Menikah dengan Pasangan yang Keluarganya Terlilit Utang Bikin Serba Salah: Terlalu Cinta untuk Ditinggal, tapi Bikin Menderita Kalau Bertahan

menikah dengan keluarga pasangan yang terlilit utang.MOJOK.CO

ilustrasi - menikah. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Ada sebuah petuah yang belum lama ini saya dengar: “Jangan pernah menikahi seseorang yang keluarganya sedang dililit utang. Nanti hidupmu bakalan susah.”

Sekilas, kalimat itu terdengar materialistis dan kejam. Bukankah cinta harusnya menerima pasangan apa adanya? Namun, ketika realitas kehidupan setelah menikah menghantam, petuah tadi rupanya menjadi sebuah kebenaran, meskipun rasanya sangat pahit.

Menikah dengan orang green flag, tapi keluarganyared flag

Hal ini, salah satunya dialami Nisa (28), seorang karyawan swasta yang bekerja di Sleman. Nisa menikah tiga tahun lalu. Suaminya adalah laki-laki yang diidamkan banyak perempuan: pekerja keras, setia, dan tidak macam-macam. 

Sayangnya, suami Nisa punya satu “kelemahan”. Ia adalah tipe anak penurut yang tidak berani memutus rantai masalah keluarganya.

“Bahasa kasarnya, anak mami kali ya,” ujarnya, Kamis (7/5/2026) malam.

Saat pacaran, Nisa tahu keluarga suaminya bukan orang berada dan punya utang bekas modal usaha. Sang suami selalu menenangkan, bilang kalau utang itu sedikit dan nanti bisa dicicil pelan-pelan. 

Nisa yang saat itu dimabuk cinta tentu saja percaya. Ia berpikir, toh, suaminya pekerja keras, urusan uang pasti bisa dibereskan.

Tabungan dan gaji ludes buat membayar utang

Namun, begitu resmi menikah, kenyataan pahit harus ia rasakan. Utang keluarga sang suami ternyata bukan sekadar utang bank biasa. Ada jeratan pinjaman online (pinjol), utang rentenir, hingga sertifikat rumah mertua yang terancam disita. 

Gaji suami Nisa yang seharusnya dipakai untuk membangun rumah tangga mereka berdua, setiap bulannya langsung amblas hingga tujuh puluh persen hanya untuk menambal utang mertuanya itu.

Hingga menginjak tahun ketiga pernikahan, Nisa dan suaminya masih menempati rumah kontrakan kecil. Jangankan merencanakan punya anak, tabungan mereka saja nyaris tidak pernah ada.

“Keluarga terus mendesak buat cepat dapat momongan. Masalahnya, punya anak in this economy sama aja bunuh diri,” tegasnya.

Keluarga pasangan yang punya hutang, kita yang menderita 

Mendengar cerita Nisa, saya langsung teringat obrolan dengan seorang teman di desa. Teman saya ini punya kakak perempuan yang nasibnya persis seperti Nisa. 

Kakaknya menikah dengan pria baik, tapi keluarganya punya tumpukan utang yang tak kunjung lunas. Setiap kali pulang ke rumah, teman saya ini selalu mengeluh dan menangis. 

Pendapatan suami kakaknya selalu habis disedot oleh keluarga pihak laki-laki. Mau marah, tapi itu “keluarga” sendiri. Mau diam, tapi hidup kakaknya serba pas-pasan dan tidak maju-maju. 

Mendengar itu, saya jadi paham. Ternyata, kisah yang dialami Nisa bukanlah sekadar nasib sial satu atau dua orang saja. Fenomena menantu yang dihisap secara finansial oleh keluarga pasangannya ini terjadi di mana-mana.

Tabungan ludes, mimpi dan harapan terbunuh

Ada satu kejadian yang membuat mental Nisa benar-benar jatuh. Selama dua tahun pertama menikah, Nisa dan suaminya sudah sepakat hidup super hemat. 

Nisa tidak pernah lagi membeli baju baru, selalu membawa bekal makan siang ke kantor, dan menahan diri dari segala bentuk hiburan luar.

“Tujuannya biar bisa nabung. Merencanakan masa depan. Syukur-syukur bisa DP rumah subsidi di kota,” ujarnya.

Sialnya, suatu malam, impian itu sirna. Nisa bercerita, ibu mertuanya baru saja menelepon sang suami sambil menangis histeris karena rumahnya diancam oleh rentenir yang menagih utang dengan kasar.

Malam itu, suaminya duduk lemas, bahkan sampai memohon kepada Nisa. Ia meminta izin untuk memakai uang tabungan DP rumah tersebut. Suaminya berjanji uang itu hanya dipakai “sementara” untuk menyelamatkan ibunya dari kejaran rentenir.

“Jujur aku hancur, lemes. Hancur karena sakit hati, hancur juga karena lihat suami nangis.”

Ketika kita sambat, malah dianggap umbar aib keluarga

Nisa pun menyadari satu kenyataan. Selama ia masih menjadi menantu di keluarga itu, masa depannya akan selalu dikorbankan demi membayar masa lalu keluarga suaminya. Haknya untuk punya rumah sendiri, bakalan terus diletakkan di urutan paling bawah.

Rasa putus asa yang dirasakan Nisa ini sebenarnya banyak dipendam oleh istri atau menantu di luar sana. Sayangnya, ketika mereka sudah tidak kuat dan mencoba mencari ruang untuk bernapas, masyarakat kita justru sering kali menjadi “hakim” yang tak punya empati.

Misalnya, beberapa waktu lalu, di Facebook, ada seorang istri yang akhirnya tak tahan dan menceritakan penderitaannya. Ia curhat kehidupannya yang hancur karena uang keluarganya selalu terkuras untuk membayar utang mertua.

Alih-alih mendapat dukungan moral, kolom komentar unggahan tersebut justru berubah menjadi tempat penghakiman. Banyak netizen yang mencelanya dengan kalimat-kalimat pedas. 

Si istri dituduh sebagai perempuan yang tidak tahu diuntung. Ia dicap pelit kepada orang tua. Dan yang paling menyesakkan, banyak yang menghujatnya karena dianggap telah “mengumbar aib keluarga” ke ruang publik.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Pertemanan di Usia 30 Memuakkan: Transaksional dan Isinya Cuma Adu Nasib, tapi Paling Mengajarkan Arti Ketulusan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

 

Exit mobile version