Punya WiFi di rumah yang ada di desa itu bikin muak. Pengalamannya bikin saya teringat pada satu pepatah: “yang menabur benih, belum tentu yang menikmati buahnya”. Atau dalam bahasa yang lebih modern: “yang bayar tagihan tiap bulan, malah cuma kebagian emosinya.”
Itulah saya!
Derita desa terisolir, tak ada jarinan internet masuk
Semua ini bermula dari pandemi Covid-19 beberapa tahun silam. Kantor lama saya memberlakukan sistem work from home (WFH). Karena bosan terkurung di kota, saya memutuskan pulang ke desa selama hampir enam bulan.
Masalah klasik warga desa langsung menampar saya, bahkan sejak hari pertama: susah sinyal. Agar tetap bisa bekerja, saya harus menumpang WiFi di balai desa. Meski jaringannya tak lancar-lancar amat, tapi setidaknya pekerjaan kelar.
Setelah meninggalkan desa dan kembali ke kota, saya pikir kondisi bakal berbeda. Setidaknya, di kepala saya, ada satu atau dua jaringan provider yang masuk.
Namun, nyatanya sama saja. Penderitaan fakir sinyal ini berlanjut setiap kali saya pulang kampung.
Puncaknya, terjadi saat momen kumpul Lebaran. Saudara-saudara yang datang dari kota, ikut uring-uringan karena internet megap-megap. Mereka jadi tak bisa mengecek update pekerjaan.
Niat pasang WiFi agar rumah di desa jadi ramai
Pucuk dicinta, ulam tiba. Saat itu sedang gencar-gencarnya program internet desa. Beberapa tetangga sepakat patungan untuk memasang WiFi murah. Saya pun, tanpa babibu, langsung ikut mendaftar.
Biayanya lumayan ramah di kantong, cuma Rp150 ribu per bulan tiap rumah. Kecepatannya pun bisa diandalkan. Waktu itu, rasanya seperti sebuah investasi. Paling tidak, saat saya kembali ke kota, adik saya yang masih di rumah, serta saudara dan kerabat yang mampir, bisa menikmati fasilitas tersebut.
Tiap acara kumpul keluarga pun jadi makin asyik tanpa ada drama, “minta tethering dong”.
Namun, roda kehidupan berputar. Adik saya akhirnya menikah dan diboyong suaminya. Saudara dan kerabat yang biasa meramaikan rumah juga satu per satu pergi merantau, mengadu nasib di kota.
Praktis, rumah di desa kini hanya dihuni oleh dua orang tua yang amat saya sayangi: Simbah kakung dan Simbah putri. Karena fungsi utamanya sudah hilang, saya berniat menghentikan langganan WiFi tersebut.
Buat apa saya membuang Rp150 ribu tiap bulan untuk router yang memancarkan sinyal ke ruang tamu yang kosong?
Namun, saat niat itu saya utarakan, Simbah langsung menolak. Alasannya, sih, “Jangan diputus, biar rumah ramai.”
Ternyata, “ramai” yang dimaksud Simbah adalah hadirnya segerombolan bocil dari tetangga sekitar. Mendengar ada WiFi “menganggur”, teras rumah saya mendadak berubah fungsi menjadi tempat nongkrong.
Tiap hari mereka datang, duduk ngampar, dan berselancar di dunia maya. Ada yang main game, ada juga yang cuma TikTok-an.
Mabar sampai larut malam dan berisik
Awalnya saya tersenyum maklum. Pikir saya, meski saya tidak menikmati internetnya, setidaknya Simbah punya teman di rumah. Anak cucunya merantau semua, wajar kalau mereka butuh suara manusia agar rumah tidak terasa sepi.
Namun, pepatah dikasih hati minta jantung rupanya berlaku universal, termasuk bagi bocil-bocil desa.
Makin hari, kelakuan mereka makin meresahkan. Mereka tidak lagi bersikap selaiknya tamu. Bagi saya, kini mereka merasa seperti yang punya rumah sekaligus WiFi tersebut.
Pernah suatu kali saya pulang kampung–tentu dengan niat mencari ketenangan dari bisingnya kota. Apa yang saya dapat? Tengah malam, jarum jam sudah menunjuk angka 2 pagi, pasukan bocil ini masih asyik mabar game online di teras.
Seperti stereotipe gamer pada umumnya, mereka teriak-teriak, banting-banting barang saat kalah, sampai memaki dengan kebun binatang yang keluar dari mulut mungil mereka.
Tangan saya sudah gatal ingin mencabut kabel router agar mereka bubar. Tapi lagi-lagi, Simbah mencegah.
“Nggak enak sama tetangga,” katanya. Sebagai cucu yang tahu diri, sabda Simbah adalah hukum tertinggi. Saya mengalah dan tidur dengan perasaan dongkol.
Mulai berani nyolong duit
Ketidakenakan itu berubah menjadi rasa muak ketika batas-batas privasi mulai ditabrak. Pasukan WiFi gratisan ini mulai berani masuk ke dapur. Awalnya cuma numpang minta air putih, lama-lama berani membuka kulkas dan mengorek-ngorek isinya.
Bahkan saat Simbah sedang pergi ke kebun dan rumah kosong melompong, mereka main selonong masuk begitu saja.
Puncaknya adalah hilangnya uang di atas kulkas. Simbah bercerita, kadang uang kembalian beli galon atau sisa belanja sayur lenyap tanpa jejak. Dan itu terjadi tidak hanya sekali.
Bagi saya, ini bukan perkara nominal. Uang dua ribu rupiah, lima ribu rupiah, tidak akan membuat saya jatuh miskin. Ini perkara adab.
Meski cuma dapat emosinya, saya tak bisa memutus WiFi ini
Saya sudah berulang kali menyusun kata-kata di kepala untuk meyakinkan Simbah agar WiFi itu diputus saja. Argumen saya, sebenarnya sangat logis: saya cuma pulang 2-3 bulan sekali, dan keberadaan fasilitas itu ternyata mendatangkan lebih banyak mudarat berupa hilangnya tata krama anak-anak tetangga.
Namun, tiap kali kata-kata ini saya utarakan, argumen itu menguap begitu saja. “Biarin saja, biar rumah rame,” kalimat itu selalu diulang-ulang.
Di titik ini, saya akhirnya sadar dan menyerah pada keadaan.
Saya tidak lagi menganggap tagihan Rp150 ribu itu sebagai biaya berlangganan internet. Itu adalah “subsidi silang” yang harus saya bayarkan untuk menghilangkan suasana sepi di rumah.
Bagi lansia yang ditinggal merantau anak cucunya, keheningan adalah musuh paling menakutkan. Suara berisik bocil-bocil yang sedang mengumpat karena push rank, mungkin jauh lebih bisa ditoleransi oleh Simbah daripada suara detak jam dinding di ruang tengah yang sepi.
Jadi, biarlah WiFi itu tetap menyala. Biarlah tagihan itu tetap saya bayarkan setiap bulannya. Anggap saja ini konsekuensi yang harus saya tanggung demi melihat Simbah tidak merasa sendirian menghabiskan masa tuanya.
Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Pasang WiFi di Rumah Desa Boncos: Password Dipalak-Dicolong Tetangga, Masih Dicap Egois kalau Mati Disuruh Gali Kubur Sendiri atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
