Pegawai Negeri Sipil (PNS) atau ASN dipandang sebagai pekerjaan paling mapan. Sebab, PNS menjadi pekerjaan yang terbilang stabil dalam berbagai kondisi sosial dan ekonomi. Namun, pekerjaan ini dengan seleksi ketat melalui CPNS ini ternyata tidak untuk semua orang.
Ada tipe orang yang tidak cocok untuk menjadi PNS atau ASN. Khususnya, bagi mereka yang tidak mau menerima gaji buta.
#1 Tidak bisa jadi PNS kalau idealis, tidak mau makan gaji buta
Bertanya kepada 4 responden. Responden pertama menjawab, tipikal pertama orang yang tidak bisa menjadi PNS atau ASN adalah terlalu idealis.
Idealis, didefinisikan sebagai seseorang yang berpegang teguh pada prinsip, nilai, atau cita-cita tinggi yang diyakini. Bisa didasarkan pada ide, moral, atau pemikiran yang dianggap ideal.
Bagi mereka yang idealis, gagasan yang tidak ideal sesuai dengan versinya akan ditolak habis-habisan. Maka, bagi mereka yang memahami bahwa menjadi PNS atau ASN harus bekerja, akan tertekan mendapati kemungkinan menerima gaji buta.
“Nggak cocok orang workaholic, nggak mau makan gaji buta,” kata Fanggi (bukan nama sebenarnya) (27) kepada Mojok, Selasa (7/4/2026).
Mojok sebelumnya juga pernah menuliskan cerita CPNS berkeluh-kesah mengenai makan gaji buta. Dua narasumber dari artikel yang berbeda mengakui, mereka menerima tuduhan makan gaji buta saban hari.
Setiap kali nongkrong bersama teman-teman, Anom (bukan nama sebenarnya) (27) mengatakan selalu dicap makan gaji buta sebagai PNS. Stigma ini berangkat dari pelayanan PNS yang cenderung ribet dan setengah hati.
Misalnya, kantor layanan publik tidak jarang tutup sebelum jamnya. Kantor pelayanan itu buka jam 8 pagi, tetapi nanti akan terjeda panjang pada pukul 12.00 hingga pukul 14.00 WIB dengan alasan istirahat. Padahal, ada kantor layanan yang sudah akan tutup satu jam setelahnya, pada pukul 15.00 WIB.
Kebijakan work from home (WFH) memperparah kondisi ini.
“Apalagi sekarang ada kebijakan ASN atau WFH. Malah, makin-makin kena stigma makan gaji buta. Ya aku tahu teman-teman bercanda, tapi candaan itu sarkasme yang ngena banget, sih,” kata Anom.
#2 Kebalikannya, jangan berharap jadi CPNS kalau tidak suka kerja
Pada situasi yang berbanding terbalik, Fanggi mengatakan, seseorang yang tidak suka kerja juga tidak bisa menjadi PNS.
“Orang yang nggak suka kerja,” kata Fanggi.
Hal ini berangkat dari keharusan PNS berangkat kerja ke kantor mulai dari pagi hari, paling pagi pukul 06.00 WIB tergantung instansi. Kemudian, baru akan pulang pada sore hari, pukul 17.00 WIB.
Meski tidak ada kemungkinan lembur, seperti pulang malam layaknya pekerja swasta, bukan tidak mungkin abdi negara ini akan membawa pulang pekerjaan. Pada akhirnya, mereka akan berujung begadang untuk bekerja juga.
Responden lain, Fani (bukan nama asli) (24) yang bekerja di instansi pemerintah daerah (pemda) juga mengatakan, pengalamannya sebagai PNS menunjukkan bahwa pekerjaan ini tidak memberikan kesempatan bagi mereka yang pemalas. Mereka yang tidak suka bekerja, terang tidak bisa melakoni pekerjaan ini.
“Males-malesan itu, karena setelah aku terjun sendiri lho kerjaan di pemerintah nih tidak semudah itu, apalagi yang merujuk pada pelayanan,” kata dia.
Fani bercerita, bekerja di pemerintahan dan swasta tidak jauh berbeda. Maka, bagi mereka yang membayangkan pekerjaan di pemerintah akan lebih mudah dibandingkan pekerjaan swasta. Jangan harap menjadi PNS atau ASN.
#3 Tidak bisa jadi PNS kalau berhasrat menguliti pemerintah
Responden berbeda, Isa (bukan nama sebenarnya) (25) menambahkan satu tipikal orang yang tidak bisa menjadi PNS. Menurut dia, orang yang oposisi dengan pemerintah akan mengalami kesulitan.
Hal ini disetujui juga oleh Fanggi. Kedua responden ini mengatakan, posisi berlawanan dengan pemerintah akan mengarahkan seseorang pada keinginan untuk selalu mengkritisi. Pemikiran kritis ini, tentu baik, tetapi dapat memberikan tekanan tersendiri ketika menjadi CPNS.
Artinya, saat bekerja dan melihat secara langsung hal-hal yang berlawanan dengan pemahaman kerja pemerintah yang ideal, akan ada perang ideologi.
“Terlalu kritis kepada pemerintah karena hati nurani terasa terkoyak-koyak,” kata Isa.
Melansir dari organisasi nirlaba global, International Society for the Science of Existential Psychology (ISSEP) menjabarkan bahwa keyakinan cenderung sulit diubah. Paham politik, dalam hal ini, lebih sulit untuk diubah. Bahkan, pertentangan akan keyakinan itu menimbulkan perasaan kurang nyaman.
#4 Tidak mau mempersembahkan hidup dan mati untuk negara dan rakyat
Alasan pertentangan keyakinan dengan pemerintah akan menjadi tantangan bagi seseorang yang ingin menjadi PNS atau ASN adalah adanya keharusan menyerahkan seluruh hidup untuk negara dan rakyat, apabila ingin bekerja di instansi pemerintah.
Menurut responden kelima, Ala (bukan nama asli) (24) pekerjaan sebagai abdi negara mengharuskan seseorang untuk selalu berhubungan dengan negara dan rakyat.
Dalam istilah lain, Ala menyebutnya sebagai rasa memiliki integritas dan empati.
“Integritas itu berhubungan dengan negara. Empati berhubungan dengan rakyat,” jelas Ala.
Artinya, seorang PNS tidak hanya harus memiliki rasa keterikatan terhadap negara dalam bekerja. PNS juga harus memiliki kesadaran terhadap pekerjaannya, bahwa hal-hal yang dia lakukan bertujuan untuk masyarakat. Dengan demikian, pekerjaan ini berarti mempersembahkan diri untuk kebutuhan orang banyak.
“Hierarki atas bawah jadinya,” kata Ala.
Oleh karena itu, di sinilah masalahnya muncul, potensi memiliki atasan yang problematik, bahkan toxic, membuat seorang CPNS akan kesulitan dalam mewujudkan integritas dan empati. “Tapi kalau atasannya udah salah, jelas pasti mengakar,” kata dia.
Penulis: Shofiatunnisa Azizah
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: PNS Pekerjaan Paling Menjanjikan, tapi Ada Orang yang Memilih Tak Menjadi Abdi Negara karena Tidak Mau Menggadaikan Kebebasan dan artikel liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan













