Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kampus

Akui Saja, Lulusan UIN Memang Skill-nya di Bawah Rata-rata, dan Inilah Penyebabnya

Muhamad Iqbal Haqiqi oleh Muhamad Iqbal Haqiqi
25 Maret 2026
A A
5 Alasan yang Membuat SPs UIN Jakarta Berbeda dengan Program Pascasarjana Kampus Lain Mojok.co

5 Alasan yang Membuat SPs UIN Jakarta Berbeda dengan Program Pascasarjana Kampus Lain (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Belakangan ramai sebuah cuitan bernada sarkas yang intinya menyarankan kampus berlabel UIN untuk mengurangi lulusannya, dan fokus pada kualitas alih-alih kuantitas. Sebab banyak dari mereka yang melamar kerja dengan skill yang tidak jelas tapi permintaan gajinya tidak masuk akal.

Cuitan itu direspons senada oleh banyak natizen, terutama mereka yang mengaku sebagai dosen di kampus berlabel UIN. Satu kesimpulan yang saya ambil dari semua respons atas cuitan tersebut adalah, kita perlu akui bahwa kampus UIN memang melahirkan lulusan yang skillnya di bawah rata-rata. Bahkan bukan hanya kampus UIN, tapi kampus negeri lain yang letaknya di luar Jawa sekalipun, punya output yang sama, yaitu masalah skill yang tidak memadai dan nggak match dengan dunia industri.

Saya pribadi adalah lulusan UIN, dan saya acap kali melihat alumni, baik itu angkatan di atas saya maupun yang seangkatan di atas saya, bekerja tidak sesuai dengan apa yang dipelajari selama di kampus. Umumnya, mereka jadi pengusaha. Ada yang lulusan tarbiyah (keguruan), lulus buka angkringan. Ada juga yang lulusan dakwah, jadi penjual lele. Malah ada yang lulusan syariah, buka kedai kopi.

Yah sebenarnya nggak ada yang salah, tapi pertanyaannya, ketika lulus dengan kondisi mengeluarkan uang berpuluh-puluh juta selama beberapa tahun, tapi tak punya skill apa pun dari apa yang dipelajari, lalu untuk apa seseorang kuliah? Rasanya naif kalau tujuan kuliah hanya soal membangun mindset dan mencari ilmu.

Meminjam pernyataannya Prof Bagus Muljadi, bahwa pendidikan di perguruan tinggi adalah investasi. Dan selayaknya investasi maka dia harus punya return bagi siapapun yang berinvestasi.

Maka dari itu, menurut saya kita perlu melihat ini dari aspek penyebab, alih-alih mengumpat soal akibat yang sudah terjadi. Maka dari itu, saya coba uraikan, beberapa hal yang membuat kampus berstatus UIN dan (mungkin) kampus negeri luar jawa punya lulusan yang under skill/value.

Kurikulum UIN yang nanggung, agama tidak dalam, skill tidak tajam

Banyak prodi di UIN punya kurikulum yang nanggung. Mata kuliah keagamaannya ada tapi nggak cukup mendalam. Di sisi lain, materi perkuliahan umum hanya mengupas hal yang ada di permukaan dan teoritis. Sebetulnya teoritis pun tidak masalah, asalkan literatur akademik dapat diakses dengan mudah oleh mahasiswa. Persoalannya, literatur yang ada hanya terbatas pada buku-buku lawas dan mainstream. Sementara artikel ilmiah dari jurnal bereputasi dan terindeks scopus sangat sulit dijangkau. Sehingga mahasiswa hanya tahu teori tanpa tahu bagaimana aplikasi dan fenomenanya di masyarakat melalui artikel ilmiah.

Tentu semua itu bikin kemampuan kritis dan analisis literatur mahasiswa UIN sangatlah tumpul. Semua itu ditambahkan dengan bekal praktis yang terbatas sehingga gagap dalam menjawab kebutuhan industri. Semua itu pada akhirnya melahirkan lulusan yang hanya tahu teori umum, tapi tidak benar-benar tajam dalam satu hal. Padahal pasar tenaga kerja tidak lagi membutuhkan tenaga kerja yang hanya sekadar tahu, tapi paham dan bisa melakukan sesuatu.

Baca Juga:

Kuliah di UIN Dipandang Sebelah Mata, Ditambah Ambil Jurusan Nggak Populer Jadi  Makin Menderita

3 Alasan Maba Jangan Memasang Ekspektasi Ketinggian ke UIN Palembang, Takutnya Nanti Kecewa

BACA JUGA: Bangga sih Bangga, tapi kalau Bilang UIN SUKA Lebih Unggul ketimbang UGM, Itu mah Bukan Bangga, tapi Halu!

Soal orientasi dan citra kampus UIN

Tidak bermaksud merendahkan, tapi banyak yang masuk UIN orientasinya adalah menjadi guru, PNS, pengusaha, dan sektor sosial-keagamaan. Semua orientasi itu nggak salah, tapi realitas secara ekonomi tidak bisa disederhanakan hanya pada keempat sektor tersebut. Sebab saat ini kebutuhan hidup meningkat, ekonomi makin kompleks, sehingga pilihan karier jadi melebar dengan persaingan yang makin ketat.

Kalau hanya menyiapkan diri untuk keempat sektor tersebut, artinya skill yang disiapkan pun terbatas. Sehingga nggak nyambung sama yang dibutuhkan industri, terutama sektor swasta. Orientasi tersebut akhirnya membuat UIN hanya dicitrakan sebagai kampus agama dan kurang terbuka dengan kebaruan dan kemajuan industri.

