Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Kuliner

Ingkung Mbah Kentol dan Honda Mega Pro yang Jadi Saksi Larisnya Warisan Leluhur

Agung Purwandono oleh Agung Purwandono
30 September 2023
A A
Ingkung Mbah Kentol dan Honda Mega Pro yang Jadi Saksi Larisnya Warisan Leluhur MOJOK.CO

Ilustrasi Ingkung Mbah Kentol dan Honda Mega Pro yang Jadi Saksi Larisnya Warisan Leluhur. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Sejarah Ingkung Mbah Kentol

Mbah Dalijan akhirnya selo juga untuk bercerita. Ia kemudian menghampiri saya dan minta maaf karena tidak bisa melayani wawancara sejak awal.

Ia bercerita sedikit tentang masa lalunya. Lulus SMA ia merantau ke Jakarta menyusul kakak-kakaknya. Dalijan muda kemudian jualan sayuran di Pasar Kramat Jati. Di sisi lain, ia kemudian mendaftar menjadi polisi. Namun, rupanya ibunya yang ada di Bantul tahu dan menyusul ke Jakarta dan mengancam kakak Dalijan yang sudah menjadi polisi. 

“Kalau sampai Dalijan jadi polisi, itu sama saja kalian membunuh Ibu. Kalau semua anak-anak ibu di Jakarta, siapa yang menemani ibu,” kata Mbah Dalijan menirukan omongan ibu kepada kakaknya. Kakaknya yang seorang polisi pun terpaksa meminta pihak kepolisian untuk mencoret nama Dalijan sebagai peserta yang lolos. Itu tanpa sepengetahuan Dalijan.

Setiap hari rata-rata Warung Ingkung Mbah Kentol memasak 10-20 ekor ingkung. (Agung P/Mojok.co)

Tahu gagal, Dalijan sempat depresi. Depresi karena malu dengan teman-teman dan tetangganya di Jakarta karena ada saudaranya yang polisi kok dia tidak lolos ujian. Baru setelah mendengar alasan dari kakaknya, kalau ibu mereka menyampaikan pesan agar ia tak lolos, akhirnya ia menerima.

Memulai bisnis kuliner di usia 60 tahun

Dalijan akhirnya pulang kampung ke Jogja sekitar tahun 1993. Ia kemudian merintis usaha menanam sayur di daerah Bantul. Tahun 2015 atau 23 tahun kemudian, ia mendirikan warung Ingkung Mbah Kentol saat usianya menginjak 60 tahun.

Baginya tidak ada kata terlambat dalam memulai bisnis kuliner. Apalagi ia tahu betul resep membuat ingkung warisan leluhurnya. Namun, meski itu resep keluarga ia tidak pelit untuk berbagi rahasia resep ingkung buatannya.

Ia menggunakan bumbu rempah-rempah seperti ketumbar, jahe, lengkuas, bawang merah, bawang putih, daun salam, sere, garam, dan gula merah. Tidak ada bumbu micin di ingkung buatannya.

“Sereh sama jahe itu untuk menghilangkan amis. Ayamnya, pakai ayam umbaran,” kata Mbah Dalijan. Baginya, resep adalah ilmu, dan baginya pantang ilmu itu disembunyikan, harus ia bagi. Soal takaran bumbu-bumbunya, Mbah Dalijan secara jujur mengatakan, semua berdasar feeling.

Namun, ia percaya dalam hal masak memasak, ada istilah “tanganan” artinya meski bumbu sama, cara masak sama, belum tentu akan punya cita rasa yang sama.

Asal usul nama Mbah Kentol

Mbah Dalijan kemudian berpikir, warung ingkung sudah banyak di Pajangan sehingga harus ada pembeda di warung yang akan ia buka. Termasuk dari sisi namanya. Ia kemudian memberi nama warungnya Warung Ingkung Cancut Tali Wondo Mbah Kentol. 

Cancut Tali Wondo dalam budaya Jawa diartikan sebagai bekerja dengan segenap kemampuan yang dimiliki dan tidak berpangku tangan. Mbah Dalijan mengartikan sebagai pengingat dari zaman perjuangan dulu. Lokasi tempat warungnya berdiri adalah tempat perjuangan Pangeran Diponegoro yang terhitung masih leluhurnya. Dalam konteks kekinian, warung ingkung yang ia dirikan membawa misi  perjuangan untuk melestarikan budaya Jawa. 

Ingkung Mbah Kentol, Bantul
Tempat yang luas, outdoor maupun indoor jadi salah satu daya tarik Ingkung Mbah Kentol. (Agung P/Mojok.co)

Mbah Kentol, selain menjadi nama dusun ternyata ada hubungannya dengan leluhur Mbah Dalijan. “Nama ingkungnya saya ambil dari nama mbah saya, yang jadi nama Dusun Kentolan. Jadi saya itu keturunan atau buyut ke-6 dari Brotojoyo Joyokentol,” katanya.

Selain nama, hal lain yang membedakan dengan ingkung lain adalah penggunaan kreneng atau anyaman bambu sebagai alat memasak dan untuk menyajikan. Kreneng itu selain fungsional juga memiliki filosofi tentang persatuan.

Ciri lain yang terlihat mencolok di warung tersebut dan membedakan dengan warung lain adalah dekorasi interior warung yang ramai dengan foto-foto. Di dinding warungnya banyak pajangan foto Mbah Dalijan dengan tokoh-tokoh publik mulai dari artis hingga menteri.

