Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Kotak Suara

Waspada Modus Baru Kekerasan Seksual, Minta PAP TT untuk Bahan Penelitian

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
16 Mei 2023
A A
modus kekerasan seksual.MOJOK.CO

Ilustrasi kekerasan seksual (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Modus baru kekerasan seksual dengan meminta foto payudara atau pap tt berdalih penelitian dialami sejumlah warganet. Begini cara mereka beraksi. 

Informasi ini pertama kali dicuit oleh akun Twitter @vesicaafellea, yang membagikan tangkapan layar terkait percakapannya dengan pelaku, Minggu (14/5/2023) kemarin.

Dihubungi Mojok, perempuan yang akrab disapa Isa (23) ini mengaku bahwa pelaku pertama kali menghubunginya melalui pesan langsung Instagram. Saat itu, kata Isa, pelaku memperkenalkan diri sebagai mahasiswa kedokteran dari universitas tertentu.

“Terus dia bilang bahwa lagi butuh responden untuk penelitiannya. Dia juga cantumin surat pengantar yang lengkap dengan kop surat dari universitasnya,” ujarnya kepada Mojok, Senin (15/5/2023).

Isa mengatakan, sejak awal sebenarnya telah menaruh curiga karena penelitian tersebut terlihat janggal. Katanya, kelihatan dari judul penelitian yang seperti makalah anak SMP, poin-poin pertanyaan wawancara yang tidak sinkron, hingga imbalan yang ditawarkan juga terlalu besar.

“Tapi aku tetap membalas chat dia karena penasaran apa yang sebenernya mau dia perbuat,” sambungnya.

Selanjutnya, Isa mengaku harus menjawab pertanyaan via chat dalam empat sesi. Pertanyaan sendiri menyangkut hal-hal yang terkait kesehatan reproduksi, seperti “Berapa kali Anda membersihkan vagina dalam sehari?”, “Apakah Anda pernah mengalami penyakit kelamin?”, dan sebagainya.

“Pertanyaan sesi terakhir, seperti yang aku screenshot, dia meminta untuk memfoto payudara. Dari sini aku sudah paham ternyata ini adalah niat si pelaku,” jelasnya.

Belakangan diketahui bahwa pelaku menggunakan akun samaran @astinaa_20 di Instagram. Ia juga mengaku sebagai mahasiswa Jurusan Pendidikan Kedokteran Universitas Pattimura yang tengah membuat penelitian berjudul “Pengetahuan Cara Menjaga Kesehatan Alat Reproduksi Pada Remaja Perempuan”.

Dijanjikan imbalan Rp350 Ribu

Selain itu, Isa juga mengaku bahwa pelaku mengiming-iminginya uang Rp350 ribu sebagai imbalan.

“Pelaku menjanjikan akan memberikan uang senilai Rp350.000, sebagai tanda terima kasihnya,” kata Isa.

Senada dengan Isa, hal serupa juga dialami Aulia (20). Pelaku dan modusnya pun sama: @astinaa_20 yang mengaku melakukan penelitian terkait kesehatan reproduksi.

Kepada Mojok, ia bercerita bahwa pelaku menawarinya uang Rp350 ribu apabila mau menjadi responden penelitian tersebut. Namun, Aulia tak ambil pusing dengan tawaran itu. Sejak awal ia memang sudah curiga karena modus serupa beberapa kali pernah dialaminya sebelumnya.

“Dulu sih pernah, udah lama banget orang DM modusnya macam-macam, ada yang penelitian, ada juga yang jualan,” kata Aulia, Senin (15/5/2023).

Iklan

“Tapi karena udah sering, jadi udah langsung tahu dan enggak pernah ketipu untungnya,” pungkasnya.

Riset kedokteran membutuhkan kelayakan etik

Fenomena meresahkan ini sebenarnya bukan barang baru. Bahkan, pada 2019 dan 2022 lalu, jagad Twitter pernah ramai dengan modus tersebut.

Terkait hal ini, Sekjen Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI) saat itu, Mohamad Adib Khumaidi, menegaskan bahwa tidak ada dokter yang diperbolehkan untuk meminta foto-foto riset secara serampangan seperti itu. Apalagi bagian sensitif seseorang.

Kata Adib, seorang dokter maupun calon dokter harusnya patuh dengan kode etik profesi dan etika riset yang berlaku di Indonesia.

Suatu riset kedokteran yang melibatkan makhluk hidup, lanjutnya, membutuhkan ethical clearance (EC) atau kelayakan etik. Ini merupakan keterangan tertulis dari komisi etik penelitian yang menyatakan proposal riset terkait telah layak dilaksanakan setelah memenuhi syarat tertentu.

