Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sekolahan

Sesal Mahasiswa Malaysia Kuliah di UIN demi Murah, Hadapi Banyak Hal Tak Mutu dan Lulusan UIN yang “Mentok Segitu”

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
26 Maret 2026
A A
Mahasiswa Malaysia menyesal kuliah di Universitas Islam Negeri di Indonesia. Lulusan UIN mentok gitu-gitu aja MOJOK.CO

Ilustrasi - Mahasiswa Malaysia menyesal kuliah di Universitas Islam Negeri di Indonesia. Lulusan UIN mentok gitu-gitu aja. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Perkuliahan di kelas tidak memberi apa-apa

Lebih parah, metode pembelajaran yang Haliza dapatkan—setidaknya di jurusannya—baginya terasa ala kadarnya. Bahkan cenderung tidak niat, baik dari sisi dosen maupun mahasiswa UIN sendiri. 

Dosen jarang masuk banyak. Lebih banyak lagi dosen yang sistem mengajarnya hanya memberi tugas, presentasi, lalu selesai. Semua terasa sangat teoretis dan formalitas belaka. Seperti tidak ada kesan untuk benar-benar mempersiapkan lulusan UIN nantinya bakal bagaimana. 

“Mahasiswa pun sama hal. Hanya mengerjakan tugas sekadarnya. Tidak sungguh-sungguh belajar. Diajak cari referensi di perpustakaan susah sekali,” kata Haliza.

“Masa itu, ada mahasiswa yang suka copy paste dari internet. Presentasi hanya dibaca saja,” sambungnya. 

Suasana perkuliahan benar-benar monoton. Dari semester ke semester tidak berubah. Justru semakin membosankan karena metode yang begitu-begitu saja. 

“Ada pengalaman lucu. Ada mata kuliah yang mengharuskan kuliah lapangan. Misalnya arkeologi. Tapi kami bingung harus buat apa, karena hanya lihat-lihat makam kuno,” ungkap Haliza. 

Dibetah-betahkan meski merasa salah kampus dan hadapi guyonan tidak mutu dari mahasiswa Indonesia

Sejak memasuki semester 3, Haliza sebenarnya sudah merasa tidak betah kuliah di Universitas Islam Negeri (UIN) dengan kualitas pendidikan semacam itu. Namun, saat itu, rasanya sepertinya akan melelahkan jika ia harus mengulang lagi mendaftar kuliah di Malaysia. 

Setelah berbincang dengan teman-temannya sesama mahasiswa Malaysia, sudah kepalang tanggung nyebur kuliah di UIN. Jadi harus dituntaskan. 

Walaupun, selain persoalan fasilitas dan metode di kelas, ada satu hal lagi yang harus kuat-kuatan para mahasiswa Malaysia hadapi: guyonan tidak mutu. Misalnya: 

“Kamu dari Malaysia? Apanya Kampung Durian Runtuh? (kampung dalam serial Upin Ipin).”

“Kamu tetangganya Tok Dalang?.”

“Due…. tige….”

“Ada juga yang berlagak dekat, memanggil saya “Kak Ros” bahkan “Mak Cik”. Saya tersenyum saja. Cara berguraunya aneh,” keluh Haliza. 

Lulusan UIN mentok gitu-gitu aja

Dengan segala dinamika itu, Haliza akhirnya lulus kuliah pada 2022. Ia kemudian kembali ke Malaysia. Karena ingin balas dendam setelah melalui kuliah sekadarnya di UIN, ia pun melanjutkan S2 di sebuah universitas di Malaysia. 

Iklan

Karena ia sadar betul, label lulusan UIN yang menjalani kuliah seperti Haliza, rasa-rasanya akan susah berkarier di Malaysia. Serba nanggung. Skill tidak bisa ditawarkan, intelektual juga pas-pasan. 

“Faktanya, teman-teman saya mahasiswa Malaysia dulu akhirnya juga banyak ambil S2 di universitas Malaysia. Kalau tidak S2, ada yang meneruskan bisnis keluarga,” kata Haliza. 

“Sedangkan teman saya lulusan UIN di Indonesia, begitu-begitu saja. Tidak beranjak kariernya. Saya masih terhubung dengan beberapa teman. Banyak yang jadi guru (honorer) dengan gaji kecil sangat. Banyak juga yang bekerja informal, sama sekali tidak ada hubungannya dengan jurusan semasa kuliah,” pungkasnya. 

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Kuliah di UIN Jadi Tahan Penderitaan Hidup: Kumpul Mahasiswa “Modal Iman”, Terbiasa Mbambung dan Lapar atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Halaman 2 dari 2
Prev12

Terakhir diperbarui pada 26 Maret 2026 oleh

Tags: biaya kuliah malaysiabiaya kuliah uinjurusan uinlulusan UINmahasiswa malaysiaprospek kerja uinuinUKT UINuniversitas malaysia
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Merasa terkecoh saat kuliah di Universitas Islam Negeri (UIN) gara-gara ulah mahasiswa organisasi ekstra hingga dosen cabul MOJOK.CO
Sekolahan

Kuliah di UIN dengan Ekspektasi Tinggi: Berujung “Terkecoh” karena Fakta Tak Sesuai Tampilan Luar dan Menyimpang

7 Mei 2026
Arif Prasetyo, alumnus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta penerima LPDP. MOJOK.CO
Sekolahan

Kerap Didiskriminasi Sejak Kecil karena Fisik, Buktikan Bisa Kuliah S2 di UIN Sunan Kalijaga dengan LPDP hingga Jadi Sutradara

13 April 2026
Siswa terpintar 2 kali gagal UTBK SNBT ke Universitas Brawijaya (UB). Terdampar kuliah di UIN malah jadi mahasiswa goblok dan nyaris DO MOJOK.CO
Sekolahan

Gelar Siswa Terpintar Tak Berarti buat Kuliah UB, Terdampar di UIN Malah Jadi Mahasiswa Goblok, Nyaris DO dan Lulus Tak Laku Kerja

3 April 2026
Nurul Fajriatussaadah, lulusan terbaik S2 di UIN Semarang
Sekolahan

Dihina karena Hanya Anak Petani dari Pelosok Desa, Kini Berhasil Jadi Lulusan Terbaik S2 UIN Semarang berkat Doa Ayah

30 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Sebat Bareng menjadi upaya sederhana merespons kampanye Hari Tanpa Tembakau Sedunia (HTTS). Berlangsung di 16 daerah MOJOK.CO

Sebat Bareng di 16 Kabupaten/Kota: Cara Sederhana Tolak Hari Tanpa Tembakau Sedunia, Pengingat Industri Kretek Masih Dibutuhkan Indonesia

31 Mei 2026
Kenapa Hidup di Jogja Membuat Saya Terlalu Santai Menghadapi Tagihan yang Seharusnya Bikin Panik MOJOK.CO

Kenapa Hidup di Jogja Membuat Saya Terlalu Santai Menghadapi Tagihan yang Seharusnya Bikin Panik

3 Juni 2026
Fun Football, Cara Pria Dewasa untuk Tetap Waras dan Punya Alasan untuk Hidup Lebih Lama

Fun Football, Cara Pria Dewasa untuk Tetap Waras dan Punya Alasan untuk Hidup Lebih Lama

2 Juni 2026
Ambisnya Orang Tua di Jogja Demi Sekolah Favorit untuk Anaknya MOJOK.CO

Ambisnya Orang Tua di Jogja demi Sekolah Favorit untuk Anaknya

1 Juni 2026
Peserta nyentrik gowes ke Klaten untuk ikut KLIC Fest 2026. MOJOK.CO

“Onthelis” dari Nusantara Rela Gowes Berhari-hari dengan Sepeda Tua Guna Misi Kebudayaan yang Memukau Para Bule

3 Juni 2026
Jingle MBG Mas Bahlil Ganteng: ejekan ke figur politik tapi jadi alat reproduksi popularitas, buktinya Partai Golkar senang MOJOK.CO

MBG Mas Bahlil Ganteng Sudah Over-eksposur: Bahasa Kritik tapi Jadi Alat Reproduksi Popularitas, Bikin Golkar Senang

28 Mei 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.