 2026
Kemiskinan Struktural di Balik Riuh Operasi Pesta Copet.MOJOK.CO

Kemiskinan Struktural di Balik Riuh Operasi Pesta Copet

25 Agustus 2026
Fikih Hijau ala Masjid Walidah Dahlan UNISA Yogyakarta. MOJOK.CO

Fikih Hijau ala Masjid Walidah Dahlan UNISA: Masjid sebagai Mercusuar Peradaban dan Konservasi Lingkungan

22 Agustus 2026
fotografer wisuda

Suka Duka Fotografer Wisuda: Senang Mengabadikan Momen Bahagia Tapi Sial Karena ‘Harga Teman’

23 Agustus 2026
Yamaha Fazzio Cuma Sebatas Skutik Spek Orang Manja MOJOK.CO kredit motor yamaha

Fazzio, Motor “Anak Skena” yang Bikin Perjalanan Sejam Menembus Kemacetan buat Ngonser Tetap Terasa Chill

24 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

8 Agustus 2026
Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

7 Agustus 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

🤖 PRAYIT AI ×
Salam dari Mojok! Aku Prayit AI. Ada yang bisa dibantu hari ini, Rek?
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.