Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Catatan

Seloyang Bingka di Jogja: Takjil dari Kalimantan yang Menahan Saya agar Tetap “Hidup” di Perantauan

Shofiatunnisa Azizah oleh Shofiatunnisa Azizah
23 Februari 2026
A A
Takjil bingka dari Kalimantan

Ilustrasi - Takjil bingka dari Kalimantan di Jogja (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Selalu ada cara aneh untuk bertahan. Katanya, setiap kali terpikir untuk berhenti, jangan lupa makan. Sebab boleh jadi, seporsi makanan menjadi alasan untuk hidup lebih lama. Inilah yang saya alami di Jogja baru-baru ini, bahwa menemukan takjil khas Kalimantan yang terasa nyaman (enak) di lidah menjadi penguat di perantauan.

Cerita sesama perantau asal Kalimantan

Alkisah, kekuatan ini datang tanpa aba-aba. Pada siang hari yang tidak beralasan, saya menghubungi beberapa teman yang sama-sama berasal dari Kalimantan. Dua orang asal Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, satu lagi dari Banjarbaru, Kalimantan Selatan.

Intinya adalah kami sama-sama berdarah Banjar—atau hanya asumsi saya, sebab setidaknya kami berbahasa ibu yang sama.

“Apa pernah berburu makanan Kalimantan di Jogja?” tanya saya begitu saja, tidak pakai permisi apalagi basa-basi.

Satu menjawab, “Belum.”

Satu lagi menjawab serupa, “Belum, tapi mau, tapi nggak keburu.”

Yang memberi jawaban ini, dia sudah pergi ke Italia, tepatnya Padova, untuk berkuliah lagi setelah lulus dari UGM. Jadi, wajar kalau menyebut ingin, tapi tidak sempat.

Tersisa satu dari tiga yang belum membalas. Kira-kira keesokan harinya, barulah masuk beberapa pesan yang di antaranya berisi satu gambar kue khas Kalimantan yang sering menjadi takjil saat bulan Ramadan, namanya bingka.

“Ini [bingka] ada di Naskun Gin,” kata Nawalre (25), Kamis (19/2/2026) sore menjelang berbuka.

Masuknya pesan berisi rekomendasi itu, disertai gambar wadai—artinya kue—yang selalu menghiasi meja makan di rumah saat Ramadan membuat saya tidak berpikir panjang untuk memesannya. 

Bingka khas Kalimantan Selatan
Bingka, kue khas Kalimantan Selatan (Sumber: Indonesia Kaya)

Menjemput bingka dari Kalimantan di Jogja

Perlu dua hari untuk saya dapat mencicipi kue bercita rasa manis ini. Sebab, ada sistem pre-order yang diterapkan dalam pembelian.

Maka, pada hari Sabtu (21/2/2026) pukul 16.00 WIB, motor saya melaju ke arah Sinduadi setelah mendapat kabar melalui pesan, “Bingkanya udah ready ya, Kak.”

Sepanjang perjalanan, yang terlintas di pikiran saya adalah skeptisme. Saya pernah mencicipi makanan Banjar di salah satu warung makan yang ada di Jogja. Hasilnya, jauh dari kata memuaskan.

Bukannya menyembuhkan kerinduan saya akan masakan rumah, makanan itu justru membuat saya ingin buru-buru pulang. Menggantikan jejak rasa makanan yang lebih sedap dengan masakan mama.

Iklan

Sayangnya, tidak bisa.

Ini alasannya, saya mencoba tidak berekspektasi, tetapi diam-diam berharap takjil ini tidak akan mengecewakan. Alasannya bukan hanya karena uang yang dibayarkan untuk membeli bingka (mungkin ini juga), tetapi lebih kepada indera perasa saya yang sudah mengecap membayangkan bisa memakan takjil dari Kalimantan di Jogja. 

