Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Edumojok

Rela Bayar Mahal di Jurusan Keperawatan demi Prospek Karier Perawat, Cuma Berakhir Jadi “Babu” di RSUD

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
14 April 2026
A A
Rela bayar mahal kuliah jurusan Keperawatan PTS besar demi jadi perawat. Setelah lulus malah jadi kayak babu MOJOK.CO

Ilustrasi - Rela bayar mahal kuliah jurusan Keperawatan PTS besar demi jadi perawat. Setelah lulus malah jadi kayak babu. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Jurusan Keperawatan menjadi salah satu jurusan di bidang kesehatan yang paling diminati. Tidak hanya di PTN, di PTS pun peminatnya besar. Tidak lain karena banyak perempuan ingin menjadi perawat. Sebab, profesi tersebut juga termasuk profesi bergengsi di tengah masyarakat—khususnya masyarakat desa—di bawah dokter dan bidan. 

Karena itulah, Riri (29), perempuan asal Jawa Tengah, sejak awal memang menarget bisa kuliah jurusan Keperawatan. Sampai akhirnya ia sadar, profesi perawat ternyata menang gengsi doang, tapi perannya dipandang “murahan”. 

Ngebet jadi perawat, rela bayar mahal demi kuliah jurusan Keperawatan di PTS besar

Awalnya Riri ingin kuliah jurusan Keperawatan di PTN. Namun, gara-gara tidak lolos di SNMPTN (sekarang SNBP) dan SBMPTN (sekarang UTBK SNBT), akhirnya ia memutuskan untuk kuliah di PTS. 

UKT yang harus ia bayar persemester hampir menyentuh Rp10 juta. Belum termasuk biaya-biaya tambahan lain. 

“Tapi waktu itu, aku mikirnya, alah nanti kalau sudah jadi perawat pasti balik modal. Karena dalam benakku, gaji perawat itu ya gede misalnya bisa kerja di rumah sakit,” ujar Riri, Minggu (12/4/2026). 

Selain itu, dengan kuliah di jurusan Keperawatan, setidaknya ia sudah memenangkan gengsi. Baik di lingkungan rumah maupun teman-temannya. 

Sebab, ketika ditanya kuliah di mana dan jurusan apa, jawaban “jurusan Keperawatan” membuat orang-orang langsung berdecak kagum. Langsung paham kalau jurusan tersebut punya prospek karier jelas dan menjanjikan. 

Setidaknya tidak seperti teman-teman SMA-nya dulu yang merasa salah jurusan. Kalau ditanya pasti bingung karena prospek kariernya abu-abu. 

Mumet, tapi terlalu bersemangat kuliah jurusan Keperawatan karena prospek karier

Selama menjadi mahasiswa jurusan Keperawatan di sebuah PTS besar di Jawa Tengah, Riri mengaku sering mengalami burnout. 

Sebenarnya ia sudah memperhitungkan, kuliah di jurusan-jurusan kesehatan memang harus siap diperas fisik, pikiran, bahkan mental. Tapi saat menjalaninya, ternyata menjadi mahasiswa jurusan Keperawatan se-hectic itu. 

Tugas-tugas terus datang tanpa ampun. Praktikum seperti tanpa henti. Setelah lulus masa studi pun, masih diharuskan mengambil pendidikan profesi. 

“Penginnya kan setelah lulus kuliah ya sudah, tapi masih ada beban pendidikan profesi. Jadi selama 7 tahun harus berkutat pada kemumetan dan kelelahan. Menjadi perawat ternyata prosesnya panjang banget,” kata Riri. 

Meski begitu, Riri tidak pernah merasa salah jurusan. Tiap kali kelelahan menyerang, ia akan langsung bersemangat lagi karena bayangan prospek karier setelah seluruh masa studi itu selesai. 

