Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Catatan

Musala di Tengah Sarkem Jogja, Takmirnya Rela Jadi Makmum “Anak Kecil” dan Saksi Pekerja Prostitusi Mengaji

Hammam Izzuddin oleh Hammam Izzuddin
13 Maret 2024
A A
musala sarkem Jogja.MOJOK.CO

Ilustrasi musala sarkem jogja (Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Ada sebuah musala kecil, bahkan satu-satunya musala, di kompleks prostitusi Sarkem Jogja. Takmir musala tersebut merekam banyak kisah unik yang ia bagikan kepada Mojok.

Dulu, saya pernah membuat seri liputan mengenai Pasar Kembang atau Sarkem Jogja. Banyak kisah yang didapat dari beberapa kali penelusuran ke dalam gang penuh bilik karaoke dan prostitusi tersebut. Salah satunya, soal kehadiran sebuah musala tua yang bertahan di tengah gegap gempita tempat hiburan malam.

Wajah Sarkem Jogja memang belakangan berupaya diubah wajahnya tak melulu soal prostitusi. Baru-baru ini, pada 1-2 Maret 2024, ada Sarkem Fest. Sebuah festival seni dan budaya yang sudah beberapa kali terlaksana di area hiburan malam tersebut.

Namun, sebagai sebuah kampung sejatinya Sarkem yang terletak Sosrowijayan Kulon, Gedongtengen, Kota Yogyakarta punya denyut nadi kehidupan layaknya permukiman padat penduduk lainnya. Di dalamnya ada rumah warga, bangunan sekolah TK, hingga musala.

Musala itu kecil. Berdasarkan informasi yang saya dapat dari sejumlah warga, saat Ramadan, kegiatan salat tarawih warga di kampung Sarkem Jogja berpusat di balai RW yang lebih lapang. Kendati begitu, di musala kecil itu aktivitas tetap ada aktivitas tarawih dengan jemaah yang lebih sedikit.

Awalnya, tidak mudah untuk bisa menemukan musala yang letaknya tersembunyi di gang sempit ini. Selain itu, sosok takmir atau pengelola musala pun tidak saya jumpai. Beruntung, berkat menggali informasi dari Sarjono, salah seorang tokoh masyarakat di Sosrowijayan Kulon, saya berhasil menggali kisah tentang musala tersebut.

Lelaki yang menjadi takmir itu bernama Sutimin. Oleh para warga, ia lebih akrab disapa Bram. Julukan yang konon ia dapat dari para bule yang sering seliweran di beberapa homestay sekitar kampung tersebut.

Musala Sarkem Jogja saksi pekerja hiburan malam yang rajin salat

Satu hal yang saya ingat dari lelaki kelahiran 1953 itu adalah suaranya yang serak. Bram lahir di Klaten tapi sejak balita sudah pindah ke kampung sekitar Sarkem Jogja.

Saat awal pindah ke Sarkem dulu, Bram ingat bahwa musala ini sudah berdiri. Berawal dari musala untuk keluarga yang tersusun dari gedek bambu. Ukurannya juga lebih kecil dari yang tampak sekarang.

“Kalau sekarang ini musala menghadap utara, dulu menghadap timur pintu bangunannya. Dulu juga masih ada pohon jambu besar di situ,” ujarnya seraya menunjuk pojokan musala.

takmir musala sarkem jogja.MOJOK.CO
Sosok Sutimin atau Bram, takmir musala di Sarkem Jogja (Hammam/Mojok.co)

Meski bangunannya sederhana, tapi dulu, musala ini sering juga digunakan oleh para jemaah dari kampung sebelah. Hal itu disebabkan karena dulu, di Sosrowijayan Wetan, belum ada masjid sama sekali. Sehingga jika ingin salat, banyak yang datang kemari.

“Keberadaan musala ini jadi buat orang ingat kewajiban salat. Kalau orang lewat, lihat musala, kan setidaknya ada perasaan terpanggil,” tuturnya.

Sebagai tempat ibadah paling dekat dengan prostitusi Sarkem Jogja, ada hal-hal unik yang terjadi. Hal yang terkadang membuat hati Bram tergugah.

Pernah suatu waktu ia melihat seorang perempuan yang menjadi pemandu karaoke atau LC di Sarkem Jogja yang kerap salat di musala. Perempuan itu juga membaca Al-Qur’an sejenak setelah beribadah.

Iklan

“Itu menarik perhatian saya soalnya bacaan Al-Qur’an dia pinter,” katanya.

Namun, belakangan ini tidak pernah melihat perempuan itu lagi. Pernah suatu hari ia menjumpainya. Perempuan itu bilang kalau sedang haid sehingga tak salat. Namun, hingga sekarang Bram tak pernah melihat batang hidung perempuan itu lagi di musala.

Kadang juga ada para pekerja di sana yang bertanya, bagaimana salat mereka jika masih terus aktif menjalankan kemaksiatan. “Saya hanya jawab, kalau salat itu kewajiban. Jangan ditinggalkan. Lama-lama salatmu bisa memperbaiki hidupmu,” ujarnya bijak.

Mengaku bukan orang saleh, rela jadi makmum anak kecil

Bram sendiri mulai aktif menjadi takmir yang menjaga musala ini sekitar tahun 2003. Awalnya yang menjaga adalah temannya. Setelah sang teman pergi dari kampung itu, Bram lantas mengambil peran sebagai takmir.

“Di sini nggak ada yang ngopeni. Karena saya sering salat di sini, akhirnya istilahnya disuruh ngurus,” jelasnya.

Lelaki ini mengaku merasa dirinya bukan orang saleh. Ia menceritakan, beberapa “dosa” yang pernah ia perbuat dalam hidup. Hal-hal yang menurutnya tak perlu saya tulis. Namun, di sisi lain ia berupaya menjaga salatnya.

“Saya ini bukan orang baik. Tapi semenjak umur 18, sudah saya biasakan agar rutin lah salatnya,” terangnya.

Kalau ada anak muda yang lebih mumpuni, ia dengan senang hati menyerahkan posisi imam salat. Ia menyadari dirinya bukan orang “suci”. Sehingga kalau ada yang lain, ia dengan senang hati menyerahkannya.

“Kalau lebih kotor dari saya, yawes saya yang jadi imam. Tapi kalau ada anak kecil, dia bagus, ya saya jadi makmum aja. Dia lebih bersih dan lebih pintar,” ujarnya.

Ia mengakui kalau musala ini tidak ramai. Paling-paling ada jemaah saat salat magrib dan isya. “Yang berat itu kalau nggak ada jemaahnya. Saya kadang azan, iqamat, dan salat sendiri,” keluhnya.

Perjumpaan dengan Bram adalah salah satu hal paling berkesan yang saya rasakan pada beberapa kali kesempatan liputan di Sarkem Jogja. Semoga, tempat ini terus bertahan menjadi fasilitas ibadah bagi mereka yang hidupnya di gang-gang sempit dan remang tersebut.

Penulis: Hammam Izzuddin

Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA Pengalaman Mencicipi Sarkem Jogja untuk Kali Pertama dan Merasakan Sensasi Berbeda di Lokalisasi Legendaris: Bong Suwung

Ikuti berita dan artikel Mojok lainnya di Google News

Terakhir diperbarui pada 14 Maret 2024 oleh

Tags: Jogjamusala sarkem jogjapasar kembangProstitusisarkemsarkem jogja
Hammam Izzuddin

Hammam Izzuddin

Reporter Mojok.co.

Artikel Terkait

Milenial di Job Fair Yogyakarta 2026 cari peluang kerja di luar negeri. MOJOK.CO
Sehari-hari

Muak dengan Syarat Kerja di Indonesia: Gaji Numpang Lewat hingga Terbatas Usia, Milenial Pilih Cari Kerja ke Luar Negeri

16 Juli 2026
Menertawakan Polemik Sosial, Arie Kriting Siap Bawa "Mungkin Ada Benarnya" ke Jogja.mojok.co
Hiburan

Menertawakan Polemik Sosial, Arie Kriting Siap Bawa “Mungkin Ada Benarnya” ke Jogja

16 Juli 2026
Kerajinan lokal Yogyakarta di INACRAFT. MOJOK.CO
Kabar

INACRAFT Jogja: Jembatan bagi Perajin Lokal Menembus Pasar Global Lewat Karya yang Tak Biasa

15 Juli 2026
Senjakala Lapangan Sepak Bola di Jogja yang Makin Berjarak dengan Warganya.MOJOK.CO
Suara Bawah Tanah

Senjakala Lapangan Bola di Kota Jogja yang Makin Berjarak dengan Warganya

9 Juli 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Suzuki S-Presso memang mobil aneh karena jelek tapi keren MOJOK.CO

Ibarat kata, Suzuki S-Presso adalah “Crocs KW” yang jelek tapi keren dan kini menjadi benteng pertahanan terakhir melawan kegilaan dunia yang serba mahal ini

14 Juli 2026
Derita Orang Rembang, Makan Mie Gacoan Harus ke Tuban MOJOK.CO

Makan Mie Gacoan adalah Kemewahan bagi Anak Muda Desa, Rela Motoran 2 Jam Demi Makanan yang “Menyiksa” Mulut Mereka

14 Juli 2026
Caruban—sebagai ibu kota dari Madiun—barangkali terkesan tidak bagus-bagus amat. Tapi bikin jatuh hati lewat hal-hal sederhana MOJOK.CO

Caruban Madiun Memang Tidak Bagus-bagus Amat, Tapi bikin Jatuh Hati Lewat Hal-hal Sederhana

13 Juli 2026
Truk sampah di TPA Troketon, Klaten. MOJOK.CO

Mengais Asa di TPA Troketon, Benteng Terakhir Penghidupan Warga Klaten

10 Juli 2026
Dugaan Korupsi Bupati Sukoharjo: Warisan Bernama Korupsi MOJOK.CO

Dugaan Korupsi Bupati Sukoharjo: Warisan Bernama Korupsi 

13 Juli 2026
Orang tua, ibu.MOJOK.CO

Sulitnya Menjadi Ibu Muda Tanpa Cela di Ibu Kota: Parenting Dituntut Sempurna, tapi Sudah Digempur Stres Kerja

10 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.