Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sehari-hari

Kumpul Keluarga Justru bikin Ortu Makin Kesepian dan Terabaikan, Anak Sibuk sama HP dan Tak Saling Bicara

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
25 Februari 2026
A A
Makan bersama sia-sia: niat kumpul keluarga, tapi bikin ortu kesepian karena anak-anak sibuk main hp sampai tak nyahut saat diajak bicara MOJOK.CO

Ilustrasi - Makan bersama sia-sia: niat kumpul keluarga, tapi bikin ortu kesepian karena anak-anak sibuk main hp sampai tak nyahut saat diajak bicara. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Ketika orang tua mengikuti makan malam bersama bareng anak-anak yang telah dewasa, alih-alih merasakan kehangatan, justru diserang kesepian hebat. Layar ponsel telah menjadi jurang pemisah, membuat kerenggangan di meja makan begitu terasa. Yang tampak hanyalah kepura-puraan yang disebut sebagai waktu kumpul keluarga. 

***

Farley Ledgerwood sebenarnya menikmati suasana restoran. Suara denting di piring seperti semacam suara ASMR baginya. Juga cahaya hangat dari lampu-lampu restoran yang menyirami wajah-wajah pengunjung: menyaksikan wajah-wajah cerah (seperti tanpa masalah) memberi sensasi hangat tersendiri di batin Farley. 

Lebih dari itu, Farley memandang makan malam bersama di restoran sebagai momen menjalin keterhubungan dan kehangatan melalui percakapan. Itulah kenapa ia selalu membuat waktu kumpul keluarga. 

Awalnya seperti itu. Namun, kini, di usia 65 tahun, Farley memutuskan dan menegaskan tidak akan mau lagi diajak makan malam bersama lagi oleh tiga anaknya. Sebab, momen makan bersama anak-anak yang telah dewasa saat ini ternyata berubah menjadi momen menyebalkan dan sia-sia, seperti yang ia curahkan dalam jurnal hariannya yang dikutip dari GLOBAl English Editing, Rabu (25/2/2026). 

Merasa kesepian saat makan malam bersama: bapak bercerita tapi anak tak menyimak karena fokus ponsel

Puncak kekesalan Farley terjadi usai makan malam bersama di sebuah restoran Italia. 

Pria asal California itu bercerita, bayangkan, ketika menu-menu yang bikin ngiler itu terhidang di meja, dan anggota keluarga bisa berkumpul bersama, tapi yang terasa justru hambar dan asing. 

Di sela menyantap pesanan masing-masing, Farley bercerita perihal apa yang ia kerjakan di rumah belakangan: memperbaiki kebocoran di garasi rumah. Tidak ada yang langsung menyahut, sekali menyahut “Maaf, apa yang kamu katakan?” 

Di titik itu Farley sadar kalau sepanjang makan malam bersama itu, sedari awal matanya hanya menatap tiga kepala yang menunduk: mata dan wajah fokus menatap ponsel, sementara jari-jari mereka sibuk mengetik dan menggulirkan layar ke atas dan ke bawah secara berulang. 

Tiga anak Farley: Sarah tengah sibuk memasukkan barang-barang ke keranjang akun e-commerce-nya. Michael tenggelam dalam email kerjanya, dahinya berkerut karena konsentrasi. Sementara Emma terbuai dengan apa yang melintas di Instagram, sesekali tersenyum pada sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan kami di meja.

Makan malam bersama anak-anak: upaya bapak menebus masa lalu tapi tidak berguna

“Saat itu saya merasa terpukul. Kita bisa berada di mana saja, di kamar yang terpisah, bahkan di kota yang terpisah. Kedekatan fisik sungguh tidak berarti jika yan terjadi hanyalah jarak yang diciptakan oleh sinar cahaya ponsel,” tutur Farley. 

Makin terpukul lagi ketika seorang pelayan datang untuk mengisi gelas air di meja Farely. Pelayan itu menatap Farley dengan penuh pengertian sembari berujar, “Saya melihat ini sepanjang waktu.” 

Gejala makan malam bersama yang justru menciptakan kesepian itu sebenarnya sudah sejak lama Farley sadari. Hanya saja, ia berpikir, masih bisa mengupayakan sebuah pertemuan yang hangat. 

Lebih dari itu, Farley sebenarnya ingin menebus rasa bersalah. Sebab, semasa tiga anaknya masih kecil, Farley melewatkan terlalu banyak momen karena harus bekerja keras di sebuah perusahaan asuransi. 

Iklan

“Permainan sekolah dan pertandingan sepak bola mereka yang terlewatkan itu meninggalkan hutang yang telah saya coba bayar sejak saya pensiun dini pada usia 62 tahun,” ungkap Farley.