Exposure yang terbatas

Kalau kita perhatikan, banyak mahasiswa kampus umum di luar sana sudah akrab dengan istilah magang sejak awal semester. Itu membuat mereka sibuk membangun portofolio praktis yang selaras dengan industri dan jurusan mereka. Dari mana mereka mendapat semua itu? Tentu dari prodi dan organisasi intra kampus. Di sisi lain, ekosistem UIN belum menjadikan ini sebagai budaya.

Awal semester dihabiskan untuk kegiatan organisasi yang output dan outcome-nya nggak jelas. Mahasiswanya sibuk tebar pesona sok paling aktivis dan peka terhadap realitas kampus dan sosial. Tapi ompong ketika terjun pada kegiatan yang menuntut skill-skill dasar, semisal Microsoft Office saja.

Saya tidak bilang kalau berorganisasi itu nggak penting. Penting kok. Tapi, organisasi seperti apa dulu? Kebanyakan organisasi intra UIN hanya melahirkan budaya elitis dan feodal alih-alih mendorong kadernya punya skill yang dibutuhkan di dunia sosial dan kerja.

Baca halaman selanjutnya

Budaya akademik UIN yang kurang kompetitif

Halaman 1 dari 2
12Next

Terakhir diperbarui pada 26 Maret 2026 oleh

Tags: jurusan di UINkampus UINkuliah di UINUINUIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
Muhamad Iqbal Haqiqi

Muhamad Iqbal Haqiqi

Mahasiswa Magister Sains Ekonomi Islam UNAIR, suka ngomongin ekonomi, daerah, dan makanan.

ArtikelTerkait

Sambal Terasi Paling Nikmat ada di Pak Kumis Samping UIN Jakarta (Unsplash)

Warung Tenda Pak Kumis UIN Jakarta Meninggalkan Jejak Sambal Terasi yang Bikin Kangen

15 Agustus 2023
UIN Salatiga Menyimpan Salah Paham yang Menyesatkan (Unsplash)

UIN Salatiga Menyimpan Salah Paham yang Menyesatkan

3 Januari 2024
Sudah Nanggung, UIN Bikin Mahasiswa Menanggung Malu Pula (Unsplash)

UIN Adalah Universitas Paling Nanggung: Menjadi Sumber Rasa Malu, Serba Salah, dan Tidak Pernah Dipahami

16 November 2025
Kuliah di UIN (Unsplash.com)

UIN Kampus Rakyat, Masihkah Relevan?

23 Desember 2022
Kuliah di UIN (Unsplash.com)

Kuliah di UIN? Ini 5 Culture Shock yang Dirasakan Lulusan SMA

20 Juni 2022
HMJ UIN Walisongo Semarang Itu Organisasi Overrated yang Keberadaannya Nggak Penting-penting Amat

HMJ UIN Walisongo Semarang Itu Organisasi Overrated yang Keberadaannya Nggak Penting-penting Amat

29 Februari 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

IKEA Ciputra World Surabaya, Tempat yang Cocok untuk Melepas Penat Tanpa Takut Melarat mojok.co

IKEA Ciputra World Surabaya, Tempat yang Cocok untuk Melepas Penat Tanpa Takut Melarat

30 April 2026
Menyesal Beli Motor Impian Honda Astrea Prima karena Akhirnya Cuma Nambah Beban Hidup Mojok.co astrea bulus

Astrea Bulus 1991 yang Saya Beli Lima Juta, Dibilang Teman “Ora Jaman”, Ternyata Malah Jadi Motor Paling Masuk Akal Buat Saya

5 Mei 2026
Trans Jatim Koridor 7, Seburuk-buruknya Transportasi Publik. Masih Perlu Banyak Belajar dan Berbenah

Ternyata Bus Trans Jatim Nggak Ada Bedanya dengan Angkot, Ngebut dan Ugal-ugalan!

4 Mei 2026
Sarjana Sastra Inggris Percuma Kuliah, Kursus Aja Udah Cukup (Unsplash)

Meski Dianggap Jurusan yang Tidak Relevan dengan Industri, Saya Malah Bangga Masuk Jurusan Sastra Inggris

4 Mei 2026
Klaten Tulang Punggung dan Masa Depan Dapur Indonesia

Klaten: Bukan Sekadar Kota untuk Mampir Menikmati Sop Ayam, tapi Tulang Punggung dan “Dapur” Masa Depan Indonesia

1 Mei 2026
Tinggal di Rusunawa Rp800 Ribu di Jakarta Ternyata Nggak Buruk-buruk Amat, Lebih Layak Dibanding Hidup di Kos-kosan dengan Sewa Jutaan Mojok.co

Tinggal di Rusunawa Rp800 Ribu di Jakarta Ternyata Nggak Buruk-Buruk Amat, Lebih Layak Dibanding Hidup di Kos-kosan dengan Sewa Jutaan

4 Mei 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

  • Buka Usaha di Luar Pulau Jawa Kerap Gagal Bukan karena Klenik “Dikerjain” Akamsi, Ada Faktor Lain yang Lebih Masuk Akal
  • Belajar Bertani dari Dasar, Akhirnya Hidupkan Ketahanan Pangan dari Lahan Kosong di Delanggu Klaten
  • 5 Ciri Orang Toxic yang Wajib di-Cut Off: Teman Manipulatif dan Bodo Amat dengan Kondisi Kita
  • Satu Kos sama Teman NPD alias Narsistik bikin Muak: Pusat Masalah tapi Tak Tahu Diri, Merasa Benar Sendiri dan Ogah Introspeksi
  • 4 Tipe Teman yang Sebaiknya Dilarang Menginap di Kos Kita: dari yang Cuma “Modal Nyawa”, hingga Teman Jorok tapi Tak Sadar Kalau Dia Jorok
  • Ortu Lebih Rela Jual Tanah buat Modal Anak Kerja di Jepang, Rp40 Juta Mending buat LPK ketimbang Rugi Dipakai Kuliah

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.