Revfvi memutuskan mudik dari Jogja ke kampung halamannya, Jambi sebelum Lebaran tahun 2023. Karena belum punya cukup uang, Revfvi memilih transportasi darat dengan harga tiket termurah. Pilihannya pun jatuh kepada bus Setelahnya, ia malah menyesal karena kejadian beruntun yang menyebalkan. Sebuah tragedi yang tak ingin ia ulangi dan cukup sekali seumur hidup.
***
Beberapa minggu sebelum Lebaran tiba, Revfvi sudah mencari tiket bus termurah di internet. Saking fokusnya dengan harga, pemuda asal Jambi itu bahkan tak ingat nama bus yang ia naiki. Yang jelas, kata dia, ia hanya perlu mengeluarkan uang Rp600 ribu lebih untuk berangkat dari Jogja Jumat siang.
“Jujur nggak ingat, karena nggak terlalu populer juga namanya. Pokoknya, body busnya sudah karatan dan sering mogok dalam perjalanan. Baik karena AC, ban bocor, atau masalah mesin,” ucap Revfvi.
Sebagai perantau yang akhirnya mudik untuk pertama kali menggunakan bus, Revfvi mengaku seharusnya tidak cukup kaget merasakan fasilitas bus tersebut karena setimpal dengan harga tiket bus. Namun tetap saja, Revfvi tak pernah mengira akan banyak mengalami kejadian sial dalam perjalanannya selama 78 jam ke depan.
“Awalnya aku sudah menyiapkan mental, tapi lebih kepada perkara macet atau waktu penyeberangan di Pelabuhan Merak, Banten yang siapa tahu ada kendala di muatan kapal. Entah kapasitasnya terlalu banyak atau bagaimana,” kata Revfvi yang tidak tahunya malah mengalami banyak masalah personal.
Mudik Lebaran dengan tampilan mafia
Berdasarkan informasi yang ia dapatkan di internet, lama perjalanan dari Jogja ke Jambi pakai “bus murahan” tersebut seharusnya hanya 2 hari. Nyatanya, malah memakan waktu 3 hari karena mogok yang terjadi sebanyak 6 kali.
“Aku kan berangkat Jumat siang, sekitar pukul 12.00 atau 13.00 WIB dari Terminal Giwangan, Jogja. Terus baru sampai Kabupaten Sarolangun, Jambi itu Senin malam,” jelas Revfvi.
Bagaimana tidak terlambat, gerutu Revfvi, wong bus yang ia naiki sering berhenti di pinggir jalan tol, hanya karena AC yang nggak nyala, ban bocor, dan mesin yang ngadat. Belum lagi, busnya tak terhindar dari macet.
“Mogok pertama itu waktu baru keluar dari tol Solo-Semarang sampai 2 kali, karena AC-nya nggak mau menyala. Yang ketiga, berhenti di Jalan Pantura karena masalah serupa,” Revfvi.
Muak dengan masalah yang berulang, para penumpang bus sampai berteriak ke kernet.
“Wah ini AC-nya kenapa nih? Kok nggak nyala sih Bang? Panas nih!,” protes penumpang lain, termasuk Revfvi yang mengeluhkan hal serupa.
Tanpa ia sadari, aksi protes yang ia tiru dari penumpang lain justru membuat teman sebangkunya–yang sedari tadi diam–makin takut mengajak Revfvi mengobrol. Belum lagi dandanan Revfvi yang mengenakan pakaian serba hitam dengan topi Baker Boy Hat–mirip topi yang dipakai Thomas Shelby dalam serial Peaky Blinders.
“Mungkin dia mengira tampilanku mirip mafia jadi nggak berani ganggu. Padahal aku sendiri juga nggak berani sama orang, dalam artian takut ngajak ngobrol duluan. Alhasil, kami cuma diam sepanjang perjalanan,” kata Revfvi yang merasakan kelu pada lidahnya karena masih nekat berpuasa.
Tahan BAB dan bau badan daripada maksa pakai toilet rest area
Bus yang dinaiki Revfvi mengalami mogok untuk yang ke-4 kalinya di wilayah sekitar Jakarta pada dini hari. Kali ini masalahnya bukan pada AC, tapi Revfvi tetap tidak peduli mencari akar masalahnya lantaran ia terlalu mengantuk dan lelah.
Saat bus yang ditumpangi Revfvi sudah masuk wilayah Sumatera, sopir menghentikan kembali busnya di pinggir jalan. Ia bilang ada masalah pada mesin. Setelah mengotak-ngatik selama beberapa menit, sopir memutuskan untuk melanjutkan perjalanan.
Tak sampai satu jam, tiba-tiba, salah satu ban bus meletus dengan suara kencang. “Stassss!”
“Di sanalah aku sadar, oh ternyata siap mental dalam perjalanan itu artinya begini. Nggak terprediksi memang,” kelakarnya yang tak habis pikir dengan kejadian yang dia alami.
Untungnya, Revfvi berhasil selamat sampai tujuan pada Senin malam dan berhasil puasa di tengah huru-hara mudik pakai “bus murahan”. Tanpa ia sadari, ia melewatkan mandi dan buang air besar (BAB) selama 78 jam perjalanan.
“Aku tuh tipe orang yang bisa BAB hanya di tempat pw (posisi wenak) alias nyaman. Jadi ya udah, daripada aku BAB di rest area atau rumah makan, aku pilih nahan sampai 3 hari. Kalau pun mandi juga nggak bakal kondusif, orang busnya juga berhenti sekitar satu jam. Lamanya malah pas mogok,” jelas Revfvi.
“Jadi benar-benar nggak tahulah baunya kayak gimana di dalam bus itu,” ucap pemuda asal Jambi itu yang sudah ogah membayangkan.
Berdasarkan pengalamannya tersebut, Revfvi mengaku kapok pakai bus dengan embel-embel murah untuk mudik. Untungnya, setelah dia dapat kerja dan punya penghasilan tetap, mudik pakai transportasi udara kini tak menjadi masalah.
“Alhamdulillah uangnya udah cukup, rezekinya ada untuk naik pesawat. Jadi sejak tahun 2024 aku pilih pakai pesawat.” Pungkasnya.
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Muchammad Aly Reza
BACA JUGA: Naik Bus Haryanto Jogja–Kudus Campur Aduk, Batin Seketika Muram dan Sendu karena Suasana dalam Bus Sepanjang Jalan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














