Cerita pengguna kendaraan dalam memilih motor bebek atau matic sering didasari alasan keinginan. Namun permasalahannya, bagi mahasiswa yang hanya bisa berpasrah pada pemberian orang tua, ada yang harus pasrah dengan memakai motor Supra selama berkuliah di Jogja demi menyenangkan orang tua.
***
Elisabeth (23) pergi berkuliah ke Jogja pada tiga tahun yang lalu, tahun 2023. Selepas Covid-19, Elisabeth mulai menetap di Jogja dan mencari kendaraan sebagai moda transportasinya sehari-hari.
Masalahnya adalah Elisabeth tidak terlalu mengerti dalam memilih motor saat itu. Jadilah, ia memasrahkan keputusan kepada sang ayah yang ternyata bisa memahami motor. Tapi, tidak memahami seleranya sebagai anak muda.
Mau tidak mau pakai Honda Supra karena ayah
Ceritanya, Elisabeth bilang, ayahnya mencoba untuk mencarikan motor untuknya saat diterima berkuliah di Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FKKMK) UGM Jogja. Anggap saja, sebagai hadiah kelolosan, serta transportasi yang bisa digunakan Elisabeth bolak-balik dari kos-kosan menuju kampus—mengingat dia berasal dari luar kota.
Namun persoalannya, Elisabeth tidak terlalu memahami kendaraan. Ia memang bisa mengendarai motor, tetapi bukan berarti mengerti.
Karena itulah, saat ayahnya bertanya, “Mau motor apa?”
Jawabannya adalah, “Apa aja.”
Tapi bukan berarti tanpa kriteria, Elisabeth bilang, dirinya sudah berpesan, “Aku bisa bawa motor matic.”
Sayangnya, ayahnya mungkin hanya mendengar pesan awal yang memasrahkan keputusan. Boleh jadi, ayah Elisabeth menganggap anaknya menyerahkan pilihan kepada dirinya sepenuhnya.
Padahal, Elisabeth mengulangi kepada saya. Ia menekankan pesan terakhir yang disampaikan kepada sang ayah.
“Aku sudah bilang, ‘matic aja, aku bisa,’,” kata Elisabeth, Selasa (24/2/2026).
Bukan tanpa alasan Elisabeth menggarisbawahi pesannya itu.
Ia bilang, bisa memahami alasan ayahnya salah paham. Sebab, kendaraan mereka di rumah adalah kendaraan bebek. Tidak ada motor matic di rumahnya, tetapi karena itulah Elisabeth mengklarifikasinya lebih dulu.
Namun, apa boleh buat, motor yang diterima Elisabeth adalah motor manual berupa Honda Supra alih-alih motor matic seperti yang diharapkannya.
Motor bebek dianggap “jadul” dibandingkan motor matic
Padahal, Elisabeth mengaku lebih ingin menggunakan motor matic. Ia melihat teman-teman seumurannya di Jogja yang juga lebih banyak menggunakan motor matic. Belum lagi, fakultasnya yang terbilang “elite” menjadi ajang bagi mahasiswa untuk tampil dan bergaya, termasuk melalui kendaraan.
Tampilan motor matic juga terlihat lebih menarik dibandingkan motor manual. Ambil contoh, motor Vespa terlihat lebih “clean” dan modern mulai dari pemilihan warna dan desainnya yang bisa menarik konsumen. Selain visualnya, motor matic juga lebih mudah tanpa kopling, tuas persneling, dan rantai terbuka.
Dibandingkan dengan motor manual seperti Honda Supra, bodinya lebih terbuka. Mesin dan komponen motor ini lebih terlihat, juga tampak lebih teknis dan tradisional. Dalam istilah lain, bisa juga disebut jadul atau ketinggalan zaman.
Pilihan ini dibuktikan melalui survei GoodStats yang menunjukkan bahwa mayoritas pengendara masih lebih memilih motor matic, melalui datanya yang menunjukkan 84 persen responden menunjukkan minat kepada motor scooter sebagai transportasi pada 2022.
Data ini sejalan dengan pandangan Elisabeth yang juga menilai motor matic lebih praktis, sesuai dengan kebutuhannya sebagai mahasiswa di Jogja yang suka jalan-jalan untuk eksplor. Sesekali, juga perlu mempercepat laju kendaraan saat terlambat hadir dalam perkuliahan.
Menurutnya, motor matic lebih nyaman dibandingkan Supra yang masih menggunakan mesin manual. Kendaraan ini cukup “ribet” baginya, sebab perlu menyesuaikan laju dengan mengganti gigi.
“Matic bisa lebih cepat. Karena nggak harus gonta ganti gigi, kan memperlambat,” katanya.
“Makanya, kalau di Jogja, kayaknya enakan matic. Ngebutnya enak,” tambah dia.
Oleh karena itu, saat saya tanya, “Tertarik ganti motor matic?”
Elisabeth menjawabnya cepat, “Tertarik dong.”
Namun mengingat lagi, motornya saat ini adalah pemberian orang tuanya, Elisabeth masih berusaha menerima.
Terpaksa tetap dipakai demi orang tua yang sudah cari jauh-jauh ke Bantul
Alasan penerimaan Elisabeth sebenarnya bukan cuma karena “kepasrahan”. Elisabeth mengakui bahwa dirinya merasa harus mengapresiasi orang tua yang sudah mengusahakan motor itu dengan susah payah.
Bayangkan, ayahnya terbang dari Kalimantan Tengah ke Semarang, kemudian melanjutkan ke Jogja. Setelah itu, ayah Elisabeth masih mengusahakan mencari motor untuknya dengan mengelilingi satu per satu showroom di Jogja.
“Ayahku nyarinya ke showroom itu satu satu,” katanya.
Tidak sampai di situ, ia bilang, perjalanan pencarian Supra ini berlanjut dari Sleman sampai ke Bantul. Itulah nilai “perjuangan” yang dibanggakan ayah Elisabeth ketika dikonfrontasi bahwa anaknya sebenarnya menginginkan motor matic.
“Dia bangga aja sudah dapat motor. Soalnya, sampai Bantul kan nyarinya,” katanya.
Maka dari itu, Elisabeth mencoba menjadi anak berbakti dengan tidak melanjutkan perdebatan. Ia tidak mau mempermasalahkan sebagai seorang anak, hanya menerima hadiah motor itu, meskipun tidak sesuai dengan seleranya.
“Aku ya sudah jadinya, menerima aja perjuangannya,” tutupnya.
Sampai hari ini, motor Supra masih menjadi teman Elisabeth mengarungi jalanan Jogja dalam berkuliah. Demi perjuangan sang ayah, sekalipun dicap “jadul”.
Penulis: Shofiatunnisa Azizah
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA Bertahun-tahun Jadi User Motor Matic, Memilih Beralih ke Honda Revo yang Nggak Good Looking demi Selamatkan Dompet dan Nyawa dan artikel liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














