Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Catatan

Coba-coba Boker di Toilet Bus Patas, Niat Legakan Perut Malah Dibikin Waswas hingga Repot saat Cebok

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
19 Juni 2025
A A
Pertama kali naik bus patas setelah sekian tahun naik bus ekonomi. Coba-coba pakai toilet bus malah berujung drama MOJOK.CO

Ilustrasi - Pertama kali naik bus patas setelah sekian tahun naik bus ekonomi. Coba-coba pakai toilet bus malah berujung drama. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Seumur-umur, karena lebih dekat dengan bus ekonomi, baru belakangan saya beberapa kali menggunakan bus patas. Terutama untuk rute Surabaya-Joga. Pengalaman naik bus patas itu juga yang pada akhirnya memberi saya pengalaman yang selama ini belum pernah saya alami: boker di toilet bus.

***

“Sebenarnya, toilet di bus itu bisa digunakan nggak, sih?”

Pertanyaan itu saya ajukan ke beberapa teman yang lebih sering naik bus patas ketimbang saya. Ada yang menjawab tidak tahu. Toh memang tidak pernah mengalami kebelet kencing atau boker juga selama perjalanan.

Sementara lainnya menyebut, toilet di dalam bus patas itu tidak lebih dari sekadar pajangan belaka. Tidak difungsikan. Hanya saja, penjelasan ini tidak begitu memuaskan karena bukan berangkat dari pengalaman. Tapi hanya karena melihat kondisi toilet yang kerap kali terkunci.

Tahan kencing berjam-jam di perjalanan

Sepanjang pengalaman saya naik bus ekonomi—baik di rute Surabaya-Semarang atau Surabaya-Jogja—saya memang lebih sering menyiksa diri. Pasalnya, jika kebelet pipis, satu-satunya pilihan hanyalah menahannya hingga tiba di rumah.

Misalnya dalam perjalanan Surabaya-Semarang untuk perjalanan pulang ke Rembang: Sering kali saya kebelet kencing justru ketika baru memasuki Lamongan.

Artinya, saya masih harus menahan kencing sekitar 3 jaman untuk kemudian benar-benar turun dari bus di depan gapura masuk desa saya. Mengingat, untuk perjalanan Surabaya-Rembang (juga sebaliknya), bus ekonomi yang saya tumpangi biasanya tidak berhenti lama. Di pom bensin misalnya.

Bus terus memacu kecepatan secara maraton. Hanya berhenti untuk keperluan menaik-turunkan penumpang saja.

Napas lega karena ngetem lama di terminal

Kalau untuk perjalanan rute Surabaya-Jogja saya cenderung lebih bisa bernapas lega. Ini rute yang amat panjang. Kalau bus jalan maraton seperti di pantura, bisa-bisa saya keburu kencing di celana.

Untungnya, bus ekonomi rute Surabaya-Jogja sering ngetem agak lama di terminal-terminal besar. Misalnya di Terminal Tirtonadi Solo, Terminal Purboyo Madiun, atau Terminal Anjuk Ladang Nganjuk.

Momen ngetem itu memberi saya kesempatan untuk “setor” di toilet terminal. Sehingga saya tidak harus menyiksa diri dengan menahan kencing berjam-jam.

Tapi kalau soal kebelet boker, untungnya selama menggunakan moda transportasi bus ekonomi di rute manapun, perut saya relatif lebih bisa diajak kompromi. Mungkin karena sering kali saya bepergian dalam kondisi perut tidak terisi. Jadi tidak pernah mengalami mules-mules.

Pertama kali naik bus patas, pertama kali boker di tengah perjalanan

Penghujung 2024 lalu saya untuk pertama kalinya mencoba naik bus patas (Eka) dari Jogja ke Surabaya. Biar memangkas waktu perjalanan. Dan untuk pertama kalinya saya mengalami mules-mules di dalam bus.

Iklan

Jika biasanya saya bepergian tanpa sarapan/makan lebih dulu, hari itu saya makan cukup banyak. Makan pedas pula. Yakni ketika saya makan di sebuah rumah makan di Ngawi yang merupakan bagian dari kupon bus (Jadi untuk perjalanan Jogja-Surabaya, karcis seharga Rp155 ribu yang saya bayarkan sudah termasuk dengan kupon makan di rumah makan mitra bus Eka di Ngawi).

Walhasil, tak lama berselang ketika bus patas yang saya naiki meninggalkan Ngawi, perut saya mules tak tertahankan. Tapi saya tak punya keberanian untuk bertanya ke kondektur, apakah toilet di bagian belakang bisa digunakan?

