Ketika narasi slow living di desa mencuat, tidak sedikit orang yang kemudian menyangkal: tidak membenarkan kalau desa merupakan tempat slow living ideal. Penyebabnya, tinggal di desa artinya harus siap hidup bertetangga. Masalahnya, itu artinya juga harus siap dengan kebisingan-kebisingan yang tetangga timbulkan.
Belakangan mencuat narasi yang menyebut: ada banyak sekali aktivitas bising tetangga yang mengganggu ketenangan tinggal di desa. Akan tetapi, berdasarkan pengalaman pribadi saya selama tinggal di desa dan hasil wawancara, kebisingan tersebut sebenarnya merupakan hal wajar yang entah kenapa kini justru dipermasalahkan.
Suara bising tukang dianggap mengganggu ketenangan hari Minggu, padahal itu suara pejuang keluarga
Sebagai orang yang tumbuh di keluarga tukang di sebuah desa di Rembang, Jawa Tengah, sejak kecil Padil (27) cukup akrab dengan kebisingan mesin pemotong-penghalus kayu. Bahkan sejak lulus SMK pun Padil turut menekuni profesi tersebut.
Rumah Padil bisa dibilang sangat berdekatan dengan rumah tetangga. Ada sekitar lima rumah yang berdekatan. Namun, sejak dulu, nyatanya tidak ada satu pun tetangga yang protes karena terganggu suara bising meski sering kali kalau ada pesanan, Bapak Padil pasti akan menghabiskan waktu seharian dalam beberapa hari untuk merampungkan pekerjaan.
Tidak ada yang protes. Malah sering kali tetangga justru penasaran perihal apa yang sedang Bapak Padil garap sehingga membutuhkan waktu berhari-hari dengan durasi kerja seharian.
“Jadi hari Minggu pagi langsung ada suara ngang-ngeng ngang-ngeng mesin itu ya biasa saja. Ya memang begitulah cara Bapakku menjadi pejuang keluarga. Yang penting kan halal,” ujar Padil, Kamis (13/8/2026).
Maka dari itu, Padil agak heran ketika kemudian di media sosial banyak orang emosi karena merasa ketenangan hari Minggu-nya terganggu gara-gara bising tukang kayu. Pertanyaan yang terlontar di media sosial: “Kenapa sih tukang-tukang ini selalu bikin bising di hari Minggu?”. Dari media sosial, sejumlah anak muda di desanya pun pada akhirnya ikut mengamplifikasi keresahan tersebut.
Padil mengaku hanya bisa geleng-geleng kepala menyimak pertanyaan itu. Sebab begini, dalam pengamatan Padil, ada tiga tipikal anak muda yang meresahkan suara bising tukang di hari Minggu.
Pertama, ia yang lama merantau. Kedua, ia yang sehari-hari bekerja di luar rumah. Keduanya punya kesamaan: tidak berada di rumah setidaknya dalam rentang Senin-Jumat.
“Kalau mereka Senin-Jumat di rumah, ya pasti terganggu juga karena Bapakku kerja bisa seminggu penuh. Nah, tepat ketika mereka libur di hari Minggu dan pengin istirahat, eh Bapakku kerja. Terus merasa terganggu. Padahal ya sehari-hari memang itulah pekerjaan Bapakku,” ujar Padil.
Sementara tipikal anak muda yang ketiga adalah yang karena FOMO dengan konten media sosial. Ketika media sosial mulai mempermasalahkan kebisingan tukang di hari Minggu, mereka merasa selama ini juga menyimpan keresahan yang sama. Lalu punya alasan untuk mencurahkan kemuakan juga. Padahal, kata Padil, secara umum ya wajar-wajar saja.
Dangdutan di siang bolong-muter radio di malam hari, hal baisa di desa yang seolah merusak slow living
Tidak hanya suara tukang di hari Minggu, kalau saya menemukan narasi: slow living di desa menjadi mustahil karena gangguan dari tetangga tidak tahu diri yang memutar musik sound system kencang-kencang.
