Liburan di Surabaya terasa membosankan. Setidaknya, selama saya tinggal di sana, belum ada tempat wisata yang benar-benar memuaskan hati. Bahkan di momen Lebaran, yang ada hanya pemain inti—warga asli yang tidak mudik. Meski menyenangkan karena sepi, saya justru bingung: mudik dari Jogja ke Surabaya terus mau main ke mana? Pilihan satu-satunya ya Tunjungan.
Jalan Tunjungan Surabaya selalu jadi opsi pertama
2 tahun lalu saya meninggalkan Surabaya untuk merantau. Satu tahun di Jakarta dan satu tahun di Jogja. Sesekali saya pulang untuk menemui keluarga dan teman-teman dekat. Namun, ada hari yang mana kadang saya ingin lewong alias jalan-jalan sendiri.
Masalahnya, Surabaya bukan kota yang dapat diromantisasi lewat pemandangan alamnya sebab ia jauh dari gunung maupun pantai. Kecuali, pantai Kenjeran yang (maaf) lebih sering disebut “lautan Milo” oleh warga setempat karena warna airnya yang keruh.
Maka, satu-satunya pilihan utama adalah Jalan Tunjungan atau Tunjungan Plaza (TP). Ibarat Malioboro di Jogja dan Blok M di Jakarta, Jalan Tunjungan tak pernah sepi pengunjung. Bahkan, ada ruko yang baru dibuka tahun 2025 seperti Loske Coffee dan Snack House, sehingga pengunjung seolah diberikan banyak opsi.
Tapi ya, pilihannya itu-itu lagi. Kafe estetik terkhusus milenial dan Gen Z, walaupun tak bisa dipungkiri banyak juga rombongan keluarga yang menghabiskan waktu di sana. Namun, jumlahnya tak lebih banyak dari anak muda dress well yang nongkrong hingga malam.
Untuk jalan-jalan ke Tunjungan pun, rasanya tak cukup hanya mengantongi uang Rp20 ribu kecuali kalau cuma ingin beli air mineral. Wong parkir sepeda motor saja sudah Rp5 ribu.
Tapi mau bagaimana lagi, Jalan Tunjungan selalu jadi jujugan utama saya dan teman-teman untuk nongkrong maupun jalan-jalan di tengah banyaknya opsi destinasi yang sudah kami list.
3 alasan tak berkunjung ke tempat lain
“Kenapa nggak ke Kota Tua? Pos Bloc? Balai Pemuda? Surabaya North Quay? Atau Food Junction Grand Pakuwon? Misalnya,” tanya saya suatu ketika kepada April (25), seorang teman yang juga asli Surabaya. Setidaknya, ini penjelasan menurutnya.
Pertama, cuaca di Surabaya akhir-akhir ini tidak menentu. Pagi sampai sore, panasnya pasti nggak umum. Sore ke malam berpotensi hujan lebat. Kalau pun tidak hujan, biasanya hanya mendung. Jadi, tempat-tempat yang cenderung terbuka dan jauh dari pusat kota, seperti Surabaya North Quay maupun Food Junction Grand Pakuwon jelas ia hindari.
Kedua, acara yang ditawarkan oleh tempat tersebut. Lain dengan mal yang jelas menawarkan barang, makanan, atau minuman, tempat publik seperti Balai Pemuda atau Pos Bloc biasanya baru ramai di hari-hari tertentu. Seperti seminar, talkshow, pameran, pertunjukan seni, festival komunitas, konser lokal, hingga bazar.
Ketiga, keamanan dan kenyamanan pengunjung mestinya menjadi prioritas utama. Bukan rahasia umum lagi kalau kawasan Surabaya Utara memiliki tingkat kriminalitas yang cukup tinggi.
Pemerintah Kota Surabaya mencatat sudah ada lebih dari 100 kasus premanisme dan pencurian kendaraan bermotor dalam beberapa bulan terakhir di Mei 2025. Bahkan, mereka membentuk Satgas Antipremanisme dan Satgas Reformasi Agraria akibat maraknya konflik sengketa tanah.
