Arisan Keluarga, Tradisi Toksik yang Dipertahankan Atas Nama Silaturahmi: Cuma Ajang Pamer dan Penghakiman, Bikin Anak Muda Rugi Mental dan Materi

Ilustrasi pamer pencapaian, keluarga, arisan keluarga, lebaran.MOJOK.CO

ilustrasi - keluarga pamer pencapaian saat kumpul keluarga (Ega Fansuri/Mojok.co)

Arisan keluarga sejatinya adalah tradisi toksik yang masih dipertahankan karena dalih “silaturahmi” alias menjaga tali persaudaraan. Harusnya tradisi ini dihapuskan saja.

***

Di Indonesia, kata “silaturahmi” ibarat sebuah mantra suci. Kata ini sering kali menjadi alasan utama di balik berbagai acara kumpul-kumpul. Tujuannya tentu baik, yakni untuk mempererat tali persaudaraan, menjaga kedekatan antarkerabat, dan saling bertukar kabar. 

Namun, sadar atau tidak, kata silaturahmi belakangan ini sering dipakai sebagai tameng untuk menormalisasi sebuah tradisi yang diam-diam menguras dompet dan mental. Tradisi itu bernama arisan keluarga besar.

Bagi generasi kakek-nenek kita dulu, arisan keluarga mungkin murni sekadar ajang melepas rindu. Namun, bagi banyak pekerja kelas menengah, anak muda, dan pasangan yang baru menikah di zaman sekarang, acara bulanan ini perlahan berubah wujud. 

Arisan keluarga tidak lagi terasa seperti ruang yang hangat. Ia menjelma menjadi kewajiban yang membebani, menyandera, bahkan menuntut banyak hal yang tidak masuk akal.

Kalaupun dapat kocokan arisan keluarga, bukannya untung malah buntung

Mari kita mulai dari urusan yang paling sensitif: uang. Arisan sejatinya adalah ajang menabung bersama yang digilir. Logikanya, saat nama kita keluar sebagai pemenang, kita akan mendapat tambahan uang segar. Sayangnya, logika ini sering kali hancur lebur.

Ambil contoh salah satu narasumber Mojok bernama Elham (23), seorang pekerja Jogja yang kebetulan masuk dalam kategori generasi sandwich. Sebagai anak yang sudah berpenghasilan, ia diwajibkan oleh orang tuanya untuk ikut arisan keluarga besar dari pihak ibu. 

“Iurannya besar, ratusan ribu rupiah per bulan. Bagi buruh ber-UMR Jogja, itu sih lumayan banget,” kata Elham, Senin (13/4/2026) malam. 

Suatu hari, nama Elham keluar sebagai pemenang arisan. Uang yang cair dari kocokan itu sebesar Rp5 juta. Apakah kemudian dia senang dan bisa menggunakan uang itu untuk menabung atau membayar cicilan? Tentu tidak. 

Karena bulan berikutnya giliran rumahnya yang menjadi tuan rumah arisan, Elham harus memutar otak menyiapkan jamuan.

Di sinilah “jebakan finansial” itu bekerja. Di dalam keluarga besar, ada standard gengsi yang tidak tertulis tapi wajib dipatuhi. Elham tidak mungkin menyuguhkan air mineral gelas, teh manis, dan makanan seadanya kepada puluhan kerabatnya. 

“Kalau nekat kayak gitu, siap-siap keluarga pasti bakal jadi bahan gunjingan di grup WhatsApp keluarga. Mau ditaruh di mana muka ibu,” kata dia.

Demi menjaga nama baik, Elham harus menyewa kursi lipat, memesan katering makanan berat yang pantas, hingga membeli berbagai macam kue basah dan buah-buahan. 

Setelah dihitung, total biaya yang dikeluarkan untuk menjadi tuan rumah ternyata mencapai Rp6 juta. Alih-alih untung, Elham justru nombok satu juta rupiah. 

“Menang arisan bukannya jadi rezeki, malah jadi tai.”

Merasa “disandera”, berani keluar bakal dianggap sombong 

Saya sendiri pernah terjebak dalam situasi yang persis seperti Elham. Momen menang arisan yang seharusnya membahagiakan malah berubah menjadi beban pikiran berminggu-minggu setelahnya.