Beberapa saat saya menahan mules. Lalu saya melihat ada seorang penumpang yang menggunakan toilet tersebut untuk kencing. Ah, lega sekali rasanya. Tanpa repot-repot bertanya ke kondektur, saya akhirnya tahu kalau toilet itu bisa digunakan.

Saya langsung memutuskan antre. Setelah si penumpang yang menggunakan toilet bus patas itu keluar, saya langsung bergegas masuk ke toilet. Sungguh isi perut saya sudah hendak berojol.

Boker di toilet bus patas tak semudah yang saya bayangkan

Sementara isi perut sudah berada di pucuk, saya malah dibuat susah payah saat mencoba menutup pintu toilet di bus patas tersebut. Ternyata, kunci dari dalam sudah rusak. Hanya bisa dikunci dari luar.

Masalahnya, jika tidak terkunci dari dalam, pintu tersebut bisa-bisa terbuka saat bus tengah ngerem mendadak. Saya jadi bertanya-tanya, bagaimana cara penumpang sebelumnya mengatasi pintu rusak ini?

Saya nyaris mengurungkan niat untuk boker. Tapi sial, kecenderungan orang kebelet boker: jika sudah dekat dengan toilet, rasanya sudah tidak bisa ditahan lagi.

Maka, ya sudah, saya harus boker dalam kondisi penuh siasat. Tangan kiri saya terus memegangi gagang pintu sambil meloloskan isi perut ke lubang wc.

Percayalah, itu sungguh sangat merepotkan. Sebab, seperti dugaan saya, jika bus patas itu ngerem mendadak, yang terjadi adalah pintunya terdorong terbuka. Ditambah kondisi di toilet itu gelap gulita karena ketiadaan lampu. Jadi saya mengandal lampu sorot dari ponsel.

Dan dengan satu tangan—kiri pula—saya susah payah menahan pintu toilet agar tidak terbuka seterbuka-bukanya. Karena pintunya terasa berat. Kalau terpaksa terbuka, ya paling terbuka sedikit. Tidak sampai terbuka byak.

Untungnya, tidak ada penumpang yang duduk di belakang dekat toilet. Rata-rata di depan dan di tengah. Jadi selain mengurangi potensi terintip dari luar, paling tidak suara-suara khas orang boker tidak terdengar pula.

Boker belum tuntas malah jadi waswas

Saya cukup lama terduduk di wc jongkok toilet bus patas itu. Isi perut saya seperti tak habis-habis. Rasa mules juga tak kunjung minggat.

Di tengah situasi itu, menahan mules dan tangan yang mulau pegal karena menahan gagang pintu, tiba-tiba saya teringat sesuatu: Banyak kasus kehilangan barang berharga di bus Eka.

Kasus-kasus itu saya dapati dari Facebook hingga pemberitaan media massa. Sekalipun patas, tapi bus tersebut tidak menjamin penumpang aman dari kehilangan.

Belakangan saya bahkan mendengar sendiri, seorang penumpang bus Eka yang kehilangan laptop berisi tesis S2-nya saat tertidur dalam perjalanan. Bisa dibaca di tulisan, “Apes saat Naik Bus Eka dan Sumber Selamat, Lengah Dikit Dompet hingga Laptop Lenyap Ditukar Batu Bata”.

Saat itu, tas saya yang berisi laptop kantor tergeletak begitu saja di kursi yang saya duduki. Lengkap dengan dompet berisi surat-surat penting dan beberapa lembar uang. Tidak mungkin dong jika tas besar itu saya bawa masuk ke dalam toilet bus. Saya hanya membawa ponsel.

Bokerpun menjadi tak jenak. Saya gelisah bukan main. Alhasil, saya paksa perut saya agar segera menuntaskan hajatnya. Agar saya bisa lekas memastikan kalau barang-barang saya masih aman.

Cebok pakai drama

Dalam situasi gelisah, ketika hendak cebok, kok ya sial betul di dalam bak air hanya tersisa sangat sedikit air. Saya putar kran di sana, tapi tidak mengeluarkan air sama sekali.

Dengan sisa-sia air di dalam bak toilet bus patas itu, akhirnya saya prioritaskan untuk membersihkan diri saya dulu. Sisanya, yang tinggal koretan, baru saya gunakan untuk mengguyur lubang wc. Entah bersih atau tidak, saya tidak peduli. Mau bagaimana lagi, airnya sudah tidak bersisa kok.

