Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sehari-hari

Bapak Kerja Keras 60 Jam agar Keluarga Tak Hidup Susah, Ternyata bagi Anak Itu Tak Cukup untuk Disebut “Kasih Sayang”

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
26 Februari 2026
A A
Ironi bapak kerja habis-habisan 60 jam agar anak tak susah finansial. Tapi peran sebagai ayah dipertanyakan karena anak mengaku fatherless MOJOK.CO

Ilustrasi - Ironi bapak kerja habis-habisan 60 jam agar anak tak susah finansial. Tapi peran sebagai ayah dipertanyakan karena anak mengaku fatherless. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Bagaimana sudut pandang seorang bapak ketika anaknya mengaku tumbuh dalam situasi fatherless (tanpa peran ayah)? Sementara sang bapak telah menghabiskan 60 jam perminggu untuk bekerja habis-habisan: demi biaya kuliah anak dan memberi keluarga keamanan finansial. 

***

Sudah banyak anak yang mencurahkan perasaannya yang merasa tidak punya sosok ayah dalam hidupnya. Sang ayah ada secara fisik, tapi tidak hadir dalam peran emosional lantaran beberapa sebab. 

Seorang bapak asal California bernama Farley Ledgerwood mengaku kaget dengan situasi tersebut. Pasalnya, setelah bekerja keras selama 35 tahun demi anak-anaknya, di masa tuanya, saat ia ingin berkumpul dengan anak-anaknya, sang anak justru mengungkit: dulu ayah tidak pernah ada buat kami!

Cerita Farley selengkapnya bisa dibaca dalam tulisan ini, “35 Tahun Bekerja Keras demi Anak, tapi Kesepian di Masa Tua karena Dianggap Tak Pernah Hadir untuk Keluarga“. 

Di titik ini lah para bapak baru menyadari—sekalipun juga merasa teriris batinnya: ternyata kerja habis-habisan untuk memberi perlindungan finansial terhadap keluarga bukanlah hitungan tunggal bentuk kehadiran dan kasih sayang. Dan akhirnya anak merasa fatherless. 

Bapak takut keluarganya miskin, sedangkan anak takut fatherless

Fenomena fatherless (kekosongan peran ayah) memang cukup kompleks. Setidaknya begitu yang dipaparkan Cole Matheson dalam tulisannya yang dikutip dari GLOBAL English Editing. Apalagi jika seorang bapak hanyalah kelas pekerja. 

Bagi bapak kelas pekerja, ia benar-benar sangat khawatir: bisa memberi makan keluarga atau tidak. Oleh karena itu, ekspresi utamanya kemudian lebih besar berkutat pada persoalan finansial. 

Seorang bapak yang tumbuh miskin bahkan hidup dengan orientasi: bagaimana harus terus bekerja. Kendati ia harus bekerja hingga 60 jam seminggu (melewati batas maksimal jam kerja). 

“Sebab, jika berhenti bekerja (bahkan hanya sebentar saja) terasa seperti meninggalkan/menelantarkan keluarganya,” ucap Cole. 

Bapak merasa kerja lembur biar tak susahkan keluarga sudah cukup

Selama ini beberapa bapak hanya memahami satu peran vital sebagai seorang ayah: kerja habis-habisan agar keluarga dan kesusahan. 

Cole pun menegaskan, membayar kuliah juga merupakan tindakan cinta. Bekerja lembur sehingga anak tidak perlu khawatir tentang tagihan listrik juga bagian dari kasih sayang. 

“Masalahnya bukan karena ketentuan soal keuangan tidak dihitung. Masalahnya adalah itu menjadi satu-satunya hal yang diperhitungkan,” ujar Cole. Sebab, tidak hanya itu yang anak butuhkan. 

Seperti temuan dalam penelitian “The Bystander-Effect: A Meta-Analytic Review on Bystander Intervention in Dangerous and Non-Dangerous Emergencies” yang ditulis Ronald Rohner: kenapa anak butuh tiak hanya sekadar aman secara finansial? Karena jika anak tidak mendapat kehangatan emosional dari orang tua akan tumbuh dengan kondisi psikologi rentan:  bergulat dengan kecemasan, depresi, dan kesulitan dalam membentuk hubungan yang aman. Dengan begitu, aman secara finansial saja tidak cukup bagi anak.  

Iklan

Sebuah studi tahun 2012 yang diterbitkan dalam Jurnal Psikologi Keluarga oleh para peneliti di Universitas Brigham Young juga menemukan bahwa ayah yang sangat terlibat dalam peran pengasuhan emosional (bukan hanya penyediaan keuangan) tercatat memiliki anak-anak yang melaporkan kesehatan emosional yang jauh lebih baik dan ikatan relasional yang lebih kuat di masa dewasa. 