“Saya pikir waktu bersama mereka yang terlambat ini lebih baik daripada tidak ada waktu sama sekali,” sambungnya. 

Didorong rasa penebusan itulah Farley selalu punya harapan, bahwa setiap makan malam bersama yang dijadwalkan akan berlangsung berbeda: satu sama lain benar-benar saling bicara.

Jika itu terjadi, Farley tentu akan lega karena merasa telah menjadi bapak yang berguna. Tidak seperti apa yang anak-anak mereka ungkapkan tentang Farley: bapak yang bertahun-tahun absen dari kehidupan anak-anaknya, seperti dicurahkan Farley dalam jurnal lain berjudul, “35 Tahun Bekerja Keras demi Anak, tapi Kesepian di Masa Tua karena Dianggap Tak Pernah Hadir untuk Keluarga“.

Habiskan uang jutaan rupiah hanya untuk diabaikan dalam momen kumpul keluarga

Jika mau berhitung, Farley sudah menggelontorkan ratusan dollar perbulan dan puluhan juta pertahun demi mengajak tiga anaknya bertemu dalam sebuah makam malam. 

Kalau dirupiahkan, perbulan pria California itu bisa merogoh dompet sebanyak Rp3 jutaan. Dalam setahun, hampir Rp40 juta. 

“Tetapi biaya finansialnya tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan beban emosional. Setiap makan malam membuat saya merasa lebih terisolasi daripada jika saya hanya tinggal di rumah dengan buku,” ucap Farley getir. 

Kata Farley, kesepian paling buruk adalah ketika dikelilingi oleh orang-orang terdekat, tetapi seolah-olah mereka tidak melihat keberadaanmu: mengabaikanmu. Rasanya, bagi Farley, seperti menjadi hantu di pesta sendiri.

Apa yang keliru?

Situasi semacam itu membuat Farley kerap dihantui macam-macam pertanyaan setiap malam:

“Apakah saya membosankan?” 

“Apakah aku menjadi tidak relevan?” 

“Apakah seperti ini semua keluarga sekarang?”

Sampai akhirnya Farley memutuskan untuk memanggil tiga anaknya ke kediamannya. 

“Saya mengatakan kepada mereka bahwa saya terlalu menghargai hubungan kami untuk membiarkannya memburuk menjadi ritual kosong. Saya bilang saya ingin koneksi yang nyata. Saya ingin percakapan, bukan sesi scroll ponsel,” ucap Farley. 

Reaksi tiga anak Farley beragam. Sarah bersikap defensif, bersikeras bahwa ia tidak selalu menggunakan ponsel tiap bertemu. Lalu Michael tampak lega, karena baginya makan malam selalu membuatnya tidak jenak karena harus membagi fokus antara hadir di meja makan atau mengurus pekerjaan yang terus bermunculan di email. 

Sementara Emma sebenarnya tersinggung dengan apa yang dikatakan Farley. Akan tetapi, saat Farley meminta Emma untuk menyebutkan topik obrolan dalam beberapa pertemuan makan malam bersama terakhir, Emma tidak bisa menjawab: mengaku tidak ingat satu pun. 

Duduk bersama tapi tidak saling peduli: kepura-puraan yang disebut waktu kumpul keluarga

Farley benar-benar serius memperbaiki keberjarakan dengan anak-anaknya itu, agar tidak mengalami kesepian berkepanjangan. 

Oleh karena itu, setelah menghentikan agenda makan malam bersama di restoran dan memanggil tiga anaknya, Farley memutuskan untuk menemui anak-anaknya secara individual untuk kegiatan di mana anak-anaknya beraktivitas tanpa ponsel. 

“Michael dan saya pergi ke pertandingan bisbol. Sulit untuk memeriksa email ketika mata fokus mengamati bola. Sarah dan saya mulai melakukan sesuatu yang kreatif bersama pada hari Sabtu pagi. Tangan yang sibuk untuk kegiatan itu tidak dapat menggeser-geser layar. Sementara Emma dan saya menjadi sukarelawan di badan amal lokal sebulan sekali. Mengemasi kotak dan benar-benar berbicara sementara tangan kami sibuk dengan sesuatu yang bermakna,” beber Farley. 

Agenda makan malam bersama di restoran memang sudah diakhiri. Sebagai gantinya, Farley membuat waktu khusus kumpul keluarga tiap hari Minggu di rumahnya. 

