Perjalanan masuk kuliah ke Universitas Gadjah Mada (UGM) Jogja tidak pernah mudah bagi Alfath Qornain Isnan Yuliadi. Pemuda asal Klaten ini harus melalui tantangan yang tidak biasa sebagai lulusan SMK sampai dengan meraih gelar mahasiswa prestasi UGM.
***
Alfath ingin melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi di tengah ekonomi keluarganya yang datang dari kalangan kurang mampu. Ia menyampaikan keinginan kepada orang tua, untuk menerima keraguan yang sudah terbayang sebelum menyampaikan niatnya.
Menurut kedua orang tua Alfath, lebih baik dirinya langsung bekerja setelah lulus sekolah. Pasalnya, alasan kedua orang tuanya menyekolahkan Alfath di SMK adalah untuknya langsung dapat memiliki penghasilan yang dapat membantu ekonomi keluarga.
“Awalnya memang tarik ulur. Karena dari awal saya dimasukkan ke SMK supaya setelah lulus bisa langsung bantu kerja,” kata dia, dikutip dari laman UGM, Sabtu (11/4/2026).
Namun memiliki tekad yang kuat, pemuda asal Klaten ini mencoba untuk meyakinkan kedua orang tuanya. Ia juga membuktikan bahwa bukan hanya mampu lolos untuk kuliah di UGM, tetapi dirinya mampu bersinar di kampus yang terletak di Jogja tersebut.
Terhalang izin karena kondisi ekonomi
Pertama kali menyampaikan niatnya untuk melanjutkan pendidikan di UGM Jogja, kedua orang tua Alfath terpikir bahwa biaya kuliah tidak akan sedikit. Membutuhkan biaya besar untuk dapat melanjutkan pendidikan kembali. Pertimbangan ekonomi yang sulit ini juga didasarkan pada kondisi Alfath sebagai anak kedua dari enam bersaudara. Maka, keputusan itu akan berdampak pada kondisi keluarga, termasuk saudara-saudaranya.
Namun, tekadnya tidak goyah.
Alfath bercerita, ia mengatakan kepada sang ayah bahwa status sebagai lulusan SMK akan membuat dirinya tertahan di tempat. Ia akan sulit ke mana-mana hanya dengan gelar SMK. Sementara itu, gelar sarjana dapat membuatnya meningkatkan taraf, serta belajar lebih banyak lagi melalui bangku perkuliahan.
“Saya bilang ke ayah, kalau saya mentok di SMK saja, kemungkinan berkembangnya lebih sulit. Saya ingin berkembang lebih jauh, saya ingin kuliah,” kata dia.
Melalui usaha kerasnya dalam meyakinkan orang tua, perlahan Alfath mendapati hati orang tuanya mulai luluh.
Harus bekerja sebagai tukang bangunan untuk biaya seleksi UGM
Perjuangan Alfath tidak berhenti pada izin. Ia membiayai sendiri langkah awalnya untuk dapat berkuliah di UGM.
Sejak kelas dua SMK, Alfath turun langsung ke proyek bersama ayahnya. Ia menggali fondasi hingga mengangkat material untuk upah yang tidak besar. Hanya sekitar Rp50 ribu per hari.
Namun setidaknya, bagi Alfath, biaya itu cukup untuk dikumpulkan sebagai uang pendaftaran UTBK. Sebab, Alfath merasa tidak enak hati untuk meminta kepada ayahnya.
“Saya nggak enak minta ke bapak. Jadi saya kerja, sebagian ditabung buat UTBK, sebagian buat kebutuhan sekolah,” kata dia.
Untuk itu juga, Alfath harus berusaha ekstra. Ia tidak hanya mengumpulkan uang untuk kebutuhan biaya, tetapi juga mengatur waktu semaksimal mungkin untuk bekerja dan belajar. Waktu belajar disisihkan pada malam hari setelah bekerja penuh mulai pagi hingga sore.
Menjelang ujian, Alfath mengatur waktu dengan empat hari bekerja dan tiga hari penuh di akhir pekan untuk belajar.