Anak fatherless tidak menampik pengorbanan bapak, tapi bapak juga harus belajar lagi soal “kehadiran”

Cole memberi fakta, anak-anak yang merasa fatherless sedianya tidak menampik sama sekali pengorbanan sang bapak. 

Seorang anak tidak menghapus kenyataan bahwa sang bapak telah bekerja keras demi biaya kuliah anak. Tidak juga berpura-pura pengorbanan itu tidak terjadi. 

Hanya saja anak butuh sang bapak menyediakan waktu bersama, di sela-sela letih dan sisa waktu yang sedikit lantaran terkuras di tempat kerja. Anak ingin sekadar ditanya: bagaimana harimu? 

Di titik ini, kalau kata Cole, seorang anak sebenarnya ingin bilang: bukannya anak tidak bisa membaca ungkapan cinta dan kasih sayang dari bapak dalam rupa kerja tanpa henti. “Aku tahu kamu (bapak mencintaiku), tapi aku tidak bisa merasakannya.” Dan itu terasa menyesakkan sekali. 

***

Selama ini, bapak bertindak atas kesadaran inisiatif dan kewajiban: bekerja keras untuk keluarga adalah kewajiban. Sehingga menyimpulkan, itu sudah cukup untuk disebut cinta dan kasih sayang. 

Atas fenomena banyak anak merasa kekurangan peran seorang ayah, Cole memberi saran: sepertinya sesekali seorang bapak juga harus bertanya kepada anak, “Apa yang kamu butuhkan?” Karena bisa jadi yang anak butuhkan tidak sekadar uang. 

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Kumpul Keluarga Justru bikin Ortu Makin Kesepian dan Terabaikan, Anak Sibuk sama HP dan Tak Saling Bicara atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 26 Februari 2026 oleh

Tags: fatherlessperan ayahperan bapak
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Film Suka Duka Tawa mengangkat panggung stand-up comedy. MOJOK.CO
Ragam

“Suka Duka Tawa”: Getirnya Kehidupan Orang Lucu Mengeksploitasi Cerita Personal di Panggung Komedi demi Mendulang Tawa

13 Januari 2026
Seorang bapak di Semarang tak tega lihat anak stunting, hindari isu fatherless. MOJOK.CO
Ragam

Awalnya Tak Tega Lihat Anak Sakit hingga Dampingi Istri ke Puskesmas, Lalu Sadar Pentingnya Peran Seorang Bapak

7 November 2025
ayah, kehilangan ayah, fatherless, kasih sayang ayah.MOJOK.CO
Ragam

Saya Tidak Akrab dengan Ayah, tapi Terasa Sangat Kehilangan Saat Dia Sudah Tiada

6 November 2025
Jahatnya keluarga Bapak bikin fatherless hingga membenci rumah dan kumpul keluarga MOJOK.CO
Ragam

Betapa Jahat Keluarga Bapak: Suka Sakiti Keluarga Ibu-Lihai Berganti Wajah Tanpa Tahu Diri, Bikin Benci Kumpul Keluarga

10 Oktober 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

25 Februari 2026
Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

21 Februari 2026
Sisi Gelap AI dan Ancaman Imperialisme Digital ala 'Big Tech' MOJOK.CO

Sisi Gelap AI dan Ancaman Imperialisme Digital ala ‘Big Tech’

25 Februari 2026
Makan bersama sia-sia: niat kumpul keluarga, tapi bikin ortu kesepian karena anak-anak sibuk main hp sampai tak nyahut saat diajak bicara MOJOK.CO

Kumpul Keluarga Justru bikin Ortu Makin Kesepian dan Terabaikan, Anak Sibuk sama HP dan Tak Saling Bicara

25 Februari 2026
Peserta beasiswa LPDP bukan afirmasi tidak diafirmasi

Derita Orang Biasa yang Ingin Daftar LPDP: Dipukul Mundur karena Program Salah Sasaran, padahal Sudah Susah Berjuang

21 Februari 2026
Meninggalkan Honda BeAT yang Tangguh Menaklukkan Jogja-Semarang demi Gengsi Pindah ke Vespa, Berujung Sia-sia karena Tak Sesuai Ekspektasi MOJOK.CO

Meninggalkan Honda BeAT yang Tangguh Menaklukkan Jogja-Semarang demi Gengsi Pindah ke Vespa, Berujung Sia-sia karena Tak Sesuai Ekspektasi

26 Februari 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

25 Februari 2026
Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

23 Februari 2026
Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

21 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.