Ada menu di warung makan nasi padang (naspad) yang awalnya tampak aneh bagi orang Jawa (dari desa pelosok pula) seperti saya. Setelah coba-coba menu tersebut untuk pertama kalinya, lidah saya menjerit dan mata terbelalak saking kagetnya, sekaligus langsung merasa goblok sendiri.
***
Jujur saja. Lidah Jawa nan desa saya baru benar-benar merasakan nasi padang itu ya baru dua tahun terakhir sejak pindah kerja ke Jogja. Itu pun karena untungnya, dalam banyak kesempatan, nasi padang kerap menjadi menu makan siang kantor.
Sementara selama ini, lidah saya lebih sering mencecap makanan-makanan dengan variasi menu dan rasa terbatas. Mulut saya lebih banyak mengunyah telur dadar, penyetan lele, nasi pecel, atau paling sering jelas mie instan campur nasi. Pokoknya makanan-makanan yang masuk budget makan harian lah (Rp10 ribu ke bawah).
Pertama kali makan nasi padang (naspad) akhirnya relate dengan perdebatan banyak orang, tapi menu terbatas
Saya bukannya tidak pernah mendengar kalau di semesta ini ada kuliner bernama warung nasi padang. Saya sudah tahu sejak kuliah hingga bekerja di Surabaya (2017-2023).
Hanya saja, waktu itu kalau disuruh milih “mau makan apa?”, saya tidak akan memasukkan nasi padang dalam daftar makan harian. Alasannya, sebagai orang Jawa, saya takut lidah saya tidak cocok dengan selera Sumatera. Lebih dari itu adalah persoalan waswas: takut menyesal kalau “kemahalan”, seperti cerita narasumber, Gandika, dalam tulisan, “Pertama Kali Makan di Warung Nasi Padang: Jadi Katrok, Kenyang dalam Penyesalan, Hingga Obati Nasib Malang Masa Kecil“.
Baru ketika di Jogja itu lah saya akhirnya tahu wujud asli nasi padang. Dan saya akhirnya bisa relate dengan perdebatan banyak orang tentang naspad: nasi dalam bungkusan naspad memang benar-benar bikin perut jembling saking banyaknya. Selain itu, ternyata setelah membandingkan makan pakai sendok dan tangan, lebih nikmat pakai tangan.
Sensasi makan pakai tangan itu, selain bisa muluk nasi dalam kepalan besar, juga memberi kenikmatan maksimal dari jilatan lidah terhadap bumbu-bumbu yang tertinggal di ujung-ujung jari.
Hanya saja, menu yang saya santap di kantor masih terbatas “itu-itu saja”. Paling sering justru telur dadar dan perkedel, ayam bakar, dan sesekali rendang.
Ketidakpuasan pada porsi rendang dan perkenalan pada sebuah “menu aneh”
Beberapa teman, termasuk istri saya, agak bingung kenapa di antara pilihan menu yang ditawarkan kantor saya justru sering menomorakhirkan rendang. Padahal itu merupakan salah satu menu andalan di warung makan nasi padang.
Saya sepakat soal cita rasa. Bagi lidah Jawa saya, rendang memang nggak ada obat. Masalahnya, saya merasa porsinya tidak imbang: nasi melimpah tapi lauknya hanya sebutir rendang yang bisa habis dalam dua-tiga kali gigit.
Maka saya cari lauk yang secara porsi seimbang dengan nasi. Ya tahu diri, Rek, masa minta tiga butir rendang atau rendang+telur, apalagi rendang+ayam? Kalau pakai duit sendiri, silakan. Tapi kan saya jelas milih makan di kantor dengan alasan efisiensi belanja makan harian.
Eksplorasi menu naspad saya memang seterbatas itu. Sampai akhirnya istri saya memberi tahu kalau ada menu lauk yang perlu saya coba. Sebab, itu menjadi salah satu menu favorit istri saya yang sejak SMA sudah terbiasa makan nasi padang. Menu yang, waktu saya lihat dari foto dan video, tampak berwujud aneh dan nggilani.
“Menu aneh” di warung nasi padang (naspad), tapi kok menggugah selere dari lihat cara orang menyantapnya
Nama menu tersebut adalah gulai tunjang. Duh, memang, bagi teman-teman pembaca jelas menu tersebut adalah menu mainstream. Tapi bagi lidah Jawa nan desa saya yang baru belakangan terliterasi dengan khazanah kuliner nasi padang, tampilannya agak aneh. Teksturnya terlihat kenyal-kenyal nggilani.
Karena reaksi skeptis saya terhadap gulai tunjang, istri saya lantas menunjukkan beberapa video food vlogger yang tampak menikmati betul gulai tunjang.
Sensasi kenyal saat digigit, juga baluran bumbu gulai yang kuning kental, cukup berhasil menggugah selera. Saya bilang “cukup berhasil” karena saya masih skeptis: takut rasanya aneh, seaneh wujudnya.
Maka, istri saya—sebagai orang Jawa penikmat gulai tunjang—mendorong saya: harus mencoba salah satu menu favoritnya dalam khazanah warung nasi padang tersebut.
Ragu melihat wujudnya di piring, kaget saat mengunyah, hingga langsung merasa goblok
Alih-alih menjajal gulai tunjang bersama istri (karena kami lebih sering berburu bebek goreng enak), pengalaman pertama kali saya makan gulai tunjang justru terjadi di Jakarta pada Januari 2026 lalu, saat dalam penugasan kerja.
Saat itu, dari sekian stand yang berjejer di food court Istora Senayan, rekan saya tergoda dengan sebuah stand warung makan padang. Ia lebih tergoda dengan menu jengkol sambal hijau. Saya ikut saja.
Melihat menu-menu yang ditata dalam etalase, awalnya saya hanya ingin pesan menu “standar-standar” saja. Rendang atau ayam bakar lah.
Namun, ketika melihat tumpukan tunjang, muncul dorongan kuat: kali ini harus coba. Dan menu itu lah yang akhirnya saya pesan.
Saat melihat seonggok tunjang di sudut piring, dengan teksturnya yang kenyal dan gulai kuning pekat, saya justru takut alih-alih tergiur. Ragu kalau lidah saya tidak akan cocok. Itu lah kenapa, sebagai jaga-jaga, saya tetap memesan telur dadar.
Dan setelah gigitan pertama, lidah saya menjerit, mata saya terbelalak. Bajilak, ternyata istri saya benar: gulai tunjang di warung makan padang memang senikmat itu.
Persis setelah gigitan pertama itu, saya langsung menyantapnya dengan lahap. Saya menikmati setiap gigitan dan tekstur kenyalnya. Membayangkan diri saya adalah seorang food vlogger yang tengah menyantapnya dengan penuh penghayatan.
Selepas tandas, saya langsung merasa goblok. Kok bisa saya sangsi dengan rekomendasi istri saya perihal betapa nikmatnya gulai tunjang. Hanya karena secara tampilan tampak sebagai menu aneh.
“Apa kubilang…,” begitu respons istri melalui sambungan video call saat saya bercerita akhirnya mencicipi gulai tunjang untuk pertama kalinya. Dan sejak Januari 2026 itu, hingga sekarang, alasan kuat kenapa saya pergi ke warung makan nasi padang tidak lain adalah: karena tiba-tiba saja, di suatu siang yang mendung di Jogja, saya terbayang-terbayang tekstur kenyal, lembut, dan gulai kuning pekat yang gurih.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Orang Minang Merantau ke Jogja: Iman Kuliner Saya Runtuh karena Gula Jawa, Rendang Asli jadi Terasa Asin Saja atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














