Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sehari-hari

Hal-hal Wajar di Desa Jadi Dianggap Mengganggu Gara-gara Narasi Slow Living, Padahal Jadi Bumbu Kehidupan

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
14 Agustus 2026
A A
Kebisingan-kebisingan di desa yang sebenarnya wajar tapi kini dipermasalahkan karena narasi desa sebagai tempat slow living ideal MOJOK.CO

Ilustrasi - Kebisingan-kebisingan yang ditemui jika tinggal di desa yang sebenarnya wajar tapi kini dipermasalahkan karena narasi desa sebagai tempat slow living ideal. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Ketika narasi slow living di desa mencuat, tidak sedikit orang yang kemudian menyangkal: tidak membenarkan kalau desa merupakan tempat slow living ideal. Penyebabnya, tinggal di desa artinya harus siap hidup bertetangga. Masalahnya, itu artinya juga harus siap dengan kebisingan-kebisingan yang tetangga timbulkan. 

Belakangan mencuat narasi yang menyebut: ada banyak sekali aktivitas bising tetangga yang mengganggu ketenangan tinggal di desa. Akan tetapi, berdasarkan pengalaman pribadi saya selama tinggal di desa dan hasil wawancara, kebisingan tersebut sebenarnya merupakan hal wajar yang entah kenapa kini justru dipermasalahkan. 

Suara bising tukang dianggap mengganggu ketenangan hari Minggu, padahal itu suara pejuang keluarga

Sebagai orang yang tumbuh di keluarga tukang di sebuah desa di Rembang, Jawa Tengah, sejak kecil Padil (27) cukup akrab dengan kebisingan mesin pemotong-penghalus kayu. Bahkan sejak lulus SMK pun Padil turut menekuni profesi tersebut. 

Rumah Padil bisa dibilang sangat berdekatan dengan rumah tetangga. Ada sekitar lima rumah yang berdekatan. Namun, sejak dulu, nyatanya tidak ada satu pun tetangga yang protes karena terganggu suara bising meski sering kali kalau ada pesanan, Bapak Padil pasti akan menghabiskan waktu seharian dalam beberapa hari untuk merampungkan pekerjaan. 

Tidak ada yang protes. Malah sering kali tetangga justru penasaran perihal apa yang sedang Bapak Padil garap sehingga membutuhkan waktu berhari-hari dengan durasi kerja seharian. 

“Jadi hari Minggu pagi langsung ada suara ngang-ngeng ngang-ngeng mesin itu ya biasa saja. Ya memang begitulah cara Bapakku menjadi pejuang keluarga. Yang penting kan halal,” ujar Padil, Kamis (13/8/2026). 

Maka dari itu, Padil agak heran ketika kemudian di media sosial banyak orang emosi karena merasa ketenangan hari Minggu-nya terganggu gara-gara bising tukang kayu. Pertanyaan yang terlontar di media sosial: “Kenapa sih tukang-tukang ini selalu bikin bising di hari Minggu?”. Dari media sosial, sejumlah anak muda di desanya pun pada akhirnya ikut mengamplifikasi keresahan tersebut. 

Padil mengaku hanya bisa geleng-geleng kepala menyimak pertanyaan itu. Sebab begini, dalam pengamatan Padil, ada tiga tipikal anak muda yang meresahkan suara bising tukang di hari Minggu. 

Pertama, ia yang lama merantau. Kedua, ia yang sehari-hari bekerja di luar rumah. Keduanya punya kesamaan: tidak berada di rumah setidaknya dalam rentang Senin-Jumat. 

“Kalau mereka Senin-Jumat di rumah, ya pasti terganggu juga karena Bapakku kerja bisa seminggu penuh. Nah, tepat ketika mereka libur di hari Minggu dan pengin istirahat, eh Bapakku kerja. Terus merasa terganggu. Padahal ya sehari-hari memang itulah pekerjaan Bapakku,” ujar Padil. 

Sementara tipikal anak muda yang ketiga adalah yang karena FOMO dengan konten media sosial. Ketika media sosial mulai mempermasalahkan kebisingan tukang di hari Minggu, mereka merasa selama ini juga menyimpan keresahan yang sama. Lalu punya alasan untuk mencurahkan kemuakan juga. Padahal, kata Padil, secara umum ya wajar-wajar saja. 

