Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Catatan

Kuliah di UIN Jadi Tahan Penderitaan Hidup: Kumpul Mahasiswa “Modal Iman”, Terbiasa Mbambung dan Lapar

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
2 Maret 2026
A A
Kuliah kampus/PTN Islam Universitas Islam Negeri (UIN) bikin tahan penderitaan hidup gara-gara kumpul mahasiswa modal iman MOJOK.CO

Ilustrasi - Kuliah kampus/PTN Islam Universitas Islam Negeri (UIN) bikin tahan penderitaan hidup gara-gara kumpul mahasiswa modal iman. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Masjid dan seminar: tempat mengganjal perut hingga perbaikan gizi

Saya dan beberapa teman sesama mahasiswa UIN dulu pernah menjadi “snack dan nasi kotak hunter”. Kalau ada selebaran acara yang memungkinkan kami dapat snack gratis, maka kami akan berangkat. Lumayan untuk mengganjal perut. 

Kami juga rutin berbagi info: masjid mana yang terkenal selalu bagi-bagi nasi kotak setelah salat Jumat atau bagi-bagi menu berbuka selama bulan Ramadan. Kami tidak segan berpindah dari satu masjid ke masjid yang lain. 

Di area belakang UINSA (daerah perumahaan semi-elite di Wonocolo) kami memiliki masjid langganan. Kalau buka puasa menunya selalu ugal-ugalan: ada takjil gorengan, kurma, buah, teh hangat, kadang es buah. Setelah salat Magrib lalu dibagikan nasi kotak berisi menu yang masuk kategori “perbaikan gizi” bagi mahasiswa-mahasiswa seperti kami. Kebanyakan yang datang dan antre bukan bocil-bocil setempat. Tapi justru para mahasiswa UIN. 

Saya bahkan masih berbuka di sana bahkan setelah lulus kuliah. Terakhir adalah saat Ramadan 2023. Lumayan, buka puasa di masjid tersebut membuat saya sama sekali tidak keluar uang buat makan selama Ramadan. 

Bagaimana tidak. Sehabis berbuka, sering kali takmir masjid mengeluarkan sisa nasi kotak dari dalam ruangannya yang ternyata masih banyak. Lalu dibagikan kepada jemaah yang masih berdiam diri di masjid. Lumayan kan buat makan sahur. 

Tidak semua punya laptop dan kos, hidup penuh siasat untuk nugas dan tidur

Tidak hanya teman-teman saya di UINSA saja, ternyata di kampus UIN lain juga ada cerita serupa: mahasiswa kuliah tanpa modal laptop ataupun kos. 

Untuk urusan tugas kuliah, harus pinjam dari satu teman ke teman lain. Sementara untuk urusan tidur, ini malah lebih sepele, di manapun bisa jadi tempat tidur: sekretariat organisasi, warung kopi, di masjid (kalau jadi marbot), atau menjadi benalu di kos teman. Benar-benar kuliah “modal iman”: percaya akan pertolongan Allah Swt. 

Saya menjadi saksi hidup yang bersinggungan langsung dengan model mahasiswa kampus/PTN Islam itu dengan laku hidup memprihatinkan. Dulu saya kira saya sudah paling kere. Tapi saya harus lebih bersyukur, setidaknya saya sempat menabung hingga bisa membeli laptop. 

Laptop saya tersebut pada akhirnya menjadi laptop sejuta umat. Sebab, ada beberapa teman yang tidak punya laptop. Sehingga untuk keperluan tugas kuliah harus mengantre laptop saya. Ya benjut lah laptop saya itu, seperti saya tulis di, “Laptop ASUS: Meski Busuk dan Bikin Malu sama Orang Berlaptop “Apel Kroak”, Tapi Saksi Banyak Orang Tuntaskan Skripsi hingga Cari Cuan“. 

Tidak hanya laptop, tidak semua teman saya, mahasiswa UIN, punya kos. Beberapa ada yang nebeng di kos saya. Numpang naruh barang dan mandi. Sesekali numpang tidur kalau sedang sungkan tidur di warung kopi. 

Obrolan dengan alumnus UIN di Jogja, Semarang, hingga Jakarta menunjukkan fakta: ternyata mahasiswa semacam itu banyak ditemui di UIN. Benar-benar mode mbambung untuk survive di perantauan. 

Mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN): kuliah sambil kerja karena tidak ada pertolongan oang tua

Kuliah sambil kerja sebenarnya sudah umum di kalangan mahasiswa. Namun, untuk mahasiswa UIN, umumnya bekerja di sektor informal: jadi penjaga warung kopi, pelayan di warung makan, kuliah sambil jualan pentol, dan sejenisnya. 

Hasilnya jelas tidak seberapa. Itulah kenapa, hasil kerja itu ditabung lebih banyak untuk jaga-jaga bayar UKT di semester berikutnya. Sementara untuk makan bisa sekadarnya. 

Pasalnya, misalnya dalam kasus teman-teman saya, kalau tidak ubet mencari uang sendiri dan mengelolanya sebaik mungkin, kalau kehabisan uang opsinya hanya utang ke teman—yang itupun gambling juga apakah teman bisa mengutangi atau tidak. Tidak ada opsi aman: kehabisan uang langsung minta orang tua. 

Iklan

Terbiasa lapar dan capek, lebih tatag hadapi kehidupan

Beberapa teman alumni Universitas Islam Negeri pada akhirnya mengaku benar-benar mendapat banyak pelajaran kehidupan dari kuliah di kampus/PTN Islam tersebut. 

Terbiasa lapar dan capek membuat mereka merasa lebih tatag dalam menjalani kehidupan. Menghadapi penderitaan sudah biasa. Alih-alih merintih dan meratap, mereka justru makin ubet untuk mencari solusi. 

Penderitaan atau nasib buruk yang dialami, bukannya membuat mereka bersedih, tapi justru jadi bahan bercandaan. “Umume wong lanang, yo kudu mobat-mabit no sayangku (Umumnya laki-laki, ya harus pontang-panting dong sayangku).” Misalnya celetukan semacam itu. 

Ah, ini memang bukan sekadar tempaan fisik dan mental, tapi juga spiritual. Mereka menaruh keyakinan pada kuasa Ilahi di atas ikhtiar dan kuasa manusia. Itu membuat mereka selalu yakin: baik atau buruk situasi yang mereka hadapi, itu hanya persepsi. Yang paling tahu kan Gusti Allah. Bagi mereka, baik atau buruk, manusia hanya bisa menjalani dan menikmati. Itulah iman. Dan itu bagian yang, saya sendiri sebagai alumnus UIN, masih gelagapan mengamalkannya. 

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: 4 Hal yang Sudah Dianggap Keren dan Kalcer di Kalangan Mahasiswa UIN, Tapi Agak “Aneh” bagi Mahasiswa PTN Lain atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Halaman 2 dari 2
Prev12

Terakhir diperbarui pada 3 Maret 2026 oleh

Tags: buka puasa di masjidkampus islamkuliah uinmahasiswa UINPTNptn islamuinuniversitas islam negeri
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

mahasiswa penerima beasiswa KIP Kuliah ISI Jogja dihujat. MOJOK.CO
Edumojok

Sisi Lain Penerima KIP Kuliah yang Tak Dipahami Para Mahasiswa “Polisi Moral”, Dituntut Untuk Selalu Terlihat Miskin dan Menderita

12 Maret 2026
Będą gaya mahasiswa yang kuliah di PTN Universitas Islam Negeri (UIN) dulu dan sekarang MOJOK.CO
Edumojok

Untung Kuliah di UIN Era Dulu meski Ala Kadarnya, Beda Gaya dengan Mahasiswa Sekarang yang Bikin Terintimidasi

5 Maret 2026
Lulusan UT, Universitas Terbuka.MOJOK.CO
Edumojok

Diremehkan karena “Cuma” Lulusan UT, Tapi Bersyukur Nasib Lebih Baik daripada S1-S2 PTN Top yang Menang Gengsi tapi Nganggur

3 Maret 2026
Mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) kerap disalahpahami mahasiswa PTN atau PTS umum lain MOJOK.CO
Edumojok

4 Hal yang Sudah Dianggap Keren dan Kalcer di Kalangan Mahasiswa UIN, Tapi Agak “Aneh” bagi Mahasiswa PTN Lain

28 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Bukan Cuma Gaji Kecil, Pindah Kerja dari Jakarta ke Jogja Juga Mesti Siap dengan Budaya Pekewuh yang Memperlambat Kerjaan Mojok.co

Penyesalan Pindah Kerja dari Jakarta ke Jogja: Selain Gaji Kecil, Budaya Pekewuh Ternyata Memperlambat Kerjaan

22 Maret 2026
Mudik Lebaran mepet dari Jogja dengan kereta demi kumpul keluarga

Mahasiswa UGM Rela Kejar Mudik di Hari Lebaran demi Kumpul Keluarga, Lewatkan “War” Tiket karena Jadwal Kuliah

19 Maret 2026
Selalu royal ke teman saat butuh bantuan karena kesusahan. Giliran diri sendiri hidup susah eh diacuhkan pertemanan MOJOK.CO

Kapok Terlalu Royal ke Teman: Teman Datang karena Ada Butuhnya, Giliran Diri Sendiri Kesusahan Eh Diacuhkan meski Mengiba-iba

17 Maret 2026
Dear KUA, Apa Alasan Terbaik bagi Kami untuk Menikah saat Situasi Dunia Sedang Kacau-Kacaunya? MOJOK.CO

Dear KUA, Apa Alasan Terbaik bagi Kami untuk Menikah saat Situasi Dunia Sedang Kacau-Kacaunya?

18 Maret 2026
Suasana Kampung Ramadan Masjid Mlinjon, Klaten. MOJOK.CO

“Jajanan Murah” yang Tak Pernah Surut Pembeli di Kampung Ramadan Masjid Mlinjon Klaten

17 Maret 2026
Mahasiswa UGM hidup nomaden sambil kuliah di Jogja demi gelar sarjana

Mahasiswa UGM Kena DO dan Tinggal Nomaden karena Kendala Ekonomi, Kini Raih Gelar Sarjana Berkat “Menumpang” di Kos Teman

17 Maret 2026

Video Terbaru

Catatan Tan Malaka tentang Perburuan Aktivis 1926 yang Terlupakan

100 Tahun Naar De Republiek: Catatan Gelap Tan Malaka

20 Maret 2026
Agus Mulyadi dan Segala Obrolan Receh yang Kebablasan Jadi Reflektif

Agus Mulyadi dan Segala Obrolan Receh yang Kebablasan Jadi Reflektif

20 Maret 2026
Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.