Ancaman pencabutan KIP Kuliah dan lelahnya kerja malam
Tantangan hidup Dimas nyatanya tidak berhenti pada urusan menahan lapar. Aturan dari pusat menetapkan bahwa penerima KIP Kuliah memiliki syarat mutlak yang tidak bisa ditawar, yakni IPK tidak boleh turun di bawah angka 3,00.
“Jika nilai saya sampai anjlok, fasilitas KIP Kuliah bisa langsung dievaluasi bahkan dicabut sepihak oleh pihak kampus,” kata Dimas.
Syarat ketat ini membuat hidup Dimas serba rumit. Di satu sisi, ia dituntut harus terus belajar sungguh-sungguh dan mendapat nilai bagus di setiap mata kuliah. Di sisi lain, sisa uang beasiswanya yang hanya hitungan ratusan ribu jelas tidak cukup untuk bertahan hidup selama setengah tahun di kota orang.
Satu-satunya jalan keluar yang masuk akal adalah mencari pekerjaan sampingan. Setiap sore, setelah jadwal kuliah selesai, Dimas memacu motor tuanya menuju sebuah tempat fotokopi di dekat kampus.
Ia bekerja part-time sebagai penjaga toko dari jam 5 sore sampai jam 10 malam. Upahnya sangat kecil, hanya Rp45 ribu sekali jaga. Setelah pulang bekerja pada pukul 11 malam, dalam kondisi badan yang sudah sangat lelah dan pegal, barulah ia memaksa diri membuka laptop untuk mengerjakan tugas kuliah.
Rasa bersalah yang dipendam
Bertahan hidup dalam tekanan ekonomi dan akademik seperti ini tidak hanya menguras tenaga fisik, tapi juga mental. Ada rasa bersalah yang diam-diam dibawa Dimas setiap kali ia memejamkan mata untuk tidur.
Ia sangat paham bahwa uang KIP Kuliah yang ia terima adalah uang negara. Uang itu murni berasal dari pajak masyarakat luas dan seharusnya digunakan sepenuhnya untuk mendukung kelancaran proses belajarnya sebagai penerima KIP Kuliah.
Namun, realitas kehidupan memaksanya menggunakan uang pendidikan itu untuk menambal kebocoran ekonomi keluarganya di kampung.
“Kadang saya merasa sangat bersalah, rasanya seperti menyalahgunakan bantuan pemerintah,” ungkapnya. “Tapi kalau uangnya tidak saya kirim ke rumah hari itu juga, orang tua saya mau makan apa? Adik saya juga tidak bisa lanjut sekolah. Kalau keluarga saya hancur, saya juga pasti tidak akan bisa tenang kuliah di sini.”
Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Mahasiswa KIP Kuliah Ikut Dihujat Imbas ‘Oknum’ yang Foya-Foya Pakai Duit Beasiswa, Padahal Beneran Hidup Susah hingga Rela Makan Sampah di Kos atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














