Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan

Garuda Pertiwi Diredam Thailand di Final: Satu Langkah Mundur, Seribu Langkah ke Depan

Rizky Prasetya oleh Rizky Prasetya
24 Agustus 2026
A A
Garuda Pertiwi Diredam Thailand di Final: Satu Langkah Mundur, Seribu Langkah ke Depan

Garuda Pertiwi Diredam Thailand di Final: Satu Langkah Mundur, Seribu Langkah ke Depan (Dokumentasi Pribadi)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Gelaran Caffino Srikandi Merdeka Cup 2026 mencapai puncaknya, dan Thailand masih terlalu perkasa untuk direbut takhtanya. Garuda Pertiwi mungkin belum bisa tersenyum untuk sekarang. Kekecewaan mungkin ada di sana-sini. Tapi selalu ingat, ini adalah langkah awal dari sebuah jalan yang begitu panjang, dan mungkin saja tanpa ujungnya. Pembinaan mungkin memberi getir dan gurih, tapi tak ada hasil buruk dari proses belajar.

***

Iklan

Ayla (14 tahun) melihat ruang yang kosong, terbuka, dibiarkan tak terjaga oleh para bek Jordan. Sejurus kemudian, ia mengirimkan umpan ke ruang yang begitu luang di antar bek tengah dan bek kiri Jordan. Fadilla (13 tahun) merespons dengan mengejar umpan daerah yang begitu cantik itu, dan langsung mengeksekusinya dengan begitu dingin. Garis pertahanan tinggi Jordan dihancurkan hanya dengan satu umpan terukur dari Ayla.

Gol tersebut berarti dua hal: Indonesia akhirnya melaju ke final, serta memupus asa Jordan bertemu Thailand, yang sebelumnya melipat Malaysia dengan skor 5-1.

Di babak kedua, permainan Indonesia masih mendominasi. Tapi tak ada gol tercipta lagi. Banyak peluang tercipta, tapi ketangguhan kiper Jordan, Alma Mouhanad (15 tahun) membuat gawangnya tak kena bobol selama babak kedua. Bahkan, Jordan sempat memberi ancaman meski ketangguhan bek Indonesia membuat semua upaya dan umpan-umpan terukur dari Yena Raed (14 tahun) tak menemui hasilnya.

Kegagalan Garuda Pertiwi menambah keunggulan memang jadi sorotan. Selain ketenangan pemain yang menurun di babak kedua, cederanya pemain nomor 10 mereka bikin Coach Timo (52 tahun) harus mencari solusi dalam waktu yang singkat. Dan tentu saja itu tak mudah, Coach Timo harus menggeser posisi pemain untuk menemukan solusi dari lubang yang ditinggalkan.

“Kalau tadi Anda perhatikan, Anya (16 tahun) main di sayap, Anya main di tengah, Anya main di striker, mencari solusi untuk kebolongan yang ada karena Nafe cedera,” ujar Coach Timo.

Yang jelas, segala target sudah tercapai. Indonesia main lima kali, dan bertemu Thailand, adalah target yang coba dicapai oleh Coach Timo. Semuanya bisa diraih, dan kali ini tinggal perkara hasil.

Tapi juara bukanlah satu-satunya target yang dikejar oleh Coach Timo. Baginya, pemain adalah piala yang sebenarnya. Targetnya adalah membentuk pemain, bukan memenuhi rak piala. Pembinaan yang berjenjang dan sistematis lah yang jadi tujuan, agar Indonesia bisa bicara banyak di kancah dunia.

Lawan mereka, Thailand, adalah ujian selanjutnya dari pembinaan ini. Sebab, berbeda dengan Indonesia yang baru memulai pembinaan selama 3 tahun, Thailand sudah bicara dan meramu sepak bola putri selama 3 dekade.

Tak ada ujian yang lebih berat dan lebih baik ketimbang tim ini, dan mereka berdua bertemu di final. Kerajaan yang sudah membangun istana dan kekuasaan selama 30 tahun, melawan barisan pejuang yang baru 3 tahun mengasah pedang mereka, tapi punya potensi untuk merusak hegemoni yang sudah terjaga.

Saat tenang sebelum perang

Tribun sudah penuh bahkan sejak beberapa jam sebelum mulai. Animo orang-orang untuk mendukung Garuda Pertiwi amat mengerikan. Di pertandingan semifinal melawan Jordan, gemuruh dukungan tanpa henti terdengar saat srikandi-srikandi mengiris lapangan. Sebaliknya, saat pemain Jordan mendapat bola, riuh-riuh untuk menurunkan mental menggema tanpa jeda.

Pada laga semifinal, sebanyak 1570 orang yang memadati tribun Supersoccer Arena datang memberi dukungan atau meneror lawan, tergantung kamu berada di sisi mana. Dan di final, angkanya jauh lebih tinggi. Antrean mengular di depan Supersoccer Arena jadi bukti banyaknya manusia yang ingin menjadi saksi bersejarah tim sepak bola putri Indonesia.

Para pemain turun dari bus, dengan wajah yang tenang, tak ada keraguan dan ketakutan yang tampak. Dari raut wajah mereka, terlihat mereka tanpa beban. Seakan-akan mereka tahu, inilah tempat mereka seharusnya berada: final.

Laut selalu terlihat tenang sebelum badai datang. Selalu.

Garuda Pertiwi vs Thailand: efektif vs rapi

“Indonesia Raya” berkumandang. Seluruh manusia di tribun berdiri. Pertandingan segera dimulai, dan intensitas sudah dimulai sejak awal. Garuda Pertiwi dan Thailand menggempur dengan cara yang berbeda. Thailand mengandalkan possession based football, dan pemainnya punya kemampuan di ruang sempit. Sedangkan Garuda Pertiwi mengandalkan long ball, berusaha bypass lini tengah Thailand dan mengeksploitasi garis pertahanan tinggi milik Thailand.

Usaha yang dilakukan oleh Jazlyn Kayla (16 tahun) dan kawan-kawan masih buntu. Bek-bek Thailand sigap dalam melakukan intersep atas usaha bypass lini tengah yang dilakukan oleh Indonesia. Terlihat dari statistik, Thailand unggul dalam intersep sejumlah 45, 3 lebih banyak ketimbang Indonesia.

Justru Thailand yang lebih dulu memecah kebuntuan pada menit 23. Free kick dari Kawinthida Kikuntod (16 tahun) menghujam gawang Alleana Ayu Arumi (16 tahun), yang selama gelaran Caffino Srikandi Merdeka Cup 2026 tak pernah dibobol, membuat Thailand unggul 1-0 di babak pertama.

Iklan

Garuda Pertiwi bukan tanpa usaha, tapi perlu diakui, Thailand lebih matang dalam perkara bermain dan merespons taktik anak buah Coach Timo. Overload yang dilakukan oleh pemain Thailand saat punggawa Garuda Pertiwi memegang bola praktis membuat  serangan terputus. Terlihat di kala Anya dan Keysa (13 tahun) mendapat bola, setidaknya ada dua pemain Thailand yang menjaga pergerakan mereka, serta yang lain menutup ruang umpan yang bikin opsi penyerangan Garuda Pertiwi mandek.

Thailand menekan sejak awal (dokumentasi pribadi)

Praktis, Anya dan Keysa kerap mengambil opsi untuk mencoba melawan bek dengan dribble karena tak ada opsi dan ruangnya tertutup. Usaha untuk mencoba menyerang dari second line pun sulit dilakukan karena Thailand begitu disiplin dalam menjaga ruang. Serangan Indonesia tak menemui hasil yang positif, hanya menghasilkan 1 shot on target, berbanding 4 oleh Thailand.

Hingga akhir, skor tak berubah, 1-0 untuk kemenangan Thailand. Garuda Pertiwi gagal di tanah sendiri, tapi menunjukkan pertarungan sengit yang amat pantas untuk disebut sebagai final. Dua tim terbaik sepanjang gelaran menunjukkan kenapa mereka berlaga di final.

Pertahanan Garuda Pertiwi yang patut diapresiasi

Meski lini serang Garuda Pertiwi bisa diatasi oleh Thailand, tapi hal yang sama pun dialami oleh tim lawan. Serangan-serangan dari Thailand bisa diatasi oleh barisan pertahanan yang dipimpin oleh Jazlyn Kayla. Gelar kiper terbaik yang didapat oleh Alleana bukanlah suatu kebetulan, sebab di pertandingan ini, ia membuat 3 saves dan sigap dalam permainan.

Status Thailand yang datang sebagai penguasa ASEAN tak berarti mereka melenggang mudah tanpa perlawanan. Coach Timo dalam konferensi pers usai pertandingan mengatakan, sebelumnya Thailand tidak bisa diganggu sama sekali. Tapi dalam match ini, untuk pertama kali selama gelaran Caffino Srikandi Merdeka Cup 2026, ada tim yang bikin Thailand terancam.

“Ini itu (kekalahan, red-) menyakitkan itu kenapa? Ini menyakitkan karena kita seharusnya juga bisa menang. Seharusnya bisa masuk ke penalti dan kalau masuk ke penalti, saya yakin kita bisa menang,” ucap Coach Timo dalam konferensi pers.

Meski begitu, menurut Coach Timo, segala target sudah dicapai. Pertama main lima kali, kedua main melawan Thailand. Dalam konferensi pers sebelumnya, ia juga mengatakan bahwa piala sebenarnya adalah para punggawa Garuda Putri yang ia bina selama beberapa waktu ini.

Hegemoni Thailand di sepak bola ASEAN mungkin memang belum tertandingi. Tapi, Garuda Pertiwi mengirimkan pesan yang amat kuat, bahwa takhta bisa tumbang kapan saja, dan Thailand tidak bisa jumawa kelewat lama.

Srikandi Merdeka Cup 2026 merupakan turnamen sepak bola putri kelompok usia U-16 yang digagas Bakti Olahraga Djarum Foundation. Edisi tahun ini diikuti Timnas Putri U-16 Indonesia, Thailand, Malaysia, Singapore, Hong Kong, Saudi Arabia, dan Jordan.

BACA JUGA: Srikandi Merdeka Cup: Turnamen Sepak Bola Putri U-16 Level Internasional di Kudus, Momentum Unjuk Kualitas Timnas

Terakhir diperbarui pada 24 Agustus 2026 oleh

Tags: Caffino Srikandi Merdeka Cup 2026garuda pertiwiPSSIsrikandi merdeka cup 2026timnas thailand
Rizky Prasetya

Rizky Prasetya

Redaktur Mojok. Hobi main game dan suka nulis otomotif.

Artikel Terkait

Garuda Pertiwi Menantang Thailand di Final Srikandi Merdeka Cup 2026, Pertarungan 2 Raksasa Tanpa Cela

Garuda Pertiwi Menantang Thailand di Final Srikandi Merdeka Cup 2026, Pertarungan 2 Raksasa Tanpa Cela

22 Agustus 2026
Perempuan-Perempuan Cilik Merawat Asa Timnas di Tengah Kekosongan Ekosistem Profesional, MLSC.mojok.co

Perempuan-Perempuan Cilik Merawat Asa Timnas di Tengah Kekosongan Ekosistem Profesional

30 Juni 2026
Ketum PSSI Erick Thohir dan Gubernur Jateng Ahmad Luthfi bahas soal Liga 3 dan Liga 4 di Jawa Tengah MOJOK.CO

Liga 3 dan 4 bakal Bergulir di Jawa Tengah, Bina Bakat-bakat Muda dari Desa…

8 Agustus 2025
Kalau gue jadi Patrick Kluivert, gue nggak mau menjadi pelatih Timnas Indonesia gantikan Shin Tae Yong karena Ketum PSSI Erick Thohir problematik MOJOK.CO

Kalau Jadi Patrick Kluivert Gue Nggak Mau Kerja sama Erick Thohir yang Interview Kerja di Hari Raya, Tak Punya Value dan Tak Tahu Batas

9 Januari 2025

Ingatan Memalukan di Stadion Bahrain 12 Tahun Silam, Catatan dari Era Bobrok PSSI

10 Oktober 2024
Liga 3 Faktanya, Liga Malaysia Jauh Meninggalkan Kita MOJOK.CO

Memaksimalkan Liga 3 Sebagai Cara untuk Mengejar Ketertinggalan dari Sepak Bola Malaysia

11 September 2023
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Saat adik saya jadi korban bullying (perundungan) di sekolah, pihak guru malah menganggapnya masalah biasa MOJOK.CO

Melabrak Guru usai Adik Jadi Korban Bullying di Sekolah hingga Cedera: Saya Justru Menerima Jawaban Memuakkan

18 Agustus 2026
ilustrasi ketua pemuda

Jabatan Ketua Pemuda di Kampung itu Gagah, Tapi Ngenes Karena Dianggap Bisa Menyelesaikan Semua Masalah

20 Agustus 2026
UMKM, UKM.MOJOK.CO

Pemkot Jogja Buru “DNA” 18.000 Usaha Kecil untuk Basis Data Tunggal 2026 demi Kebijakan Tepat Sasaran

20 Agustus 2026
Srikandi Fair dan Berkah Timnas Putri Indonesia bagi Pedagang Kudus: Ayam Geprek Habis Sebelum Waktunya MOJOK.CO

Srikandi Fair dan Berkah Timnas Putri Indonesia bagi Pedagang Kudus: Ayam Geprek Habis Sebelum Waktunya

23 Agustus 2026
Shifana, pemain Timnas U-16 Indonesia dibayangi pemain Yordania, Alma Odai di pertandingan semifinal Srikandi Merdeka Cup 2026. Indonesia menang dengan skor 3-0 di laga semifinal, Jumat (21/8).

Timnas Putri U-16 Indonesia Bungkam Yordania 3-0, Thailand Menanti di Final Srikandi Merdeka Cup

22 Agustus 2026

Punya 30 Kamar Kost Putri Ternyata Tidak Seindah yang Dibayangkan

19 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

7 Agustus 2026
Bukan Sekadar Beternak Karang Taruna Bono dan Upaya Menghidupkan Ekonomi Warga

Dari Ternak untuk Desa: Geliat Karang Taruna Bono Menghidupkan Ekonomi Warga

31 Juli 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

🤖 PRAYIT AI ×
Salam dari Mojok! Aku Prayit AI. Ada yang bisa dibantu hari ini, Rek?
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.