Jurusan Keperawatan menjadi salah satu jurusan di bidang kesehatan yang paling diminati. Tidak hanya di PTN, di PTS pun peminatnya besar. Tidak lain karena banyak perempuan ingin menjadi perawat. Sebab, profesi tersebut juga termasuk profesi bergengsi di tengah masyarakat—khususnya masyarakat desa—di bawah dokter dan bidan.
Karena itulah, Riri (29), perempuan asal Jawa Tengah, sejak awal memang menarget bisa kuliah jurusan Keperawatan. Sampai akhirnya ia sadar, profesi perawat ternyata menang gengsi doang, tapi perannya dipandang “murahan”.
Ngebet jadi perawat, rela bayar mahal demi kuliah jurusan Keperawatan di PTS besar
Awalnya Riri ingin kuliah jurusan Keperawatan di PTN. Namun, gara-gara tidak lolos di SNMPTN (sekarang SNBP) dan SBMPTN (sekarang UTBK SNBT), akhirnya ia memutuskan untuk kuliah di PTS.
UKT yang harus ia bayar persemester hampir menyentuh Rp10 juta. Belum termasuk biaya-biaya tambahan lain.
“Tapi waktu itu, aku mikirnya, alah nanti kalau sudah jadi perawat pasti balik modal. Karena dalam benakku, gaji perawat itu ya gede misalnya bisa kerja di rumah sakit,” ujar Riri, Minggu (12/4/2026).
Selain itu, dengan kuliah di jurusan Keperawatan, setidaknya ia sudah memenangkan gengsi. Baik di lingkungan rumah maupun teman-temannya.
Sebab, ketika ditanya kuliah di mana dan jurusan apa, jawaban “jurusan Keperawatan” membuat orang-orang langsung berdecak kagum. Langsung paham kalau jurusan tersebut punya prospek karier jelas dan menjanjikan.
Setidaknya tidak seperti teman-teman SMA-nya dulu yang merasa salah jurusan. Kalau ditanya pasti bingung karena prospek kariernya abu-abu.
Mumet, tapi terlalu bersemangat kuliah jurusan Keperawatan karena prospek karier
Selama menjadi mahasiswa jurusan Keperawatan di sebuah PTS besar di Jawa Tengah, Riri mengaku sering mengalami burnout.
Sebenarnya ia sudah memperhitungkan, kuliah di jurusan-jurusan kesehatan memang harus siap diperas fisik, pikiran, bahkan mental. Tapi saat menjalaninya, ternyata menjadi mahasiswa jurusan Keperawatan se-hectic itu.
Tugas-tugas terus datang tanpa ampun. Praktikum seperti tanpa henti. Setelah lulus masa studi pun, masih diharuskan mengambil pendidikan profesi.
“Penginnya kan setelah lulus kuliah ya sudah, tapi masih ada beban pendidikan profesi. Jadi selama 7 tahun harus berkutat pada kemumetan dan kelelahan. Menjadi perawat ternyata prosesnya panjang banget,” kata Riri.
Meski begitu, Riri tidak pernah merasa salah jurusan. Tiap kali kelelahan menyerang, ia akan langsung bersemangat lagi karena bayangan prospek karier setelah seluruh masa studi itu selesai.
Kerja di RSUD, profesi “wow” di mata tetangga dan saudara
Setelah menyelesaikan masa studi di PTS besar dan pendidikan profesi, tiba masanya Riri menjemput karier yang selama ini ia idam-idamkan: perawat.
Riri akhirnya bekerja di sebuah Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD). Status itu semakin meningkatkan derajat sosial Riri di mata masyarakat. Terutama saudara dan tetangga.
“Kalau orang-orang di rumah ada saja yang bilang ke orang tuaku, wah enak sekarang Riri bisa menjadi perawat di rumah sakit. Jujur, di awal-awal, itu membuatku terhormat. Aku merasa keren,” kata Riri.
