8 tahun setelahnya, baru saya sadari Android juga unggul
Dari obrolan berisi percakapan yang kira-kira seperti ini:
“Jadi, shortcut-mu dipakai apa?”
“Water eject aja.”
“Wah, padahal bisa dimanfaatkan itu. Bisa optimal itu dipakai fungsinya.”
Barulah, saya sadari bahwa iPhone yang saya pakai selama delapan tahun adalah sia-sia. Akhir-akhir ini juga, saya mulai beralih pada hp kedua yang menemani saya sejak Agustus 2025 lalu, ialah Infinix Note 50 S.
View this post on Instagram
Pada awalnya, adaptasi tentu dibutuhkan. Mulai dari layar saja, iPhone dan Android terasa berbeda di sentuhan. Namun tidak lama setelah itu, Infinix justru lebih nyaman dan sering saya bawa ke mana-mana ketimbang iPhone.
Meski pada awal perkenalan kami, saya sempat bertanya ke salah seorang teman karena sepenuhnya tidak mengerti menggunakan Android.
“Gimana cara ‘back’-nya, ya?”
Sesederhana itu, saya tanyakan. Namun setelahnya, tidak perlu ada kebingungan karena fitur-fitur Infinix (sebagai representasi Android) berprinsip tampil. Sebaliknya, iPhone memilih menyembunyikan fitur-fiturnya sehingga tidak jarang pengguna harus lari ke mesin pencarian dan mengetik: cara ganti wallpaper iPhone.
IklanView this post on Instagram
Selain itu, saya bisa membandingkan performa iPhone yang tertinggal dibanding Infinix, dari masalah penggunaannya yang pernah saya alami. Misalnya, soal kamera, saya tidak perlu terlalu cemas akan kamera shaking pada Infinix.
Soal baterai juga, saya tidak perlu siaga membawa charger ke mana-mana seperti halnya saya selalu was-was kalau iPhone akan kehabisan baterai. Justru, dibandingkan dengan iPhone yang perlu diisi daya lebih dari 2 kali sehari. Infinix memungkinkan saya hanya mengisi dayanya 2 hari sekali. Sungguh, canggih.
Bagi yang lebih dulu menggunakan Android, justru sebaliknya
Setelah enam bulan menggunakan dua ponsel, yaitu iPhone dan Android. Bisa saya katakan, Android terasa lebih nyaman untuk penggunaan sehari-hari, padahal alasan utama saya membeli iPhone adalah penggunaannya untuk daily.
Namun, yang berubah pikiran ini hanyalah saya—satu dari sebagian kecil. Dari sudut pandang teman yang baru saja menggunakan iPhone dari sebelumnya Android (Samsung), keduanya mempunyai kelebihan masing-masing yang tidak bisa disamakan.
Ini juga selaras dengan data Consumer Intelligence Research Partner (CIRP) yang menemukan loyalitas iPhone menurun secara perlahan, tetapi tetap menjadi jawara dari berbagai merek ponsel lainnya. Artinya, meskipun ada konsumer yang berubah pikiran, sebagian besar pengguna iPhone yang loyal tetap bertahan.

Jatayu (22) menyebutkan keunggulan iPhone yang tidak ditemukan di android, khususnya Samsung yang menjadi device-nya sebelumnya. Menurutnya, perangkat iOS lebih terasa “kencang” dan satset untuk kebutuhannya sehari-hari.
“Berasa kalau pakai Android baru dan iOS baru, tetep lebih kencengan iOS baru,” kata Jatayu kepada saya, Rabu (25/2/2026).
“Kebutuhan iPhone juga lebih untuk jangka panjang kayaknya,” tambah dia.
iPhone lebih diminati karena penuhi gaya hidup, Android minggir dulu
Selanjutnya, saat saya tanya perbandingan antara iPhone dan Samsung yang digunakannya sebelumnya—juga, sampai saat ini secara bersamaan—Jatayu bilang merasa cukup nyaman dengan iPhone.
Pasalnya, dia sudah membuktikan sendiri omong-omong orang-orang yang mengatakan bahwa iPhone adalah ponsel yang punya kecepatan kilat dalam memainkannya. “Kalau iPhone, plus-nya performance lebih smooth,” kata dia.
Namun sebelum itu, Jatayu mengklaim ponsel sebelumnya adalah entry level yang tidak setara jika dibandingkan dengan ponsel seri terbarunya, iPhone 17.
“Sebenarnya nggak apple to apple, tapi iOS kameranya lebih smooth,” ujarnya.
Dari sini, Jatayu menyebut iPhone sesuai dengan ekspektasi. Khususnya, bagi orang-orang yang bekerja di bidang kreatif, iPhone bisa membantu memenuhi segala tren hari ini. Dengan kamera, misalnya, bisa membuat konten yang lebih menarik.
“iOS tuh buat orang-orang kerja di media, butuh video, content creating, karena raw video dan fotonya jauh lebih cakep. Kalau Android itu buat yang daily use-nya tinggi, kayak misal main game, terus nonton,” katanya.
“Terus, karena aku milih iPhone 17 ini dia lebih compact juga dibandingkan hp sekarang. Lebih holdable,” tambah Jatayu.
Meski sebenarnya hp adalah soal selera, tapi sekiranya saya menyetujui bagian-bagian Jatayu menyebut keunggulan iPhone yang tidak bisa ditampik. Unggul kamera, unggul look-nya yang lebih bergengsi, unggul kamera lagi.
Namun di lain sisi, keunggulan Android sebagai ponsel yang nyaman juga ada benarnya. Hari ini, dibanding menghabiskan berjam-jam dengan iPhone, saya lebih betah menonton di layar Infinix yang lengkung. Mungkin terasa lebih lebar dan memuaskan, mungkin juga kembali lagi, ini soal selera.
Penulis: Shofiatunnisa Azizah
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Blok M, Tempat Pelarian Pekerja Jakarta Gaji Pas-pasan, Tapi Bisa Bantu Menahan Diri dari Resign dan artikel liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














