Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sehari-hari

Perjalanan Memaafkan: Dendam ke Orang Tua karena Tak Diizinkan Kuliah di UGM, Jadi Luruh karena Bekal “Ndeso” Bikinan Ibu

Aisyah Amira Wakang oleh Aisyah Amira Wakang
4 Maret 2026
A A
Tak diizinkan kuliah di UGM. MOJOK.CO

ilustrasi - seorang anak yang awalnya dendam karena tak diizinkan kuliah di UGM dan akhirnya luluh. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Lahir dari keluarga sederhana di Jogja tak menghalangi mimpi Ahmad Rif’an untuk kuliah. Harapan Rif’an mulanya adalah kuliah S1 di Universitas Gadjah Mada (UGM), meski sempat ditentang oleh ayahnya karena masalah biaya.

Kuliah di UGM dengan prinsip tibo tangi

“Bapak minta aku langsung bekerja untuk membiayai keenam adikku yang masih sekolah,” kata Rif’an saat dihubungi Mojok, Rabu (4/3/2026).

Alih-alih menuruti permintaan ayahnya, Rif’an memilih kata hatinya untuk tetap kuliah dan mendaftar di kampus top UGM. Masalah biaya, kata dia, bisa ia cari solusinya. Bekerja apapun sambil kuliah yang penting halal. 

Ndilalah, doa Rif’an terkabul. Ia pun diterima sebagai mahasiswa di Fakultas Geografi UGM. Maka, dimulailah perjalanan kuliah Rif’an dengan prinsip tibo tangi sambil berhemat.

“Aku beberapa kali minum air dari keran saking nggak punya biaya untuk beli Aqua gelas,” ujar Rif’an, “ikut menanam juga di kampus buat panen buah-buahan sama teman-teman biar bisa dimakan,” lanjutnya.

Tak pelak, kebiasaan buruknya itu mengakibatkan pencernaannya sakit. Rif’an sampai sering muntah-muntah saat sore, tapi yang keluar hanya cairan kecut dan pahit karena sering melewatkan makan siang.

“Selesai kuliah siang, aku biasa jualan arem-arem, bubur kacang hijau, terus lanjut ikut organisasi kampus atau kerja part time sampai malam. Posisi perut kosong,” jelas Rif’an.

Lingkungan baik UGM membawa saya kembali ke keluarga

Perjuangan Rif’an kerja sambil kuliah di UGM sampai sakit-sakitan, nyatanya menimbulkan pertanyaan mendalam di benaknya tentang peran ayah dan ibunya. Sebagai anak pertama, Rif’an merasa dipaksa untuk jadi tulang punggung keluarga, tanpa diizinkan mengenyam bangku kuliah.

“Sampai akhirnya aku minggat dari rumah selama bertahun-tahun,” kata Rif’an.

Namun dalam pelariannya itu, Rif’an justru bertemu dengan orang-orang baik yang ia jadikan panutan hingga lulus kuliah di UGM. Mereka mengingatkan Rif’an tentang makna hidup, bersyukur, serta cara memaafkan orang tuanya.

Perlahan-lahan, Rif’an pun mencoba mengobrol dengan ayah ibunya. Ia sampaikan keresahan hatinya selama ini, hingga keduanya saling mengerti. Kini, Rif’an pun tak berat hati mengawal adik-adiknya yang masih sekolah. 

Setelah kondisi keluarganya kondusif, ia mulai membangun mimpinya untuk kuliah S2 dengan beasiswa. Tentu saja prosesnya tidak mudah. Ia masih harus mengumpulkan uang untuk biaya kursus Bahasa Inggris, sampai akhirnya lolos seleksi beasiswa LPDP ke luar negeri. 

“Bersyukurnya, sekali daftar aku langsung lolos S2 di University of Arizona, Amerika Serikat,” ujar Rif’an.

Berbeda dengan respons ayahnya dulu yang sempat tidak mengizinkan Rif’an kuliah, kini kedua orang tuanya mendukung langkah Rif’an untuk kuliah S2 di luar negeri. Meski dukungan itu bukan berupa materi.

Iklan

Bekal ndeso ibu temani perjalanan saya ke Amerika

Hari keberangkatan Rif’an ke Amerika akhirnya tiba di bulan Desember tahun 2018. Bersama adik perempuannya, Rif’an dibonceng menggunakan sepeda motor menuju Bandara Adisucipto Yogyakarta tanpa rombongan keluarga.

“Aku cuma bawa satu tas gunung dan satu daypack,” ujar Sarjana UGM itu.

Meski perjalanannya terasa sunyi, tapi Rif’an memang sudah menyiapkan mental untuk menghadapi segala konsekuensi yang ada. Termasuk saat orang tuanya tidak memberikan sangu berupa uang, melainkan bekal sederhana.

“Ibuku menyiapkan ketupat, lemper, dan kering tempe untuk bekalku di perjalanan,” ujar Rif’an.

Sebelum membuka bekal ibunya, Rif’an sejujurnya biasa saja tanpa ekspektasi muluk-muluk. Ia sempat bergurau dengan teman-temannya dari UGM, yang ikut mengantar dia ke Bandara Soekarno Hatta. Menjelang sore, temannya mengajak Rif’an makan di HokBen.

Saat itulah Rif’an membuka bekal dari ibunya yang berisi ketupat, lemper, dan tempe kering. Sekilas, makanan itu memang terkesan “ndeso” tapi bagi Rif’an lebih kaya makna ketimbang makan di HokBen.

