Padahal jadi penolong adiknya yang terjerat pinjol
Orang-orang yang seenaknya mencap Nur sebagai pemalas, sebenarnya menutup mata pada fakta yang sangat ironis. Di balik mobil mengkilap dan cerita sukses adik-adiknya di kota, ada sebuah krisis besar yang pernah ditutupi rapat-rapat oleh Nur.
Belum lama ini, adik laki-lakinya itu terjerat utang pinjol yang jumlahnya mencapai puluhan juta rupiah. Bunga yang menumpuk membuat sang adik dikejar-kejar debt collector. Rumah tangganya nyaris berantakan.
“Sampai 40 juta, aku juga nggak paham itu buat ngapain aja,” kata si anak pertama ini.
Saat adiknya menangis kebingungan, siapa yang turun tangan? Bukan pamannya, bukan juga tetangganya. Nur-lah yang bergerak dalam diam. Demi menyelamatkan aib dan rumah tangga adiknya, Nur rela menjual sepetak tanah tegalan warisan yang sebenarnya adalah jatah miliknya.
Uang hasil penjualan tanah itu ia serahkan bulat-bulat agar utang pinjol adiknya lunas.
Juga rela membiayai pernikahan adiknya menggunakan hasil tabungannya
Kisah serupa juga terjadi pada adik bungsunya yang perempuan. Saat hendak menikah, sang adik gengsi jika hanya mengadakan syukuran sederhana. Ia ingin resepsi yang layak agar terlihat bagus di mata keluarga suaminya. Tapi karena uang tidak cukup, ia datang memelas pada kakak tertuanya.
Demi melihat adiknya bahagia di pelaminan, sebagai anak pertama, ia membongkar semua uang tabungan yang sudah ia kumpulkan dengan susah payah selama 10 tahun bekerja di Semarang. Tabungan yang seharusnya ia pakai untuk modal usahanya sendiri atau biaya pernikahannya kelak, ludes dalam semalam.
Saat itu, sang adik berjanji bahwa uang tersebut statusnya adalah “utang”. Namun kenyataannya, sampai detik ini, utang itu tidak pernah dibayar. Adiknya bersikap seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa, dan Nur pun tak pernah sampai hati untuk menagihnya.
“Aku ikhlasin saja. Kalau ingat, ya syukur, kalau nggak inget ya sudah. Nggak baik juga nagih utang ke adik sendiri,” kata dia.
Semua sisa harta, tanah, hingga tabungan masa depan Nur sudah habis diperas untuk menutupi masalah dan membiayai gengsi saudara-saudaranya di kota. Kini, Nur memang jatuh miskin dan tidak punya apa-apa lagi selain tenaganya sebagai buruh tani.
Namun, kemiskinan Nur bukanlah hasil dari kemalasan. Ia adalah bentuk pengorbanan tertinggi seorang kakak. Nur rela menjadikan dirinya “tumbal” dan tameng agar keluarganya tetap terlihat baik-baik saja di mata dunia.
Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Mudik Lebaran Jadi Ajang Sepupu Minta Kerjaan, tapi Sadar Tak Semua Orang Layak Ditolong atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














