Setelah bekerja 50 jam seminggu, selama 35 tahun, orang tua ini akhirnya sukses secara materi. Namun, ia malah menyesal karena di masa tua, sang anak mengabaikannya. Masa tuanya diliputi kesepian.
***
Rumah milik Farley Ledgerwood di Santa Monica, California, sebenarnya sangat ideal untuk sebuah keluarga besar. Ada empat kamar tidur, tiga kamar mandi, dan sebuah meja makan panjang di dapur yang bisa menampung banyak anggota keluarga sekaligus.
Namun, setiap hari sekitar jam setengah tujuh malam, Farley hanya duduk sendirian di sana. Di depannya bukan masakan hangat yang baru matang, tetapi cuma makanan sisa kemarin yang baru saja ia panaskan di microwave.
Selama 35 tahun, Farley adalah definisi sosok yang sangat berdedikasi dalam hal mencari nafkah. Ia bekerja rata-rata 50 jam seminggu di sebuah perusahaan asuransi. Ambisinya sederhana: ia ingin anak-anaknya memiliki kehidupan yang jauh lebih baik daripada yang ia rasakan dulu saat masih kecil.
“Sebagai orang tua, saya merasa memiliki kewajiban moral untuk memutus rantai kesulitan ekonomi yang pernah dialami keluarga saya di masa lalu,” ucap Farley dalam curhatannya di laman GLOBAL English Editing, sebagaimana Mojok kutip, Selasa (24/2/2026).
Dulu, Farley tumbuh besar melihat ayahnya pulang kerja dengan tangan yang selalu kotor oleh oli pabrik. Ayahnya sering ketiduran di kursi karena kelelahan sebelum sempat makan malam. Pesan sang ayah selalu sama, “Ayah kerja begini supaya kalian punya hidup yang lebih enak.”
Farley memegang teguh pesan itu saat ia sendiri akhirnya menjadi orang tua.
Bedanya, ia bekerja di kantor yang bersih dan ber-AC. Ia tidak lagi mandi keringat di pabrik, tapi ia terjebak dalam perlombaan naik jabatan yang tak pernah usai. Dari yang awalnya hanya berniat kerja lembur “sampai proyek ini selesai”, malah menjadi kebiasaan selama tiga dekade penuh.
Orang tua memberi segalanya, kecuali kehadiran ke anak
Bagi Farley, menjadi sosok orang tua yang baik berarti menjadi penyedia (provider). Ia sangat bangga karena tidak pernah sekalipun harus bilang “kita tidak punya uang” kepada anak-anaknya.
Anak-anaknya masuk sekolah swasta terbaik, kuliah tanpa perlu pusing memikirkan utang, dan bahkan ia bantu saat mereka ingin mencicil rumah pertama. Banyak orang tua di luar sana mungkin akan menganggap pencapaian Farley sebagai puncak dari sebuah keberhasilan dalam membesarkan anak.
Masalahnya, setiap pengorbanan materi itu selalu ada harganya. Farley menjadi sangat ahli dalam membuat alasan untuk ketidakhadirannya secara fisik maupun emosional di rumah.
“Maaf ya, Ayah tidak bisa datang ke acara sekolah,” atau “Ayah tidak bisa menonton pertandingan bola kamu hari ini, ada rapat penting,” begitu katanya berkali-kali.
Dalam pikirannya, sebagai orang tua yang bertanggung jawab, ia sedang berkorban demi masa depan. Ia merasa sedang menabung untuk liburan keluarga tahun depan atau untuk dana pendidikan yang lebih tinggi. Ia merasa sedang menyatakan kasih sayang melalui angka-angka di buku tabungan.
Padahal, ada satu hal yang lupa ia berikan: waktu untuk hal-hal sepele tapi bermakna.
Ia tidak pernah ada di rumah pada Selasa sore untuk sekadar membantu mereka mengerjakan PR. Ia jarang ada di rumah pada Sabtu pagi untuk membuat sarapan santai sambil mengobrol tentang hobi anak-anaknya.
“Hidup saya berlalu begitu saja dengan kesibukan kerja. Ini penyesalan terbesar saya dan mungkin juga orang tua lain ketika masa muda anak-anak mereka sudah lewat,” ungkapnya.
Berhenti bekerja untuk menghabiskan masa tua bersama anak
Pensiun di usia 62 tahun awalnya terasa seperti memenangkan lotre bagi Farley. Ia membayangkan akhirnya memiliki semua waktu di dunia untuk menjadi sosok yang ia impikan. Ia ingin berkunjung ke rumah anak-anaknya, mengobrol lama, dan menebus waktu yang hilang selama berpuluh-puluh tahun.
“Sebagai orang tua, saya merasa inilah saatnya untuk menuai kebahagiaan bersama keluarga yang selama ini saya hidupi dengan keringat saya,” kata Farley.
Namun, kenyataannya ternyata jauh lebih pahit dari yang ia bayangkan. Setelah berhenti bekerja, Farley merasa kehilangan identitas. Lebih menyedihkan lagi, telepon yang ia tunggu-tunggu dari anak-anaknya tidak kunjung berdering lebih sering.
Kunjungan mereka pun sangat jarang, mungkin hanya setahun beberapa kali saat hari besar atau libur nasional. Kesepian ini menjadi beban berat yang harus ditanggung oleh orang tua yang dulu mengira bahwa uang adalah segalanya.
Anak-anaknya sebenarnya tidak membencinya. Mereka tetap sopan, menghormati, dan bersikap baik setiap kali bertemu. Namun, mereka sangat sibuk. Mereka sekarang tinggal di kota yang jauh dan memiliki karier yang sedang menanjak dengan pesat. Ironisnya, mereka mempelajari pola hidup itu dari Farley sendiri.
“Inilah risiko yang seringkali tidak disadari oleh para orang tua saat mereka memberikan contoh bahwa pekerjaan harus selalu berada di urutan pertama dalam skala prioritas hidup.”
Baca halaman selanjutnya…
Orang tua mewariskan contoh buruk ke anak.














