Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Catatan

Dilema Anak Kos yang Kerja di Jogja: Mau Irit dan Mandiri tapi Takut Mati Konyol Gara-gara Cerita Seram Ibu Kos soal “Tragedi Gas Melon”

Aisyah Amira Wakang oleh Aisyah Amira Wakang
2 April 2026
A A
Dilema Anak Kos yang Kerja di Jogja: Mau Irit dan Mandiri tapi Takut Mati Konyol Gara-gara Cerita Seram Ibu Kos soal “Tragedi Gas Melon” MOJOK.CO

Ilustrasi Dilema Anak Kos yang Kerja di Jogja: Mau Irit dan Mandiri tapi Takut Mati Konyol Gara-gara Cerita Seram Ibu Kos soal “Tragedi Gas Melon” Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Sebagai anak kos di Jogja yang ingin mengirit gaji dengan memasak, saya baru sadar kalau soft skill memasang gas LPG sangat dibutuhkan. Mulai dari kesabaran dalam memeriksa karet seal, ketenangan saat memasang regulator, hingga kehati-hatian untuk memastikan tidak ada kebocoran. Ketika rasa percaya diri itu hilang, semuanya akan berakhir seperti cerita dari ibu kos.

Cerita kosan tua di Jogja yang dapurnya pernah kebakaran

“Dapur ini pernah kebakaran dulu. Apinya melebar sampai atap. Makanya ibu selalu waswas. Entah itu waktu pasang gas atau nyalain lilin waktu mati lampu,” ucap ibu kos saya di Jogja mengingat kejadian lama sekitar tahun 2000-an, sekaligus tanda kalau bangunan kosnya sudah tua. 

Bahkan teman-teman yang sering berkunjung ke kos saya mengaku, suasananya tampak seram dari depan sampai belakang. Apalagi, dari belasan ruang kamar yang berukuran 3×4 meter, penghuni kosan selama satu tahun terakhir ini mentok hanya 3 orang, khusus perempuan.

Belum selesai memberikan respons manggut-manggut, tanda kalau saya turut prihatin dengan kejadian itu, ibu kos langsung mengajukan pertanyaan. 

“Mbak bisa pasang gas?” tanyanya, Kamis (26/3/2026).

Mendengar pertanyaan dadakan tersebut, saya langsung kikuk. Tak tahu harus menjawab bagaimana. Sebab jujur saja, saya tak pernah punya pengalaman memasang gas LPG. Bahkan saat di rumah. Ibu saya seringkali mengandalkan ayah untuk memasang regulator.

Misi pertama anak kos membeli gas melon

Mengingat cerita ibu kos tadi, saya kembali sadar kalau ia punya harapan lebih kepada saya. Siapa tahu saya bisa membantunya memasang gas LPG yang habis. Sebagai perantau Jogja yang sadar telah menghabiskan gas LPG karena sering masak di kosan, saya jadi nggak enak untuk menolak tapi juga tidak bisa mengiyakan karena takut salah.

“Eh, nggak tahu, Bu, tapi saya ingin coba,” ucap saya tiba-tiba saking gusarnya.

“Oke, ibu titip buat beli gas di depan ya Mbak nanti siang, karena ibu mau keluar sampai besok,” ujarnya.

“Baik Bu,” kata saya akhirnya.

Siangnya, saya melaksanakan perintah tersebut dalam keadaan gusar. Saya membawa gas melon 3 kilogram dengan motor Mio saya untuk ditukar di toko kelontong. Setelah membayar dan buru-buru menaiki motor, si penjual toko perempuan lanjut usia mengingatkan saya.

“Karetnya jangan lupa, Kak,” kata dia.

Bego! Batin saya pada diri sendiri. Hampir saja saya melupakan benda sepenting itu. Bayangkan, bagaimana jadinya jika saya memasang regulator tanpa karet seal. Saya bukannya tidak riset, saya berencana melihat tutorial memasang gas di Youtube setelah membelinya. 

Untung saja, saya tak perlu kembali ke toko untuk mengambil karet seal. Ibu di toko itu tadi akhirnya memberikan sejumlah karet, karena biasanya tak semua karet seal akan pas di mulut tabung LPG.

Iklan

Pelajaran hidup dari gas melon untuk anak kos

Setelah melewati krisis pertama, saya akhirnya menonton tutorial memasang gas LPG di Youtube untuk pemula anti bocor. Sengaja saya tekankan kalimat di akhir saking takutnya. Melihat tutorial di Youtube saja sudah bikin deg-degan. 

Padahal menurut video, waktu yang dibutuhkan tak sampai satu menit. Namun, kesalahan sedikit saja bisa menimbulkan dampak besar. Tak sedikit pula berita yang menyiarkan fenomena kebakaran akibat ledakan gas LPG. Tak pelak, berita itu pun bikin saya panik.

Bunyi “ssshhh!” terus terdengar saat saya memasang gas LPG pada percobaan pertama. Saya pun mengatur nafas selama beberapa menit agar lebih tenang dan mengganti karet seal lain untuk melakukan percobaan kedua. Sampai percobaan keempat, suara gas masih keluar walaupun tak sekeras tadi. 