Sebelum benar-benar terjun menjadi perawat pun, Riri sudah punya tekad: kalau dapat gaji gede, pastinya akan ia gunakan untuk mengembalikan modal biaya pendidikannya selama ini ke orang tuanya. Sebab, selama masa pendidikan di jurusan Keperawatan di PTS besar—yang biayanya benar-benar besar itu—sepenuhnya ditanggung oleh orang tua. Belum lagi biaya hidup di perantauan.
Apalagi Riri memang tidak punya pemasukan sendiri selama kuliah. Tidak nyambi kerja karena memang fokus belajar agar lulus nantinya siap menjemput karier yang ia idam-idamkan.
Jadi perawat: menang gengsi tapi aslinya kayak babu
Akan tetapi, kenyataan berkata lain. Menjadi perawat ternyata hanya menang gengsi doang. Sementara aslinya lebih mirip babu, begitu kata Riri.
Sebagai lazimnya perawat, hari-harinya di RSUD adalah menjadi pesuruh. Persoalannya bukan di situ. Kalau memang ia harus disuruh-suruh atas nama pekerjaan, ya memang sudah seharusnya ia lakukan.
Hanya saja, dalam delapan jam bekerja—dan tidak bisa libur seenaknya di tanggal merah karena pembagian shift—ternyata tidak menghasilkan gaji sebagaimana ekspektasinya.
“Orang lihatnya, karena aku di RSUD terus, kadang juga shift malam, kalau shift pagi, pagi-pagi banget sudah harus berangkat, artinya bayaranku banyak,” tutur Riri.
“Orang nggak tahu aja kalau gajiku ternyata nggak lebih dari UMK kabupaten. Rp1 juta sekian. Rp2 juta saja nggak nyentuh,” sambungnya.
Sembunyikan fakta demi jaga reputasi
Yang terjadi di tahun-tahun berikutnya dari tahun pertama ia menjadi perawat adalah: upaya Riri menyembunyikan fakta kalau ia sebenarnya lebih mirip babu di RSUD. Kerja panjang tidak sebanding dengan pemasukan.
Itu sempat membuat Riri kena mental. Sebab, rasanya sia-sia ia bayar mahal dengan masa studi panjang di jurusan Keperawatan sebuah PTS besar.
Semakin kena mental karena hasilnya ternyata tidak sesuai yang ia bayangkan. Jangankan mengembalikan modal orang tua, untuk dirinya sendiri saja masih tidak cukup-cukup amat.
“Orang tua tetep tahu lah soal gajiku. Tapi mereka selalu bilang, nggak apa-apa, baru awal. Nggak apa-apa, disyukuri. Itu membuatku merasa berdosa, meski mereka sebenarnya tidak pernah menyinggung soal besar biaya yang sudah digelontorkan buatku,” ucap Riri.
Hanya saja, banyak orang di lingkungan rumahnya yang terlanjur memasang ekspektasi tinggi pada Riri. Mengira kalau Riri bergelimang uang dari kerja sebagai perawat.
Karena takut malu, Riri akhirnya berupaya menyembunyikan fakta bahwa profesi perawat sebenarnya tidak sebergengsi itu kalau ukurannya adalah pendapatan. Ia berlagak seolah aman-aman saja meski mental dan dompetnya remuk.
“Karena sekali mereka tahu yang sebenarnya, yang kena nggak cuma aku. Tapi juga orang tuaku. Pasti dianggap sebagai investasi bodong. Kuliahnya mahal, eh pas kerja gajinya murahan,” ujar Riri.
“Yang tahu justru teman-teman SMA dulu dan sesama perawat. Akhirnya kalau lihat orang jadi perawat, mereka justru kasihan alih-alih merasa ‘wow’ seperti tetangga atau saudaraku,” tutupnya.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Kuliah di Jurusan Paling Dicari di PTN, Setelah Lulus bikin Ortu Kecewa karena Kerja Tak Sesuai Harapan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














