Lahir dari keluarga sederhana di Jogja tak menghalangi mimpi Ahmad Rif’an untuk kuliah. Harapan Rif’an mulanya adalah kuliah S1 di Universitas Gadjah Mada (UGM), meski sempat ditentang oleh ayahnya karena masalah biaya.
Kuliah di UGM dengan prinsip tibo tangi
“Bapak minta aku langsung bekerja untuk membiayai keenam adikku yang masih sekolah,” kata Rif’an saat dihubungi Mojok, Rabu (4/3/2026).
Alih-alih menuruti permintaan ayahnya, Rif’an memilih kata hatinya untuk tetap kuliah dan mendaftar di kampus top UGM. Masalah biaya, kata dia, bisa ia cari solusinya. Bekerja apapun sambil kuliah yang penting halal.
Ndilalah, doa Rif’an terkabul. Ia pun diterima sebagai mahasiswa di Fakultas Geografi UGM. Maka, dimulailah perjalanan kuliah Rif’an dengan prinsip tibo tangi sambil berhemat.
“Aku beberapa kali minum air dari keran saking nggak punya biaya untuk beli Aqua gelas,” ujar Rif’an, “ikut menanam juga di kampus buat panen buah-buahan sama teman-teman biar bisa dimakan,” lanjutnya.
Tak pelak, kebiasaan buruknya itu mengakibatkan pencernaannya sakit. Rif’an sampai sering muntah-muntah saat sore, tapi yang keluar hanya cairan kecut dan pahit karena sering melewatkan makan siang.
“Selesai kuliah siang, aku biasa jualan arem-arem, bubur kacang hijau, terus lanjut ikut organisasi kampus atau kerja part time sampai malam. Posisi perut kosong,” jelas Rif’an.
Lingkungan baik UGM membawa saya kembali ke keluarga
Perjuangan Rif’an kerja sambil kuliah di UGM sampai sakit-sakitan, nyatanya menimbulkan pertanyaan mendalam di benaknya tentang peran ayah dan ibunya. Sebagai anak pertama, Rif’an merasa dipaksa untuk jadi tulang punggung keluarga, tanpa diizinkan mengenyam bangku kuliah.
“Sampai akhirnya aku minggat dari rumah selama bertahun-tahun,” kata Rif’an.
Namun dalam pelariannya itu, Rif’an justru bertemu dengan orang-orang baik yang ia jadikan panutan hingga lulus kuliah di UGM. Mereka mengingatkan Rif’an tentang makna hidup, bersyukur, serta cara memaafkan orang tuanya.
Perlahan-lahan, Rif’an pun mencoba mengobrol dengan ayah ibunya. Ia sampaikan keresahan hatinya selama ini, hingga keduanya saling mengerti. Kini, Rif’an pun tak berat hati mengawal adik-adiknya yang masih sekolah.
Setelah kondisi keluarganya kondusif, ia mulai membangun mimpinya untuk kuliah S2 dengan beasiswa. Tentu saja prosesnya tidak mudah. Ia masih harus mengumpulkan uang untuk biaya kursus Bahasa Inggris, sampai akhirnya lolos seleksi beasiswa LPDP ke luar negeri.
“Bersyukurnya, sekali daftar aku langsung lolos S2 di University of Arizona, Amerika Serikat,” ujar Rif’an.
Berbeda dengan respons ayahnya dulu yang sempat tidak mengizinkan Rif’an kuliah, kini kedua orang tuanya mendukung langkah Rif’an untuk kuliah S2 di luar negeri. Meski dukungan itu bukan berupa materi.
Baca Halaman Selanjutnya
Bekal ndeso ibu temani perjalanan saya ke Amerika