Untungnya, pengalaman makan ini terasa memuaskan. Berbuka puasa dengan bingka sebagai takjil mengalahkan tiga kali pengalaman saya berpuasa saat Ramadan di Jogja. Makanan-makanan yang pernah dinikmati, dikalahkan dalam satu kali percobaan takjil kue berbentuk seperti bunga ini.

Dengan bagian luar yang sedikit gosong, atau saya sebut well-cooked saja sebagai pemakluman atas rasanya yang otentik, rasa gurih dari bingka semakin kuat menyapa pada gigitan pertama. Tekstur agak padat, tetapi lembut dan berlemak dari kuenya, menyatu dengan rasanya yang legit.

Perpaduan telur, santan, dan adonan lain yang tidak bisa dikenali dengan nama tetap dapat diketahui melalui perasaan “akrab”. Khususnya, saat setiap gigitan mempertemukan rasa kue dan potongan kentang di dalamnya memunculkan kombinasi tekstur dan rasa yang sentimental.

Merindukan makanan rumah, perasaan yang dibagikan para perantau

Perasaan ini, untuk dapat kembali menikmati makanan yang familiar seperti di rumah, bukan hanya pengalaman saya sendiri. Kerinduan semacam ini telah lumrah dan wajar di kalangan para perantau.

Ada Mohamed yang sudah merindukan masakan rumahnya setelah tiga bulan meninggalkan kampung halamannya di Irak ke Minnesota, Amerika Serikat.

“Aku kangen nasi putih pedas masakan mama,” kata Mohamed, seperti dikutip dari VOA. “Aku kangen makanan Irak kesukaanku, nasi biryani.”

Sebastian yang sudah menetap lebih dari setahun di AS menyadari, dia tidak bisa melewatkan satu hari tanpa mengingat makanan rumahan. Ia merasa ingin memakan masakan rumah setiap hari di perantauannya.

Bagi Mohamed, kerinduan ini jadi bagian yang terlupakan saat berada di rumah. Ia tidak berpikir kalau akan merindukan masakan ibunya selagi bisa memakannya langsung, tetapi kemudian disusupi perasaan ingin memakannya lagi ketika sudah jauh dari rumah.

Datang dari nostalgia dan identitas untuk tetap bertahan di Jogja

Kesamaan antara perantau ini lahir dari hubungan mendalam antara makanan dan ingatan. Psikolog, Leigh Matthews, menjelaskan, ini bukan hanya sebagai keinginan untuk makan makanan tertentu, tetapi adanya ikatan emosional terhadap rumah, keakraban, dan identitas.

“Dalam psikologi, ini dikenal sebagai memori episodik, yang merujuk pada kemampuan untuk mengingat peristiwa atau pengalaman spesifik dari masa lalu kita. Makanan berperan dalam ingatan ini karena berkaitan dengan perayaan, bahkan momen biasa dalam kehidupan sehari-hari,” katanya, dilansir dari Therapy in Barcelona.

Saat menyantap makanan yang telah familiar dengan diri kita, Leigh bilang, bukan hanya rasa lapar yang sedang dipuaskan. Sebenarnya, seseorang justru sedang melakukan perjalanan kembali ke momen yang membuatnya merasa aman, nyaman, dan dicintai.

Dalam cara bertahan hidup di perantauan, perasaan ini dimunculkan melalui nostalgia. Setelah terombang-ambing dalam emosi di tempat yang asing, nostalgia melalui makanan mengembalikan perasaan terhubung dalam identitas asal.

Antropolog, Claude Levi-Strauss, pernah menyebutnya, “Makanan harus baik untuk dipikirkan sekaligus enak untuk dimakan.”

Artinya, makanan menjadi cara memahami dunia dan membentuk diri kita. Makanan yang memberikan kenyamanan secara sentimental plus cita rasa yang sedap menjadi lebih dari sekadar “hidangan” karena peran gandanya, yang bisa jadi juga akan berujung pada makanan yang membuat seseorang bertahan hidup lebih lama, khususnya di tempat yang asing.

Penulis: Shofiatunnisa Azizah

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA Menelusuri Sejarah Takjil Pertama, Berkah Gulai Kambing di Kauman Jogja dan artikel liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 23 Februari 2026 oleh

Tags: buka puasajajan pasarkue tradisionalkuliner pasarPuasaRamadantakjil
Shofiatunnisa Azizah

Shofiatunnisa Azizah

Artikel Terkait

THR belum cair, tapi sudah ludes dalam hitungan di kalkulator. Mudik lebaran memang tidak menyenangkan MOJOK.CO
Sehari-hari

THR Belum Cair tapi Sudah Jelas Ludes buat Dibagi-bagi, Yang Pasti Tak Ada Bagian untuk Diri Sendiri

23 Februari 2026
Saya Nonmuslim dan Gemar War Takjil seperti Meme yang Viral Itu Mojok.co
Pojokan

Saya Nonmuslim dan Gemar War Takjil seperti Banyak Meme yang Viral Itu

23 Februari 2026
Bukber, ASN, kantor.MOJOK.CO
Sehari-hari

Ikut Bukber Kantor di Acara ASN Itu Bikin Muak: Isinya Orang Cringe dan Seksis yang Bikin Risih, tapi “Haram” Buat Ditolak

22 Februari 2026
Kapok dan muak buka bersama (bukber) di restoran atau tempat makan bareng orang kaya. Cerita pelayan iga bakar Jogja jadi korban arogansi MOJOK.CO
Sehari-hari

Muak Buka Bersama (Bukber) sama Orang Kaya: Minus Empati, Mau Menang Sendiri, dan Suka Mencaci Maki bahkan Meludahi Makanan

20 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Orang desa ogah bayar pajak motor (perpanjang STNK) di Samsat MOJOK.CO

Orang Desa Ogah Bayar Pajak Motor (Perpanjang STNK), Lebih Rela Motor Disita daripada Uang Hasil Kerja Tak “Disetor” ke Keluarga

19 Februari 2026
gen z, biaya nikah, nikah di gedung, pernikahan.MOJOK.CO

Lebih Baik Nikah di Gedung daripada di Desa: Lebih Praktis dan Murah, tapi Harus Siap Dinyiyiri Tetangga

22 Februari 2026
Sejahtera ekonomi di Negeri Jiran ketimbang jadi WNI. Tapi berat terima tawaran lepas paspor Indonesia untuk jadi WN Malaysia MOJOK.CO

WNI Lebih Sejahtera Ekonomi dan Mental di Malaysia tapi Susah Lepas Paspor Indonesia, Sial!

21 Februari 2026
Jumanah pedagang jamu parem kendil di pasar jangkang Yogyakarta. MOJOK.CO

“Ngopag” ala Lansia: Menikmati Jamu Parem Kendil yang Sudah Berdiri Sejak Tiga Generasi di Pasar Jangkang Yogyakarta

17 Februari 2026
Kapok dan muak buka bersama (bukber) di restoran atau tempat makan bareng orang kaya. Cerita pelayan iga bakar Jogja jadi korban arogansi MOJOK.CO

Muak Buka Bersama (Bukber) sama Orang Kaya: Minus Empati, Mau Menang Sendiri, dan Suka Mencaci Maki bahkan Meludahi Makanan

20 Februari 2026
kerja di jepang, merantau.MOJOK.CO

Ironi Kerja di Jepang: Banting Tulang Hingga 5 Kali Lebaran Tak Pulang, tapi Setelah Sukses Hasilnya Tak Bisa Dinikmati

23 Februari 2026

Video Terbaru

Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

21 Februari 2026
Rendra Agusta: Membaca Politik Indonesia dari Manuskrip Jawa Kuno

Rendra Agusta: Membaca Politik Indonesia dari Manuskrip Jawa Kuno

19 Februari 2026
Dandangan Kudus: Bukan Sekadar Ramai, Tapi Serius Kelola Sampah dan Lingkungan

Dandangan Kudus: Bukan Sekadar Ramai, Tapi Serius Kelola Sampah dan Lingkungan

16 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.