Punya kamar kos sendiri di perantauan itu memang enak. Seperti mendapat kebebasan. Mau pulang jam berapa saja, mau tidur sampai siang, atau menata kamar sesuka hati, tidak ada yang melarang.
Namun, terkadang, kebahagian itu hilang ketika ada empat tipe teman ini yang menginap di kos kita. Apa saja?
***
Awalnya, memberi tumpangan buat teman yang kemalaman sehabis main, rasanya biasa saja. Hitung-hitung membantu teman sendiri.
Namun, seiring berjalannya waktu, saya sadar betul kalau mengizinkan orang lain menginap di kamar kos itu ibarat sedang “berjudi”. Teman yang kalau di tongkrongan asyiknya minta ampun dan gampang diajak bercanda, ternyata kelakuannya bisa sangat menyebalkan kalau sudah masuk ke area privat kita.
Dari sekian banyak teman yang pernah menumpang tidur, nyatanya ada tipe-tipe tertentu yang memang kelakuannya minus. Teman-teman dengan model begini sebaiknya mulai dimasukkan ke daftar hitam dan tidak perlu diizinkan menginap lagi.
#1 Teman yang berisik, tapi tak tahu waktu
Masalah utama dari teman yang numpang menginap di kos kita adalah, mereka sering lupa kalau si pemilik kamar punya kesibukan dan jam istirahat yang harus dijaga. Hal ini sangat dirasakan oleh Tiyas (25), seorang karyawan swasta di Jogja yang jam kerjanya cukup padat.
Karena besok paginya harus masuk kantor dan menghadapi rutinitas harian yang melelahkan, Tiyas sangat butuh tidur yang cukup.
Masalah langsung muncul ketika ada temannya yang menginap di kos dia. Alih-alih ikut tidur, atau setidaknya menjaga ketenangan, temannya ini malah begadang.
“Main HP sampai pagi. Tiktok-an dengan volume keras, mana nggak pakai headset. Dan yang paling nyebelin kalau udah telponan atau VC sama pacarnya sampai dini hari,” ujarnya, Selasa (5/5/2026) malam.
Tiyas yang niatnya mau tidur pulas pun jadi sangat terganggu. Ia mau menegur tapi merasa sungkan. Tapi kalau didiamkan, ia sendiri yang pusing karena kurang tidur.
“Pernah aku negur baik-baik. Malah playing victim, dibilangnya aku ngusir, nggak ikhlas kalau dia nginap gitu.”
#2 Teman yang menumpang di kos tapi modal nyawa doang
Kelakuan minus teman Tiyas, ternyata tidak berhenti di urusan berisik saja. Beberapa temannya bahkan ada yang datang dan numpang menginap di kos dengan hanya membawa badan saja.
Tidak bawa baju ganti. Tidak bawa handuk. Tidak bawa alat mandi. Kalau kata Tiyas, “cuma bawa nyawa.”
Ujung-ujungnya, ia harus meminjam handuk Tiyas, memakai sabun mandi Tiyas, dan yang paling bikin sakit hati: ikut memakai sabun cuci muka serta skincare Tiyas yang harganya lumayan, tanpa rasa bersalah sama sekali.
“Bukan bermaksud pelit atau hitungan. Tapi kan minimal kayak sabun muka, skincare, itu punya sendiri-sendiri nggak sih? Kita kan belinya juga pakai uang.”
#3 Teman tak tahu diri yang suka menghabiskan stok makanan di kos
Kalau cerita Tiyas berkutat pada jam tidur dan barang pribadi, pengalaman Bagas (23) justru lebih bikin emosi dan menguras dompet. Bagas adalah seorang mahasiswa tingkat akhir di sebuah PTS Jogja, yang uang bulanannya sangat pas-pasan.
Menjelang akhir bulan, Bagas harus menghitung dengan presisi stok makanan di kos agar bisa bertahan hidup sampai uang kiriman selanjutnya datang.
Ceritanya, suatu malam, salah satu teman Bagas meminta izin untuk menumpang di kos dia. Alasannya klasik, ia kemalaman sehabis nongkrong dan jarak ke kosnya sendiri cukup jauh.
Bagas tentu saja mengizinkan. Namun, bukannya pulang keesokan harinya, temannya itu malah bablas tidak pulang-pulang dan menetap di kos Bagas sampai berhari-hari ke depan.
“Mau ngusir nggak mungkin kan. Nggak enak kita dibilang pelit,” ujar Bagas.
Selama menumpang berhari-hari itu, si teman bersikap santai seolah sedang menginap di kos sendiri. Ia ikut memakan jatah mie instan, menggoreng telur, dan menghabiskan persediaan air galon milik Bagas.
“Parahnya apa? Betul, dia nggak ada inisiatif buat ganti, atau minimal patungan lah. Itu mie sama galon juga dibeli pakai duit,” ujarnya.
Tentu saja, dompet Bagas langsung tekor karena harus menanggung biaya makan dua orang dengan uang yang terbatas.
#4 Teman yang jorok, tapi nggak sadar dia jorok
Tidak hanya merugikan secara finansial, Bagas juga bercerita, temannya ini juga sangat jorok. Saat berada di kamar kos, ia sering makan camilan ringan di atas kasur sampai remahannya berjatuhan.
Besoknya, kasur Bagas langsung dipenuhi semut.
“Ya aku tahu orang itu beda-beda. Tapi minimal kalau kamu jorok, jangan jorok juga kalau lagi numpang.”
Bahkan, setelah mandi, temannya itu dengan santai melempar handuk yang masih basah ke atas kursi belajar, atau langsung ke atas kasur. Tak ada inisiatif buat menjemur.
Pernah suatu hari Bagas “menitipkan” kamar kos karena seharian dia sibuk di kampus. Sorenya, saat temannya itu akhirnya berpamitan pulang, kondisi kamar sudah berantakan persis seperti kapal pecah.
Kasur tidak dirapikan. Sampah plastik camilan dibiarkan begitu saja.
“Bayangin aja, capek-capek seharian ngampus, pulang kos mau rebahan aja kudu keluarin tenaga lagi buat bersihin sampah itu.”
Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Tinggal di Kos Campur: Lebih Murah dan Layak, tapi Harus Kuat dengan Kelakuan Minus Penghuninya, Jorok dan Berisik atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
