Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Catatan

Pertama Kali Jalan-jalan ke “Negeri Tiongkok Kecil” Lasem, Banyak Situs Sejarah Mangkrak Tak Terawat

Aisyah Amira Wakang oleh Aisyah Amira Wakang
27 Januari 2026
A A
Suasana "Tiongkok Kecil" di Lasem. MOJOK.CO

Rumah-rumah di gang Lasem yang bergaya khas Tiongkok. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Barangkali saya tidak akan ke Lasem kalau tidak ada agenda liputan ke Kudus dan diajak beberapa orang kru Mojok, sebab nama kecamatan di Kabupaten Rembang itu masih terasa asing di telinga saya. Dari beberapa cerita, saya akhirnya tahu keistimewaan Lasem dan alasannya dijuluki “Tiongkok Kecil”.

***

Sama seperti namanya yang terdengar asing di telinga saya, untuk menuju Lasem masih jarang ada transportasi yang berlalu lalang. Sebetulnya, menurut informasi yang saya dengar dari beberapa kawan yang merupakan orang Kudus dan Rembang, akses menuju Lasem terbilang mudah bagi yang sudah terbiasa naik bus.

Dari Kudus, kami hanya perlu mencegatnya di terminal dan menunggu beberapa menit sampai bus cepat terbatas (Patas) Jaya Utama berwarna biru atau merah tiba. Sayangnya, hari itu Sabtu (20/12/2025), akses Jalan Pantura terlihat padat, sehingga bus yang katanya akan berlalu lalang setiap 5 menit sekali justru tak muncul.

Melansir dari Detik.com, Jalur Pantura Kudus-Demak mengalami perbaikan di ruas kilometer 30+750 hingga 32+025 jelang libur natal dan tahun baru sejak Senin (15/12/2025). Kemacetan pun tak terhindarkan sampai jarak 10 kilometer. Belum lagi, lonjakan volume kendaraan saat libur nataru.

Karena sudah setengah jam menunggu, saya dan kru Mojok lain akhirnya memesan ojek mobil lewat aplikasi. Kami menunggu di toko kelontong dekat terminal sembari berharap ada yang mau menerima pesanan kami dari Kudus ke Lasem. 

Siapa sangka, ada saja tukang ojek yang menerima dengan biaya sekitar Rp300 ribu lebih. Ojek mobil itu bilang, ia sekalian ingin jalan-jalan ke Lasem karena jarang ke sana sekaligus ingin mencicipi kuliner. Alhasil, berceritalah dia dengan riang sepanjang perjalanan.

Rumah Oei Lasem dari tahun 1818

Rumah Oei Am. MOJOK.CO
Rumah Oei Am yang berdiri sejak taun 1818. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

Setelah hampir 2 jam di perjalanan, kami akhirnya tiba di penginapan Rumah Oei Lasem, Jalan Jatigoro, Karangturi yang berdiri sejak tahun 1818. Penginapan ini sempat vakum selama 70 tahun dan baru dibuka kembali pada tahun 2016 sebagai rumah heritage peranakan yang menjadi pusat seni, budaya, dan kuliner.

Sejak berdiri di pintu masuk, kami sudah dihadapkan dengan dua lapis pintu berwarna cokelat tua berukir huruf Cina keemasan. Pintu pertama tak terlalu tinggi, sekitar setengahnya dari pintu kedua. Khas bangunan rumah-rumah negeri Tiongkok.

Di halaman depan bangunan itu terdapat banyak kursi besi dan meja yang dipakai pengunjung untuk nongkrong sembari mencicipi beragam kuliner yang tersedia. Sebab tak jauh dari sana, terdapat sebuah Dapur Lasem dan kafe yang khusus menjual kopi lelet–tradisi ngopi di Lasem dengan seni membatik batang rokok.

Ada juga rumah utama yang memajang segala macam pernak-pernik perlengkapan rumah tangga milik keluarga pecinan, sekaligus menjadi tempat ibadah pribadi bagi keluarga tersebut. Dari sana, saya jadi tahu tentang sejarah dan silsilah keluarga pemilik Rumah Oei.

“Rumah ini dulunya milik Oei Am, seorang peranakan Cina yang merantau ke pesisir Lasem saat usianya 15 tahun dan kini diurus oleh keturunannya generasi ke-7. Bangunan ini biasanya dipakai sebagai tempat ibadah pribadi milik keluarga Oei,” ucap penjaga penginapan Rumah Oei Lasem, Sabtu (20/12/2025).

