Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sehari-hari

Maunya Motor Matic, tapi Terpaksa Pakai Supra buat Kuliah di Fakultas “Elite” di UGM demi Menyenangkan Ayah

Shofiatunnisa Azizah oleh Shofiatunnisa Azizah
24 Februari 2026
A A
Honda Supra X 125

Ilustrasi - Honda Supra X 125, motor yang dibelikan orang tua, padahal mau motor matic (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Cerita pengguna kendaraan dalam memilih motor bebek atau matic sering didasari alasan keinginan. Namun permasalahannya, bagi mahasiswa yang hanya bisa berpasrah pada pemberian orang tua, ada yang harus pasrah dengan memakai motor Supra selama berkuliah di Jogja demi menyenangkan orang tua.

***

Elisabeth (23) pergi berkuliah ke Jogja pada tiga tahun yang lalu, tahun 2023. Selepas Covid-19, Elisabeth mulai menetap di Jogja dan mencari kendaraan sebagai moda transportasinya sehari-hari.

Masalahnya adalah Elisabeth tidak terlalu mengerti dalam memilih motor saat itu. Jadilah, ia memasrahkan keputusan kepada sang ayah yang ternyata bisa memahami motor. Tapi, tidak memahami seleranya sebagai anak muda.

Mau tidak mau pakai Honda Supra karena ayah

Ceritanya, Elisabeth bilang, ayahnya mencoba untuk mencarikan motor untuknya saat diterima berkuliah di Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FKKMK) UGM Jogja. Anggap saja, sebagai hadiah kelolosan, serta transportasi yang bisa digunakan Elisabeth bolak-balik dari kos-kosan menuju kampus—mengingat dia berasal dari luar kota.

Namun persoalannya, Elisabeth tidak terlalu memahami kendaraan. Ia memang bisa mengendarai motor, tetapi bukan berarti mengerti.

Karena itulah, saat ayahnya bertanya, “Mau motor apa?”

Jawabannya adalah, “Apa aja.”

Tapi bukan berarti tanpa kriteria, Elisabeth bilang, dirinya sudah berpesan, “Aku bisa bawa motor matic.”

Sayangnya, ayahnya mungkin hanya mendengar pesan awal yang memasrahkan keputusan. Boleh jadi, ayah Elisabeth menganggap anaknya menyerahkan pilihan kepada dirinya sepenuhnya.

Padahal, Elisabeth mengulangi kepada saya. Ia menekankan pesan terakhir yang disampaikan kepada sang ayah.

“Aku sudah bilang, ‘matic aja, aku bisa,’,” kata Elisabeth, Selasa (24/2/2026).

Bukan tanpa alasan Elisabeth menggarisbawahi pesannya itu.

Ia bilang, bisa memahami alasan ayahnya salah paham. Sebab, kendaraan mereka di rumah adalah kendaraan bebek. Tidak ada motor matic di rumahnya, tetapi karena itulah Elisabeth mengklarifikasinya lebih dulu.

Iklan

Namun, apa boleh buat, motor yang diterima Elisabeth adalah motor manual berupa Honda Supra alih-alih motor matic seperti yang diharapkannya.

Motor bebek dianggap “jadul” dibandingkan motor matic

Padahal, Elisabeth mengaku lebih ingin menggunakan motor matic. Ia melihat teman-teman seumurannya di Jogja yang juga lebih banyak menggunakan motor matic. Belum lagi, fakultasnya yang terbilang “elite” menjadi ajang bagi mahasiswa untuk tampil dan bergaya, termasuk melalui kendaraan.

Tampilan motor matic juga terlihat lebih menarik dibandingkan motor manual. Ambil contoh, motor Vespa terlihat lebih “clean” dan modern mulai dari pemilihan warna dan desainnya yang bisa menarik konsumen. Selain visualnya, motor matic juga lebih mudah tanpa kopling, tuas persneling, dan rantai terbuka. 

Dibandingkan dengan motor manual seperti Honda Supra, bodinya lebih terbuka. Mesin dan komponen motor ini lebih terlihat, juga tampak lebih teknis dan tradisional. Dalam istilah lain, bisa juga disebut jadul atau ketinggalan zaman.

Pilihan ini dibuktikan melalui survei GoodStats yang menunjukkan bahwa mayoritas pengendara masih lebih memilih motor matic, melalui datanya yang menunjukkan 84 persen responden menunjukkan minat kepada motor scooter sebagai transportasi pada 2022.

Data ini sejalan dengan pandangan Elisabeth yang juga menilai motor matic lebih praktis, sesuai dengan kebutuhannya sebagai mahasiswa di Jogja yang suka jalan-jalan untuk eksplor. Sesekali, juga perlu mempercepat laju kendaraan saat terlambat hadir dalam perkuliahan.

Menurutnya, motor matic lebih nyaman dibandingkan Supra yang masih menggunakan mesin manual. Kendaraan ini cukup “ribet” baginya, sebab perlu menyesuaikan laju dengan mengganti gigi.

“Matic bisa lebih cepat. Karena nggak harus gonta ganti gigi, kan memperlambat,” katanya.

“Makanya, kalau di Jogja, kayaknya enakan matic. Ngebutnya enak,” tambah dia. 

Oleh karena itu, saat saya tanya, “Tertarik ganti motor matic?”

Elisabeth menjawabnya cepat, “Tertarik dong.”

Namun mengingat lagi, motornya saat ini adalah pemberian orang tuanya, Elisabeth masih berusaha menerima. 

Terpaksa tetap dipakai demi orang tua yang sudah cari jauh-jauh ke Bantul

Alasan penerimaan Elisabeth sebenarnya bukan cuma karena “kepasrahan”. Elisabeth mengakui bahwa dirinya merasa harus mengapresiasi orang tua yang sudah mengusahakan motor itu dengan susah payah.

