Sebagian orang bilang tinggal di Jogja itu enak. Bisa slow living dengan gaya hidup kalcer, misalnya ngopi pagi di coffee shop estetik tanpa merasakan macet maupun polusi lalu berangkat kerja. Jauh dari gambaran kerasnya ibu kota Jakarta. Namun, bagi orang yang hidup lama di Jogja, tempat ini masih banyak menyimpan sisi gelap, alih-alih menyajikan kesenangan semata.
***
Sejak pindah kerja dari Jakarta ke Jogja, orang selalu bertanya ke saya, kenapa? Alasannya sederhana, saya ingin mencoba menata ulang hidup.
Berangkat pagi tidak harus tempur bersama pekerja lain menggunakan commuter line (KRL), atau kalau terlambat terpaksa harus menggunakan ojek online (ojol) yang tak terhindar dari pertempuran serupa, alias membelah lautan pengendara di tengah kemacetan Jakarta.
Makanya, saya sering salut dengan orang-orang yang mampu bertahan tinggal di Jakarta. Dan barangkali, saya termasuk “wong kalahan” karena tak kuat dengan kerasnya kehidupan Jakarta. Namun, tak apa, sebab saya merasa beruntung setelah pindah ke Jogja.
Di pagi hari, saya bisa menikmati pemandangan Gunung Merapi (jika tak mendung), sawah, dan para petani yang selalu tersenyum saat saya menyapa. Saya juga bertemu dengan orang-orang baik, ramah dan peduli tanpa memandang status, jabatan, ras, maupun masa lalu mereka.
Seperti nilai empan papan yang dipegang teguh warga Jogja selama ini, di mana mereka memegang erat unggah-ungguh dalam filosofi Jawa. Mirip dengan peribahasa di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Sayangnya saya lupa. Di balik romantisme tersebut, Jogja bisa juga membuat saya kesal, sedih, bahkan terenyuh.
Angin ribut di Jogja yang jarang terjadi
Hembusan angin di Jalan Kaliurang, Jogja tak seperti biasanya pada Sabtu, (24/1/2026) pukul 01.00 WIB. Saya pun terbangun dan melihat keluar kosan karena suara dahan dan ranting bergemuruh seolah akan roboh. Padahal, langit tampak cerah tanpa tanda-tanda hujan. Untungnya tak ada musibah macam-macam seperti yang saya pikirkan.
Namun, kondisi tersebut masih berlangsung hingga pukul 13.00 WIB. Saya yang hendak keluar di sore hari jadi ragu, karena media sosial telah ramai memberitakan kejadian pohon tumbang di jalanan Jogja akibat angin kencang.
Tak hanya pohon tumbang, beberapa kejadian seperti pengendara motor yang tewas, rumah-rumah warga yang rusak, hingga atap seng yang bertebaran juga terungkap di kolom komentar.
Menurut BMKG Stasiun Meteorologi Yogyakarta, angin kencang memang terjadi di beberapa wilayah di Jogja seperti Kabupaten Sleman, Kepanewon Pakem, hingga sekitarnya. Angin kencang ini dipicu oleh Siklon Tropis Luana atau badai dengan kekuatan besar di sekitar pantai barat laut Australia.
Akibatnya, angin di lapisan udara atas mencapai 925 mb atau 762 meter di sekitar wilayah Jawa dengan kecepatan berkisar antara 10-45 Knots (18 – 83 km/jam). Hal ini jarang terjadi dan tak pernah saya alami sebelumnya. Oleh sebab itu, saya agak takut.
Sementara itu, BMKG menjelaskan, fenomena ini bersifat lokal dan sementara, tapi tetap berpotensi menimbulkan dampak seperti pohon tumbang, kerusakan ringan bangunan, serta gangguan aktivitas masyarakat.
“Masyarakat dihimbau untuk tetap waspada serta menghindari berteduh di bawah pohon atau baliho, bangunan yang rentan, saat angin kencang terjadi. Untuk beberapa hari ke depan kecepatan angin diprediksi menurun,” dikutip dari keterangan resmi BMKG Stasiun Meteorologi Yogyakarta.
Motor mogok di tengah jalan saat angin ribut
Pukul 13.30 WIB, akhirnya saya memutuskan keluar kosan setelah mengecek kondisi sekitar. Seperti prediksi BMKG, kecepatan angin sedikit menurun waktu itu. Bahkan langit lebih cerah dibanding hari-hari sebelumnya.
Sayangnya, alam sekitar seperti tak mendukung niat saya keluar rumah. Baru 500 meter saya pergi, motor Mio saya mati di tengah jalan. Ingin kembali ke kosan, rasanya saya justru menghindar dari masalah. Toh, besok saya harus menuntun juga ke bengkel.
Daripada menunggu besok, akhirnya saya memutuskan menuntun motor saya hari itu juga ke bengkel yang jaraknya sekitar 500 meter. Beruntung, ada ojol yang membantu mendorong motor saya dari belakang.
Baca Halaman Selanjutnya
Keramahan bapak ojol yang bikin saya bersyukur