Iklan

“Kebak Mas, bahkan jendela ya dipasangi foto,” kata Yahya menambahkan. Foto-foto yang Mbah Dalijan pasang memang rata-rata memiliki ukuran jumbo. Bagi Mbah Dalijan, tak mengapa ia keluar modal yang penting selain beda dengan warung ingkung lain, itu jadi sarana promosi.

Honda Mega Pro di teras rumah

Saya lantas menanyakan kepadanya, tentang Honda Mega Pro di teras rumahnya. Ia mengiyakan kalau motor itu merupakan milik anaknya yang ia belikan saat putra kesayangannya itu sekolah di SMAN 1 Yogyakarta. Motor itu ia beli setahun sebelum gempa. “Pas gempa motor ini jatuh, ini sampai bengkok,” kata Mbah Dalijan menunjukkan tuas rem di stang motor.

Ia mengingat, saat merintis usaha ingkung untuk pertama kalinya, motor itu sangat berjasa karena jadi sarana untuk mengantar pesanan ingkung. “Ada tiga boks, bisa muat sampai 5 ekor ingkung,” kata Mbah Dalijan.

Ia ingat karena modifikasi motornya yang ia lengkapi dengan bendera Ingkung Mbah Kentol, membuat anak-anak di kampungnya heboh. Bahkan setiap kali ia melintas ia mendapat sorakan, “Mbah Kentol…mbah Kentol…”

Namun, lama kelamaan ia merasa motor itu semakin berat. Sedangkan anaknya tidak mau menjual motor tersebut. Maka ia berinisiatif untuk menjadikan semacam monumen, yang mengingatkan perjuangan anaknya dari SMA hingga kerja. Juga mengingatkan perjuangannya membesarkan Ingkung Mbah Kentol hingga terkenal sekarang.

Penulis: Agung Purwandono
Editor: Hammam Izzuddin

BACA JUGA Gudeg Koyor Mbak Tum Membuktikan, Kuliner Malam di Semarang Itu Enak 

Cek berita dan artikel Mojok lainnya di Google News

Halaman 2 dari 2
Prev12

Terakhir diperbarui pada 30 September 2023 oleh

Tags: Bantulgoyang lidahHonda Mega Proingkung mbah kentolKuliner Jogja
Agung Purwandono

Agung Purwandono

Jurnalis di Mojok.co, suka bercocok tanam.

Artikel Terkait

3 Kuliner Jogja yang Tidak Lagi Merakyat- Mahal dan Berjarak (Wikimedia Commons)
Pojokan

3 Kuliner Jogja yang Tidak Lagi Merakyat: Ketika Lidah Lokal yang Murah Direbut oleh Lidah Wisatawan yang Dipaksa Mahal

11 Februari 2026
Asriadi Cahyadi pemilik Dcell Jogja Store, toko musik analog. MOJOK.CO
Sosok

Saat Musik Analog Bukan Lagi Barang Jadul yang Bikin Malu, tapi Pintu Menuju Kenangan Masa Lalu bagi Pemuda di Jogja

4 Februari 2026
Toko musik analog, Dcell Jogja Store. MOJOK.CO
Bidikan

Juru Selamat “Walkman” di Bantul yang Menolak Punah Musik Analog

2 Februari 2026
Kisah Pelajar SMA di Bantul Melawan Trauma Pasca Gempa 2006, Tak Mau Kehilangan Orang Berharga Lagi MOJOK.CO
Jagat

Kisah Pelajar SMA di Bantul Melawan Trauma Pasca Gempa 2006, Tak Mau Kehilangan Orang Berharga Lagi

31 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pembeli di Pasar Jangkang, Sleman. MOJOK.CO

Salah Kaprah soal Pasar Jangkang yang Katanya Buka Setiap Wage dan Cuma Jual Hewan Ternak

9 Februari 2026
Sarjana pegasuh anak, panti asuhan Muhammadiyah di Surabaya. MOJOK.CO

Lulusan Sarjana Nekat Jadi Pengasuh Anak karena Susah Dapat Kerja, Kini Malah Dapat Upah 450 Ribu per Jam

5 Februari 2026
Lawson Slamet Riyadi Solo dan Sekutu Kopi jadi tempat jeda selepas lari MOJOK.CO

Lawson Slamet Riyadi Solo dan Sekutu Kopi: Jadi Tempat Ngopi, Jeda selepas Lari, dan Ruang Berbincang Hangat

9 Februari 2026
Dat, pemuda dengan 3 gelar universitas putuskan tinggalkan kota demi bangun bisnis budidaya jamur di perdesaan MOJOK.CO

Cabut dari Kota Tinggalkan Perusahaan demi Budidaya Jamur di Perdesaan, Beberapa Hari Raup Jutaan

4 Februari 2026
gen z kerja merantau beban mental dan finansial.mojok.co

Gen Z Pilih Merantau dan Tinggalkan Ortu karena Rumah Cuma Menguras Mental dan Finansial

6 Februari 2026
Diancam Pihak Resto karena Telat Antar Makanan Lebih Mudah Diterima daripada Gagal Jadi Sarjana Hukum UGM MOJOK.CO

Perjuangan Ojol sambil Kuliah: Pernah Diancam Pihak Resto karena Telat Antar Makanan, Kini Lulus Jadi Sarjana Hukum UGM

5 Februari 2026

Video Terbaru

Hutan Jawa dan Dunia yang Pernah Bertuah

Hutan Jawa dan Dunia yang Pernah Bertuah

7 Februari 2026
Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

4 Februari 2026
Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

3 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.