Kiky (33) tak terlalu antusias saat mendengar rilis HP android terbaru dari Samsung Galaxy S26. Meski fitur barunya terlihat menggiurkan, pengalaman pribadinya pakai Samsung justru bikin dia beralih ke Xiaomi POCO M7.
Yang terbaru dari Samsung Galaxy S26
Samsung baru saja meluncurkan series terbaru yang memiliki fitur cerdas menyaingi iPhone pada awal 2026 ini. Melansir dari laman resmi Samsung, Samsung Galaxy S26 Series telah mengembangkan fitur AI yang memudahkan pengguna untuk berkreasi.
Pertama, pembaruan Galaxy AI di One UI 0.5 untuk mempermudah pengguna mengelola rutinitas, mencari informasi, dan membuat konten. Kedua, 5 AI baru seperti Now Nudge, Autonomous Call Screening, Circle to Search dengan Google terbaru, dan Bixby.
- Now Nudge merupakan fitur otomatis untuk mengenali konteks percakapan atau situasi yang sedang berlangsung, sehingga pengguna tidak perlu mencari atau berpindah aplikasi.
- Autonomous Call Screening berfungsi untuk menghadapi panggilan tidak dikenal. Sistem ini dapat mengidentifikasi penelepon sekaligus merangkum tujuan panggilan sebelum pengguna memutuskan untuk menjawab.
- Circle to Search with Google berfungsi mencari banyak objek sekaligus dalam satu pencarian. Pengguna dapat memilih beberapa objek sekaligus di layar untuk dikenali dan dijelaskan, lengkap dengan tautan untuk eksplorasi lebih lanjut.
- Bixby untuk mengontrol HP menggunakan bahasa sehari-hari. Ia ibarat asisten percakapan yang membantu pengguna mengatur dan menavigasi ponsel dengan bahasa natural, tanpa perlu hafal nama menu atau fitur.
Ketiga, penanaman AI pada Photo Assist dan Creative Studio memudahkan proses “buat-edit-bagikan”. Pengguna dapat menuliskan apa yang ingin diubah lewat prompt atau deskripsi singkat.
Tapi maaf, saya sudah kecewa
Namun jujur saja, sebagai pengguna Samsung Galaxy hampir 8 tahun, Kiky sudah tidak tertarik dengan pembaruan fitur di atas sebab pengalaman menyebalkan yang pernah ia alami.
Awalnya, Kiky mengira Samsung Galaxy adalah merek yang reliabel alias dapat diandalkan untuk membantu kegiatan sehari-hari. Mulai dari nge-game, scroll sosial media, chat, dan untuk kerja.
“Terakhir aku pakai Samsung Galaxy S21+. Karena dia brand terkenal aku jadi nggak khawatir semisal harus cari tempat servis di mana-mana,” kata pemuda asal Wonogiri tersebut saat dihubungi Mojok, Jumat (27/2/2026).
Sebelum menggunakan Samsung, Kiky juga pernah memakai iPhone. Dibandingkan iPhone, kata dia, penggunaan Samsung Android lebih nggak rewel. Sedangkan, iPhone menurutnya terlalu ringkih.
“Salah satu contoh kalau IC Charger Samsung rusak, sekali perbaikan sudah kelar tapi kalau iPhone itu nggak bisa. Terlalu ribet komponennya,” kata Kiky.
Green line, penyakit kronis Samsung Galaxy
Namun, pandangan Kiky terhadap Samsung Galaxy seketika berubah setelah gawainya mengalami kerusakan pada layar akibat jatuh dari atas motor. Setelah kejadian tersebut, layar di gawainya muncul garis hijau atau green line.
Kiky pun langsung membawanya ke tempat servis. Teknisi bilang, kerusakan itu muncul justru karena Samsung miliknya mengalami overheat atau panas berlebih bukan karena jatuh.
Melansir dari laman resmi Samsung, memang ada dua tipe kendala layar bergaris yang sering terjadi dan ini seringkali bukan karena kesalahan pengguna.
Pertama, garis hijau yang tipis. Masalah ini bisa menghilang atau bersifat hardware. Namun, jika garisnya tebal dan paten, artinya ada kerusakan yang terjadi pada salah satu lapisan internal panel AMOLED.
Sialnya, masalah yang dihadapi Kiky bukan sekadar kendala software melainkan satu garis tebal yang tidak akan hilang walaupun ponsel direset. LCD di gawai Kiky juga tidak retak alias tampak baik-baik saja.
“Aku sampai habis sekitar Rp4,3 juta hanya untuk servis. Servis pertama, aku habis Rp1,8 juta. Karena rusak lagi, aku harus keluar Rp2,5 juta,” kata Kiky.
Xiaomi POCO M7 adalah HP android penyelamat
Tak hanya menguras biaya, penanganan servis yang lama juga mengganggu aktivitas harian Kiky. Menurut teknisi, Samsung Galaxy milik Kiky harus menginap selama seminggu karena antre.
Karena tak sanggup menunggu berhari-hari sementara tugas hariannya pun tidak berhenti, Kiky akhirnya membeli HP Android merek Xiaomi POCO M7 Pro 5G karena sudah kecewa dengan Samsung Galaxy.
“Masalahnya, udah aku servis dua kali tapi muncul lagi. Daripada aku habis Rp6-7 juta-an (untuk 3 kali servis) ya mending aku beli baru,” kata Kiky.
Salah satu alasan Kiky membeli Xiaomi POCO M7 Pro 5G, karena harganya yang terjangkau dan sudah memenuhi standar untuk membantu kegiatannya sehari-hari.
Mulai dari chipset MediaTek Dimensity-nya yang andal untuk multitasking dan game kasual, kapasitas baterainya yang senilai 5.110 mAh dengan pengisian daya 45W fast charging, hingga desainnya yang modern.
“Dibilang jelek juga nggak, dibilang sebagus itu ketimbang Samsung Galaxy juga nggak, at least nyaman dipakai harian.
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Pertama Kali Punya HP Android: Niat Bergaya malah Menderita, Diteror Notif “Memori Penuh” hingga Layar Mati Separuh atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan













