Di kalangan remaja-remaja SMA di sebuah kabupaten di Jawa Tengah, motor bukan semata kendaraan untuk menunjang mobilitas. Tapi itu menjadi standar skena (keren) yang harus dipenuhi jika ingin diterima tongkrongan. Kalau tidak, akan bernasib sama seperti Ogi (16). Hanya karena motor Honda BeAT, ia dihina dan dijauhi teman-teman sekolah yang kerap mejeng dengan Yamaha Aerox dan Vario “sinematik”.
***
Ogi hanya anak desa biasa. Ia juga tumbuh di tengah keluarga sederhana. Oleh karena itu, ia sudah terbiasa mengedepankan fungsi ketimbang gengsi. Itulah kenapa ia tak masalah ketika harus memakai motor Honda BeAT milik sang bapak yang dibeli sejak 2015.
Motor Honda BeAT itu memang sudah butut. Performa mesin sudah tidak begitu mumpuni. Dan tentu saja terlihat paling tertinggal ketimbang teman-teman Ogi yang kebanyakan sudah menunggang Aerox, NMax, atau seminimal-minimalnya Vario generasi baru.
Motor Honda BeAT tidak ada artinya di hadapan Aerox, NMax, dan Vario
Ogi mengakui, sebenarnya tidak ada masalah dalam interaksi di kelas dengan teman-temannya tersebut. Namun, situasinya berbeda jika sudah nongkrong atau main-main di luar jam sekolah.
“Awalnya aku merasa, kok aku nggak pernah diajak kalau mereka main. Kan aku lihat story mereka meski motoran bareng ke mana,” ungkap Ogi, Kamis (12/3/2026).
Pikir Ogi, sepertinya ia harus inisiatif: tidak perlu menunggu diajak, tapi iseng aja ikut main. Karena siapa tahu, mereka tidak mengajak Ogi karena mengira Ogi bukan tipikal orang yang suka nongkrong.
Namun, beberapa kali Ogi iseng mau ikut, ia pasti menerima jawaban “Wah kami belum ada agenda main ke mana e.” Jawaban yang, baru Ogi sadari kemudian, menyiratkan penolakan.
“Karena walaupun bilang nggak ada agenda, tapi ternyata update story lagi nongkrong bareng,” kata Ogi.
Dari situ Ogi mulai menyadari, bisa jadi motor Honda BeAT tidak akan diterima dalam circle skena kabupaten tersebut (yang diisi anak-anak pengguna Yamaha Aerox, NMax, dan Vario), yang memang merupakan jenis-jenis motor gagah dan keren.
Motor Honda BeAT nggak diajak, karena nggak cocok buat sinematik ala Aerox, NMax, dan Vario
Sampai akhirnya Ogi tahu, betapa motor Honda BaAT yang ia pakai dihina-hina oleh anak-anak pengguna Aerox dan Vario tersebut.
“Aku tahunya dari temanku. Kan ada teman baik, dia motornya Vario, tapi memang bukan yang sering ikut tongkrongan skena kabupaten itu,” ucap Ogi.
“Dia bilang, kata anak-anak tongkrongan itu, ‘Ya masa motor Honda BeAT, apalagi butut, mau ikut riding motor-motor kayak kita.’ Itu sih kata temenku,” sambungnya.
Pasalnya, dari story-story yang Ogi lihat, memang anak-anak di tongkrongan kabupaten itu tidak hanya sekadar motoran bareng. Tapi juga bikin konten jedag-jedug dengan sorotan utama pada motor masing-masing yang sudah dimodifikasi. Terutama modifikasi di bagian lampu yang dibuat warna-warni.
Jelas motor Ogi tidak memenuhi standar keren tersebut. Sudahlah butut, kalau dimodif pun juga tidak bisa. Pokoknya tidak masuk kategori sinematik lah.
Lihat postingan ini di Instagram
Malu dan rendah diri, merasa anak paling nggak gaul di sekolah
Sebagai remaja, jujur saja Ogi merasa malu dan rendah diri saat mendengar fakta tersebut: dihina dan dijauhi (tidak pernah diajak main atau nongkrong bareng) hanya karena motor Honda BeAT.
“Merasa paling nggak gaul lah. Itu membuatku, mau berangkat sekolah naik BeAT aja kayak malu banget,” kata Ogi.
Bahkan, Ogi sempat terpancing untuk mendesak orang tuanya agar membelikan motor baru. Kalau tidak mampu membeli Yamaha Aerox atau NMax, ya minimal Vario keluaran terbaru lah.
Karena motor-motor itu lah yang, di kalangan remaja-remaja kabupaten Ogi, lebih sering dimodifikasi untuk kemudian motoran bareng sembari ngonten jedag-jedug sinematik.
Ngejar validasi itu capek, dianggap nggak gaul nggak pengaruh di hidup!
“Aku akhirnya cerita ke kakak laki-lakiku. Dia motornya malah bebek. Jawaban dia bikin aku lebih jernih,” ungkap Ogi.
Pesan sang kakak, hidup untuk mengejar validasi dan pengakuan itu amat sangat melelahkan. Karena tren akan terus berubah. Lagipula, misalnya dianggap tidak gaul pun tidak ada pengaruhnya di hidup Ogi.
Iya kalau dengan ikut tongkrongan sinematik itu lantas membuat Ogi lebih produktif, tidak masalah dikejar. Tapi kan tidak ada jaminan bakal seperti itu. Kalau prinsip kakak Ogi: yang penting fungsi.
Kakak Ogi mewajari jika Ogi ingin punya motor-motor sangar dan keren seperti Yamaha Aerox, Yamaha NMax, atau Honda Vario. Namun, jika uang belum ada, kenapa harus dipaksakan? Kalau toh suatu saat bisa membeli, pokoknya jangan digunakan untuk ngejar validasi. Tetap harus berpatokan pada fungsi.
“Selain itu, kata kakak, toh walaupun aku nggak diajak di tongkrongan sinematik, tapi aku kan masih punya teman lain. Ngapain aku harus susah dan malu hanya karena nggak masuk circle Aerox itu?” beber Ogi.
Dari situ, Ogi memilih menutup mata. Tak masalah kalau ia direndahkan hanya karena motornya. Yang penting ia tidak seperti kebanyakan anak tongkrongan tersebut: bikin drama ke orang tua terlebih dulu demi dibelikan motor yang dibuat gaya-gayaan, modif pun modal nodong uang ke orang tua.
“Pasti orang tuanya juga membatin, ‘Dasar anak beban!’,” seloroh Ogi disertai tawa menang.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Mudik ke Desa Naik Motor usai Merantau di Kota: Dicap Gagal, Harga Diri Diinjak-injak karena Tak Sesuai Standar Sukses Warga atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














