Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Aktual

Jejak Digital Kekerasan Seksual Bikin Trauma Anak Berkepanjangan, Pemulihan Korban Tak Cukup Hapus Konten

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
9 Mei 2026
A A
modus kekerasan seksual.MOJOK.CO

Ilustrasi kekerasan seksual (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Ancaman kejahatan seksual terhadap anak kini makin nyata dan bergeser ke dunia maya. Mirisnya lagi, pada tahun 2024, Indonesia tercatat menempati peringkat ketiga di dunia dengan kasus kekerasan seksual anak terbanyak, mencapai angka 1,45 juta laporan.

Melihat tingginya angka tersebut, Psikolog Klinis dari Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM), Dr. Indria Laksmi Gamayanti, memberikan peringatan keras.

Ia menegaskan bahwa peredaran foto atau video eksploitasi anak di internet bukanlah sekadar pelanggaran moral biasa, tetapi bentuk kekerasan yang sangat serius.

“Masyarakat harus mengubah cara pandang. Ini bukan sekadar ‘konten seksual’, tapi kekerasan seksual terhadap anak. Anak tidak pernah bisa dianggap setuju dalam situasi eksploitasi. Setiap kali foto atau video itu disebarkan, anak tersebut seolah-olah disiksa dan menjadi korban lagi,” tegas Gamayanti, sebagaimana dilansir dari laman resmi UGM, Sabtu (9/5/2026).

Jejak digital bikin trauma berkepanjangan

Gamayanti menjelaskan, kekerasan seksual di dunia digital memiliki dampak psikologis yang jauh lebih berat bagi anak. Hal ini disebabkan oleh jejak digital yang sangat sulit dihapus hingga bersih.

Dalam jangka pendek, anak korban eksploitasi biasanya akan terlihat ketakutan, emosinya tidak stabil, sulit tidur, dan susah berkonsentrasi. Namun, dampak jangka panjangnya jauh lebih berbahaya. Anak bisa mengalami kecemasan berlebih, depresi berat, hingga takut bersosialisasi dengan orang lain.

“Karena kontennya terus beredar di internet, anak akan merasa tidak pernah benar-benar aman. Pengalaman traumatis itu terus hidup di bayang-bayang mereka,” jelasnya.

Kondisi ini merusak tiga hal paling penting dalam kejiwaan anak: rasa aman, rasa berharga, dan kepercayaan pada orang lain.

Akibatnya, kepercayaan diri anak hancur, mereka sering menarik diri dari lingkungan, dan cenderung memandang diri mereka sendiri secara negatif atau merasa kotor.

Ciri-ciri anak menjadi korban kekerasan seksual

Orang tua dituntut untuk lebih peka terhadap perubahan perilaku anak, terutama yang berkaitan dengan penggunaan gawai atau handphone (HP). Gamayanti menyebutkan beberapa tanda awal yang wajib diwaspadai oleh orang tua.

Tanda-tanda tersebut antara lain: anak mendadak menjadi sangat tertutup, terlihat cemas atau gelisah saat memegang HP, dan marah jika HP-nya dipinjam atau diperiksa.

Selain itu, anak mungkin sering menghapus riwayat obrolan (chat), menerima pesan dari nomor yang tidak dikenal, atau tampak ketakutan setiap kali ada bunyi notifikasi masuk.

“Namun yang paling penting untuk diingat, jika melihat tanda-tanda ini, orang tua jangan langsung marah atau menginterogasi anak secara kasar. Pendekatan yang tenang dan aman akan membuat anak lebih berani bercerita ketimbang ditekan,” pesan Gamayanti.

Langkah penyelamatan dan pemulihan korban kekerasan seksual

Jika anak terbukti menjadi korban kekerasan seksual, langkah pertama dan paling utama adalah memastikan anak tersebut benar-benar aman. Aman dari jangkauan pelaku, ancaman penyebaran video, dan aman dari pertanyaan-pertanyaan yang menyalahkan korban.

Iklan

Dalam masa pemulihan ini, keluarga memegang peran kunci. Anak sangat membutuhkan dukungan penuh. Mereka butuh dipercaya, tidak disalahkan atas kejadian tersebut, tidak dipaksa menceritakan ulang kejadian yang menyakitkan berkali-kali, dan sama sekali tidak boleh dipermalukan.

