Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Catatan

Kuliah di UIN Jadi Tahan Penderitaan Hidup: Kumpul Mahasiswa “Modal Iman”, Terbiasa Mbambung dan Lapar

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
2 Maret 2026
A A
Kuliah kampus/PTN Islam Universitas Islam Negeri (UIN) bikin tahan penderitaan hidup gara-gara kumpul mahasiswa modal iman MOJOK.CO

Ilustrasi - Kuliah kampus/PTN Islam Universitas Islam Negeri (UIN) bikin tahan penderitaan hidup gara-gara kumpul mahasiswa modal iman. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Kuliah di Universitas Islam Negeri (UIN) tidak hanya mengasah sisi akademik mahasiswa saja. Tapi juga memberi pelajaran kehidupan. Sebab, kuliah di kampus/PTN Islam tersebut membuat mahasiswa harus tahan-tahan dengan penderitaan. 

Kuliah di Universitas Islam Negeri (UIN) karena murah

Setidaknya hingga sebelum Covid-19, UIN menjadi PTN kerakyatan. Karena masih sangat mudah mendapatkan UKT murah (di bawah Rp1 jutaan). 

Masuk kuliah pada 2017, saya mendapat UKT Rp900 ribu. Beberapa teman saya bahkan bisa mendapat keringanan hingga hanya membayar Rp400 ribu persemester. 

Memang, salah satu motif saya kuliah di UIN tidak lain adalah karena pertimbangan UKT tersebut. Saya sebenarnya diterima di sebuah PTN ternama di Solo. Namun, karena UKT ada di angka Rp2 jutaan, sementara di saat bersamaan saya keterima di UIN dengan UKT ratusan ribu saja, jelas saya memilih kuliah di kampus Islam saja. 

Pasalnya, saya juga harus mempertimbangkan: selain biaya UKT persemester, juga ada biaya hidup sehari-hari.

Berteman dengan lapar, untuk sekadar makan harus mikir sekian kali

Menjadi mahasiswa UIN pada akhirnya memang semakin menempa ketahanan saya. Meski saya terbiasa hidup pas-pasan di kampung halaman, tapi tidak pernah terbayang kalau di perantauan saya harus tidur di sebuah kos super kumuh, pengap, penuh kecoa, dan wc-nya sering mampet hingga tahi-tahi di dalamnya menyembul ke permukaan. Tapi ya bagaimana lagi, itu yang paling murah: Rp200 ribu. 

Di rumah, saya memang terbiasa makan ala kadarnya. Umumnya makanan khas desa pesisir (Rembang, Jawa Tengah). Namun, selama menjadi mahasiswa UIN, memang harus benar-benar berteman dengan lapar. Untuk sekadar makan saja harus mikir sekian kali. 

Pertemanan dengan lapar itu terjadi makin intens setelah saya tahu fakta: ternyata kebanyakan teman saya—yang alumni pesantren—ternyata juga menjalani “laku prihatin” selama kuliah di UIN. 

Bukan untuk tirakat tertentu. Tapi mau tidak mau. Sebab, teman-teman dengan latar belakang pesantren itu juga kuliah dengan modal pas-pasan. Uang saku tidak seberapa, jadi harus eman-eman betul kalau mau mengeluarkannya. 

Saya sedikit beruntung karena kemudian saya selalu membawa beras dari rumah: masak sendiri di kosan. Itu memungkinkan saya lebih hemat untuk makan dua kali di kosan. Sementara beberapa teman saya, ada yang makan sehari sekali. Dua hari sekali. Itupun harus benar-benar menemukan warung makan yang menyediakan harga Rp8 ribuan. 

Kalau toh bisa makan dua kali sehari, seringnya jelas Indomie campur nasi. Di kalangan mahasiswa UIN tempat kami kuliah (UIN Sunan Ampel Surabaya), ada Warung Pak Ali yang menjual menu Indomie+nasi dengan harga Rp5 ribuan. Begitu juga di kampus-kampus UIN lain, ternyata ada juga warung-warung makan langganan untuk bertahan hidup dengan uang pas-pasan. 

Masjid dan seminar: tempat mengganjal perut hingga perbaikan gizi

Saya dan beberapa teman sesama mahasiswa UIN dulu pernah menjadi “snack dan nasi kotak hunter”. Kalau ada selebaran acara yang memungkinkan kami dapat snack gratis, maka kami akan berangkat. Lumayan untuk mengganjal perut. 

Kami juga rutin berbagi info: masjid mana yang terkenal selalu bagi-bagi nasi kotak setelah salat Jumat atau bagi-bagi menu berbuka selama bulan Ramadan. Kami tidak segan berpindah dari satu masjid ke masjid yang lain. 

Di area belakang UINSA (daerah perumahaan semi-elite di Wonocolo) kami memiliki masjid langganan. Kalau buka puasa menunya selalu ugal-ugalan: ada takjil gorengan, kurma, buah, teh hangat, kadang es buah. Setelah salat Magrib lalu dibagikan nasi kotak berisi menu yang masuk kategori “perbaikan gizi” bagi mahasiswa-mahasiswa seperti kami. Kebanyakan yang datang dan antre bukan bocil-bocil setempat. Tapi justru para mahasiswa UIN. 

Iklan

Saya bahkan masih berbuka di sana bahkan setelah lulus kuliah. Terakhir adalah saat Ramadan 2023. Lumayan, buka puasa di masjid tersebut membuat saya sama sekali tidak keluar uang buat makan selama Ramadan. 

Bagaimana tidak. Sehabis berbuka, sering kali takmir masjid mengeluarkan sisa nasi kotak dari dalam ruangannya yang ternyata masih banyak. Lalu dibagikan kepada jemaah yang masih berdiam diri di masjid. Lumayan kan buat makan sahur. 

Tidak semua punya laptop dan kos, hidup penuh siasat untuk nugas dan tidur

Tidak hanya teman-teman saya di UINSA saja, ternyata di kampus UIN lain juga ada cerita serupa: mahasiswa kuliah tanpa modal laptop ataupun kos. 

Untuk urusan tugas kuliah, harus pinjam dari satu teman ke teman lain. Sementara untuk urusan tidur, ini malah lebih sepele, di manapun bisa jadi tempat tidur: sekretariat organisasi, warung kopi, di masjid (kalau jadi marbot), atau menjadi benalu di kos teman. Benar-benar kuliah “modal iman”: percaya akan pertolongan Allah Swt. 

Saya menjadi saksi hidup yang bersinggungan langsung dengan model mahasiswa kampus/PTN Islam itu dengan laku hidup memprihatinkan. Dulu saya kira saya sudah paling kere. Tapi saya harus lebih bersyukur, setidaknya saya sempat menabung hingga bisa membeli laptop. 

Laptop saya tersebut pada akhirnya menjadi laptop sejuta umat. Sebab, ada beberapa teman yang tidak punya laptop. Sehingga untuk keperluan tugas kuliah harus mengantre laptop saya. Ya benjut lah laptop saya itu, seperti saya tulis di, “Laptop ASUS: Meski Busuk dan Bikin Malu sama Orang Berlaptop “Apel Kroak”, Tapi Saksi Banyak Orang Tuntaskan Skripsi hingga Cari Cuan“. 

Tidak hanya laptop, tidak semua teman saya, mahasiswa UIN, punya kos. Beberapa ada yang nebeng di kos saya. Numpang naruh barang dan mandi. Sesekali numpang tidur kalau sedang sungkan tidur di warung kopi. 

Obrolan dengan alumnus UIN di Jogja, Semarang, hingga Jakarta menunjukkan fakta: ternyata mahasiswa semacam itu banyak ditemui di UIN. Benar-benar mode mbambung untuk survive di perantauan. 

Mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN): kuliah sambil kerja karena tidak ada pertolongan oang tua

Kuliah sambil kerja sebenarnya sudah umum di kalangan mahasiswa. Namun, untuk mahasiswa UIN, umumnya bekerja di sektor informal: jadi penjaga warung kopi, pelayan di warung makan, kuliah sambil jualan pentol, dan sejenisnya. 

Hasilnya jelas tidak seberapa. Itulah kenapa, hasil kerja itu ditabung lebih banyak untuk jaga-jaga bayar UKT di semester berikutnya. Sementara untuk makan bisa sekadarnya. 

Pasalnya, misalnya dalam kasus teman-teman saya, kalau tidak ubet mencari uang sendiri dan mengelolanya sebaik mungkin, kalau kehabisan uang opsinya hanya utang ke teman—yang itupun gambling juga apakah teman bisa mengutangi atau tidak. Tidak ada opsi aman: kehabisan uang langsung minta orang tua. 

Terbiasa lapar dan capek, lebih tatag hadapi kehidupan

Beberapa teman alumni Universitas Islam Negeri pada akhirnya mengaku benar-benar mendapat banyak pelajaran kehidupan dari kuliah di kampus/PTN Islam tersebut. 

Terbiasa lapar dan capek membuat mereka merasa lebih tatag dalam menjalani kehidupan. Menghadapi penderitaan sudah biasa. Alih-alih merintih dan meratap, mereka justru makin ubet untuk mencari solusi. 

Penderitaan atau nasib buruk yang dialami, bukannya membuat mereka bersedih, tapi justru jadi bahan bercandaan. “Umume wong lanang, yo kudu mobat-mabit no sayangku (Umumnya laki-laki, ya harus pontang-panting dong sayangku).” Misalnya celetukan semacam itu. 

Ah, ini memang bukan sekadar tempaan fisik dan mental, tapi juga spiritual. Mereka menaruh keyakinan pada kuasa Ilahi di atas ikhtiar dan kuasa manusia. Itu membuat mereka selalu yakin: baik atau buruk situasi yang mereka hadapi, itu hanya persepsi. Yang paling tahu kan Gusti Allah. Bagi mereka, baik atau buruk, manusia hanya bisa menjalani dan menikmati. Itulah iman. Dan itu bagian yang, saya sendiri sebagai alumnus UIN, masih gelagapan mengamalkannya. 

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: 4 Hal yang Sudah Dianggap Keren dan Kalcer di Kalangan Mahasiswa UIN, Tapi Agak “Aneh” bagi Mahasiswa PTN Lain atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 2 Maret 2026 oleh

Tags: buka puasa di masjidkampus islamkuliah uinmahasiswa UINPTNptn islamuinuniversitas islam negeri
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) kerap disalahpahami mahasiswa PTN atau PTS umum lain MOJOK.CO
Edumojok

4 Hal yang Sudah Dianggap Keren dan Kalcer di Kalangan Mahasiswa UIN, Tapi Agak “Aneh” bagi Mahasiswa PTN Lain

28 Februari 2026
UMR Jakarta, merantau ke jakarta, kerja di jakarta.MOJOK.CO
Urban

Modal Ijazah S1, Nekat Adu Nasib ke Jakarta: Sudah Bikin Syukuran karena Keterima Kerja, Perusahaan Malah Bubar padahal Gaji Pertama Belum Turun

26 Februari 2026
Ijazah S1 jurusan Sastra Indonesia dari PTN terbaik di Jawa Timur alami penolakan 150 lamaran kerja. Buat pekerjaan freelance aja tidak bisa hingga jadi beban keluarga MOJOK.CO
Edumojok

Sarjana Sastra Indonesia PTN Terbaik Jadi Beban Keluarga: 150 Kali Ditolak Kerja, Ijazah buat Lamar Freelance pun Tak Bisa

21 Februari 2026
Bapak-ibu dihina saudara sendiri karena ingin kuliahkan anak di PTN, tapi beri pembuktian. Meski anak jadi mahasiswa di PTN ecek-ecek tapi jadi sarjana pekerja kantoran MOJOK.CO
Kampus

Ortu Miskin Dihina Saudara Kaya saat Ingin Kuliahkan Anak, Meski Kuliah di PTN Ecek-ecek Malah Punya Karier Terhormat ketimbang Anak Saudara

8 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Gen Z photobox di Tugu Jogja

Gen Z Jogja Rela Antre buat “Ibadah” Photobox di Tugu, Pilih Tahan Kantuk setelah Sahur karena FOMO

27 Februari 2026
Parijoto, pecel pakis, hingga lalapan kelor. Khazanah kuliner di Desa Colo yang erat dengan dakwah Sunan Muria MOJOK.CO

Rasa Sanga (2): Sajian Parijoto, Pecel Pakis, dan Lalapan Kelor di Desa Colo yang Erat dengan “Syiar Alam” Sunan Muria

27 Februari 2026
Honda Supra X 125

Maunya Motor Matic, tapi Terpaksa Pakai Supra buat Kuliah di Fakultas “Elite” di UGM demi Menyenangkan Ayah

24 Februari 2026
Culture shock mahasiswa Kalimantan dengan budaya guyub Jawa di Jogja

Culture Shock Mahasiswa Kalimantan di Jawa: “Dipaksa” Srawung, Berakhir Tidak Keluar Kos dan Pindah Kontrakan karena Tak Nyaman

26 Februari 2026
Kepribadian Perfeksionis

Derita Punya Kepribadian Perfeksionis: Dianggap Penuh Kesempurnaan, padahal Harus Melawan Diri Sendiri agar Tak Kena Mental

27 Februari 2026
Makan bersama sia-sia: niat kumpul keluarga, tapi bikin ortu kesepian karena anak-anak sibuk main hp sampai tak nyahut saat diajak bicara MOJOK.CO

Kumpul Keluarga Justru bikin Ortu Makin Kesepian dan Terabaikan, Anak Sibuk sama HP dan Tak Saling Bicara

25 Februari 2026

Video Terbaru

Budaya Tionghoa Jogja dan Rahasia yang Jarang Dibicarakan

Budaya Tionghoa Jogja dan Rahasia yang Jarang Dibicarakan

28 Februari 2026
Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

25 Februari 2026
Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

23 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.