Ibunya memang hanya lulusan SD dan hampir selalu di rumah sebelum dia berangkat ke US. Ke kondangan pun jarang, jadi yang beliau tau hanyalah makanan di sekitar rumah atau pasar tradisional.

“Bagi ibuku mungkin, ketupat, lemper, dan tempe kering adalah bekal yang cocok untuk menemani perjalanan ku ke Amerika Serikat,” kelakar Rif’an, “tapi aku tetap bangga, bahkan memamerkan bekal itu ke teman-temanku,” ujar Rif’an yang tak takut diejek ndeso.

Belajar memaafkan diri dan keluarga

Alih-alih memesan menu HokBen, Rif’an justru memakan bekal ketupat, lemper, dan tempe kering dari ibunya sebelum keberangkatan pesawat dari Jakarta ke Abu Dhabi untuk transit. Dan sengaja tidak ia habiskan bekal tersebut untuk dimakan saat perjalanan menuju Abu Dhabi–Amerika Serikat.

“Jadi saya tidak jajan selama perjalanan dua hari ke Amerika,” ujar Rif’an.

Bagi Rif’an, bekal sederhana dari ibunya lebih dari cukup untuk mengisi amunisinya kuliah S2 di Amerika. Sebab selama ini, ia mungkin marah terhadap keluarganya, yang dirasa tak pernah mendukung mimpi-mimpinya.

Padahal, jauh di lubuk hati orang tuanya, mereka tentu menyayangi Rif’an. “Aku sudah memaafkan orang tuaku, karena aku pikir mereka tentu punya cerita hidup di masa lalu yang melatar belakanginya bersikap seperti ini di masa sekarang. Semua adalah bagian dari takdir yang harus disyukuri.” 

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchammad Aly Reza

BACA JUGA: Perjuangan Ojol sambil Kuliah: Pernah Diancam Pihak Resto karena Telat Antar Makanan, Kini Lulus Jadi Sarjana Hukum UGM atau artikel liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 4 Maret 2026 oleh

Tags: alumnus UGMJogjakisah inspiratifkuliah s2perjuangan kuliahtulang punggung keluargaUGMUniversitas Gadjah Mada
Aisyah Amira Wakang

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.

Artikel Terkait

Ironi kerja di Jerman lewat program Au Pair. MOJOK.CO
Sehari-hari

Mati-matian Kerja di Jerman demi Bantu Ekonomi Keluarga, Pilih Bertahan meski Diusir Majikan dan Nyaris Dideportasi

4 Maret 2026
Pilih slow living agar siap hadapi perang dunia 3. MOJOK.CO
Sosok

Lulusan S2 IT, Rela Tinggalkan Gaji 2 Digit demi Jadi Peternak di Desa agar Siap Hadapi Perang Dunia 3

3 Maret 2026
Bisnis coffe shop, rumah dekat kafe, jogja.MOJOK.CO
Urban

Derita Punya Rumah Dekat Tempat Nongkrong Kekinian di Jogja: Cuma Bikin Emosi dan Nggak Bisa Tidur

26 Februari 2026
Penerima beasiswa LPDP serba salah, penerima beasiswa LPDP dalam negeri dan LPDP luar negeri diburu
Edumojok

Penerima LPDP Dalam Negeri Terkena Getah Awardee Luar Negeri yang “Diburu” Seantero Negeri, padahal Tak Ikut Bikin Dosa

25 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Tak diizinkan kuliah di UGM. MOJOK.CO

Perjalanan Memaafkan: Dendam ke Orang Tua karena Tak Diizinkan Kuliah di UGM, Jadi Luruh karena Bekal “Ndeso” Bikinan Ibu

4 Maret 2026
5 makanan khas Jawa Timur (Jatim). Beri kesempatan kaum pas-pasan cicipi kuliner terbaik/terenak dunia MOJOK.CO

5 Makanan Khas Jawa Timur yang Beri Kesempatan Orang Pas-pasan Nikmati Kuliner Terenak Dunia, Di Harga Murah Pula

1 Maret 2026
Budaya Tionghoa Jogja dan Rahasia yang Jarang Dibicarakan

Budaya Tionghoa Jogja dan Rahasia yang Jarang Dibicarakan

28 Februari 2026
Motivation letter untuk beasiswa erasmus di Portugal. MOJOK.CO

Kisah Pemuda Asal Tulungagung Kuliah di Portugal: Lolos Beasiswa Erasmus karena “Motivation Letter” yang Menggugah

3 Maret 2026
Rela Melepas Status WNI demi Hidup Sejahtera di Norwegia, Karier Melejit berkat Beasiswa Luar Negeri MOJOK.CO

Rela Melepas Status WNI karena “Technical Stuff” di Norwegia, Karier Melejit berkat Beasiswa Luar Negeri

27 Februari 2026
Motor Matic Sering Dibilang Ringkih dan Modal Tampang Doang, tapi Saya Tetap Memilihnya daripada Motor Bebek Mojok.co

Motor Matic Sering Dibilang Ringkih dan Modal Tampang doang, tapi Saya Tetap Memilihnya daripada Motor Bebek

28 Februari 2026

Video Terbaru

Zen RS: Tan Malaka Tokoh Pemikir Bebas dan Pejuang yang Tidak Terikat Struktur Politik

Zen RS: Tan Malaka Tokoh Pemikir Bebas dan Pejuang yang Tidak Terikat Struktur Politik

3 Maret 2026
Budaya Tionghoa Jogja dan Rahasia yang Jarang Dibicarakan

Budaya Tionghoa Jogja dan Rahasia yang Jarang Dibicarakan

28 Februari 2026
Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

25 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.