Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Eksplor

Apem Ya Qowiyyu: Kue Khas Jatinom Klaten Berusia 400 Tahun, Bukan Semata Warisan Kuliner tapi Kesalehan Sosial

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
10 Agustus 2026
A A
Apem ya qowiyyu: kue apem khas Jatinom Klaten berusia 400 tahun. Bukan sekadar warisan kuliner tradisional tapi simbol kesalehan sosial MOJOK.CO

Ilustrasi - Apem ya qowiyyu: kue apem khas Jatinom Klaten berusia 400 tahun. Bukan sekadar warisan kuliner tradisional tapi simbol kesalehan sosial. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Apem ya qowiyyu—kue tradisional khas Jatinom, Klaten—diperkirakan sudah berusia 400 tahun. Kue tersebut bukan semata warisan dalam khazanah kuliner nusantara. Lebih dari itu, menjadi simbol warisan kesalehan sosial dan praktik Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.

***

Iklan

Sebagaimana sudah berlangsung bertahun-tahun, setiap minggu kedua di bulan Safar masyarakat Jatinom, Klaten, menggelar tradisi Sedekah Apem Ya Qowiyyu. Puluhan ribu apem khas Jatinom akan disebar dan diperebutkan ribuan masyarakat dengan tujuan mendapat berkah dari “kue berkah” tersebut. 

Sejak pukul 10.00 pagi pada Jumat (31/7/2026), tanah lapang Siti Hinggil Oro-oro Sendang Klampeyan (lokasi Sedekah Apem Ya Qowiyyu) sudah dipadati lautan manusia. Padahal acara baru akan dimulai pada pukul 13.00 siang. Siang itu, ada dua gunungan apem ya qowiyyu dengan total 65.000 buah yang akan dibagikan. 

Dan sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, antusiasme masyarakat begitu besar kala puluhan ribu apem tersebut digebyah. Masyarakat percaya bahwa apem-apem tersebut mengandung berkah. 

Lebih dari itu, apem ya qowiyyu sejatinya bukan hanya kue tradisional yang dipercaya mengandung berkah tak kasat. Kue khas Jatinom, Klaten, tersebut juga merupakan simbolisasi nilai dakwah Islam dari Kiai Ageng Gribig sebagai sosok penyebar Islam di kawasan tersebut. 

Ribuan orang memadati Jatinom, Klaten, dalam perayaan Sedekah Apem Ya Qowiyyu MOJOK.CO
Ribuan orang memadati Jatinom, Klaten, dalam perayaan Sedekah Apem Ya Qowiyyu. (Aly Reza/Mojok.co)

Apem ya qowiyyu: kue khas Jatinom Klaten yang sudah berusia 400 tahun

Dihitung sejak pertama kali Kiai Ageng Gribig bersedekah apem kepada masyarakat Jatinom, Klaten, sembari melantunkan doa “Ya qowiyyu… (dan seterusnya)”, tahun 2026 ini tradisi Sedekah Apem Ya Qowiyyu sudah berusia 400 tahun lebih. 

Menurut penjelasan Muhammad Daryanta selaku Ketua Dewan Pembina Pengelola Pelestari Peninggalan Kiai Ageng Gribig (P3KAG), waktu permulaan sedekah apem yang dilakukan Kiai Ageng Gribig terjadi dengan kode sengkalan (penanda waktu Jawa dalam bentuk rangkaian kata): Ratu suci tataning jagat, yang berarti 1541 Saka atau 1619 Masehi. 

“Sebagai pewaris dan penerus dakwah Kiai Ageng Gribig, kita terus pertahankan andum (sedekah) apem ya qowiyyu,” ujar Daryanta. 

Prosesi Sedekah Apem Ya Qowiyyu di Jatinom, Klaten, yang diikuti ribuah orang MOJOK.CO
Prosesi Sedekah Apem Ya Qowiyyu di Jatinom, Klaten, yang diikuti ribuah orang. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Apem ya qowiyyu: antara berserah pada Allah dan ikhtiar manusia

Semasa hidup Kiai Ageng Gribig mengudar nilai-nilai Islam dalam bentuk nasihat Jawa yang mudah dimengerti oleh masyarakat. 

Pada detik-detik sebelum gunungan apem digebyah ke lautan manusia, Daryanta yang didapuk merekonstruksi sosok Kiai Ageng Gribig membeberkan nasihat-nasihat Jawa di hadapan ribuah masyarakat yang berkumpul di oro-oro: 

Kuatno gegujengan marang agamamu (Berpegang kuatlah pada agamamu)

Jaganen ibadahmu (Jagalah ibadahmu)

Donga lan ikhtiaro golek rezekine Allah (Berdoa dan berikhtiarlah mencari rezeki Allah)

Iklan

Ridho lan nampa apa wae sing dari sedekah (Ridho dan terimalah setiap pemberian)

Gunungan apem dalam Sedekah Apem Ya Qowiyyu di Jatinom, Klaten MOJOK.CO
Gunungan apem dalam Sedekah Apem Ya Qowiyyu di Jatinom, Klaten. (Aly Reza/Mojok.co)

Melalui nasihat-nasihat tersebut, Daryanta—yang merekonstruksi sosok Kiai Ageng Gribig—mengajak masyarakat Jatinom, Klaten, untuk menyadari posisi sebagai hamba Allah Swt. 