Lalu, muncul pertanyaan yang sangat masuk akal: “Kalau memang memberatkan dan bikin nombok, kenapa tidak keluar saja dari arisan itu?”

Jawabannya adalah karena kita disandera oleh “pajak sosial”. Di lingkungan keluarga besar, mengundurkan diri dari arisan sering kali dianggap sebagai “kejahatan yang tidak termaafkan”. 

Begitu kita menyatakan niat untuk berhenti, rentetan penghakiman akan langsung diarahkan kepada kita. Kita akan dicap sebagai anak yang sombong, pelit, tidak tahu diri, dan tuduhan paling berat: dianggap memutus tali persaudaraan. 

Tekanan sosial inilah yang memaksa banyak orang, termasuk saya dan Elham, untuk tetap bertahan membayar iuran yang menyiksa demi menghindari konflik. Kita patuh bukan karena ikhlas, tapi karena rasa tidak enakan.

Arisan keluarga tempatnya orang toksik bergunjing

Kalau yang menang arisan keluarga saja menderita, apalagi yang cuma “peserta”. Jebakan finansial yang dialami Elham, nyatanya belum seberapa dibandingkan dengan tekanan mental yang dialami anak muda lain. 

Salah satunya, hal ini sangat dirasakan oleh Aji, seorang suami dari pasangan muda yang baru setahun menikah.

Aji dan istrinya baru saja memutuskan untuk pindah lebih dekat dengan keluarga besar mereka setelah bertahun-tahun hidup di kota. Tentu saja, cara buat membaur kembali dengan kerabat adalah dengan ikut arisan keluarga. Namun, kalcersok yang mereka alami sungguh di luar dugaan.

“Ini penilaianku, ya. Arisan keluarga itu bukan tempat buat ngobrol santai dari hati ke hati. Arisan itu malah kayak tempat ajang flexing terselubung bagi kerabat yang sudah mapan,” katanya, Senin (13/4/2026).

Misalnya, ia harus siap mendengarkan seorang saudara yang dengan sengaja memamerkan gelang emas barunya. Atau saudara lain yang berbicara dengan volume keras tentang mobil barunya. Atau sepupu yang memamerkan jabatan dan gaji anaknya. 

Bagi anggota keluarga yang ekonominya sedang sulit, berada di ruangan itu rasanya seperti direndahkan pelan-pelan.

“Nggak ada itu yang namanya tali persaudaraan. Silaturahmi. Orang-orang hidup di dunianya sendiri yang haus validasi.”

Ikut campur urusan rahim orang dengan dalih basa-basi

Puncak kekesalan Aji terjadi ketika sesi makan siang selesai. Ia bercerita, arisan keluarga tiba-tiba berubah menjadi “meja interogasi”. Sasaran tembaknya, tentu saja adalah istrinya. Pertanyaan-pertanyaan yang melanggar batas privasi mulai dilontarkan.

“Kok belum isi juga? Jangan ditunda-tunda dong, nanti keburu tua susah lho. Coba periksa ke dokter itu, siapa tahu ada masalah.”

Kata-kata itulah yang diingat Aji.

Bagi Aji dan istrinya, pertanyaan-pertanyaan ini bukanlah bentuk kepedulian, tetapi sikap ikut campur yang berlebihan. Urusan rahim, kesehatan reproduksi, dan keputusan memiliki anak adalah hal yang sangat privat antara suami dan istri. 

Namun, di acara arisan keluarga, urusan paling pribadi itu diumbar dan dikomentari secara bebas oleh orang-orang yang bahkan tidak pernah tahu apa saja yang sudah mereka perjuangkan. Dalihnya, tentu “sekadar basa-basi”.

Mental istri Aji pun terkuras habis setiap kali arisan selesai. Pertemuan yang katanya untuk merekatkan keluarga justru menciptakan luka dan ketidaknyamanan.

“Fuck lah silaturahmi. Nggak ada kayak gituan di arisan keluarga.”

Bagi Aji, mulai sekarang orang-orang harus berani mendefinisikan ulang makna silaturahmi. Menjaga hubungan baik dengan keluarga besar memang penting, tapi tidak seharusnya dilakukan dengan cara-cara yang toksik.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: 4 Tipe Orang yang Tak Cocok Slow Living di Desa: Kalau Kamu Introvert apalagi Usia Produktif, Pikirkan Lagi Sebelum Menyesal atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Exit mobile version