Nyesek jadi lulusan soshum di PTN
Di sisi lain, sebagai lulusan soshum, Arum merasa makin kesal dengan rumpun studinya yang semakin dipinggirkan. Ia merasa, kesempatan kerjanya sudah tipis, kemudian semakin ditiadakan dengan anggapan bahwa hanya satu jurusan di rumpun soshum yang memiliki masa depan.
“Aku lately kesal baca opini orang yang bilang kalau masuk soshum ke ekonomi aja, karena selain jurusan itu kalau nggak punya koneksi, mau buat apa?” kata dia.
Meski demikian, ia tidak memungkiri bahwa anggapan itu masuk akal. Kebijakan seperti beasiswa LPDP yang lebih memfokuskan bidang STEM, melalui peningkatan kuota dari 67 persen hingga 80 persen, membuat Arum semakin geram. Kebijakan ini membuatnya merasa dinomorduakan sebagai lulusan soshum.
Maka dari itu, ladang pekerjaan untuk lulusan soshum, sekalipun dari PTN, seolah tidak akan menjanjikan seperti lulusan STEM. Khususnya, bagi mereka yang tidak mempunyai koneksi.
“Masuk akal sih, di negara yang serba STEM ini, se-simple kayak jurusanku, kalau nggak ada koneksi ya mentok-mentok jadi buruh tulis kayak aku sekarang,” kata dia.
Akhirnya menjadi lebih keras terhadap diri sendiri
Menelan kenyataan pahit kehidupan yang tidak sesuai ekspektasi, Arum menjadi semakin keras terhadap dirinya sendiri. Ia kerap merasa gagal secara tiba-tiba. Misalnya, ketika sedang termenung, bukan tidak mungkin Arum akan terkejut menyadari bahwa dirinya merasa depresi karena karier yang mandek.
Perasaan-perasaan ini membuat Arum bersikap lebih keras terhadap dirinya. Arum memaksa dirinya sendiri untuk melakukan banyak hal yang dapat mempercepat prosesnya untuk segera berhasil, lepas dari kegagalan yang dirasakannya saat ini.
Namun pada satu titik, ia mengaku, menyadari kalau sudah bersikap terlalu keras. “Di kehidupan yang aneh ini, jangan terlalu keras sama diri sendiri,” katanya mengingatkan diri sendiri.
Kesadaran ini muncul bersamaan dengan sikap orang tua Arum yang selalu menerimanya dengan tangan terbuka. Mereka yang tidak menganggap Arum sebagai beban, sekalipun masih membutuhkan orang tuanya pada usia dewasa ini.
“Orang tua aja bisa nerima dirimu, masa kamu nggak?” kata dia.
Saking diterimanya, Arum bilang, dirinya merasa aneh. Ketika ia tidak bisa menerima, bukankah seharusnya orang tuanya juga melakukan hal yang sama? Bukankah perasaan gagal sebagai anak itu, seharusnya juga dimiliki orang tuanya ketika melihatnya sebagai simbol kegagalan mereka?
“Ini yang menurutku unik, aneh, kayak kok mau masih menerima?” tukasnya.
Penulis: Shofiatunnisa Azizah
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Derita Jadi Anak PNS: Baru Bahagia Diterima PTN Top, Malah “Disiksa” Beban UKT Tertinggi Selama Kuliah padahal Total Penghasilan Orang Tua Tak Seberapa dan artikel liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan













