Tulisan “Dilarang jualan kalender di sini” terpasang di banyak sudut desa saya, Rembang, Jawa Tengah, baru-baru ini, bahkan sejak dari gapura masuk. Jauh lebih halus ketimbang peringatan yang pernah saya lihat di desa sebelah berbunyi: “Penjual kalender, peminta sumbangan masjid, dan pengamen dilarang masuk!”.
Sependek ingatan saya, sejak MTs saya memang amat kerap mendapati penjual kalender keliling dan peminta-minta sumbangan masuk desa. Menyisir dari rumah ke rumah.
Untuk penjual kalender keliling, kebanyakan anak-anak muda berpakaian santri (bersarung, baju koko atau kemeja, dan berkopiah). Mereka mengaku diutus oleh pengasuh pesantren. Katanya, hasil dari jualan kalender itu digunakan untuk pembangunan pesantren atau jariyah dalam bentuk lain.
Sementara si peminta-minta sumbangan umumnya bapak-bapak dan ibu-ib usia 30-an ke atas. Umumnya menarik sumbangan untuk pembangunan masjid.
Desa dermawan di Rembang, sasaran empuk santri penjual kalender dan peminta sumbangan pembangunan masjid
Desa saya di sisi timur Rembang memang kerap menjadi sasaran empuk para santri penjual kalender dan peminta-minta sumbangan pembangunan masjid. Bertahun-tahun.
Wajar. Dulu warga desa saya banyak yang dermawan. Pasalnya begini, kebanyakan anak-anak di desa saya adalah anak pesantren. Sehingga, ketika ada santri masuk menjual kalender, orang tua yang anaknya nyantri akan tergerak untuk membeli.
Ibu saya salah satunya. Bahkan ibu kerap membeli di atas harga yang ditetapkan oleh si santri penjual kalender keliling. Misalnya harga aslinya adalah Rp10 ribu, ibu bisa membelinya di harga Rp20 ribu. Itupun masih diberi lagi uang Rp5 ribu buat jajan. Jadi Rp20 ribu buat kalender, Rp5 ribunya buat jajan si santri.
Ia juga cukup sering membeli, seberapa pun sering mereka datang. Tak heran jika ibu punya lebih dari tiga kalender untuk tahun yang sama, dari pesantren yang berbeda. Begitupun ketika ada peminta-minta sumbangan yang mengatasnamakan pembangunan masjid tertentu.
Saat itu ada tiga motif kenapa ibu sedemikian ringan meloloskan uang. Satu, cari berkah dan pahala dengan “menyumbang” pesantren dan masjid. Dua, anaknya (saya) juga santri. Ia berharap, dengan menyumbang, semoga jalan saya sebagai santri dimudahkan dalam menuntut ilmu.
Lalu tiga, lebih karena kasihan. Desa saya adalah desa perbukitan. Para santri dan peminta sumbangan pembangunan masjid itu harus berjalan jauh untuk sampai ke rumah-rumah warga.
Di desa saya ada banyak orang dengan model seperti ibu. Karena tahu warga desa saya cukup ringan membantu, alhasil desa saya di Rembang itu selalu jadi jujukan.
Masih awal tahun tapi santri penjual kalender sudah datang bawa kalender tahun berikutnya
Lambat laun kedatangan para santri penjual kalender itu amat meresahkan bagi warga desa saya di Rembang. Bahkan, kalau ada orang melihat sejumlah santri mulai masuk desa, orang itu akan memberi tahu tetangga agar menutup pintu rumah, biar tak jadi jujukan.
Keengganan warga desa saya beralasan. Sebab begini: Padahal masih awal tahun, tapi kalender tahun berikutnya sudah ditawarkan. Nanti menjelang akhir tahun, mereka akan datang lagi.
Misalnya, Januari 2024 saja belum beranjak ke Februari. Tapi para santri penjual itu sudah datang mengiba agar kalender tahun 2025 buatan pesantrennya dibeli. Nanti di bulan-bulan Oktober-November 2024, mereka akan datang lagi.
Masalahnya, yang datang tidak hanya santri dari satu pesantren. Setiap yang datang mengaku dari pesantren berbeda. Jaraknya pun berdekatan. Sehari dari pesantren A, beberapa hari kemudian datang mengaku dari pesantren B, lalu selang berapa hari lagi datang lagi mengaku dari pesantren C.
Lama-lama warga desa saya muak. Mungkin bisa menolak halus. Tapi kedatangan mereka dirasa sudah amat mengganggu.
Peminta sumbangan masjid dan pembangunan yang tak selesai-selesai
Pertanyaan berikutnya: Emangnya apa sih yang dibangun si pesantren? Karena setiap tahun alasannya masih sama: Membangun pesantren.
Bahkan, saya masih ingat, seorang warga desa yang sudah sangat kesal dengan kedatangan para santri itu sampai berujar: “Kalian mondok buat cari ilmu, bukan jual kalender. Cari berkah kiai? Hasil jual kalender itu dipakai kiaimu buat beli mobil pribadi.” Ia orang abangan, jadi maklum kalau berani mengkritik keras kiai, tidak seperti warga desa kebanyakan yang memilih memendam keresahan masing-masing.
Hal serupa juga terjadi dalam konteks peminta-minta sumbangan pembangunan masjid yang lebih sering bawa-bawa narasi “jariyah pembangunan masjid”.
Warga mulai janggal setelah memergoki modus mereka. Beberapa memang ada yang mengatasnamakan sebuah masjid yang beralamat di Rembang. Tapi tidak jarang mengaku dari masjid di luar Rembang.
Untungnya, beberapa warga mengaku hapal wajah-wajah peminta-minta sumbangan yang masuk desa kami. Hanya itu-itu saja. Lalu terbongkarlah fakta kalau orang yang sama mengatasnamakan masjid yang berbeda-beda.
Saya sendiri pernah menghadapi langsung yang seperti ini. Awalnya mengaku dari masjid A. Bulan berikutnya, ia datang lagi mengaku dari masjid B. Lain bulan, ia mengaku dari yayasan C.
Sampai suatu ketika, saya iseng saja bertanya, “Kok Jenengan pindah-pindah, Pak?”
“Loh endak, Dek. Saya cuma dari masjid B (misalnya).” Padahal ia pernah mengaku dari masjid A dan dari yayasan C.
Santri gadungan dan pembangunan fiktik
Warga desa saya di Rembang itu kemudian memilih hanya sekadar menolak memberi sumbangan atau membeli kalender. Belum pada tahap membuat peringatan di sudut-sudut desa.
Namun, ketika akses informasi mulai lebih mudah, warga desa mulai menemukan fakta-fakta meresahkan di balik kedatangan santri penjual kalender keliling dan peminta-minta sumbangan pembangunan masjid tersebut.
Mungkin saja, beberapa di antara mereka ada yang santri asli, benar-benar diutus oleh pesantren betulan. Para peminta sumbangan itupun juga mungkin saja berangkat dari masjid yang memang butuh bantuan pembangunan.
Namun, di desa-desa lain di luar sana, diberitakan kalau penjual kalender yang masuk desa ada juga yang santri gadungan. Pesantrennya fiktif kalau tidak nekat mencatut nama pesantren secara asal. Begitu juga dalam kasus peminta-minta sumbangan masjid. Alamat masjid fiktif atau sengaja mendompleng alamat masjid tertentu saja. Atau juga mereka membawa narasi bohong soal pembangunan.
Alhasil, setelah berembug, disepakati untuk memasang peringatan larangan agar dua oknum itu tidak menjadikan desa kami sebagai jujukan.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Saya Sadar Betapa “Mengerikannya” Judi Bola Tarkam Setelah Mengobrol dengan Bandar Lokal atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