Sejak SMP saya bersinggungan dekat dengan tetangga yang modelannya seperti itu. Rumah yang saya dan keluarga tempati sebelumnya malah dihimpit oleh tetangga yang suka memutar sound system dan radio kencang-kencang.
Tetangga yang rumahnya persis di atas rumah saya punya kegemaran memutar lagu-lagu dangdut di siang bolong. Sementara tetangga yang rumahnya berada di bawah rumah saya punya hobi memutar radio wayangan di malam hari.
Kini pun, setelah pindah rumah, kami juga punya tetangga yang bahkan sudah memutar musik horeg sejak jam 7 pagi.
Tapi memang tidak pernah ada tetangga yang merasa terganggu. Saya sendiri justru merasa terganggu setelah terpapar kesadaran perihal ruang privat dari kota perantauan. Tapi yang jelas, secara umum, tetangga-tetangga lain tidak ada yang mempersoalkan.
Malahan, beberapa kali saya amati, kadang kalau tetangga saya yang suka muter sound system di siang bolong itu absen, tetangga lain malah bertanya-tanya: kok tumben? Di lain kesempatan, ada juga tetangga yang request: kalau siang-siang itu enaknya ya muter tayuban.
Kebisingan yang saya rindukan selama tinggal di desa
Sejak saya dan keluarga pindah rumah, saya justru kerap merindukan tetangga saya yang hobi memutar radio di jam-jam malam. Ia biasanya akan memutar di jam 11 malam hingga menjelang Subuh.
Memang sengaja diputar di jam-jam segitu karena di waktu tersebut lah si pemilik rumah (sepasang kakek-nenek) beraktivitas: memasak nasi uduk yang akan dijual sebagai sarapan esok paginya.
Sayup-sayup suara lakon pewayangan dari radio itu, alih-alih membuat saya terganggu dan tidak bisa tidur, justru menjadi alasan saya memiliki keberanian saat terbangun di tengah malam.
Di rumah joglo tua yang saya tinggali itu, saya memang punya kecenderungan takut ke kamar mandiri sendiri saat terbangun tengah malam. Oleh karena itu, suara sayup-sayup dari radio memberi saya keberanian.
Sebab, saya akhirnya tersugesti kalau di luar sana, saat malam semakin larut, masih ada tetangga yang melek. Saya tidak melek sendiri di tengah belantara malam desa saya yang selama ini selalu identik dengan cerita-cerita horor yang selalu berhasil membuat merinding.
Geber motor di siang bolong bukan pengganggu slow living, tapi bumbu kehidupan di desa
Kemuakan perihal kebisingan tetangga, kata Padil, juga tertuju pada orang yang suka geber motor di siang bolong.
Memang, di desa Padil, ada orang yang hobi dengan motor brong. Setiap ganti knalpot atau mengotak-atik motornya, orang itu pasti akan menggeber-geber untuk menguji seberapa gahar suaranya.
Tidak dimungkiri, beberapa orang merasa terganggu. Apalagi di jam-jam siang, saat beberapa warga berusaha tidur siang sebelum melanjutkan aktivitas di ladang sore harinya.
“Tapi paling mentok pasti cuma bergumam, ‘Eh, siang-siang kok ya gebar-geber, wayahe wong turu.’ Tapi nggak ada yang sampai benci banget,” jelas Padil.
Padil pun tidak menampik kalau sering kali ia juga merasa risih. Namun, begitulah bumbu-bumbu kehidupan di desa. Jika memang suasana tersebut tidak ideal untuk slow living—dalam definisi umum yang diamini—bagi Padil ya sudah tidak perlu meromantisasi narasi slow living desa. Tinggal di hutan saja kalau mau sepi.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Beban Pemuda Desa Kerja di Luar Negeri: Demi Dipandang Harus Gelar Dangdutan Tiap Tahun buat Hibur Warga atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