“Dalam proses penelitian, itu ada yang namanya ethical clearance. Ethical clearance itu harus melalui proses etik yang juga nanti hal-hal yang dalam proses penelitian itu harus sesuai,” jelas Adib.

Sementara psikolog klinis Ratih Andjayani Ibrahim menyarankan agar netizen selalu berpikir kritis agar terhindar dari modus kekerasan seksual dalih penelitian tersebut.

Apalagi jika penelitian terdapat permintaan yang tidak wajar dan menjurus ke hal-hal sensitif. Kata Ratih, kita harus bisa kritis dan mempertanyakan lagi permintaan yang tak wajar itu.

“Namun, yang paling penting adalah paham bahwa penelitian selalu dikawal dengan etika,” tegas Direktur Organisasi Personal Growth itu.

Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Purnawan Setyo Adi

BACA JUGA Merugikan Caleg Perempuan, Peraturan KPU 10/2023 akan Direvisi

Cek berita dan artikel lainnya di Google News

Terakhir diperbarui pada 16 Mei 2023 oleh

Tags: kekerasan seksualPAP TTPemilu 2024
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

modus kekerasan seksual.MOJOK.CO
Aktual

Jejak Digital Kekerasan Seksual Bikin Trauma Anak Berkepanjangan, Pemulihan Korban Tak Cukup Hapus Konten

9 Mei 2026
Anak Indonesia bicara soal isu perkawinan anak dan kekerasan di forum dunia. MOJOK.CO
Aktual

Anak-anak Indonesia Muak Dipaksa Kawin tapi Jarang Didengar, Kini Kesal dan Mengadu ke Forum Dunia

8 Mei 2026
Kebusukan Mahasiswa FH UI Membuka Luka Lama Para Penyintas, Tak Ada yang Lebih Aman dari “Rahim” seorang Ibu bagi Korban Kekerasan Seksual MOJOK.CO
Aktual

Bayangkan Kalau Korban adalah Ibumu, Itu Nasihat Paling Nggak Guna bagi Pelaku Kekerasan Seksual

19 April 2026
Derita perempuan di grup WA mahasiswa FH UI. Isinya kekerasan seksual. MOJOK.CO
Sehari-hari

Nasib Perempuan di Tongkrongan dan Grup WA yang Isinya Laki-laki Mesum: Jelek Dihina, Cantik Dilecehkan

15 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

omong kosong srawung di desa.MOJOK.CO

Omong Kosong Slogan “Srawung” di Desa: Cuma Jahat ke Warga Miskin, Kalau Kamu Tajir Tak Perlu Membaur buat Dihormati

18 Mei 2026
Melalui Seminar Literasi di Pesta Buku Jogja, IKAPI DIY dorong Yogyakarta jadi Ibu Kota Buku UNESCO karena punya ratusan penerbit MOJOK.CO

Jogja dan Produksi Pengetahuan Lewat Ratusan Penerbit Buku, Modal Jadi Ibu Kota Buku UNESCO

16 Mei 2026
Kopi starling dan kopi keliling: cuma Rp5 ribu tapi beri suntikan kekuatan pekerja kantoran di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan (Jaksel) untuk survive kerja tanpa Work Life Balance MOJOK.CO

Kopi Starling Cuma 5 Ribu tapi Beri Kekuatan Pekerja Jaksel Survive Tanpa Work Life Balance, Ketimbang 50 Ribu di Coffee Shop Elite

14 Mei 2026
Tips hadapi teman toxic dalam pertemanan: tidak akrab tapi selalu datang kalau ada butuhnya MOJOK.CO

Lepas dari Teman Tak Akrab yang Selalu Merepotkan pas Ada Butuhnya, Dibenci tapi Perasaan Tidak Enakan Lebih bikin Rugi!

13 Mei 2026
Kos di Jogja, kos campur, dapur.MOJOK.CO

Kos Induk Semang: Tempat Terbaik buat Mahasiswa Irit dan Kenyang, tapi Menyimpan Sisi Lain yang Bikin Penghuninya Tak Nyaman

13 Mei 2026
Catatan Lulusan S2 yang Jadi Driver Maxim: Mempraktikkan Ilmu Pemerintahan Tanpa Birokrasi MOJOK.CO

Catatan Lulusan S2 yang Jadi Driver Maxim: Mempraktikkan Ilmu Pemerintahan Tanpa Birokrasi

13 Mei 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.