Barangkali itu pula yang membuat warga di Norwegia menerapkan Hukum Jante (Janteloven), yakni norma sosial tidak tertulis yang menekankan kolektivisme dan kerendahan hati. Oleh karena itu, masyarakat di sana tidak meremehkan pencapaian orang lain.
“Jadi memang beda banget ya sama orang Indonesia atau negara lainnya Intinya mereka merasa semua orang itu setara. Tidak ada yang lebih baik, lebih kaya, atau lebih pintar walaupun memang ada ya tapi mereka nggak menyombongkan diri,” jelas Resty.
Karakter orang Norwegia yang bikin saya betah
Berbeda pula dengan penduduk Indonesia yang suka berbaur dan ramah tamah, Resty berujar penduduk di Norwegia kebanyakan punya karakter tertutup dan pendiam. Jadi lebih sulit untuk didekati, apalagi untuk menjalin hubungan bahkan sebagai teman.
“Tapi saat kita udah kenal dengan mereka, mereka akan jadi pribadi yang sangat loyal dan baik banget sebagai teman,” kata Resty.
Untungnya, Resty tak kesulitan dalam bergaul selama menjalani program beasiswa Erasmus karena dia punya sifat supel. Faktor-faktor itu lah yang bikin Resty betah, hingga kepincut dengan suaminya yang orang Norwegia.
Lambat laun, Resty mulai berpikir, bagaimana jadinya kalau dia punya anak nanti sementara dia masih ingin menjalani hobi traveling-nya. Terutama saat jalan-jalan di UK untuk menonton Arsenal. Sebab jika paspornya masih WNI, hal itu bakal sulit dijalani karena pembelian tiket harus di Emirates. Belum lagi, harus rebutan dengan penonton lain.
“Aku biasa travel ke London, tapi sebelum itu harus apply visa UK di Oslo sedangkan aku tinggal di Stavanger. Makanya jadi technical issues buat aku tiap mau ke UK or negara lain yang require visa dulu,” jelas Resty.
“Dan aku harus mengeluarkan uang yang nggak sedikit. Visanya juga bisa expired 6 bulan. Apalagi kalau sudah punya anak nanti, aku nggak mungkin antre di line imigrasi yang berbeda dengan suami dan anakku,” lanjutnya.
Secara aturan, untuk mengubah paspornya dari WNI ke WNA, Resty harus tinggal di Norwegia selama 7 tahun dengan syarat gaji yang berlaku. Tapi syarat itu bisa saja dianulir karena Resty sudah menikah dengan suaminya yang orang Norwegia.
“Ganti pasporku bisa jadi cuma 5 tahun jika menikah dengan WN Norway. Artinya aku sudah bisa apply pasporku dari WNI ke WN Norway dari tahun 2025, tapi aku belum melakukannya karena memang aku pikir apply paspor itu belum sepenting itu waktu itu,” jelas Resty.
“Sekarang jadi urgent karena aku berencana punya anak tahun ini, makanya aku mau apply dari tahun ini. Oleh karena itu, menurutku juga, kamu tetap menjadi nasionalis meski paspor-mu sudah bukan WNI lagi,” ucap penerima beasiswa Erasmus tersebut.
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: WNI Lebih Sejahtera Ekonomi dan Mental di Malaysia tapi Susah Lepas Paspor Indonesia, Sial! atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














