Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Otomojok
  • Konter
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Otomojok
  • Konter
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Otomojok
  • Konter
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Catatan

Muak Ngurus Sesuatu di Balai Desa: Capek Hadapi Perangkat Desa Kolot dan Ruwet, Perkara Tanda Tangan Basah bikin Marah

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
5 Januari 2026
A A
Urusan dengan balai desa bikin muak karena kelakuan perangkat desa kolot MOJOK.CO

Ilustrasi - Urusan dengan balai desa bikin muak karena kelakuan perangkat desa kolot. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Masalahnya, hal-hal bersifat administatif—seperti KTP-KK, surat pengantar nikah, akta kelahiran, akta kematian, dan lain-lain—harus diurus di balai desa. Sementara gedung paling sentral di desa—selain masjid dan sekolah—itu amat memuakkan. Perangkat desa yang bekerja di sana juga amat menyebalkan.

Kondisi itulah yang membuat Dafin (27), bukan nama sebenarnya, begitu wegah jika harus berurusan dengan balai desa di sebuah desa di Rembang, Jawa Tengah. Bawaannya malah emosi terus. Itu tidak lepas dari rentetan pengalaman yang ia alami sendiri.

Kekecewaan pada balai desa dan perangkat di dalamya ia ungkapkan ketika kami bertemu di sebuah warung kopi, sambil rasan-rasan betapa ruwetnya mengurus hal-hal bersifat administratif di Rembang.

Ngurus KTP hingga berbulan-bulan tanpa kejelasan

Lulus SMA pada 2016, Dafin yang berencana langsung merantau mencari kerja di kota lekas mengurus KTP. Benda itu pula yang akan ia gunakan untuk mengurus SIM.

Saat itu, yang ia—dan kebanyakan warga desanya—tahu: Mengurus KTP harus melalui balai desa dulu. Namun, hingga tiga bulan lebih tidak ada kejelasan.

“Tiap aku tanya, jawab perangkat desa katanya masih proses,” kata Dafin.

Sampai akhirnya, berdasarkan pengakuan teman semasa sekolahnya, mengurus KTP bisa langsung ke Dukcapil. Ke balai desa cukup minta surat pengantar, lalu bawa berkas-berkas yang dibutuhkan.

Karena tak sabar dan tahu bisa sesimpel itu, Dafin memutuskan membatalkan mengurus melalui balai desa. Ia hanya minta surat pengantar, lalu pergi sendiri ke Dukcapil. Ternyata hanya beberapa jam saja, KTP-nya langsung jadi.

Pindah KK, sudah “bayar” masih ribet

Lama di perantauan, Dafin tak pun lama tak berurusan dengan balai desa. Tapi ia terpaksa harus berurusan lagi pada 2023 lalu karena menikah.

Saat proses mengurus berkas untuk menikah, ia meminta ibunya yang mengurus. Jadi tak begitu merasa ribet. Namun, saat hendak mengurus pindah KK, ia merasa amat capek berhadapan dengan perangkat desa dan kabupatennya sendiri.

“Kan sudah jadi kepala keluarga, jadi pikirku memang harus aku sendiri yang urus. Tapi ternyata rumit sekali,” ujar Dafin.

Tapi karena tahu urusannya akan ribet, Dafin sebenarnya membayar seorang perangkat desa untuk mengurusnya. Harapannya, selain tidak ribet, bisa lekas cepat. Pasalnya, sepengakuan istrinya yang asli Malang, Jawa Timur: Di desa istri, kalau bayar perangkat, cukup serahkan fotokopi-fotokopi berkas, lalu akan diurus dengan mulus.

Kenyataannya tidak. Urusannya tetap ribet. Dokumen asli sudah disetor, fotokopinya sudah, tapi tiba-tiba minta soft file-nya. Foto 4×6 sudah disetor fisiknya, tapi minta foto file jpg. Lah, apa-apaan? Tak ada gunanya dong bayar.

“Kata istri, di Mojokerto, oke kalau nggak pakai jalur bayar dan ogah ngurus di balai desa, kata temannya bisa langsung ke MPP (Mall Pelayanan Publik). Ke balai desa cuma minta surat pengantar, bawa berkas ke MPP, lalu prosesnya lebih cepat,” ucap Dafin.

Iklan

Maka, ia pun sempat iseng datang ke MPP Rembang. Tanya-tanya soal pengurusan pindah KK. Tapi ternyata tidak bisa langsung. Semua proses administrasi di Rembang harus desa sendiri yang urus. Makin ribet.