Setelah tuntas, saya bergegas keluar, menutup rapat pintu toilet, lalu membongkar-bongkar dan mengecek barang-barang berharga di tas saya yang tergelat di kursi. Untungnya masih utuh. Saya bisa bernapas lega karena barang saya tidak hilang, perutpun sudah tidak mules lagi.

Yang membuat saya tahan napas kemudia adalah: Ada satu penumpang yang tampak masuk ke toilet. Bisa jadi dia akan berhadapan dengan kotoran yang tak tersiram tuntas di lubang wc, dengan bau kotoran manusia yang tersisa. Saya lantas memilih pura-pura tidur saja.

Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Orang Kaya Naik Bus Ekonomi: Coba-coba Berujung Tersiksa, Dimaki Pengamen sampai Tahan Kencing Berjam-jam atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

 

 

Terakhir diperbarui pada 19 Juni 2025 oleh

Tags: apakah toilet bus bisa digunakan?busbus ekonomibus pataspilihan redaksitoilet bus
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Reporter Mojok.co

Artikel Terkait

franz kafka, pekerja urban, serangga.MOJOK.CO
Ragam

Kita Semua Cuma Kecoa di Dalam KRL Ibu Kota, yang Bekerja Keras Hingga Lupa dengan Diri Kita Sebenarnya

15 Januari 2026
alfamart 24 jam.MOJOK.CO
Ragam

Alfamart 24 Jam di Jakarta, Saksi Para Pekerja yang Menolak Tidur demi Bertahan Hidup di Ibu Kota

14 Januari 2026
nongkrong di kafe, jakarta selatan.MOJOK.CO
Ragam

Nongkrong Sendirian di Kafe Menjadi “Budaya” Baru Anak Muda Jaksel Untuk Menjaga Kewarasan

14 Januari 2026
Mie ayam di Jakarta jadi saksi para pekerja berusaha tetap waras meski penuh beban hidup MOJOK.CO
Kuliner

Mie Ayam di Jakarta, Saksi Pekerja Berusaha Waras setelah Berkali-kali Nyaris Gila karena Kerja dan Beban dari Orang Tua

14 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Keluar dari organisasi mahasiswa ekstra kampus (ormek) PMII, dicap pengkhianat tapi lebih sukses MOJOK.CO

Nekat Keluar PMII karena Tak Produktif: Dicap Pengkhianat-Nyaris Dihajar, Tapi Bersyukur Kini “Sukses” dan Tak Jadi Gelandangan Politik

13 Januari 2026
Mobilitas bus pariwisata menjadi tantangan tersendiri bagi Kawasan Sumbu Filosofi (KSF) dan tata kelola di Jogja MOJOK.CO

Lalu-lalang Bus Pariwisata Jadi “Beban” bagi Sumbu Filosofi Jogja, Harus Benar-benar Ditata

10 Januari 2026
Sisi Gelap Bisnis Es Teh Jumbo, Tak Cuan Bisnis Melayang MOJOK.CO

Dua Kisah Bisnis Cuan, Sisi Gelap Bisnis Es Teh Jumbo yang Membuat Penjualnya Menderita dan Tips Memulai Sebuah Bisnis

15 Januari 2026
Olin, wisudawan terbaik Universitas Muhammadiyah Madiun (UMMAD) pada 2025. MOJOK.CO

Pengalaman Saya sebagai Katolik Kuliah di UMMAD, Canggung Saat Belajar Kemuhammadiyahan tapi Berhasil Jadi Wisudawan Terbaik

14 Januari 2026
Kisah Wisudawan Terbaik ITB, Berhasil Selesaikan S2 dari Ketertarikan Menyusuri Kampung Tua di Pulau Jawa. MOJOK.CO

Kisah Wisudawan Terbaik ITB, Berhasil Selesaikan Kuliah S2 dari Ketertarikan Menyusuri Kampung Tua di Pulau Jawa

12 Januari 2026
“Andai Ibu Tidak Menikah dengan Ayah”: KDRT Tidak Selalu Datang dari Kekerasan, tapi Juga Lewat Ketidakpedulian .MOJOK.CO

“Andai Ibu Tidak Menikah dengan Ayah”: KDRT Tidak Selalu Datang dari Kekerasan, tapi Juga Lewat Ketidakpedulian 

11 Januari 2026

Video Terbaru

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

13 Januari 2026
Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

11 Januari 2026
Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

8 Januari 2026
Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.