“Nah, untuk penginapan di belakang sana memang baru dibangun,” lanjutnya.

Arsitektur penginapannya pun tak kalah menarik. Terdapat beberapa kamar di lantai pertama dan lantai kedua. Saya sarankan untuk memilih kamar di lantai pertama jika barang bawaan Anda cukup banyak karena hanya ada tangga untuk naik ke atas.

Iklan

Homestay tersebut memang jauh dari fasilitas hotel bintang lima, namun memberikan nuansa klasik khas Tiongkok dengan kasur sederhana tapi cukup membuat nyaman. Satu kamar bisa diisi oleh 4 orang bahkan lebih.

Mengitari negeri “Tiongkok Kecil” Lasem

Bangunan akulturasi Jawa dan Tiongkok. MOJOK.CO
Sebuah bangunan yang tak jauh dari Pondok Pesantren Kauman Lasem, yang menonjolkan akulturasi budaya Tiongkok dan Jawa. (Dena Pasha/Mojok.co)

Selain, Rumah Oei Lasem, terdapat juga penginapan lain yang memiliki gaya khas serupa seperti Lasem Boutique Hotel hingga Tiongkok Kecil Heritage Lasem. Tak hanya penginapan, bangunan khas Tiongkok juga bisa dijumpai di rumah-rumah warga, bahkan Pondok Pesantren Kauman Lasem yang menonjolkan akulturasi budaya Tiongkok dan Jawa.

Esok paginya, kami mencoba berkeliling di sekitar penginapan. Awalnya, kami ingin menggunakan ojek online tapi melihat jarak tempat wisata yang relatif dekat dengan penginapan, kami pun memutuskan jalan kaki. Tak lupa membawa kamera, topi, payung, dan botol minum. 

Sebab jujur saja, kunjungan kami ke Lasem terjadi saat cuaca panas tapi malamnya mulai hujan. Sementara, kami juga jarang menemukan toko kelontong yang menjual air mineral di sekitar perkampungan. 

Belum lagi, ada beberapa tempat wisata yang tutup seperti Rumah Opium atau Rumah Candu, Kelenteng Tjoe An Kiong, hingga Museum Nyah Lasem. Makanya, kami mencoba alternatif lain untuk pergi ke lokasi wisata yang agak jauh dari penginapan, yakni Pohon Trembesi Raksasa di Desa Doropayung.

Kami pun memilih menunggu di Lasem Boutique Hotel untuk memesan ojek online, tapi sayang tak ada yang mau menerima pesanan kami. Alhasil, kami memutuskan kembali ke penginapan dengan melewati tempat-tempat wisata yang tutup tadi.

Museum Nyah Lasem. MOJOK.CO
Agik NS, pengurus Museum Nyah Lasem. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

Beruntung, saat kami melewati Museum Nyah Lasem, gerbangnya sudah terbuka dan ada penjaga yang tampak bersih-bersih di dalam. Di sanalah, kami terhibur dengan Pameran Arsip Memori Kolektif Bangsa untuk mengenang sejarah batik di Lasem.

Akulturasi budaya yang perlu dipertahankan

Dari pengalaman ini saya sadar, rasanya tak cukup untuk mengunjungi Lasem selama dua hari. Sebab ada banyak tempat wisata menarik yang belum sempat saya kunjungi, seperti Masjid Jami’ Baiturrahman Lasem sebagai pusat wisata religi, wisata alam di Desa Sendang Coyo, hingga pantai-pantai yang mengelilingi Lasem.

Lebih dari itu, interaksi warganya yang terbuka dengan wisatawan juga membuat saya jatuh cinta dengan “Tiongkok Kecil” ini. Seperti saat saya dan kru Mojok mengelilingi Desa Karangturi di sore hari. Ada sepasang suami istri keturunan Cina yang sudah sepuh dan duduk menikmati sore di depan rumahnya, lalu menyapa kami.

Sebagai penduduk yang tinggal di Lasem selama 25 tahun, Khanti Puji mengakuinya. Di Lasem, toleransi antar agama dan sukunya begitu kuat. Nyaris tak ada perselisihan. Sayangnya, ia berharap akulturasi budaya pada simbol-simbol tertentu itu tak akan meredup.

“Banyak rumah-rumah kuno yang menjadi korban alias dijual karena kurangnya kesadaran masyarakat akan nilai pentingnya bangunan peninggalan bersejarah tersebut, bahkan situs-situs sejarah yang belum dirawat dengan baik,” kata Khanti, Minggu (21/12/2025).

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchammad Aly Reza

BACA JUGA: Jalan Pantura Rembang di Musim Hujan adalah Petaka bagi Pengendara Motor, Keselamatan Terancam dari Banyak Sisi  atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 27 Januari 2026 oleh

Tags: lasemMuseum Nyah Lasemrumah canduRumah Oei Lasemwisata di Lasem
Aisyah Amira Wakang

Aisyah Amira Wakang

Artikel Terkait

LKSA Marganingsih Lasem: rumah bagi anak-anak timur menyemai mimpi luhur MOJOK.CO
Ragam

Marganingsih Lasem: Rumah bagi Anak-anak Timur Menyemai Mimpi Luhur, Harmoni di Antara Kaum Santri, Tionghoa, dan Jawa

26 November 2025
Perempatan Timbangan Medan, Persimpangan Paling Ngeri yang Bikin Nyawa Pengendara 'Berharga Murah'.MOJOK.CO
Ragam

Rembang Jawa Tengah Kota Bersejarah yang Makin Mangkrak dan Menyedihkan, Jalan Rusak Dipelihara karena Bupati Sibuk Ngejar Akhirat

8 Juli 2024
kereta api semarang-lasem mojok.co
Ekonomi

Menanti Jalur Kereta Api Bersejarah Semarang–Lasem Aktif Kembali, Dulu Pusat Perdagangan di Pulau Jawa

13 Juli 2023
Es Putr Pak Sumijan Lasem
Kuliner

Warung Es Puter Pak Sumijan Lasem: Kemewahan di Balik Uang Rp5 Ribu

15 Agustus 2022
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Berkah di Balik Hujan Lebat di Istora Senayan, Tukang Ojek Payung Ketiban Rezeki Event Indonesia Masters 2026.MOJOK.CO

Berkah di Balik Hujan Lebat di Istora Senayan, Tukang Ojek Payung Ketiban Rezeki Event Indonesia Masters 2026

22 Januari 2026
Potensi Sebenarnya Gudeg Jogja Dibunuh oleh Branding Wisata (Unsplash)

Potensi Besar Gudeg Jogja Mati karena Branding Makanan Khas Jogja yang Cuma Dikenal Sebagai Makanan Serba Manis

23 Januari 2026
Users kereta api ekonomi Sri Tanjung kaget saat pertama kali naik KA Jaka Tingkir New Generation dalam perjalanan Jogja-Jakarta MOJOK.CO

Users Sri Tanjung Kaget saat Pertama Kali Naik KA Jaka Tingkir: Kereta Api Ekonomi Nggak Kayak Ekonomi, Malu karena Jadi Kampungan

27 Januari 2026
Ulfi Rahmawati, penerima beasiswa LPDP alumnus UNY. MOJOK.CO

Tak Melihat Masa Depan Cerah sebagai Guru Honorer di Ponorogo, Pilih Kuliah S2 dengan LPDP hingga Kerja di Perusahaan Internasional

21 Januari 2026
Alasan Sepele yang Membuat Orang Sleman seperti Saya Iri dengan Kota Jogja Mojok.co

Alasan Sepele yang Membuat Orang Sleman seperti Saya Iri dengan Kota Jogja

25 Januari 2026
Zainal Arifin Mochtar dan Tawa yang Tidak Sepenuhnya Bercanda

Roasting Zainal Arifin Mochtar (Bagian 2): Strategi Biar Bisa Jadi Guru Besar

24 Januari 2026

Video Terbaru

Zainal Arifin Mochtar dan Tawa yang Tidak Sepenuhnya Bercanda

Roasting Zainal Arifin Mochtar (Bagian 2): Strategi Biar Bisa Jadi Guru Besar

24 Januari 2026
Zainal Arifin Mochtar Bukan Guru Besar Biasa!

Roasting Zainal Arifin Mochtar (Bagian 1): Bukan Guru Besar Biasa, Diuji Bukan dengan Pujian

21 Januari 2026
Menjemput Air dari Gua Jomblang dan Menata Ulang Hidup di Gendayakan

Menjemput Air dari Gua Jomblang dan Menata Ulang Hidup di Gendayakan

20 Januari 2026
Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.