Untuk sekadar pindah KK, alhasil Dafin sampai menunggu tiga bulan sampai KK barunya jadi. Itu membuatnya makin kesal dan muak. Ya dengan balai desa, ya dengan kabupatennya sendiri. Kok seribet itu. Sementara ia dan istri sudah kadung sepakat pindah KK dan KTP Rembang.

Perkara cap dan tanda tangan yang “kurang basah”

Desa saya tidak begitu jauh dengan desa Dafin. Hanya beda kecamatan. Namun, kasus kami mirip. Kami juga sama-sama beristri orang Jawa Timur.

Saya sebenarnya tak begitu menghadapi kerumitan karena sejak ngurus KTP hingga pindah KK usai pernikahan, ibu saya yang membantu menguruskan. Menimbang posisi saya yang jauh di perantauan. Berbeda dengan Dafin yang setelah menikah memutuskan tinggal di Rembang untuk memulai usaha kecil-kecilan.

Saya baru berhadap-hadapan dengan keribetan itu baru-baru ini, saat mengurus akta kelahiran anak saya. Saat bertanya pada Dafin bagaimana prosesnya mengurus akta kelahiran anaknya yang lahir pada awal 2025 lalu, jawabannya sudah membuat saya wegah datang ke balai desa.

Tapi mau bagaimana lagi. Sebagai bapak, saya harus mengurusnya sendiri. Masa ibu saya lagi.

Saat itu, saya hanya terganjal satu berkas: Katanya fotokopi akta nikah saya tidak dalam bentuk legalisir. Loh, apa iya? Maka saya coba pastikan ke istri saya yang lebih cermat dalam hal-hal administratif.

“Ini itu fotokopi akta nikah legalisir yang sama seperti yang diajukan waktu kita pindah KK,” jawab istri saya.

KUA Ngoro tempat kami menikah mengeluarkan 4 fotokopi akta nikah legalisir untuk kami. 2 di antaranya sudah kami setor waktu pindah KK. Sisa 2 yang kemudian kami setor ketika hendak mengurus anak kelahiran anak. Tapi kok 2 fotokopi terakhir yang saya serahkan ini kok malah dianggap tidak berupa legalisir.

Saya lalu kembali ke balai desa, mencoba menerangkan ke ibu-ibu yang duduk di meja pelayanan. Katanya, fotokopi akta nikah saya tidak legalisir dari KUA. Sebab, legalisir itu harus berbentuk cap basah dan tanda tangan basah. Maka perdebatan pun terjadi, dan saya tak mau kalah.

Debat keras di balai desa sampai perangkat desa kesal

“Bu, coba lihat bedanya. Ini yang legalisir, tanda tangan dan cap KUA-nya basah. Kalau yang fotokopi, bentuknya hitam seperti ini,” jelas saya.

“Bukan, Mas, ini bukan basah, ini kurang, bukan begini,” jawabnya. Saya bingung. Kalau kurang basah ya siram air saja wis. Jelas-jelas itu legalisir dari KUA Ngoro tempat kami nikah. Hanya karena cap birunya tidak pekat, malah dianggap tidak basah.

“Mas harus minta lagi ke KUA,” sambungnya.

“Oke, gini, dulu ibu saya nyerahkan akta nikah legalisir untuk kepindahan KK saya. Itu legalisir nggak menurutmu?” Tanya saya mengejar.

“Itu legalisir, Mas. Karena basah,” jawab ibu-ibu perangkat desa itu kesal.

“Nah, Bu, ini yang saya serahkan, adalah fotokopi legalisir yang sama dengan yang diserahkan waktu itu. Karena KUA Ngoro mengeluarkan 4 fotokopi. 2 sudah diambil balai desa dan nggak dikembalikan buat pindah KK. Ini 2 buat akta kelahiran.”

“Oh iya, berarti sama?”

“Ya sama. Coba cek di arsip.”

Ibu-ibu perangkat desa itu lalu mulai mengecek arsip, dan ada berkas yang saya maksud. Tersimpan. “Oh masih ada. Berarti pakai ini saja,” kata ibu-ibu itu. Lelah sekali, perkara urusan fotokopi legalisir padahal. Dafin tertawa mendengar cerita saya.

Perangkat desa kolot penguasa balai desa

Dafin meresahkan, balai desa di desanya masih dikuasai oleh wajah-wajah lama. Orang-orang tua kolot yang kurang efektif dan efisien. Teknologi dan akses digital juga tak begitu paham.

“Setiap aku ke sana, yang kulihat malah ngobrol-ngobrol dan rasan-rasan. Balai desa baru buka jam 8 kalau nggak lebih siang dikit. Tapi setelah Zuhur sudah sepi, paling menyisakan perangkat desa yang anak muda (lulusan SMK) yang direkrut,” ujar Dafin.