Bayangkan, ayahnya terbang dari Kalimantan Tengah ke Semarang, kemudian melanjutkan ke Jogja. Setelah itu, ayah Elisabeth masih mengusahakan mencari motor untuknya dengan mengelilingi satu per satu showroom di Jogja.

“Ayahku nyarinya ke showroom itu satu satu,” katanya.

Tidak sampai di situ, ia bilang, perjalanan pencarian Supra ini berlanjut dari Sleman sampai ke Bantul. Itulah nilai “perjuangan” yang dibanggakan ayah Elisabeth ketika dikonfrontasi bahwa anaknya sebenarnya menginginkan motor matic.

“Dia bangga aja sudah dapat motor. Soalnya, sampai Bantul kan nyarinya,” katanya.

Maka dari itu, Elisabeth mencoba menjadi anak berbakti dengan tidak melanjutkan perdebatan. Ia tidak mau mempermasalahkan sebagai seorang anak, hanya menerima hadiah motor itu, meskipun tidak sesuai dengan seleranya.

“Aku ya sudah jadinya, menerima aja perjuangannya,” tutupnya.

Sampai hari ini, motor Supra masih menjadi teman Elisabeth mengarungi jalanan Jogja dalam berkuliah. Demi perjuangan sang ayah, sekalipun dicap “jadul”.

Penulis: Shofiatunnisa Azizah

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA Bertahun-tahun Jadi User Motor Matic, Memilih Beralih ke Honda Revo yang Nggak Good Looking demi Selamatkan Dompet dan Nyawa dan artikel liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 24 Februari 2026 oleh

Tags: biaya servis supraHonda SupraHonda Supra X 125motor bebekmotor bebek paling iritMotor HondaMotor Maticmotor matic hondamotor untuk kuliahSupra vs motor matic
Shofiatunnisa Azizah

Shofiatunnisa Azizah

Artikel Terkait

Bertahun-tahun Jadi User Motor Matic, Memilih Beralih ke Honda Revo yang Nggak “Good Looking” demi Selamatkan Dompet dan Nyawa MOJOK.CO
Sehari-hari

Bertahun-tahun Jadi User Motor Matic, Memilih Beralih ke Honda Revo yang Nggak “Good Looking” demi Selamatkan Dompet dan Nyawa

24 Februari 2026
Honda Scoopy, Bukti Perempuan Beli Motor Berdasarkan Warna Lipstik MOJOK.CO
Otomojok

Honda Scoopy Adalah Bukti Bahwa Perempuan Memilih Motor Berdasarkan Kode Warna Lipstik, Bukan Berdasarkan Kemampuan Mesin

27 Januari 2026
5 Motor Honda yang Sebaiknya Tidak Diproduksi dan Tidak Pernah Ada, Kepikiran pun Harusnya Tidak
Pojokan

5 Motor Honda yang Sebaiknya Tidak Diproduksi dan Tidak Pernah Ada, Kepikiran pun Harusnya Tidak

25 Januari 2026
Motor Honda Vario 150 2026, motor tahan banting MOJOK.CO
Catatan

Honda Vario 150 2016 Motor Tahan Banting: Beli Ngasal tapi Tak Menyesal, Tetap Gahar usai 10 Tahun Lebih Saya Hajar di Jalanan sampai Tak Tega Menjual

15 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pertama kali merantau ke Jogja: kerja palugada di coffee shop dengan gaji Rp10 ribu MOJOK.CO

Pertama Kali Merantau ke Jogja: Kerja di Coffee Shop 12 Jam Gaji Rp10 Ribu Perhari, Capek tapi Tolak Pulang karena Gengsi

24 Februari 2026
Kuliah online di universitas terbuka: meski tak ngampus tapi dirancang serius untuk mudahkan mahasiswa, meski diserang hacker MOJOK.CO

Kuliah Online di Universitas Terbuka (UT): Meski Tak Ngampus tapi Tak Asal-asalan, Sering Diserang Hacker tapi Tak Mempan

23 Februari 2026
Orang desa ogah bayar pajak motor (perpanjang STNK) di Samsat MOJOK.CO

Orang Desa Ogah Bayar Pajak Motor (Perpanjang STNK), Lebih Rela Motor Disita daripada Uang Hasil Kerja Tak “Disetor” ke Keluarga

19 Februari 2026
Beasiswa LPDP selamatkan hidup seorang difabel yang kuliah S2 di Amerika Serikat (AS). MOJOK.CO

Bangkit usai “Kehilangan” Kaki dan Nyaris Gagal Jadi Sarjana, Akhirnya Lolos LPDP ke AS agar Jadi Ahli IT Pustakawan di Indonesia

22 Februari 2026
lulusan LPDP, susah cari kerja.MOJOK.CO

Curhatan Alumni LPDP yang Merasa “Downgrade” Ketika Balik ke Indonesia, Susah Cari Kerja Hingga Banting Setir demi Bertahan Hidup

23 Februari 2026
THR belum cair, tapi sudah ludes dalam hitungan di kalkulator. Mudik lebaran memang tidak menyenangkan MOJOK.CO

THR Belum Cair tapi Sudah Jelas Ludes buat Dibagi-bagi, Yang Pasti Tak Ada Bagian untuk Diri Sendiri

23 Februari 2026

Video Terbaru

Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

23 Februari 2026
Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

21 Februari 2026
Rendra Agusta: Membaca Politik Indonesia dari Manuskrip Jawa Kuno

Rendra Agusta: Membaca Politik Indonesia dari Manuskrip Jawa Kuno

19 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.