Untuk penanganan medis lanjutan, Gamayanti menyarankan anak untuk dibawa ke tenaga profesional agar mendapatkan terapi khusus, seperti Trauma-Focused Cognitive Behavioral Therapy (TF-CBT). Terapi ini dirancang untuk membantu anak mengendalikan emosi dan perilaku setelah mengalami kejadian traumatis.

Pada akhirnya, Gamayanti mengingatkan bahwa pemulihan tidak cukup hanya dengan memblokir atau menghapus konten di internet. Martabat dan harga diri anak juga harus dikembalikan seutuhnya.

“Anak adalah korban yang harus dilindungi dan dipulihkan. Sementara itu, pelaku kejahatan, jaringan penyebar konten, pembeli, pihak yang membiarkan, hingga ekosistem digital yang gagal melindungi anak, adalah pihak-pihak yang wajib dituntut dan dihukum seberat-beratnya,” tutupnya.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Kebusukan Mahasiswa FH UI Membuka Luka Lama Para Penyintas, Tak Ada yang Lebih Aman dari “Rahim” seorang Ibu bagi Korban Kekerasan Seksual atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 11 Mei 2026 oleh

Tags: eksploitasi seksualkejahatan seksualkekerasan seksualkekerasan seksual pada anakkorban kekerasan seksualpelecehan seksual
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Anak Indonesia bicara soal isu perkawinan anak dan kekerasan di forum dunia. MOJOK.CO
Aktual

Anak-anak Indonesia Muak Dipaksa Kawin tapi Jarang Didengar, Kini Kesal dan Mengadu ke Forum Dunia

8 Mei 2026
Penyebab Tokoh Agama dan Kaum Intelektual Melakukan Pelecehan Seksual MOJOK.CO
Tajuk

Penyebab Tokoh Agama dan Kaum Intelektual Melakukan Pelecehan Seksual

20 April 2026
Kebusukan Mahasiswa FH UI Membuka Luka Lama Para Penyintas, Tak Ada yang Lebih Aman dari “Rahim” seorang Ibu bagi Korban Kekerasan Seksual MOJOK.CO
Aktual

Bayangkan Kalau Korban adalah Ibumu, Itu Nasihat Paling Nggak Guna bagi Pelaku Kekerasan Seksual

19 April 2026
Derita perempuan di grup WA mahasiswa FH UI. Isinya kekerasan seksual. MOJOK.CO
Sehari-hari

Nasib Perempuan di Tongkrongan dan Grup WA yang Isinya Laki-laki Mesum: Jelek Dihina, Cantik Dilecehkan

15 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Penumpang KRL Jakarta lebih manusiawi dibanding penumpang KRL/Commuter Line Jogja

KRL Jakarta Memang Bikin Stres, tapi Kelakuan Penumpangnya Masih Lebih Manusiawi daripada KRL Jogja

4 Mei 2026
Coffee shop menjamur di Klaten MOJOK.CO

Buka Coffee Shop di Klaten Tanpa Ekspektasi Justru Ramai Dikunjungi, Tandai Tren Baru Warlok hingga Jadi Incaran Pelancong

5 Mei 2026
Ancaman "Indomi" bagi Generasi Muda Minang: Ketika Inyiak Berubah Jadi Opa dan Oma MOJOK.CO

Ancaman “Indomi” bagi Generasi Muda Minang: Ketika Inyiak Berubah Jadi Opa dan Oma

4 Mei 2026
Anak Indonesia bicara soal isu perkawinan anak dan kekerasan di forum dunia. MOJOK.CO

Anak-anak Indonesia Muak Dipaksa Kawin tapi Jarang Didengar, Kini Kesal dan Mengadu ke Forum Dunia

8 Mei 2026
burung migrasi.MOJOK.CO

Menyusutnya Populasi Burung Migran Jadi Alarm Tanda Bahaya bagi Bumi

9 Mei 2026
Yamaha Jupiter Z, Motor Sakral yang Hadirkan Rasa Takut MOJOK.CO

Yamaha Jupiter Z, Motor Sakral yang Menghadirkan Rasa Takut tapi Ternyata Menjadi Simbol Perjuangan yang Tak Pernah Diceritakan

7 Mei 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.