Sebagai tuan rumah, Farley memberlakukan satu aturan ketat: ponsel disimpan dalam keranjang dekat pintu. Awalnya tidak menyenangkan bagi anak-anaknya. Akan tetapi, secara bertahap, waktu kumpul keluarga itu benar-benar berubah menjadi momen untuk saling bicara dan berbagi cerita. 

“Benar-benar saling bicara. Tentang ketakutan dan mimpi, tentang tantangan di tempat kerja, tentang perjuangan mengasuh anak mereka alias cucu-cucu saya,” ungkap Farley. 

Farley bukannya anti-teknologi. Namun, duduk bersama tapi tidak saling peduli—karena sibuk di layar ponsel masing-masing—adalah kepura-puraan dalam sebuah keluarga yang dibalut dalam waktu kumpul keluarga. Dan Farley tidak mau terus-menerus ada dalam lingkaran seperti itu. 

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Omong Kosong Menua Tenang di Desa: Menjadi Ortu di Desa Tak Cuma Dituntut Warisan, Harus Pikul Beban Berlipat dan Bertubi-tubi Tanpa Henti atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 25 Februari 2026 oleh

Tags: kesepiankumpul keluargakumpul tapi sibuk main hpmakan bersamamakan bersama keluargamakan malammalam malam bersamapilihan redaksi
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Mahasiswa UGM hidup nomaden sambil kuliah di Jogja demi gelar sarjana
Edumojok

Mahasiswa UGM Kena DO dan Tinggal Nomaden karena Kendala Ekonomi, Kini Raih Gelar Sarjana Berkat “Menumpang” di Kos Teman

17 Maret 2026
Rasa Sanga (7): Membaca Ajaran Sunan Kudus dari Sebungkus Garang Asem yang Pedas, Kecut, dan Segar.MOJOK.CO
Lipsus

Rasa Sanga (7): Membaca Ajaran Sunan Kudus dari Sebungkus Garang Asem yang Pedas, Kecut, dan Segar

16 Maret 2026
Ambisi jadi PNS di usia 25 demi hidup sejahtera. Malah menderita karena perkara gadai SK MOJOK.CO
Sehari-hari

Jadi PNS Tak Bahagia Malah Menderita, Dipaksa Keluarga Gadai SK Demi Puaskan Tetangga dan Hal-hal Tak Guna

16 Maret 2026
merantau, karet tengsin, jakarta. apartemen, kpr MOJOK.CO
Urban

Kebahagiaan Semu Gaji 5 Juta di Jakarta: Dianggap “Sultan” di Desa, Padahal Kelaparan dan Menderita di Kota

15 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Orang Minang Merantau ke Jogja: Iman Kuliner Saya Runtuh karena Gula Jawa Membuat Rendang Asli jadi Terasa Asin Saja MOJOK.CO

Orang Minang Merantau ke Jogja: Iman Kuliner Saya Runtuh karena Gula Jawa, Rendang Asli jadi Terasa Asin Saja

13 Maret 2026
Selalu royal ke teman saat butuh bantuan karena kesusahan. Giliran diri sendiri hidup susah eh diacuhkan pertemanan MOJOK.CO

Kapok Terlalu Royal ke Teman: Teman Datang karena Ada Butuhnya, Giliran Diri Sendiri Kesusahan Eh Diacuhkan meski Mengiba-iba

17 Maret 2026
Nasib selalu kalah kalau adu pencapaian untuk kejar standar sukses keluarga besar. Orientasinya karier mentereng dan gaji besar, usaha dan kerja mati-matian tidak dihargai MOJOK.CO

Nasib Selalu Kalah kalau Adu Pencapaian: Malu Gini-gini Aja, Sialnya Punya Keluarga Bajingan yang Tak Bakal Apresiasi Usaha

14 Maret 2026
Lebaran, mudik, s2.MOJOK.CO

Bawa Pulang Gelar S2 Saat Mudik ke Desa Dicap Gagal, Bikin Tetangga “Kicep” Usai Buatkan Orang Tua Rumah

13 Maret 2026
Kerja Jakarta, Tinggal Bekasi Pulang Jogja Disambut UMR Sialan (Unsplash)

Kerja di Jakarta, Tinggal di Bekasi Rasanya Mau Mati di Jalan: Memutuskan Pulang ke Jogja Disambut Derita Baru Bernama UMR Jogja yang Menyedihkan Itu

16 Maret 2026
burjo atau warmindo bikin rindu anak rantau dari Jogja ke Jakarta. MOJOK.CO

Anak Rantau di Jogja Menyesal ke Jakarta, Tak Ada Burjo atau Warmindo sebagai Penyelamat Karjimut Bertahan Hidup

16 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.