Sebagai hamba, sudah sepatutnya menjadikan tuntunan agama (Islam) sebagai panduan hidup sehari-hari. Sudah seharusnya pula menjaga ibadah untuk menghamba dan mendekat kepada Allah Swt. 

Termasuk dalam perkara mencari rezeki. Seorang hamba memang sepatutnya bergantung dan mengandalkan kuasa Allah Swt, melalui doa. Tapi di samping itu juga harus berikhtiar semampu-mampunya. Sisanya adalah keridhoan menerima setiap pemberian dari-Nya. 

Ingaluhur ingarsa trustaning Gusti. Setinggi apapun ilmu atau pencapaian, harus didasari pada kerendahan da tawakal di hadapan Allah Swt. Sebuah pesan yang digemakan dalam puncak perayaan Sedekah Apem Ya Qowiyyu siang itu. 

Prosesi Sedekah Apem Ya Qowiyyu di Jatinom, Klaten, yang diikuti ribuan orang MOJOK.CO
Prosesi Sedekah Apem Ya Qowiyyu di Jatinom, Klaten, yang diikuti ribuan orang. (Aly Reza/Mojok.co)

Kesalehan sosial yang diwarisi masyarakat Jatinom Klaten

Selain persoalan kesalehan spiritual di atas, tradisi Sedekah Apem Ya Qowiyyu juga merupakan warisan kesalehan sosial bagi masyarakat Jatinom, Klaten. 

Sedekah apem yang dilakukan Kiai Ageng Gribig 400-an tahun lampau adalah simbol bagaimana semestinya masyarakat memiliki kepekaan sosial terhadap lingkungannya: melalui kebiasaan berbagi. Bagian ini memang terejawantah dalam kehidupan masyarakat setempat. 

Salah satu contohnya adalah dari warung apem Bu Suti yang saya hampiri sebelum detik-detik puncak acara Sedekah Apem Ya Qowiyyu dimulai. 

Suti (50-an) bercerita, setiap Saparan (perayaan Sedekah Ya Qowiyyu di tiap bulan Safar), masyarakat tidak hanya ramai-ramai membuat kue apem untuk dijual. Tapi juga menyediakan khusus untuk disetorkan ke Yayasan P3KAG untuk dijadikan gunungan yang bakal disedekahkan. 

“Karena secara filosofis, tradisi ini kan mencari berkah dan sedekah, berbagi ke sesama seperti teladan dari pendahulu,” ungkap Suti. 

Suti juga punya kebiasaan membolehkan para pengunjung acara untuk mencicipi apem buatannya. Jadi sebelum membeli kue apem di warungnya, para pengunjung bisa sekadar icip. Sebutir, dua butir. Kalau toh nantinya tidak jadi membeli, tidak masalah. 

“Saya niatkan itu sebagai suguhan. Para pendatang ini kan ibarat tamu, sebagai tuan rumah, saya memberi suguhan (berupa kebolehan mencicipi kue apem buatan warungnya),” tutur perempuan yang sudah jualan apem ya qowiyyu sejak 2015 itu. Apa yang Suti lakukan tersebut adalah manifestasi dari salah satu bentuk kesalehan sosial dalam Islam: hurmati dhuyuf (menghormati tamu). 

“Kalau di warung saya, kalau nawar harga, nggak boleh. Tapi kalau mau icip dulu, saya persilakan,” sambungnya. 

Masyarakat berebut berkah dari sebaran kue apem ya qowiyyu MOJOK.CO
Masyarakat berebut berkah dari sebaran kue apem ya qowiyyu. (Aly Reza/Mojok.co)

Praktik hidup ala Al-Qur’an

Apem ya Qowiyyu pun menjadi simbolisasi bagaimana Al-Qur’an sebagai gujengan agama mengejawantah dalam masyarakat. Setidaknya begitu yang dipaparkan Rika Alimah dkk dalam penelitian berjudul, “Tradisi Sebaran Apem Yaqowiyyu Warisan Kyai Ageng Gribig Perspektif Living Quran Di Jatinom Klaten”. 

Dalam penelitian tersebut dipaparkan, apem memang memiliki banyak makna dalam konteks budaya Islam Jawa. Apem konon merupakan saduran dari kata Arab “afwun” yang berarti pengampunan atau pembersihan diri. Dan salah satu cara membersihkan diri tersebut adalah melalui melepaskan ikatan materi duniawi melalui proses sedekah. 

“Bentuknya yang bulat melambangkan keutuhan dan kebersamaan, sedangkan teksturnya yang halus dan halus menyampaikan kelembutan dan harapan akan belas kasihan Ilahi,” tulis Rika dkk. 