Masalahnya, saya tidak cukup yakin asal bunyi itu benar-benar menghilang. Akhirnya, saya gagal melakukan langkah terakhir yakni menyalakan kompor. Bayangan tentang dapur yang kebakaran dari cerita ibu kos tadi pagi langsung “play” di otak saya hingga kekhawatiran saya tidak berhenti. 

Karena sudah takut duluan, saya akhirnya mengirim pesan berisi permintaan maaf kepada ibu kos dengan nada sedikit pilu, agar ia memaklumi kondisi saya. Setidaknya, saya sudah melakukan perintah pertamanya membeli gas.

“Ibu maaf, saya belum bisa pasang gas karena waktu saya coba bunyi terus,” ucap saya menambahkan emoticon tangan memohon di WhatsApp.

“Oh iya Mbak, nggak apa. Besok pagi ibu panggilkan kakak ibu (laki-laki) buat pasangin gas di kos,” jawabnya yang bikin beban di hati saya jadi lebih ringan.

Pada akhirnya saya sadar, memasang gas LPG sebenarnya tidak perlu teknik muluk-muluk. Hanya diperlukan keyakinan dan tingkat kepercayaan diri lebih tinggi untuk mengetahui hasilnya. Sama seperti hidup, butuh persiapan matang, kebijakan, dan keberanian untuk mengambil setiap keputusan.

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchammad Aly Reza

BACA JUGA: Kenikmatan Ngekos Dekat Kampus UII, Cocok untuk Slow Living di Jogja dan Lebih Hemat Biaya atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 5 April 2026 oleh

Tags: anak kosIbu KosJogjaKos di Jogjakosan Jogjapasang gas LPGskill merantausoft skill
Aisyah Amira Wakang

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.

Artikel Terkait

Memori 20 tahun gempa Jogja di SMAN 1 Kalasan: tak ingin wariskan trauma dan ketakutan MOJOK.CO
Eksplor

Memori 20 Tahun Gempa Jogja di Kalasan: Rumah Ambrol hingga Jeritan di Jalanan, Trauma yang Tak Ingin Diwariskan ke Generasi Sekarang

23 Mei 2026
Anak tunggal dari pengusaha toko kelontong diterima di UGM. MOJOK.CO
Sekolahan

Lolos UGM Justru Dilema karena Tak Tega Tinggalkan Ibu untuk Merantau dan Buka Toko Kelontong Sendirian

21 Mei 2026
mahasiswa autis Fakultas Peternakan UGM. MOJOK.CO
Sekolahan

Mahasiswa Autis UGM Sulit Berinteraksi Sosial, tapi Buktikan Bisa Lulus Usai 6 Tahun Lebih dan Buka Usaha Ternak Kambing di Kampung Halaman

20 Mei 2026
Babi, Anjing, dan Pink Floyd Versi Cadas yang Lahir dalam Wujud Perempuan Bernama Gabriëlle.MOJOK.CO
Sosok

Babi, Anjing, dan Pink Floyd Versi Cadas yang Lahir dalam Wujud Perempuan Bernama Gabriëlle

20 Mei 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Gambaran rapuhnya masyarakat kita di tengah teror pocong keliling MOJOK.CO

Teror Pocong Keliling Bukan Sekadar Iseng, Jadi Gambaran Masalah Sosial-Digital di Tengah Masyarakat Kita

26 Mei 2026
logika ekonomi orang desa.MOJOK.CO

Yang Perlu Kamu Tahu dan Kamu Lakukan di Tengah Kelesuan Ekonomi Saat Ini

29 Mei 2026
tren olahraga kalcer.MOJOK.CO

Tren dan FOMO Olahraga “Kalcer” yang Mahal Lahir karena Minimnya Fasilitas Publik di Perkotaan

29 Mei 2026
Evolusi Meme Mas Bahlil Ganteng: Saat Algoritma Menyelamatkan Citra Kanda Buahlil MOJOK.CO

Evolusi Meme Mas Bahlil Ganteng: Saat Algoritma Menyelamatkan Citra Kanda Buahlil

27 Mei 2026
Waisak 2026 di Candi Borobudur Magelang jadi momentum bagi sebuah keluarga Buddha asal Temanggung untuk meluruhkan ego diri MOJOK.CO

Waisak di Borobudur untuk Meluruhkan Ego Diri, Menerima Kesadaran atas Renungan “Hidup untuk Apa di Dunia Fana?”

31 Mei 2026
Klaten International Cycling Festival (KLIC Fest) 2026. MOJOK.CO

Bangkitnya Sepeda Roda Raksasa yang Menyatukan Ribuan “Onthelis” dari Penjuru Dunia di Klaten

26 Mei 2026

Video Terbaru

Antara Stabilitas Kerja dan Jalan Berkarya, Cerita Perunggu Menjadi Musisi Penuh Waktu

Antara Stabilitas Kerja dan Jalan Berkarya, Cerita Perunggu Menjadi Musisi Penuh Waktu

14 Mei 2026
Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.