Kerja di RSUD, profesi “wow” di mata tetangga dan saudara

Setelah menyelesaikan masa studi di PTS besar dan pendidikan profesi, tiba masanya Riri menjemput karier yang selama ini ia idam-idamkan: perawat. 

Iklan

Riri akhirnya bekerja di sebuah Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD). Status itu semakin meningkatkan derajat sosial Riri di mata masyarakat. Terutama saudara dan tetangga. 

“Kalau orang-orang di rumah ada saja yang bilang ke orang tuaku, wah enak sekarang Riri bisa menjadi perawat di rumah sakit. Jujur, di awal-awal, itu membuatku terhormat. Aku merasa keren,” kata Riri.

Sebelum benar-benar terjun menjadi perawat pun, Riri sudah punya tekad: kalau dapat gaji gede, pastinya akan ia gunakan untuk mengembalikan modal biaya pendidikannya selama ini ke orang tuanya. Sebab, selama masa pendidikan di jurusan Keperawatan di PTS besar—yang biayanya benar-benar besar itu—sepenuhnya ditanggung oleh orang tua. Belum lagi biaya hidup di perantauan. 

Apalagi Riri memang tidak punya pemasukan sendiri selama kuliah. Tidak nyambi kerja karena memang fokus belajar agar lulus nantinya siap menjemput karier yang ia idam-idamkan. 

Jadi perawat: menang gengsi tapi aslinya kayak babu

Akan tetapi, kenyataan berkata lain. Menjadi perawat ternyata hanya menang gengsi doang. Sementara aslinya lebih mirip babu, begitu kata Riri. 

Sebagai lazimnya perawat, hari-harinya di RSUD adalah menjadi pesuruh. Persoalannya bukan di situ. Kalau memang ia harus disuruh-suruh atas nama pekerjaan, ya memang sudah seharusnya ia lakukan. 

Hanya saja, dalam delapan jam bekerja—dan tidak bisa libur seenaknya di tanggal merah karena pembagian shift—ternyata tidak menghasilkan gaji sebagaimana ekspektasinya. 

“Orang lihatnya, karena aku di RSUD terus, kadang juga shift malam, kalau shift pagi, pagi-pagi banget sudah harus berangkat, artinya bayaranku banyak,” tutur Riri. 

“Orang nggak tahu aja kalau gajiku ternyata nggak lebih dari UMK kabupaten. Rp1 juta sekian. Rp2 juta saja nggak nyentuh,” sambungnya. 

Sembunyikan fakta demi jaga reputasi

Yang terjadi di tahun-tahun berikutnya dari tahun pertama ia menjadi perawat adalah: upaya Riri menyembunyikan fakta kalau ia sebenarnya lebih mirip babu di RSUD. Kerja panjang tidak sebanding dengan pemasukan. 

Itu sempat membuat Riri kena mental. Sebab, rasanya sia-sia ia bayar mahal dengan masa studi panjang di jurusan Keperawatan sebuah PTS besar. 

Semakin kena mental karena hasilnya ternyata tidak sesuai yang ia bayangkan. Jangankan mengembalikan modal orang tua, untuk dirinya sendiri saja masih tidak cukup-cukup amat. 

“Orang tua tetep tahu lah soal gajiku. Tapi mereka selalu bilang, nggak apa-apa, baru awal. Nggak apa-apa, disyukuri. Itu membuatku merasa berdosa, meski mereka sebenarnya tidak pernah menyinggung soal besar biaya yang sudah digelontorkan buatku,” ucap Riri. 

Hanya saja, banyak orang di lingkungan rumahnya yang terlanjur memasang ekspektasi tinggi pada Riri. Mengira kalau Riri bergelimang uang dari kerja sebagai perawat. 

Karena takut malu, Riri akhirnya berupaya menyembunyikan fakta bahwa profesi perawat sebenarnya tidak sebergengsi itu kalau ukurannya adalah pendapatan. Ia berlagak seolah aman-aman saja meski mental dan dompetnya remuk. 