Lebih lanjut, dari kajian yang digali Rika dkk, apem ya qowiyyu menunjukkan dengan jelas bagaimana konsep Al-Qur’an termanifestasi dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.

Tradisi Sedekah Apem Ya Qowiyyu memuat prinsip-prinsip Al-Qur’an tentang kekuatan (quwwah/qowiyyun), kemurahan hati (infāq), persatuan (ukhuwwah), dan rasa syukur. 

Karena tradisi ini berlangsung dengan landasan sebagaimana nasihat-nasihat yang dipaparkan oleh Daryanta sebelumnya: pengakuan sebagai hamba yang tidak berdaya tanpa kekuatan dari Allah, kesalehan sosial dalam bentuk kegemaran berbagi dengan sesama, ikatan persaudaraan berwujud budaya gotong royong masyarakat setempat, dan dorongan untuk bersyukur atas setiap pemberian dari Allah Swt. 

Berada di tengah-tengah lautan manusia yang berebut berkah apem pada Jumat (31/7/2026) siang itu, saya menyaksikan bagaimana masyarakat Jatinom, Klaten, menyikapi sebutir kue apem tidak hanya sekadar kuliner kuna. Tapi merupakan warisan dengan nilai-nilai besar yang terus ingin dijaga, baik secara simbolis maupun ikhtiar mengejawantahkannya dalam kehidupan sosial-spiritual sehari-hari. ***(Adv)

BACA JUGA: Tangan-tangan Pembuat Apem Ya Qowiyyu: Alasan Kue Tradisional Jatinom Klaten Tak Lekang Waktu atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 10 Agustus 2026 oleh

Tags: apem klatenapem ya qowiyyukuliner khas klatenoleh-oleh khas klatenpilihan redaksiresep apem ya qowiyuusejarah apem ya qowiyyu
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Pengamen di Jalan Malioboro Jogja kayak orang malak MOJOK.CO
Catatan

Saya Jauh Lebih Rispek ke Pengamen Lampu Merah di Jogja daripada Pengamen Malioboro karena Dua Alasan

6 Agustus 2026
Tangan-tanga pembuat apem ya qowiyyu: alasan kue tradisional khas Jatinom, Klaten, tak lekang waktu MOJOK.CO
Eksplor

Tangan-tangan Pembuat Apem Ya Qowiyyu: Alasan Kue Tradisional Jatinom Klaten Tak Lekang Waktu

4 Agustus 2026
Karnaval sound horeg getarkan Jawa Timur tiap Agustusan. Dosa jariah di balik gengsi antardesa, dalih selawatan, hingga perputaran ekonomi di bawah MOJOK.CO
Sehari-hari

Jatim Bergetar Tiap Agustusan: Dosa Jariah Sound Horeg di Balik Gengsi Antardesa hingga Selawatan Sambil Berjoget Seksi

3 Agustus 2026
Hal-hal yang bisa ditemukan di warung madura tapi tidak dimiliki di Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih MOJOK.CO
Catatan

Hal-hal yang Bisa Ditemukan di Warung Madura tapi Tidak Ada di Koperasi Desa (Kopdes), Cukup “Berlainan” jika Disandingkan

28 Juli 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Saat cerita/sambat ke teman berujung adu nasib dengan kalimat maut "Kamu masih mending". Meresponsnya dengan pura-pura tolol ternyata menyenangkan MOJOK.CO

Niat Cerita ke Teman Berujung Adu Nasib: Pura-pura Tolol saat Teman Bilang “Kamu Masih Mending” Ternyata Menyenangkan

6 Agustus 2026
Token listrik lebih awet setelah mengubah kebiasaan kecil di rumah (Unsplash)

Token listrik lebih awet setelah saya mengubah kebiasaan kecil di rumah

7 Agustus 2026
Lomba Agustusan di desa jadi toxic dan merusak moral anak muda gara-gara paparan kreator konten di media sosial MOJOK.CO

Lomba Agustusan di Desa Jadi Toxic dan “Merusak” Anak Muda karena Terpapar Konten Kreator, Tidak Seasyik Dulu

8 Agustus 2026
Cinta yang Tak Berbalas Bikin Perempuan Crush Recession hingga Belum Menikah. MOJOK.CO

Crush Recession: Jatuh Cinta Terasa Melelahkan, bikin Perempuan Malas Pacaran

4 Agustus 2026
Hadapi 777 cv lamaran kerja untuk 1 posisi. IPK dan nama besar kampus tak penting lagi di mata HR MOJOK.CO

Hadapi 777 CV Lamaran Kerja untuk 1 Posisi, HR Tak Peduli IPK-Asal Kampus karena Urusan di Atas Kertas Bukan Jaminan Etos Kerja

8 Agustus 2026
Perjuangan orang haven't ingin jadi mahasiswa baru (maba) tanpa sponsor orang tua melalui beasiswa KIP Kuliah MOJOK.CO

Nasib Orang Haven’t: Ingin Jadi Maba Tanpa Sponsor Orang Tua, Harus Alami Kerja di Warung Mie Ayam 16 Jam Upah 30 Ribu

7 Agustus 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.