Dangdutan di siang bolong-muter radio di malam hari, hal baisa di desa yang seolah merusak slow living

Tidak hanya suara tukang di hari Minggu, kalau saya menemukan narasi: slow living di desa menjadi mustahil karena gangguan dari tetangga tidak tahu diri yang memutar musik sound system kencang-kencang. 

Sejak SMP saya bersinggungan dekat dengan tetangga yang modelannya seperti itu. Rumah yang saya dan keluarga tempati sebelumnya malah dihimpit oleh tetangga yang suka memutar sound system dan radio kencang-kencang. 

Tetangga yang rumahnya persis di atas rumah saya punya kegemaran memutar lagu-lagu dangdut di siang bolong. Sementara tetangga yang rumahnya berada di bawah rumah saya punya hobi memutar radio wayangan di malam hari. 

Iklan

Kini pun, setelah pindah rumah, kami juga punya tetangga yang bahkan sudah memutar musik horeg sejak jam 7 pagi. 

Tapi memang tidak pernah ada tetangga yang merasa terganggu. Saya sendiri justru merasa terganggu setelah terpapar kesadaran perihal ruang privat dari kota perantauan. Tapi yang jelas, secara umum, tetangga-tetangga lain tidak ada yang mempersoalkan. 

Malahan, beberapa kali saya amati, kadang kalau tetangga saya yang suka muter sound system di siang bolong itu absen, tetangga lain malah bertanya-tanya: kok tumben? Di lain kesempatan, ada juga tetangga yang request: kalau siang-siang itu enaknya ya muter tayuban. 

Kebisingan yang saya rindukan selama tinggal di desa

Sejak saya dan keluarga pindah rumah, saya justru kerap merindukan tetangga saya yang hobi memutar radio di jam-jam malam. Ia biasanya akan memutar di jam 11 malam hingga menjelang Subuh. 

Memang sengaja diputar di jam-jam segitu karena di waktu tersebut lah si pemilik rumah (sepasang kakek-nenek) beraktivitas: memasak nasi uduk yang akan dijual sebagai sarapan esok paginya. 

Sayup-sayup suara lakon pewayangan dari radio itu, alih-alih membuat saya terganggu dan tidak bisa tidur, justru menjadi alasan saya memiliki keberanian saat terbangun di tengah malam. 

Di rumah joglo tua yang saya tinggali itu, saya memang punya kecenderungan takut ke kamar mandiri sendiri saat terbangun tengah malam. Oleh karena itu, suara sayup-sayup dari radio memberi saya keberanian. 

Sebab, saya akhirnya tersugesti kalau di luar sana, saat malam semakin larut, masih ada tetangga yang melek. Saya tidak melek sendiri di tengah belantara malam desa saya yang selama ini selalu identik dengan cerita-cerita horor yang selalu berhasil membuat merinding. 

Geber motor di siang bolong bukan pengganggu slow living, tapi bumbu kehidupan di desa

Kemuakan perihal kebisingan tetangga, kata Padil, juga tertuju pada orang yang suka geber motor di siang bolong. 

Memang, di desa Padil, ada orang yang hobi dengan motor brong. Setiap ganti knalpot atau mengotak-atik motornya, orang itu pasti akan menggeber-geber untuk menguji seberapa gahar suaranya. 

Tidak dimungkiri, beberapa orang merasa terganggu. Apalagi di jam-jam siang, saat beberapa warga berusaha tidur siang sebelum melanjutkan aktivitas di ladang sore harinya.

“Tapi paling mentok pasti cuma bergumam, ‘Eh, siang-siang kok ya gebar-geber, wayahe wong turu.’ Tapi nggak ada yang sampai benci banget,” jelas Padil.

Padil pun tidak menampik kalau sering kali ia juga merasa risih. Namun, begitulah bumbu-bumbu kehidupan di desa. Jika memang suasana tersebut tidak ideal untuk slow living—dalam definisi umum yang diamini—bagi Padil ya sudah tidak perlu meromantisasi narasi slow living desa. Tinggal di hutan saja kalau mau sepi. 

