Lebaran sering jadi momen paling menyenangkan bagi banyak orang. Ada sukacita perayaan setelah berpuasa satu bulan lamanya, ada juga haru karena bisa kumpul bersama keluarga. Namun, bagi sedikit di antaranya, Idulfitri bisa jadi momentum yang terasa getir, terutama setelah kehilangan salah satu anggota keluarga seperti nenek.
Itulah yang dialami Aulia (23) pada lima tahun yang lalu, tahun 2020. Kala itu, keluarga Aulia harus mengalami kehilangan nenek sebagai anggota keluarga tertua sekaligus yang paling dihormati.
Namun, bukan kehilangan nenek yang membuat Aulia dan keluarga merasa terpukul. Kehilangan kenangan-kenangan tentang nenek adalah bagian paling memilukan, seperti kebiasaan kumpul keluarga lengkap bersama nenek dan tradisi sungkem, serta sambal ulekan nenek yang rasanya tiada tandingan dan selalu dinantikan.
Tidak ada sungkem meski seluruh keluarga kumpul
Sejujurnya, Aulia mengatakan kehilangan nenek tidak memakan waktu lama bagi keluarganya untuk berduka. Anggota keluarga baru kumpul satu per satu setelah kepergian nenek.
Akan tetapi, tetap saja, perempuan asal Sukoharjo ini mengaku tahu, diam-diam keluarganya sedang berkabung.
Suasana sepi menyelimuti keluarga, kediaman, dan dirinya sendiri. Banyaknya anggota keluarga justru menunjukkan “kesepian dalam keramaian” yang dirasakan Aulia, sebab semua orang menjadi fokus kepada dirinya masing-masing.
“Jelas beda sih,” kata Aulia, Kamis (5/3/2026) siang.
“Soalnya setelah itu pada banyak yang nikah, punya momongan. Jadi, fokus sama keluarga sendiri-sendiri,” bebernya.
Biasanya keluarga besar akan kumpul di kediaman Aulia. Semua hadir untuk memeriahkan hari Idulfitri, tetapi perlahan satu per satu anggota keluarganya tidak lagi datang karena nenek sudah tiada. Alhasil, suasana kumpul keluarga jadi berbeda dan lebih suram.
Nenek Aulia sudah tinggal bersama keluarganya sejak ia kecil, sehingga kehilangan nenek berarti kehilangan sebagian besar memori kebersamanya. Kebiasaan-kebiasaan bersama nenek pun ditinggalkan secara perlahan.
Salah satunya, sungkem, tradisi bersimpuh sambil mencium tangan orang yang lebih tua sebagai simbol penghormatan atau permohonan maaf di Jawa. Keluarga besarnya selalu kumpul di kediaman Aulia untuk alasan yang satu ini. Mereka akan sungkem secara berurutan dari yang tua yakni nenek sampai ke yang muda.
Sayangnya kini, sungkem tidak lagi dilakukan saat kumpul keluarga karena tidak ada nenek di rumah.
“Jauh lebih sepi soalnya hari pertama di rumah jadi berempat doang. Malah kadang kita skip sungkem sekalian soalnya berasa nggak Lebaran,” ujarnya.
Sambal buatan nenek yang dirindukan saat Idulfitri
Selain hilangnya tradisi sungkem, kebiasaan yang paling dirindukan saat Idulfitri adalah makan sambal buatan nenek. Memang tradisi ini tidak seperti Lebaran umumnya yang merujuk pada kue-kue manis atau sajian khusus seperti ketupat, tapi sambal buatan nenek adalah pelengkap hidangan paling nikmat yang selalu diincar Aulia dan keluarga besar saat hari raya Idulfitri.
“Kalau makanan paling nostalgik di keluarga itu sambel goreng buatan nenek,” ujarnya.

Saking banyaknya nostalgia yang bisa dibawa sambal goreng itu, Aulia mengaku heran dengan kemampuan neneknya yang sudah berusia lanjut, tetapi bisa memasak sambal goreng dengan porsi besar untuk dinikmati satu keluarga. Bahkan, sampai 4 hari berturut-turut Lebaran, sambal itu tidak akan habis, tidak juga basi.
Yang terpenting juga, sambal nenek adalah pelengkap yang membuat semua makanan terasa enak.
“Karena enak banget dan nggak tahu kok bisa awet 4 harian nggak basi-basi, padahal keluarga juga seabrek,” ujar Aulia.
Baginya, hilangnya sambal buatan nenek sama saja dengan meniadakan satu rasa dari piring makannya. Namun, kata Aulia, kehilangannya paling terasa dari kebiasaan menemani nenek berbelanja sebelum dinyatakan menderita demensia, lalu meninggalkan keluarganya perlahan dari memori sampai fisik.
Setelah itu, semua tentang nenek berubah di rumah. Tidak ada lagi sambal khas tradisional yang diaduk oleh tangan renta di wajan besar untuk satu keluarga. Semuanya telah digantikan dengan tren makanan anak-anak muda yang berlomba-lomba mengotori dapur, seperti dengan membuat tom yum.
“Tapi sekarang karena nenek nggak ada, lebih banyak member gen Z dan gen alpha, kita kalau Lebaran bakal masak tom yum ramai-ramai sepanci gede,” ujarnya.
Membeli baju baru agar terasa Lebaran betulan
Akibat kepergian nenek juga, Aulia merasa harus menyadarkan dirinya saat Lebaran tiba. Kalau ada satu hari di rumah yang tidak sama seperti hari-hari biasanya, dan perlu dirayakan.
Meski banyak anggota keluarga yang perlahan mangkir dari tradisi saling kumpul dan sungkem, serta tradisi memakan sambal goreng yang digantikan dengan memasak makanan yang sedang tren, Aulia mencoba menemukan cara agar merasa benar-benar sedang merayakan Lebaran.
Setelah menyelami perasaannya sendiri, ia menyadari kalau upaya itu dilakukannya dengan membeli dan mengenakan baju baru saat Lebaran. Selain mengikuti filosofi Jawa yang berbunyi, “Ajining raga ana ing busana [Kehormatan seseorang ditentukan dari busananya],” Aulia mencoba untuk menampilkan diri dalam balutan busana selayaknya untuk Idulfitri.
“Mungkin alasan aku tetep beli baju baru biar Lebarannya kerasa beda ya. Biar kayak dulu,” ujarnya.
Perihal dulu, ia tidak bisa menampik bahwa kehadiran nenek yang melengkapi keluarganya membuat perayaan Lebaran dan momen kumpul keluarga selalu berbeda. Hari khusus itu adalah satu hari yang istimewa dan tidak biasa. Perasaan yang tidak lagi dirasakannya dalam beberapa tahun ini.
Maka dari itu, untuk kembali merasa “berbeda”, baju Lebaran yang mengukuhkan perayaan dikenakannya.
“Soalnya dulu pas kecil, pasti tiap tahun beda.” Ucapnya.
Penulis: Shofiatunnisa Azizah
Editor: Aisyah Amira Wakang
BACA JUGA: Kala Matahari Store “Tenggelam”, Di mana Lagi Sebuah Keluarga Bisa Beli Baju Lebaran? atau artikel liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan













