Di tengah lalu-lalang peserta sepeda klasik di pelataran Candi Sewu, Klaten, seorang turis perempuan asal Eropa tampak asyik menepi di bawah tenda kecil. Tangan kirinya memegang sebuah plat gerabah, sementara jari kanannya menjepit kuas lukis mungil dengan sangat hati-hati.
Sesekali, perempuan itu mengerutkan dahi, mencoba menorehkan cat air ke permukaan gerabah. Ia bermaksud menggambar pola bunga sederhana, meski sapuan kuasnya terus meleset. Hasilnya pun sudah bisa ditebak: mencong-mencong, dan jauh dari kata rapi.
Melihat pemandangan itu, Waris Sartono (47) tak bisa menahan tawanya. Pria asal Desa Melikan, Wedi, Klaten itu terkekeh sambil memberi isyarat tangan, mencoba membenarkan cara si turis memegang kuas agar lebih luwes.
Sang bule, yang menyadari betul bahwa hasil lukisannya berantakan, ikut tertawa lepas. Siang itu, Kamis (21/5/2026), di tengah riuhnya Klaten International Cycling Festival (KLIC Fest) 2026, tak ada bahasa lisan yang saling mereka mengerti. Tawalah yang menerjemahkan segalanya.

Kehadiran booth gerabah milik pria yang akrab disapa Lek Waris di tengah acara sport tourism berskala dunia ini sekilas tampak seperti sebuah anomali. Kawasan candi sedang dipenuhi oleh delegasi puluhan negara dan deretan sepeda vintage yang harganya mungkin puluhan juta rupiah. Lalu, mengapa di pusat acara sepeda internasional ini justru terselip booth seni lukis gerabah?
Diplomasi budaya melalui kerajian tangan khas Klaten
Keberadaan Lek Waris nyatanya bukanlah sebuah booth yang salah tempat. Ia adalah garda depan dari sebuah taktik cerdas rancangan tuan rumah buat mengenalkan budaya khas Klaten kepada dunia.
Pemerintah Kabupaten Klaten sangat sadar bahwa sepeda klasik adalah “pancingan” yang paling efektif untuk mengumpulkan atensi dunia. Bupati Klaten, Hamenang Wajar Ismoyo, menegaskan bahwa sepeda memiliki kekuatan universal.
“Dengan sepeda kita dapat menjalin kebersamaan, menghilangkan pembatas di antara kita,” ujarnya.
Begitu batasan antarnegara itu runtuh dan para pengunjung merasa nyaman, diplomasi budaya pun terjadi. Klaten langsung “menyergap” para tamu–baik delegasi atlet maupun wisatawan umum–dengan pesona tradisi lokal.
Kalau kata Lek Waris, festival sepedanya berfungsi sebagai “magnet” buat menyatukan banyak orang, sementara kekayaan budayanya lah yang disiapkan untuk mengunci hati para pengunjung.
Sempat diremehkan, kini berhasil unjuk gigi
Bagi Lek Waris, duduk berhadapan dengan turis mancanegara yang antusias melukis karyanya adalah buah dari perjalanan seninya yang cukup panjang dan berliku. Jauh sebelum karyanya menjadi primadona, satu-satunya seniman lukis gerabah di Klaten ini sempat mencicipi pahitnya diremehkan di kampung halamannya sendiri.

Dulu, Lek Waris mencoba keluar dari pakem. Ia memutuskan untuk menggabungkan seni lukis dengan pembuatan gerabah tradisional. Langkah ini awalnya dipandang sebelah mata.
“Waktu awal-awal saya mencoba memoles gerabah jadi karya seni lukis, banyak yang meragukan. Dianggap aneh atau membuang waktu. Gerabah ya gerabah saja, mikirnya begitu,” kenang Lek Waris.
Namun, ia menolak menyerah. Ia sangat yakin bahwa Desa Melikan memiliki harta karun yang tidak dimiliki oleh pengrajin di belahan dunia mana pun: teknik perbot miring (meja putar miring).
Berbeda dengan teknik pembuatan gerabah pada umumnya di mana meja putar berada pada posisi datar, pengrajin di Melikan memutar meja yang posisinya miring sambil duduk mengangkang.
Teknik langka ini menghasilkan putaran yang unik dan diakui secara global. Lek Waris bersikukuh bahwa jika gerabah hasil teknik langka ini diberi sentuhan akhir berupa seni lukis, nilai jualnya akan meroket.

Instingnya terbukti benar. Inovasi yang dulu dicibir itu perlahan diminati pasar. Nilai jual gerabah lukisnya kini melesat hingga lima kali lipat dibandingkan gerabah polos biasa.
Puncaknya adalah apa yang terjadi di bawah tenda KLIC Fest hari itu, ketika karyanya berhasil membuat seorang turis Eropa rela duduk lesehan dan mengotori tangannya.
Keberhasilan KLIC dalam mengenalkan budaya Klaten ke mata dunia
Ketertarikan wisatawan mancanegara pada kerajinan tangan seperti karya Lek Waris sebenarnya sangat mudah dipahami. Turis Eropa pada umumnya tidak terlalu terkesan dengan suvenir cetakan pabrik yang diproduksi massal.
Bagi mereka, benda buatan mesin tidak memiliki nyawa. Sebaliknya, karya buatan tangan seperti gerabah Lek Waris kaya akan warisan sejarah. Proses manual yang panjang pun menuntut ketekunan pembuatnya.
Hal ini diamini oleh Sarah, salah satu turis perempuan yang siang itu sempat mampir ke booth Lek Waris. Ia mengaku tidak tergabung dalam delegasi balap sepeda mana pun. Ia hanyalah backpacker yang sedang berwisata mengunjungi Candi Sewu, tapi langkahnya tersedot oleh keramaian festival.
“Saya sebenarnya datang ke sini murni untuk melihat candi. Tapi pengalaman melukis tanah liat ini justru menjadi kejutan yang sangat menyenangkan,” ungkap Sarah.
“Di Eropa kami terbiasa dengan barang-barang industri yang serba instan. Bisa menyentuh langsung karya yang dibuat murni dengan tangan manusia, apalagi melihat langsung pembuatnya, rasanya sangat otentik.”
Fakta bahwa wisatawan umum seperti Sarah bisa ikut “terjebak” dalam keasyikan ini membuktikan bahwa ekosistem sport tourism yang dibangun Klaten berjalan sangat efektif. Dan, Lek Waris tidak bekerja sendirian dalam misi kebudayaan ini. Tak kurang dari 2.090 pelaku UMKM lokal dilibatkan untuk menjamu ribuan tamu selama sepekan perhelatan.
Jika kita mengedarkan pandangan ke sudut lain di kawasan venue, strategi serupa juga sedang dimainkan. Panitia menempatkan pengrajin tenun lurik yang sibuk memintal benang dengan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM). Suara kayu alat tenun yang saling beradu menjadi daya tarik tersendiri bagi turis yang melintas.

Tidak berhenti di dalam arena pameran, gempuran pesona lokal ini juga dibawa ke jalanan. Lewat agenda Social Culture Ride, para peserta diajak bersepeda menyusuri pelosok pedesaan, melintasi hamparan sawah, hingga menyambangi sanggar wayang kulit. Mereka tidak diberi kesempatan untuk bosan hanya dengan melihat aspal jalanan kota.
Inisiatif tuan rumah ini menuai pujian tinggi dari petinggi komunitas sepeda dunia. Vice President IVCA, Filip Pauwels, secara khusus mengapresiasi bagaimana budaya disisipkan dengan sangat rapi di sela-sela agenda olahraga.
“Keanekaragaman budaya dan tradisi ini menjadi pengalaman baru yang sangat luar biasa bagi para delegasi yang ambil bagian dalam gelaran ini,” ungkapnya.
Lihat postingan ini di Instagram
Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Bangkitnya Sepeda Roda Raksasa yang Menyatukan Ribuan “Onthelis” dari Penjuru Dunia di Klaten atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