Kasus ini belum termasuk begal, parkir liar, pencurian kabel tanam hingga sejumlah kursi besi di kawasan Kota Lama maupun Kenjeran yang sering diresahkan oleh warga.
Dengan adanya stigma di atas, saya dan kawan-kawan pun jadi malas pergi ke tempat lain kecuali Tunjungan. Hal ini pun membuat saya jadi berpikir, mengapa destinasi wisata yang ada di Surabaya kurang menarik bahkan berpotensi mangkrak?
Padahal, Surabaya sebagai Kota Pahlawan sebenarnya tidak kekurangan potensi dibanding Jogja. Selain tempat wisata yang sudah saya sebutkan di atas, kota ini juga punya destinasi wisata lain seperti museum, monumen, kebun binatang Surabaya (KBS), wisata mangrove, dan lain-lain.
Tempat wisata dan ruang publik yang kurang menarik
Permasalahan soal sektor pariwisata yang dinilai kurang optimal berkontribusi terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) juga menjadi perhatian DPRD Kota Surabaya. Ketua Komisi A DPRD Kota Surabaya Yoga Bagus Widyatmoko menilai pengelolaan aset wisata Pemkot Surabaya hingga kini minim terobosan pasar dan masih berjalan administratif.
“Wisata itu harusnya fleksibel dan ramah pengunjung. Kalau sistemnya kaku, orang malas datang. Ini tanda bahwa orientasinya masih administrasi, bukan pelayanan,” ujarnya dikutip dari Memorandum, Minggu (22/3/2026).
Jurnal penelitian ekonomi dari Universitas Wijaya Kusuma (UWK) Surabaya juga mengungkap bahwa kunjungan wisata yang tidak signifikan terhadap PAD Kota Surabaya. Hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, yakni kurang adanya event untuk menarik kunjungan wisata dan fasilitas umum untuk lahan parkir yang sempit, toilet, hingga kurangnya kebersihan tempat wisata.
Alasan-alasan inilah yang barangkali juga membuat tempat wisata maupun ruang publik di Surabaya tidak bertahan lama maupun kurang peminat, seperti museum Surabaya, Taman Hiburan Rakyat (THR), Kenjeran Park, Koridor Coworking Space, hingga sebagian taman kota.
Daya tarik Surabaya yang tak bisa tergantikan
Di lain sisi, Pemkot Surabaya justru berhasil mencatat kenaikan signifikan jumlah kunjungan wisata selama periode libur Natal Tahun 2025 kemarin. Terutama didominasi oleh pusat perbelanjaan atau mal di Kota Surabaya. Dan disusul oleh Taman Hiburan Pantai (THP) Kenjeran lalu Taman Prestasi.
Artinya, Surabaya tetap menjadi kota yang akan selalu dirindukan oleh banyak orang. Ia memang tidak se-istimewa Jogja, tapi sebagai kota metropolitan terbesar kedua, Surabaya punya infrastruktur lebih maju, pusat bisnis dengan transportasi publik modern, dan tata kota yang asri.
Oleh karena itu, Surabaya sejatinya membutuhkan pengelolaan yang lebih “bernyawa”. Jika pemerintah mampu menyulap tempat wisata publik seaman dan senyaman Jalan Tunjungan–dengan fasilitas terjaga dan bebas dari kriminalitas–bukan tidak mungkin Kota Pahlawan ini dikenal lebih dari sekadar kota bisnis, melainkan kota yang benar-benar bisa dinikmati setiap sudutnya.
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Muchammad Aly Reza
BACA JUGA: Hanya Ada 3 Momen ketika Surabaya Bisa Dinikmati karena Terasa Tenang setelah Hari-hari Penuh Kesumpekan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