“Karena sekali mereka tahu yang sebenarnya, yang kena nggak cuma aku. Tapi juga orang tuaku. Pasti dianggap sebagai investasi bodong. Kuliahnya mahal, eh pas kerja gajinya murahan,” ujar Riri. 

“Yang tahu justru teman-teman SMA dulu dan sesama perawat. Akhirnya kalau lihat orang jadi perawat, mereka justru kasihan alih-alih merasa ‘wow’ seperti tetangga atau saudaraku,” tutupnya. 

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Kuliah di Jurusan Paling Dicari di PTN, Setelah Lulus bikin Ortu Kecewa karena Kerja Tak Sesuai Harapan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 14 April 2026 oleh

Tags: biaya jurusan keperawatanbiaya kuliah keperawatangaji perawatJurusan Keperawatanperawatperawat rsudperawat rumah sakitPTSukt jurusan keperawatan
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Mahasiswa keperawatan UGM Jogja lulus berkat ibu
Edumojok

Malas dan Lelah Kuliah, Telepon Ibu Selamatkan Mahasiswa Keperawatan UGM hingga Lulus dengan IPK Sempurna

12 April 2026
Lulusan farmasi PTS Jogja foto keluarga
Edumojok

Lulusan Farmasi PTS Jogja Bayar Mahal untuk Wisuda, tapi Gagal Foto Keluarga karena Ayah Harus Dirawat di Rumah Sakit Jiwa

7 April 2026
Salah jurusan, kuliah PTN.MOJOK.CO
Edumojok

Putus Kuliah dari PTS Elite demi Masuk “Jurusan Buangan” di PTN: Menang di Gengsi, tapi Lulus Jadi “Gelandangan” Dunia Kerja

5 April 2026
Mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) kerap disalahpahami mahasiswa PTN atau PTS umum lain MOJOK.CO
Edumojok

4 Hal yang Sudah Dianggap Keren dan Kalcer di Kalangan Mahasiswa UIN, Tapi Agak “Aneh” bagi Mahasiswa PTN Lain

28 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Bekerja di Jakarta vs Jogja

Meninggalkan Jogja demi Mengejar Financial Freedom di Jakarta, Berhasil Dapatkan Gaji Besar meski Harus Mengorbankan Kesehatan Mental

13 April 2026
Ilustrasi pamer pencapaian, keluarga, arisan keluarga, lebaran.MOJOK.CO

Arisan Keluarga, Tradisi Toksik yang Dipertahankan Atas Nama Silaturahmi: Cuma Ajang Pamer dan Penghakiman, Bikin Anak Muda Rugi Mental dan Materi

14 April 2026
Orang Desa Nggak Cocok Jadi PNS Jika Tak Punya Ilmu Menjilat Atasan. MOJOK.CO

PNS Tinggalkan Suasana Slow Living di Desa karena Muak dengan Teman Kantor yang Suka Menjilat Atasan, Ujungnya Malah Bernasib Lebih Buruk

17 April 2026
Gagal kerja di Jakarta sebagai musisi. MOJOK.CO

Nekat ke Jakarta Hanya Modal Ambisi sebagai Musisi, Gagal dan Jadi “Gembel” hingga Bohongi Orang Tua di Kampung

11 April 2026
Gaji Jakarta 12 Juta Bikin Gila, 3 Juta di Magelang Hidup Waras MOJOK.CO

Daripada Menyiksa Diri Hidup di Jakarta dengan Gaji 12 Juta Sampai Setengah Gila, Pindah ke Magelang dan Hidup Waras Cukup dengan Gaji 3 Juta

16 April 2026
Arif Prasetyo, alumnus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta penerima LPDP. MOJOK.CO

Kerap Didiskriminasi Sejak Kecil karena Fisik, Buktikan Bisa Kuliah S2 di UIN Sunan Kalijaga dengan LPDP hingga Jadi Sutradara

13 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.