Barangkali saya tidak akan ke Lasem kalau tidak ada agenda liputan ke Kudus dan diajak beberapa orang kru Mojok, sebab nama kecamatan di Kabupaten Rembang itu masih terasa asing di telinga saya. Dari beberapa cerita, saya akhirnya tahu keistimewaan Lasem dan alasannya dijuluki “Tiongkok Kecil”.
***
Sama seperti namanya yang terdengar asing di telinga saya, untuk menuju Lasem masih jarang ada transportasi yang berlalu lalang. Sebetulnya, menurut informasi yang saya dengar dari beberapa kawan yang merupakan orang Kudus dan Rembang, akses menuju Lasem terbilang mudah bagi yang sudah terbiasa naik bus.
Dari Kudus, kami hanya perlu mencegatnya di terminal dan menunggu beberapa menit sampai bus cepat terbatas (Patas) Jaya Utama berwarna biru atau merah tiba. Sayangnya, hari itu Sabtu (20/12/2025), akses Jalan Pantura terlihat padat, sehingga bus yang katanya akan berlalu lalang setiap 5 menit sekali justru tak muncul.
Melansir dari Detik.com, Jalur Pantura Kudus-Demak mengalami perbaikan di ruas kilometer 30+750 hingga 32+025 jelang libur natal dan tahun baru sejak Senin (15/12/2025). Kemacetan pun tak terhindarkan sampai jarak 10 kilometer. Belum lagi, lonjakan volume kendaraan saat libur nataru.
Karena sudah setengah jam menunggu, saya dan kru Mojok lain akhirnya memesan ojek mobil lewat aplikasi. Kami menunggu di toko kelontong dekat terminal sembari berharap ada yang mau menerima pesanan kami dari Kudus ke Lasem.
Siapa sangka, ada saja tukang ojek yang menerima dengan biaya sekitar Rp300 ribu lebih. Ojek mobil itu bilang, ia sekalian ingin jalan-jalan ke Lasem karena jarang ke sana sekaligus ingin mencicipi kuliner. Alhasil, berceritalah dia dengan riang sepanjang perjalanan.
Rumah Oei Lasem dari tahun 1818

Setelah hampir 2 jam di perjalanan, kami akhirnya tiba di penginapan Rumah Oei Lasem, Jalan Jatigoro, Karangturi yang berdiri sejak tahun 1818. Penginapan ini sempat vakum selama 70 tahun dan baru dibuka kembali pada tahun 2016 sebagai rumah heritage peranakan yang menjadi pusat seni, budaya, dan kuliner.
Sejak berdiri di pintu masuk, kami sudah dihadapkan dengan dua lapis pintu berwarna cokelat tua berukir huruf Cina keemasan. Pintu pertama tak terlalu tinggi, sekitar setengahnya dari pintu kedua. Khas bangunan rumah-rumah negeri Tiongkok.
Di halaman depan bangunan itu terdapat banyak kursi besi dan meja yang dipakai pengunjung untuk nongkrong sembari mencicipi beragam kuliner yang tersedia. Sebab tak jauh dari sana, terdapat sebuah Dapur Lasem dan kafe yang khusus menjual kopi lelet–tradisi ngopi di Lasem dengan seni membatik batang rokok.
Ada juga rumah utama yang memajang segala macam pernak-pernik perlengkapan rumah tangga milik keluarga pecinan, sekaligus menjadi tempat ibadah pribadi bagi keluarga tersebut. Dari sana, saya jadi tahu tentang sejarah dan silsilah keluarga pemilik Rumah Oei.
“Rumah ini dulunya milik Oei Am, seorang peranakan Cina yang merantau ke pesisir Lasem saat usianya 15 tahun dan kini diurus oleh keturunannya generasi ke-7. Bangunan ini biasanya dipakai sebagai tempat ibadah pribadi milik keluarga Oei,” ucap penjaga penginapan Rumah Oei Lasem, Sabtu (20/12/2025).
“Nah, untuk penginapan di belakang sana memang baru dibangun,” lanjutnya.
Arsitektur penginapannya pun tak kalah menarik. Terdapat beberapa kamar di lantai pertama dan lantai kedua. Saya sarankan untuk memilih kamar di lantai pertama jika barang bawaan Anda cukup banyak karena hanya ada tangga untuk naik ke atas.
Homestay tersebut memang jauh dari fasilitas hotel bintang lima, namun memberikan nuansa klasik khas Tiongkok dengan kasur sederhana tapi cukup membuat nyaman. Satu kamar bisa diisi oleh 4 orang bahkan lebih.
Mengitari negeri “Tiongkok Kecil” Lasem

Selain, Rumah Oei Lasem, terdapat juga penginapan lain yang memiliki gaya khas serupa seperti Lasem Boutique Hotel hingga Tiongkok Kecil Heritage Lasem. Tak hanya penginapan, bangunan khas Tiongkok juga bisa dijumpai di rumah-rumah warga, bahkan Pondok Pesantren Kauman Lasem yang menonjolkan akulturasi budaya Tiongkok dan Jawa.
Esok paginya, kami mencoba berkeliling di sekitar penginapan. Awalnya, kami ingin menggunakan ojek online tapi melihat jarak tempat wisata yang relatif dekat dengan penginapan, kami pun memutuskan jalan kaki. Tak lupa membawa kamera, topi, payung, dan botol minum.
Sebab jujur saja, kunjungan kami ke Lasem terjadi saat cuaca panas tapi malamnya mulai hujan. Sementara, kami juga jarang menemukan toko kelontong yang menjual air mineral di sekitar perkampungan.
Belum lagi, ada beberapa tempat wisata yang tutup seperti Rumah Opium atau Rumah Candu, Kelenteng Tjoe An Kiong, hingga Museum Nyah Lasem. Makanya, kami mencoba alternatif lain untuk pergi ke lokasi wisata yang agak jauh dari penginapan, yakni Pohon Trembesi Raksasa di Desa Doropayung.
Kami pun memilih menunggu di Lasem Boutique Hotel untuk memesan ojek online, tapi sayang tak ada yang mau menerima pesanan kami. Alhasil, kami memutuskan kembali ke penginapan dengan melewati tempat-tempat wisata yang tutup tadi.

Beruntung, saat kami melewati Museum Nyah Lasem, gerbangnya sudah terbuka dan ada penjaga yang tampak bersih-bersih di dalam. Di sanalah, kami terhibur dengan Pameran Arsip Memori Kolektif Bangsa untuk mengenang sejarah batik di Lasem.
Akulturasi budaya yang perlu dipertahankan
Dari pengalaman ini saya sadar, rasanya tak cukup untuk mengunjungi Lasem selama dua hari. Sebab ada banyak tempat wisata menarik yang belum sempat saya kunjungi, seperti Masjid Jami’ Baiturrahman Lasem sebagai pusat wisata religi, wisata alam di Desa Sendang Coyo, hingga pantai-pantai yang mengelilingi Lasem.
Lebih dari itu, interaksi warganya yang terbuka dengan wisatawan juga membuat saya jatuh cinta dengan “Tiongkok Kecil” ini. Seperti saat saya dan kru Mojok mengelilingi Desa Karangturi di sore hari. Ada sepasang suami istri keturunan Cina yang sudah sepuh dan duduk menikmati sore di depan rumahnya, lalu menyapa kami.
Sebagai penduduk yang tinggal di Lasem selama 25 tahun, Khanti Puji mengakuinya. Di Lasem, toleransi antar agama dan sukunya begitu kuat. Nyaris tak ada perselisihan. Sayangnya, ia berharap akulturasi budaya pada simbol-simbol tertentu itu tak akan meredup.
“Banyak rumah-rumah kuno yang menjadi korban alias dijual karena kurangnya kesadaran masyarakat akan nilai pentingnya bangunan peninggalan bersejarah tersebut, bahkan situs-situs sejarah yang belum dirawat dengan baik,” kata Khanti, Minggu (21/12/2025).
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Muchammad Aly Reza
BACA JUGA: Jalan Pantura Rembang di Musim Hujan adalah Petaka bagi Pengendara Motor, Keselamatan Terancam dari Banyak Sisi atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