Teman Dafin, lulusan SMK, ada yang direkrut menjadi perangkat desa. Katanya tugasnya tidak lebih dari jongos. Jadi suruh-suruhan untuk ngurus banyak hal. Terutama yang bersifat digital. Sementara yang tua-tua cuma baru mau terlihat sibuk kalau ada rapat-rapat.

Saya sempat berbincang dengan teman Dafin itu. Banyak hal yang ia resahkan selama berada di balai desa, berada di tengah generasi baby boomer yang pikirannya stuck di masa lalu. Tapi ia menolak ceritanya dikutip. Takut jadi masalah.

Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Omong Kosong Slow Living dan Frugal Living di Desa: Mau Hidup Stabil Mental dan Finansial, Malah “Diperas” Pakai Dalih Tradisi atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 5 Januari 2026 oleh

Tags: balai desamall pelayanan publikmppperangkat desapilihan redaksipindak kk
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Reporter Mojok.co

Artikel Terkait

kaum ngapak di kemang jakarta selatan.MOJOK.CO
Ragam

Kemang, Saksi Bisu Kepura-puraan Perantau Jawa: Rela Ngomong “Lu-Gue” hingga Paksa Selera Musik demi Bisa Bergaul di Jaksel

6 Januari 2026
Miras bagi Pemuda Desa.MOJOK.CO
Ragam

Budaya “Jatah Ciu” kepada Pemuda Desa Dianggap Manifestasi Srawung, tapi Tak Cocok Untuk Semua Orang

6 Januari 2026
Kenangan lepas perjaka di kawasan prostitusi Stasiun Rambipuji, Jember MOJOK.CO
Ragam

Kenangan Lepas Perjaka di Stasiun Rambipuji Jember, Mencari Kepuasan di Rel Remang dan Semak Berbatu dengan Modal Rp30 Ribu

5 Januari 2026
foto orang meninggal di media sosial nggak sopan kurang ajar. mojok.co
Ragam

Meninggal di Desa Itu Sebenarnya Mahal, Menjadi Murah karena Guyub Warganya

5 Januari 2026
Muat Lebih Banyak
Tinggalkan Komentar

Terpopuler Sepekan

Plat Nomor B Bikin Dosa (Lagi) di Jogja, Bikin Malu Saja (Unsplash)

Arogansi Plat Nomor B Terjadi Lagi di Jogja, Kali Ini Nekat Membuka Separator yang Sudah Ditutup Polisi karena Malas kena Macet

3 Januari 2026
Resign kerja di Jakarta pilih di Bali. MOJOK.CO

Baru Satu Tahun Kerja di BUMN, Pilih Resign karena Nggak Kuat “Ugal-ugalan” di Jakarta sampai Temukan Peluang Karier Lebih Baik di Bali

6 Januari 2026
Di Surabaya, Kaos Oblong dan Sandal Jepit Simbol Kekayaan MOJOK.CO

Di Surabaya, Kaos Oblong dan Sendal Japit adalah Simbol Kekayaan: Isi Dompet Cukup untuk Beli Mall dan Segala Isinya

31 Desember 2025
Orang Medan naik angkot di Bandung. MOJOK.CO

Orang Medan Pertama Kali Naik Angkot di Bandung, Punya Cara Tersendiri Meminta Sopir Berhenti Sampai Bikin Penumpang Syok

5 Januari 2026
Liburan di Candi. MOJOK.CO

Kejutan di Awal Tahun 2026 untuk 5 Wisatawan Pertama Taman Wisata Candi

1 Januari 2026
Omong kosong slow living dan frugal living di desa MOJOK.CO

Omong Kosong Slow Living dan Frugal Living di Desa: Mau Hidup Stabil Mental dan Finansial, Malah “Diperas” Pakai Dalih Tradisi

2 Januari 2026

Video Terbaru

PB Champion Klaten: Tempat Badminton dan Mental Juara Dibentuk

PB Champion Klaten: Tempat Badminton dan Mental Juara Dibentuk

3 Januari 2026
5 Video Mojok Terpopuler 2025: Manuskrip Jawa hingga yang Membuat Tawa  MOJOK.CO

5 Video Mojok Terpopuler 2025: Manuskrip Jawa hingga yang Membuat Tawa 

1 Januari 2026
Liburan ke Bromo Berkedok Rapat Akhir Tahun!

Liburan ke Bromo Berkedok Rapat Akhir Tahun!

1 Januari 2026

Konten Promosi



Summer Sale Banner
Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Otomojok
  • Konter
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.