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Beban Pemuda Desa Kerja di Luar Negeri: Demi Dipandang Harus Gelar Dangdutan Tiap Tahun buat Hibur Warga atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 14 Agustus 2026 oleh

Tags: hidup di desakehidupan di desapilihan redaksislow livingslow living di desatinggal di desa
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Makrab, Budaya senioritas dan bullying di kampus.MOJOK.CO

Setelah 4 Kali Ikut Makrab di Kampus, Saya Percaya Budaya Ini Lebih Baik Dihapus Saja: Bukan Bikin Akrab, Malah Meruncingkan Konflik “Senior” dan “Junior”

13 Agustus 2026
Mahasiswa baru (maba) rela jadi jongos abang-abangan kampus di organisasi mahasiswa ekstra (ormek) dan tidak pernah menyesalinya MOJOK.CO

Maba Rela Jadi Jongos Abang-abangan Kampus demi Relasi dan Diskusi Kiri Apa Salahnya? Tak Malu dan Tak Menyesalinya

13 Agustus 2026
Pegawai Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih pinggir kuburan harus dibekali dengan keahlian supranatural hingga ilmu sosial MOJOK.CO

Keahlian-keahlian Vital untuk Pegawai Kopdes Pinggir Kuburan, Berguna buat Diri Sendiri dan Pembeli

13 Agustus 2026
Slow living boleh kalau tabunganmu nambah 1 miliar tiap bulan (Unsplash)

Slow living itu sekarang jatuhnya kemewahan tapi gaya hidup, yang hanya bisa dinikmati oleh mereka yang tabungannya nambah 1 miliar tiap bulan

13 Agustus 2026
Slow living, Cara Beli Rumah di Desa Tanpa Dihantui KPR Puluhan Tahun MOJOK.CO

Tanpa Punya Rumah di Desa Tetap Bisa Slow Living Asalkan Memegang 3 Prinsip Ini

12 Agustus 2026
ngaji al-qur'an.MOJOK.CO

Promosi Miras Pakai Hafalan Al-Qur’an: Diklaim Lecehkan Agama, Berpotensi Mengulang Blunder Hollywings 

11 Agustus 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Mahasiswa baru (maba) rela jadi jongos abang-abangan kampus di organisasi mahasiswa ekstra (ormek) dan tidak pernah menyesalinya MOJOK.CO

Maba Rela Jadi Jongos Abang-abangan Kampus demi Relasi dan Diskusi Kiri Apa Salahnya? Tak Malu dan Tak Menyesalinya

13 Agustus 2026
Slow living, Cara Beli Rumah di Desa Tanpa Dihantui KPR Puluhan Tahun MOJOK.CO

Tanpa Punya Rumah di Desa Tetap Bisa Slow Living Asalkan Memegang 3 Prinsip Ini

12 Agustus 2026
Natalius Pigai Menyarankan Buku Karangan Orang Barat, Baiklah Saya Pilihkan MOJOK.CO

Natalius Pigai Menyarankan Buku Karangan Orang Barat, Baiklah Saya Pilihkan

10 Agustus 2026
Lomba Agustusan di desa jadi toxic dan merusak moral anak muda gara-gara paparan kreator konten di media sosial MOJOK.CO

Lomba Agustusan di Desa Jadi Toxic dan “Merusak” Anak Muda karena Terpapar Konten Kreator, Tidak Seasyik Dulu

8 Agustus 2026
Wisata Perahu Kalimas di Taman Prestasi Surabaya jadi liburan mewah. MOJOK.CO

Kemewahan Wisata Perahu Kalimas Menyelamatkan Orang Haven’t Surabaya sebelum Dilanda Stres

11 Agustus 2026
Apem ya qowiyyu: kue apem khas Jatinom Klaten berusia 400 tahun. Bukan sekadar warisan kuliner tradisional tapi simbol kesalehan sosial MOJOK.CO

Apem Ya Qowiyyu: Kue Khas Jatinom Klaten Berusia 400 Tahun, Bukan Semata Warisan Kuliner tapi Kesalehan Sosial

10 Agustus 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.