Pembagian waktu seperti ini barang tentu membuatnya lelah. Alfath bahkan sempat terjatuh dari lantai dua proyek bangunan. Namun, alih-alih menyerah, pengalaman itu justru kian menguatkan tekadnya.
“Saya sempat overthinking, takut nggak bisa lanjut. Tapi alhamdulillah diberi kesempatan sampai di titik ini,” kata dia.
Lulusan SMK satu-satunya yang diterima kuliah di UGM
Perjuangan Alfath membuahkan hasil yang manis. Dari bangku SMK, Alfath menjadi satu-satunya siswa di sekolahnya yang lolos ke PTN yang berada di Jogja ini.
Alfath mampu melawan dominasi lulusan SMA yang menyasar UGM, juga membuktikan kepada kedua orang tuanya bahwa dirinya serius untuk melanjutkan pendidikan. Ia diterima di Program Studi D4 Teknologi Rekayasa Pelaksanaan Bangunan Sipil, Sekolah Vokasi, UGM Jogja.
“Kalau di angkatan saya, jujur cuma saya. Satu-satunya dari SMK saya yang lolos,” kata dia.
Begitu menerima pengumuman hasil seleksi UTBK di kamarnya seorang diri, Alfath segera memeluk ibunya. Ia juga bergegas mencari sosok lain yang paling ia ingat, yakni kakeknya.
Dengan emosi yang campur aduk, Alfath memeluk sang kakek dan mengatakan bahwa dirinya akan berkuliah.
“Saya ingat banget, saya lari nyamperin kakek saya, langsung saya peluk dan bilang, ‘Saya jadi kuliah’,” kata dia.
Yang pertama berkuliah di keluarga raih gelar mahasiswa berprestasi
Momen Alfath mengetahui dirinya diterima sebagai mahasiswa UGM bukan hanya kebahagiaan Alfath, ibu, atau kakeknya. Kebahagiaan itu dirayakan oleh seluruh keluarganya.
Sebab, Alfath adalah yang pertama menginjakkan kaki di bangku perkuliahan di keluarganya.
Alfath bercerita, sang kakek menyebutkan dirinya bangga, karena Alfath adalah satu-satunya cucu yang bisa menempuh pendidikan di bangku kuliah. Ia berharap Alfath mampu menjadi pembuka pintu bagi keluarga yang lain untuk berkuliah.
Ini artinya, Alfath bukan hanya yang pertama berkuliah. Alfath juga akan menjadi sarjana, yang diharapkan sebagai pembawa perubahan dalam keluarganya kelak.
Dengan semangat ini, Alfath memasuki bangku kuliah di UGM dengan penuh kepercayaan diri. Ia yang sebelumnya cenderung introvert dan hanya berfokus pada akademik, kini aktif berorganisasi, dipercaya memimpin organisasi kemahasiswaan (BSO) di Sekolah Vokasi, dan mengikuti berbagai kompetisi.
“Saya dulu bahkan diajak lomba nggak mau, tapi di UGM saya sadari itu penting dan mulai aktif sejak semester tiga,” kata dia.
Hasilnya bukan main, hingga kini Alfath tercatat telah memenangkan sekitar 15 perlombaan tingkat nasional dan internasional. Ia bahkan menjadi finalis pada sebuah kompetisi di Nanyang Technological University Singapura. Prestasinya mengantarkan Alfath meraih penghargaan Insan Berprestasi UGM atau Mahasiswa Berprestasi pada 2025 lalu.
Ia bercerita, kedua orang tuanya yang sempat berpikir panjang akan keputusan Alfath ingin berkuliah, merasa bangga dan tidak menyangka akan pencapaian anaknya ini.
“Orang tua saya senang banget. Mereka nggak menyangka anaknya bisa sampai dapat penghargaan dari UGM,” kata dia.
Penulis: Shofiatunnisa Azizah
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Mahasiswa UGM Kena DO dan Tinggal Nomaden karena Kendala Ekonomi, Kini Raih Gelar Sarjana Berkat “Menumpang” di Kos Teman dan artikel liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan













