Lebaran hari pertama dan kedua biasanya memang paling ramai dan menyenangkan. Namun, ketika masuk hari ketiga atau keempat, suasananya pelan-pelan berubah. Tamu mulai sepi, dan isi dompet yang menipis mulai terasa.
Di fase tanggal tua pasca-Lebaran inilah, perantau lajang seperti Risa (27) sering tiba-tiba menjadi sasaran empuk keluarga besar, sepupu, bahkan tetangga untuk urusan pinjam-meminjam uang.
Risa mengingat momen Lebaran 2025 lalu. Saat itu, ia sedang sibuk memasukkan baju ke koper karena besoknya sudah harus kembali ke Jakarta. Sambil beres-beres, ia menyempatkan diri mengecek saldo di aplikasi mobile banking.
Pengeluaran mudiknya tahun lalu memang lumayan besar. Tiket kereta sedang mahal-mahalnya, belum lagi ia harus menyiapkan belasan amplop THR untuk keponakan, dan menyisihkan uang jajan tambahan untuk ibunya.
“Itu des, des, ludes benaran. THR dari kantor nggak nyisa. Sisa saldo di rekeningnya bahkan cuma pas buat biaya makan dan bayar kos di Jakarta nanti,” ujarnya, bercerita kepada Mojok, Jumat (20/3/2025) siang.
Jadi sasaran pinjam uang saat Lebaran
Di tengah kegalauannya itu, pintu kamarnya diketuk. Muncul sepupunya yang tinggal beda RT. Benar saja, “tamu tak diundang” itu datang untuk meminjam uang.
“Aku ingat betul, beliau mau pinjam tiga jutaan. Dan katanya mau dicicil pelan-pelan.”
Sepupunya itu curhat, bahwa uang simpanannya habis dipakai untuk acara Lebaran. Uang suaminya pun juga ludes. Sementara itu, minggu depannya, anak sepupunya itu sudah harus membayar biaya daftar ulang sekolah serta biaya-biaya tak terduga lain.
Mendengar permintaan itu, Risa mengaku langsung serba salah. Di satu sisi, ia kasihan melihat keponakannya yang butuh biaya sekolah. Namun, di sisi lain, Risa tahu kebiasaan sepupunya ini.
Meminjamkan uang ke kerabat dekat seringkali ujung-ujungnya tidak enak saat ditagih. Kadang, yang meminjam malah lebih galak. Lagipula, kalau ia harus mengeluarkan tiga juta saat itu juga, ia sendiri yang akan repot di Jakarta nanti. Tabungan utamanya bisa terkuras.
Risa pun menolak dengan alasan yang menurutnya sangat rasional.
“Waktu itu aku jujur kalau duit juga ngepas buat bayar kos sama hidup di Jakarta. Udah habis-habisan saat lebaran, sisa pegangan doang,” jelasnya.
Keluar kalimat andalan
Mendengar penolakan itu, mudah ditebak, senyum peminjam yang awalnya ramah dan memelas langsung hilang. Bahkan, kata Risa, sepupunya itu mengeluarkan kalimat andalan yang paling sering dipakai orang desa, dan jujur saja, paling bikin kesal para perantau yang belum menikah.
“Halah, uangmu lari ke mana sih, Ris? Kamu kan belum nikah, belum punya tanggungan anak-suami. Gajimu kan utuh buat kamu sendiri. Uang nganggur di bank gitu masa buat bantu saudara sendiri aja pelit.”
Kira-kira demikian kalimat yang didengar Risa saat lebaran tahun lalu.
Alhasil, ia pun cuma bisa diam dan menelan ludah. Risa malas membalas omongan itu, meski di dalam hati ia merasa tuduhan itu sangat tidak adil.
Di mata saudara-saudaranya di kampung, orang yang belum menikah itu otomatis dianggap tidak punya beban hidup. Pokoknya, selama statusnya masih lajang, gajinya pasti sisa banyak karena tidak perlu membeli susu bayi atau membayar SPP anak. Mereka mengira uang perantau lajang itu menumpuk begitu saja di rekening tanpa tujuan.
Saya sendiri kerap mengalami hal ini, terutama saat pulang ke desa. Kasusnya sama seperti Risa. Ketika ada sepupu atau tetangga hendak meminjam uang dan kita menolak dengan alasan “tidak punya”, kalimat sakti tadi keluar. Seolah-olah, orang yang belum menikah tidak memiliki beban dan tanggungan di perantauan.
Realitas sandwich generation di perantauan
Padahal realitanya tidak sesederhana itu. Risa memang belum menikah apalagi punya anak. Namun, ia adalah tulang punggung di keluarganya.
Misalnya, tiap awal bulan, Risa mengaku selalu membelikan token listrik untuk rumah orang tuanya. Ia juga yang rutin membayarkan iuran BPJS, dan sesekali mentransfer uang saku tambahan buat adiknya yang masih SMA.
“Pengeluaran ini gede lho. Tapi kan nggak mungkin aku bikin story di WhatsApp atau umumin saat kumpul keluarga pas lebaran,” ujarnya.
Selain itu, Risa paling tidak setuju dengan sebutan “uang nganggur” atau “uang dingin”. Justru karena ia belum menikah dan hidup merantau sendirian, ia sadar harus punya tabungan darurat yang kuat.
Di Jakarta, biaya hidup sangat tinggi dan ia menanggung semuanya sendirian. Kalau tiba-tiba ia sakit dan butuh biaya rumah sakit, atau tiba-tiba perusahaannya melakukan pengurangan karyawan, Risa tidak punya suami yang bisa dimintai tolong untuk menalangi tagihan kos atau biaya makan sehari-hari.
Pendeknya, ia hanya bisa mengandalkan dirinya sendiri.
Uang di tabungannya itu sengaja dipersiapkan untuk kondisi-kondisi darurat semacam itu, dan juga untuk mulai menyicil rumah kecil-kecilan. Uang itu jelas bukan uang lebih yang bisa dihamburkan begitu saja untuk menutupi kebiasaan kerabat yang kehabisan uang karena terlalu banyak gaya di hari raya.
Mengalah demi kewarasan saat Lebaran
Kendati demikian, Risa sadar bahwa menjelaskan konsep dana darurat, mahalnya biaya kos di Jakarta, atau beban sandwich generation kepada orang-orang di desa hanya akan membuang tenaga. Ujung-ujungnya nanti malah berdebat panjang dan merusak suasana Lebaran keluarga.
Maka dari itu, segala konsekuensi ia siap tanggung. Misalnya, dikatai pelit oleh sepupu sendiri, atau dibilang belum punya pencapaian apa-apa padahal sudah lama merantau ke Jakarta.
Bagi Risa, diam adalah kunci. Menerima omelan bahkan nyinyiran dari sepupu dan tetangga, menurutnya masih lebih baik ketimbang harus sok kaya atau sok dermawan, tapi ujung-ujungnya dia susah sendiri di perantauan.
“Aku sih realistis. Mending dibilang sombong, pelit, tapi kita survive. Daripada kelihatan kaya tapi aslinya kelaperan di Jakarta.”
Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Mudik Lebaran Jadi Ajang Sepupu Minta Kerjaan, tapi Sadar Tak Semua Orang Layak Ditolong atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














